Ketika Gempa Bertasbih

Sore baru saja menyapa, saat aku mematikan telepon dari ibuku. Orang yang paling kukagumi, kusayangi, sekaligus kubanggakan itu baru saja meneleponku. Ia menanyakan kabarku dan melepas rindunya yang selama ini tertahan. Kupandangi jalanan dari lantai 2 kostku. Orang-orang lalu-lalang, sibuk menyelesaikan urusannya masing-masing. Motor tak henti-hentinya berseliweran, meninggalkan asap putih hasil pembakaran tak sempurna yang membuat para pejalan kaki terbatuk-batuk. Aku masuk ke dalam rumah, berusaha melanjutkan keasyikanku membaca novel yang sempat tertunda.

Di ruang tamu, barang-barang berserakan, kasur-kasur bertumpuk di pojok kanan. Kami baru saja pindah rumah. Di pojok kiri, dua orang temanku asyik bermain Monopoli. Salah satu dari mereka mengajakku bermain, “Luang, sato ndak main monopoli?” tanya temanku yang bertubuh tinggi. “Ndak do, maso ketek wak lai bahagia!” jawabku sekenanya. Sebuah lemparan mendarat di kepalaku, balasan dari jawabanku yang asal-asalan. Kami kembali asyik dengan kegiatan kami masing-masing.

Selang beberapa saat, kami dikejutkan dengan guncangan yang kami rasakan. Hening sejenak. Kami yang sudah terbiasa dengan gempa-gempa kecil menanti gempa kali ini usai. Namun bukannya bertambah kecil, gempa tersebut malahan bertambah besar. Aku langsung berlari ke bawah sambil melindungi kepalaku. Sesampainya di jalan, orang-orang sudah banyak yang keluar dari rumah mereka. Gempa bertambah kuat. Kabel-kabel listrik bergetar. Kendaraan-kendaran yang ada di jalan bergetar. Pohon-pohon dan tiang listrik seolah-olah menari ditimpali keributan disana-sini. Orang-orang tak dapat berdiri dengan tegak, mereka saling berpegangan dengan orang didekatnya. Bahkan, ada yang keluar rumah hanya memakai handuk yang melilit badan. Saat itu keadaan sungguh sangat kacau.

Beberapa menit kemudian, gempa pun usai. Orang-orang kembali ke dalam rumah mereka masing-masing, berusaha mengambil barang-barang berharga yang dapat dibawa mengungsi. Aku sendiri mengikuti beberapa orang menuju pantai. Mencari tahu apakah air laut surut sebagai tanda datangnya tsunami. Namun karena air laut tidak surut, aku pun kembali ke rumah dan ikut mengambil dompet serta telepon genggam utnuk jaga-jaga.

Bersama salah seorang temanku yang mempunyai motor, aku pergi berkeliling. Mencari tahu keadaan di tempat lain. Di daerah perumnas, tampak asap hitam membubung tinggi. “Kebakaran…!!!” kataku pada temanku. Kami pun menuju lokasi tersebut. Sampai di lokasi kebakaran tersebut, orang-orang sudah ramai berkerumun. Ada yang hanya melihat, namun banyak juga yang membantu memadamkan api tersebut. Aku dan temanku ikut ambil bagian. Kami berusaha memadamkan api yang membakar dua rumah di daerah tersebut. Setelah mobil kebakaran tiba dan ikut memadamkan api, aku pun kembali ke kost bersama temanku.

Hari beranjak malam, azan magrib mulai berkumandang. Mengingatkan manusia-manusia yang lalai akan kewajibannya. Karena tidak berani tidur di kost yang ada di lantai dua, kami memilih untuk tidur di mesjid. Suasana mencekam. Listrik padam. Signal telepon genggam pun tidak ada. Saat itu, aku bagaikan terisolasi di kota mati. Selama dua hari, aku dan teman-temanku yang bertahan di Padang, makan seadanya. Kami makan dengan mie, roti-roti, bahkan kue rayo yang masih ada. Kami memilih tetep di Padang karena kendaraan yang akan membawa kami ke kampung halaman kami tidak ada.

Dua hari di Padang, aku pun memilih pulang karena keluargaku mencemaskanku. Berbekal uang seadanya, aku pun naik bus menuju Pariaman. Jarak yang biasanya dapat ditempuh dua jam, kali ini menjadi lima jam. Macet menghadang dimana-mana. Orang-orang antre membeli bahan bakar. Sampai di Padang Alai, kampong halamanku. Aku dikejutkan dengan sebuah berita duka. Salah seorang mamakku (kakak ibu), tewas tertimpa reruntuhan rumahnya. Ia tidak sempat menyelamatkan diri. Meski aku berduka, aku tetap bersyukur karena keluargaku yang lain selamat.

Malam itu, aku beserta keluarga besarku terpaksa tidur beralaskan tikar dan beratapkan terpal. Rumahku roboh dan tidak layak huni. Selama di kampung, aku dan keluargaku makan bantuan bahan makanan yang diberikan oleh relawan-relawan yang datang ke daerahku. Keluarga besar kami daerah lain berdatangan, membawa bantuan berupa bahan makanan, terpal, selimut, maupun membantu memperbaiki rumah sebisa mereka. Rumah-rumah tetanggaku pun nasibnya tidak berbeda jauh. Aku benar-benar miris melihat keadaan kampungku yang dulunya damai dan tentram, berubah menjadi porak poranda setelah gempa terjadi.

Satu hal yang membuatku tetap bertahan dengan keadaan serba kekurangan tersebut adalah dukungan dari teman-teman dan orang-orang yang mengenalku. Selain mengucapkan turut berbela sungkawa atas musibah yang menimpaku, mereka juga memacu semangatku untuk bangkit dan bertahan dengan keadaan seperti itu. Tidak hanya teman-teman SMP, SMA, maupun teman-teman sekelasku di perguruan tinggi, tetapi juga teman-temanku di dunia maya, seperti di facebook dan friendster. Tanpa mereka, mungkin aku tidak akan kuat menanggung semua beban ini.

About these ads

2 thoughts on “Ketika Gempa Bertasbih

Biasakan Berkomentar Setelah Membaca, Ya.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s