Hubungan Kemampuan Menyimak Karangan Deskripsi Dengan Menulis Cerpen Siswa Kelas VIII SMP Negeri 03 Lubuk Basung

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A.    Latar Belakang Masalah

Dalam pembelajaran bahasa Indonesia, terdapat empat aspek keterampilan, yaitu keterampilan menyimak, keterampilan berbicara, keterampilan membaca, dan keterampilan menulis. Keterampilan menyimak merupakan keterampilan menerima dan memahami isi atau pesan suatu ujaran yang disampaikan penutur dengan bahasa lisan. Keterampilan menyimak diperoleh seorang anak sebelum keterampilan berbicara, keterampilan membaca, dan keterampilan menulis. Keterampilan menyimak merupakan keterampilan dasar untuk tiga keterampilan berbahasa lainnya.

Penggunaan bahasa dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam situasi formal maupun tidak formal, tidak pernah setiap aspek bahasa berdiri sendiri dan terlepas dari aspek lainnya. (Arief dan Khairanis, 2002:44). Dalam proses belajar mengajar di sekolah, aktivitas menyimak memiliki intensitas yang lebih banyak dilakukan siswa disbanding kegiatan berbicara, membaca, dan menulis. Dari awal proses pembelajaran dimulai, siswa melakukan aktivitas menyimak instruksi, perintah, penjelasan, atau pertanyaan dari guru. Saat proses pembelajaran berlangsung, kegiatan menyimak tetap dilakukan. Misalnya, saat guru menerangkan pelajaran, siswa menyimak penjelasan guru. Saat guru menginstruksikan siswa mengerjakan latihan, siswa menyimak penjelasan tentang latihan yang akan mereka kerjakan. Saat diskusi, siswa menyimak diskusi. Dengan kata lain, sampai di akhir kegiatan pembelajaran aktivitas menyimak tetap dilakukan siswa.

Tindak lanjut dari aktivitas menyimak itu, siswa akan berbicara, membaca, atau menulis. Oleh karena itu, keterampilan menyimak harus dibina dan dikembangkan lagi. Keterampilan menyimak sangat berguna untuk mengembangkan keterampilan berbahasa siswa, baik dalam aktivitas akademik maupun kehidupan sehari-hari.

Keterampilan menulis merupakan suatu kegiatan menuangkan gagasan, ide, inspirasi, atau buah pikiran manusia ke dalam bentuk lambing-lambang grafis yang menggambarkan suatu bahasa agar orang lain dapat memahaminya. Ditinjau dari segi pemerolehan, menulis adalah aspek berbahasa keempat yang diperoleh melalui proses pembelajaran di sekolah. Keterampilan menulis sangat terkait dengan keterampilan berbahasa lainnya.

Dalam proses belajar mengajar, siswa dituntut untuk bisa menulis atau membuat tulisan dan tidak hanya memahami teori. Sebagai suatu keterampilan, menulis memerlukan latihan. Keterampilan menulis dapat menentukan keberhasilan siswa dalam mengikuti proses belajar mengajar. Dengan menulis, seseorang dapat menggambarkan pola pikirannya terhadap ide dan gagasan yang dihasilkannya. Hal ini dapat menjadi tolak ukur kemampuan seseorang dalam berbahasa. Seorang pelajar dituntut terampil dalam menulis, serta menuangkan ide dan gagasan pada sebuah tulisan. Maka, pembinaan dan pengembangan keterampilan menulis siswa menjadi tujuan setiap pengajaran di sekolah.

Berdasarkan hal tersebut, penulis ingin mengetahui dan melakukan penelitian bagaimana hubungan antara kemampuan menyimak deskripsi dan kemampuan menulis cerpen. Materi yang akan penulis teliti adalah tulisan deskripsi dan cerpen, karena tulisan deskripsi terdapat juga pada karya fiksi (cerpen). Penulis akan melakukan penelitian ini pada siswa kelas VII SMP N 03 Lubuk Basung, karena siswa kelas VIII sudah memiliki pengalaman belajar dengan materi tersebut dan di SMP N 03 Lubuk Basung belum pernah dilakukan penelitian tentang hubungan kemampuan menyimak dengan menulis cerpen.

  1. B.     Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah dan wawancara informal dengan guru bahasa dan sastra Indonesia di SMP N 03 Lubuk Basung, penulis mengidentifikasi lima permasalahan yang relevan dengan penelitian ini adalah sebagai berikut:

1) Sulitnya siswa dalam menangkap informasi lisan terutama dalam bahasa formal.

2) Kurangnya pengetahuan dan pemahaman siswa mengenai karangan deskripsi dan cerpen.

3) Sulitnya menggambarkan atau melukiskan sesuatu yang dilihat, didengar, atau dirasakan dengan kata-kata menjadi sebuah cerpen.

4) Sulitnya siswa menulis kalimat dengan struktur yang baik.

5) Belum adanya hasil penelitian mengenai hubungan antara kemampuan menyimak deskripsi dengan kemampuan menulis cerpen.

 

  1. C.    Batasan Masalah

Berdasarkan identifikasi masalah tersebut, penelitian ini dibatasi pada hubungan kemampuan menyimak dengan kemampuan menulis cerpen pada siswa kelas VIII SMP N 03 Lubuk Basung.

  1. D.    Rumusan Masalah

Berdasarkan batasan masalah tersebut, maka rumusan masalah penelitian ini adalah “Bagaimana hubungan kemampuan menyimak karangan deskripsi dengan menulis cerpen siswa kelas VIII SMP N 03 Lubuk Basung?”

 

  1. E.     Pertanyaan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah tersebut, maka pertanyaan penelitian adalah sebagai berikut:

1)   Bagaimanakah kemampuan menyimak karangan deksripsi siswa kelas VIII SMP N 03 Lubuk Basung?

2)   Bagaimanakah kemampuan menulis cerpen siswa kelas VIII SMP N 03 Lubuk Basung?

3)   Bagaimanakah hubungan kemampuan menyimak karangan deskripsi dengan kemampuan menulis cerpen siswa kelas VIII SMP N 03 Lubuk Basung?

 

  1. F.     Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:

1) Mendeskripsikan kemampuan menyimak karangan deksripsi siswa kelas VIII SMP N 03 Lubuk Basung.

2) Mendeskripsikan kemampuan menulis cerpen siswa kelas VIII SMP N 03 Lubuk Basung.

3) Menganalisis hubungan kemampuan menyimak karangan deskripsi dengan kemampuan menulis cerpen siswa kelas VIII SMP N 03 Lubuk Basung.

  1. G.    Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini dapat bermanfaat bagi pihak-pihak berikut ini:

1)   Bagi guru bahasa dan sastra Indonesia di SMP N 03 Lubuk Basung dapat memberikan masukan dalam rangka menyempurnakan kegiatan proses belajar mengajar, terutama pembelajaran keterampilan menyimak dan menulis.

2)   Bagi siswa dapat meningkatkan kemampuan menyimak dan menulis mereka.

3)   Bagi peneliti dapat menambah pengetahuan tentang pembelajaran menyimak dan menulis.

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

  1. A.    Kerangka Teori

Kerangka teori yang perlu dijelaskan sehubungan dengan masalah penelitian ini ada empat, yaitu: (1) hakikat menyimak deskripsi, (2) hakikat menulis cerpen.

  1. 1.      Hakikat Menyimak

Berkaitan dengan hakikat menyimak, teori yang akan diuraikan pada bagian ini adalah: a) definisi menyimak, b) tujuan menyimak, c) jenis-jenis menyimak, d) menyimak intensif, e) pengertian deskripsi, f) ciri-ciri deskripsi, g) jenis-jenis deskripsi, dan h) pembelajaran menyimak karangan deskripsi dalam KTSP.

  1. a.      Definisi Menyimak

Menurut Tarigan (1985:28), menyimak adalah suatu proses kegiatan mendengarkan lambang-lambang lisan dengan penuh perhatian, pemahaman, apresiasi, serta interpretasi untuk memperoleh informasi, menangkap isi, serta memahami makna komunikasi yang telah disampaikan oleh pembicara melalui ujaran atau bahasa lisan. Hal yang sama juga dikemukakan oleh Sutari (1997:17) yang menyatakan bahwa menyimak adalah mendengarkan atau memperhatikan baik-baik apa yang dikatakan orang lain. Menurut Depdiknas (2002:16), menyimak adalah mendengar (memperhatikan) denan baik apa yang diucapkan dan dibaca orang. Selanjutnya, menurut Rixon (dalam Nursaid, 2003:9), menyimak merupakan kegiatan yang bersifat intensif, ditekankan pada pencapaian tujuan, yaitu memahami tuturan verbal atau ujaran yang disampaikan oleh orang lain.

Berdasarkan uraian tersebut, pada dasarnya para ahli mempunyai pengertian yang sama tentang definisi menyimak, yakni menyimak tidak hanya sekedar mendengarkan saja. Dalam menyimak, dituntut pemahaman terhadap hal-hal yang didengar dan kesanggupan mengingat pesan yang disampaikan. Sebaliknya, dalam mendengar tidak dituntut pemahaman terhadap pesan dan tidak pula dituntut kesanggupan mengingat pesan tersebut.

  1. b.      Tujuan Menyimak

Tarigan (1985:56) menyatakan menyimak memiliki tujuan, yaitu: belajar, menikmati, mengevaluasi, mengapresiasi, mengomunikasikan ide-ide, membedakan bunyi-bunyi, memecahkan masalah, dan meyakinkan. Sedangkan Sutari (1997:22-27) menjelaskan tujuan menyimak ada enam macam, yaitu: mendapatkan fakta, menganalisis fakta, mengevaluasi fakta, mendapatkan inspirasi, mendapatkan hiburan, dan memperbaiki kemampuan berbicara.

Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa secara umum tujuan menyimak adalah untuk memperoleh informasi, menangkap isi dan memahami apa yang disampaikan oleh orang lain. Menyimak merupakan suatu kegiatan yang sengaja dilakukan dan direncanakan oleh seseorang untuk tujuan yang diinginkan.


  1. c.       Jenis-jenis Menyimak

Tarigan (1985:34-39) mengelompokkan jenis menyimak menjadi dua macam, yaitu menyimak ekstensif dan menyimak intensif. Menyimak ekstensif terdiri atas: menyimak pasif, menyimak sosial, menyimak sekunder, dan menyimak estetis. Sedangkan menyimak intensif terdiri dari: menyimak selektif, menyimak kreatif, menyimak kritis, menyimak konsentratif, menyimak eksploratori, dan menyimak interogatif.

Tidak jauh berbeda dengan Tarigan, Dawson (dalam Nursaid, 2003:16) membagi jenis-jenis menyimak menjadi delapan macam. Jenis-jenis menyimak yang dimaksud adalah: menyimak santai, menyimak sekunder, menyimak estetis, menyimak kreatif, menyimak perluasan, menyimak interogatif, menyimak konsentratif, serta menyimak kritis.

  1. d.      Menyimak Intensif

Menyimak intensif adalah jenis kegiatan menyimak yang berhubungan dengan hal-hal yang bersifat khusus dan memerlukan pemahaman yang mendalam. Menyimak jenis ini menuntut pendengar juga terlibat dalam proses menyimak aktif dan responsif. Menyimak intensif terdiri atas menyimak selektif, menyimak kreatif, menyimak konsentratif, menyimak kritis, menyimak eksploratori, dan menyimak interogatif.

Pertama, menyimak selektif adalah pelengkap dari menyimak pasif agar tidak terjebak pada pendapat pribadi ketika mendengar hal yang baru atau asing. Menyimak jenis ini juga mengurangi kecenderungan menginterpretasikan setiap apa yang kita dengar dengan batasan-batasan sesuai dengan bahasa yang kita kuasai.

Kedua, menyimak kreatif mirip dengan kegiatan menyimak estetis karena hal-hal yang disimak berkaitan dengan karya-karya seni. Perbedaannya dalam menyimak kreatif terdapat kegiatan menilai. Dengan kata lain, dalam menyimak kreatif aspek yang diperlukan adalah kesenangan serta imajinasi penyimak.

Ketiga, menyimak konsentratif adalah kegiatan menyimak yang dilaksanakan oleh para pembelajar atau penyimak yang ingin memperoleh informasi-informasi baru. Penyimak berusaha membuat kerangka dari apa yang disimaknya dan berusaha memahaminya.

Keempat, menyimak kritis. Menyimak kritis mirip dengan menyimak konsentratif. Akan tetapi, penyimak dalam menyimak kritis harus berusaha tidak terpengaruh oleh sikap-sikap subjektif dan bersikap seobjektif mungkin. Sedangkan pada menyimak konsentratif, penyimak dapat dipengaruhi oleh sikap-sikap subjektif.

Kelima, menyimak eksploratori adalah kegiatan menyimak yang ditujukan untuk menerima atau memperoleh informasi-informasi sebagai tambahan terhadap hal-hal yang telah dikuasai.

Keenam, menyimak interogatif. Menyimak interogatif sama dengan menyimak perluasan. Bedanya dalam menyimak interogatif, penyimak menyusun pertanyaan yang diharapkan terjawab dalam kegiatan menyimak tersebut (Nursaid, 2003:17-20).

Dari uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa menyimak karangan deskripsi termasuk salah satu menyimak intensif yaitu menyimak kreatif. Hal ini dikarenakan, siswa dalam menyimak karangan deskripsi dituntut untuk bisa memahami cerita lebih mendalam agar dapat memberikan penilaian dan menjawab pertanyaan yang bersifat pemahaman.

  1. e.       Pengertian Deskripsi

Deskripsi merupakan salah satu teknik dalam menulis karya sastra. Di dalam karya sastra terdapat berbagai ragam pengetahuan dan pengalaman manusia. Karya sastra juga merekam berbagai kebudayaan dan kearifan yang diperlukan untuk menyikapi kehidupan. (Hasanuddin, 2001:170).

Kata deskripsi berasal dari bahasa Latin ‘describe’ yang berarti menulis tentang atau membeberkan suatu hal. Kata deskripsi dapat diterjemahkan menjadi pemerian, yang berasal dari kata peri, memerikan yang berarti ‘melukiskan sesuatu hal’.

Menurut Atmazaki (2006:88), tulisan deskripsi adalah salah satu bentuk tulisan yang melukiskan suatu objek (tempat, benda, dan manusia) seolah-olah pembaca ikut mendengarkan, mencium, meraba, merasakan, atau melihat segala sesuatu yang diceritakan kembali.

Sedangkan Keraf (1982:93) menyatakan deskripsi sebagai “suatu bentuk tulisan yang berhubungan dengan usaha penulis untuk memberikan perincian-perincian dari objek yang dibicarakan.”

Berdasarkan pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa deskripsi merupakan penjelasan atau paparan tentang sesuatu yang ditangkap oleh panca indera. Deskripsi adalah jenis karangan yang melukiskan objek sesuai dengan keadaan sebenarnya. Penulis mencoba melukiskan apa yang ditangkap oleh panca inderanya itu lewat kata-kata agar dapat dihayati oleh orang lain (pembaca) dan orang tersebut bisa membayangkan seolah-olah dia juga menyaksikan langsung apa yang dilukiskan penulis tersebut lewat karangannya.

  1. f.       Ciri-ciri Deskripsi

Ciri penanda deskripsi sekaligus sebagai pembeda dengan jenis karangan yang lain, menurut Semi (1990:43) adalah sebagai berikut: 1) deskripsi lebih berupaya melihatkan detail atau perincian tentang objek, 2) deskripsi lebih bersifat memberi pengaruh sensitifitas dan membentuk imajinasi pembaca, 3) deskripsi disampaikan dengan gaya yang memikat dan dengan pilihan kata yang menggugah, 4) deskripsi lebih banyak memaparkan tentang sesuatu yang dapat didengar, dilihat, dan dirasakan, dan 5) organisasi penyampainya lebih banyak menggunakan susunan ruang.

  1. g.      Jenis Deskripsi

Jenis tulisan deskripsi dapat dibedakan menjadi dua jenis. Semi (1990:43) membaginya menjadi deskripsi ekspositorik dan deskripsi artistik. Deskripsi ekspositorik adalah deskripsi yang bertujuan menjelaskan sesuatu dengan perincian yang jelas sebagaimana adanya tanpa menekan  unsur empirisme atau sugesti kepada pembaca. Sedangkan deskripsi artistik adalah deskripsi yang mengarah kepada pemberian pengalaman, yaitu deskripsi yang mampu membangkitkan kesan empirisme kepada pembaca seolah pembaca bagaikan berkenalan langsung dengan objek yang disampaikan.

  1. h.      Pembelajaran Menyimak Karangan Deskripsi dalam KTSP

Dalam Standar Isi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (SI KTSP) untuk SMP dan MTS yang telah diberlakukan oleh pemerintah dan dalam tahap menuju penerapan di sekolah-sekolah, dinyatakan bahwa ruang lingkup mata pelajaran bahasa dan  sastra Indonesia dibagi menjadi dua aspek, yaitu kemampuan kebahasaan dan kesusastraan. Masing-masing aspek ini dibagi lagi menjadi empat sub aspek, yaitu: menyimak, berbicara, membaca, menulis.

Menyimak dalam KTSP disebut juga sub aspek mendengarkan. Sub aspek ini memiliki beberapa standar kompetensi, yaitu standar kompetensi aspek kebahasaan dan standar kompetensi aspek kesusastraan. Salah satu standar kompetensi aspek kesusastraan adalah mendengarkan dan mengapresiasi ragam karya sastra, salah satunya menceritakan pengalaman dan mendengarkan pengalaman pribadi atau teman. Materi tentang pengalaman pribadi ini dapat dihubungkan dengan tulisan deskripsi. Kompetensi dasar aspek berbicara ini terintegrasi dengan aspek menyimak.

  1. 2.      Hakikat Menulis Cerpen

Berkaitan dengan hakikat menulis cerpen, teori yang akan diuraikan pada bagian kerangka teori ini, adalah: (a) definisi menulis, (b) tujuan menulis, (c) pengertian cerpen, (d) unsur-unsur cerpen, dan (e) langkah-langkah menulis cerpen.

  1. a.      Definisi Menulis

Menulis adalah bentuk komunikasi dua arah yang efektif untuk mengkomunikasikan ide atau gagasannya meskipun tidak bertatapan langsung dengan lawan bicara. (Zulaikhoh, 2009:5). Menulis merupakan salah satu dari empat aspek keterampilan berbahasa. Valette (dalam Abdurrahman, 2003:151) menyatakan diantara keempat keterampilan berbahasa, menulis merupakan kemampuan berbahasa yang paling komplek. Menurut Tarigan (1983:21), menulis atau mengarang adalah menurunkan atau melukiskan lambang-lambang grafis yang menggambarkan suatu bahasa yang dipahami seseorang sehingga orang lain dapat memahaminya. Gani (1999:7) juga mengatakan bahwa menulis merupakan suatu proses penyampaian ide (gagasan), pikiran, dan perasaan. Sementara Semi (1990:8) mengatakan menulis pada hakikatnya adalah pemindahan pikiran atau perasaan ke dalam bentuk lambang-lambang bahasa. Septiani (2007:1) mengatakan bahwa menulis merupakan suatu kegiatan yang produktif dan ekspresif.

Jadi dapat disimpulkan bahwa menulis merupakan suatu kegiatan untuk menuangkan gagasan, ide, inspirasi, atau buah pikiran ke dalam bentuk lambang-lambang grafis yang menggambarkan suatu bahasa agar orang lain dapat memahaminya.

  1. b.      Tujuan Menulis

Semi (2003: 14-15) mengemukakan bahwa tujuan menulis secara umum adalah sebagai berikut: Pertama, untuk menceritakan sesuatu agar orang lain tahu apa yang dialami, diimpikan, dikhayalkan, dan dipikirkan. Kedua, untuk memberi petunjuk, maksudnya apabila seseorang mengajar orang lain bagaimana mengerjakan sesuatu dengan tahapan yang benar, maka dia telah memberi petunjuk atau pengarahan. Ketiga, untuk menjelaskan sesuatu pada pembaca sehingga pengetahuan dan pemahaman pembaca bertambah. Keempat, untuk meyakinkan orang lain tentang pendapat atau pandangannya. Kelima, untuk merangkum sesuatu.

  1. c.       Pengertian Cerpen

Hoerif (dalam Semi, 1988:34) mengemukakan, “Cerpen adalah karakter yang dijabarkan lewat rentetan kejadian demi kejadian dengan satu persatu. Kejadian itu bisa pengalaman atau penjelajah dan juga merupakan reaksi mental terhadap lingkungan yang sering disebut orang dengan jiwa cerpen. Semi (1988:34) menyatakan bahwa panjang-pendeknya ukuran fisik cerpen tidak menjadi ukuran yang mutlak, tidak ditentukan bahwa cerpen harus sekian halaman atau sekian kata. Lebih lanjut, dikatakan cerpen merupakan bentuk sastra yang berdaulat penuh yang berdiri sendiri dan mutlak sebagai karya sastra.

Selain memiliki satu peristiwa pokok, cerpen juga tidak menjelaskan latar dan penokohan dalam ceritanya. Menurut Muhardi dan Hasanuddin, WS (1992:11) bahwa cerpen cenderung tidak menjelaskan latar cerita yang meliputi tempat, waktu, suasana, dan penanda kultur cerita, sehingga pembaca tidak mendapat gambaran sempurna. Penokohan cerpen cenderung tidak jelas juga, karena cerpen tidak mendeskripsikan keadaan fisik tokoh. Gambaran keadaan fisik tokoh cenderung diinformasikan langsung kepada pembaca oleh pengarang

Cerpen sebagai salah satu bentuk karya imajinasi dapat dibaca dalam waktu yang singkat. Thahar (1999:9) menyatakan bahwa sesuai dengan namanya, cerpen tentulah pendek. Jika dibaca, biasanya jalan peristiwa di dalam cerpen lebih padat. Sementara latar maupun kilas baliknya disinggung sambil lalu saja. Di dalam cerpen hanya ditemukan sebuah peristiwa yang didukung oleh peristiwa-peristiwa kecil lainnya. Hal itu yang membuat cerpen banyak digemari pembaca, karena tidak membutuhkan waktu yang lama untuk membacanya.

Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa cerpen merupakan bentuk fiksi yang lazimnya memiliki cerita yang menarik, hanya terdapat satu peristiwa pokok, memiliki tokoh utama yang sedikit, dan keseluruhan cerita membentuk kesan tunggal dan kesatuan bentuk, sehingga tidak ada bagian yang tidak diperlukan. Cerpen merupakan karya sastra yang paling banyak digemari, mudah, dan cepat dibaca.

  1. d.      Unsur-unsur Cerpen

Menurut Semi (1988:35), unsur-unsur dalam cerpen terdiri atas unsur  intrinsik dan unsur ekstrinsik yang membentuk cerita dalam karya fiksi. Unsur ekstrinsik adalah segala macam unsur yang berada di luar suatu karya sastra yang ikut mempengaruhi kehadiran karya sastra itu, misalnya faktor sosial, ekonomi, politik, dan budaya. Sedangkan, unsur intrinsik adalah unsur membentuk cerpen sebagai salah satu karya sastra seperti penokohan, latar, alur, tema, sudut pandang, dan gaya bahasa. Rincian penjelasannya sebagai berikut.


1)      Penokohan/perwatakan

Semi (1988:36-39) mengatakan bahwa tokoh dan perwatakan mestinya merupakan suatu struktur pula. Ia memiliki fisik dan mental yang secara bersama-sama membentuk suatu totalitas prilaku yang bersangkutan. Tokoh cerita biasanya mengemban suatu perwatakan tertentu yang diberi bentuk dan isi oleh pengarang.

2)      Plot/alur

Semi (1988:43) mengemukakan bahwa alur adalah struktur rangkaian kejadian dalam cerita yang disusun sebagai sebuah interrelasi fungsional yang sekaligus menandai urutan bagian-bagian dalam keseluruhan fiksi. Alur menyajikan deretan peristiwa-peristiwa kepada pembaca, tidak hanya temporal tetapi dalam hubungan secara kebetulan.

3)      Latar

Latar merupakan penanda identitas permasalahan fiksi yang mulai secara samar diperlihatkan alur atau penokohan (Muhardi dan Hasanuddin, WS, 1992:30). Sedangkan Semi (1988:38) menyebutkan bahwa latar adalah lingkungan tempat peristiwa terjadi termasuk di dalamnya tempat atau ruangan yang diamati. Biasanya muncul pada semua bagian atau penggalan cerita

4)      Tema

Menurut Nurgiantoro (1994:70), “Tema adalah topik dalam pokok pembicaraan dalam tulisan atau karya fiksi. Jadi tema tidak lain merupakan suatu gagasan sentral dalam sebuah cerpen.


5)         Sudut Pandang

Sudut pandang adalah posisi dan penempatan diri pengarang dalam ceritanya atau dari mana ia melihat peristiwa-peristiwa yang terdapat dalam cerita itu (Nurgiantoro, 1994:72).

6)            Gaya Bahasa

Atmazaki (2005:108) mengemukakan bahwa gaya bahasa dalam karya naratif merupakan bentuk-bentuk ungkapan yang digunakan oleh pengarang untuk menyampaikan ceritanya.

7)        Amanat

Menurut Wiyanto (dalam Marta, 2009:15), “Amanat adalah unsur pendidikan, terutama pendidikan moral, yang ingin disampaikan oleh pengarang kepada pembaca lewat karya sastra yang ditulisnya. Unsur pendidikan ini tidak dituliskan secara langsung. Pembaca baru dapat mengetahui unsur pendidikannya setelah membaca seluruh karya sastra.

  1. e.       Langkah-langkah Menulis Cerpen

Menurut Sumardjo (dalam Marta, 2009:16), “Menulis cerpen dapat dilakukan melalui empat tahap, yaitu: 1) tahap persiapan, 2) tahap inkubasi, 3) tahap inspirasi, dan 4) tahap penulisan. Pada tahap persiapan, penulis telah menyadari apa yang akan dia tulis dan bagaimana menuliskannya. Timbulnya gagasan menulis itu membantu penulis untuk segera memulai menulis atau masih mengendapkannya. Tahap inkubasi berlangsung pada saat gagasan yang telah timbul disimpan, dipikirkan matang-matang, dan ditunggu sampai waktu yang tepat untuk menuliskannya. Tahap inspirasi adalah tahap dimana terjadi desakan pengungkapan gagasan yang telah ditemukan, sehingga gagasan tersebut mendapat pemecahan masalah. Tahap penulisan adalah tahapan pengungkapan gagasan yang terdapat dalam pikiran penulis agar hal tersebut tidak hilang atau terlupakan dari ingatan penulis. Dapat disimpulkan bahwa menulis adalah salah satu kemampuan menulis kreatif mengharuskan penulis untuk berpikir kreatif dan mengembangkan imajinasinya. Dalam menulis cerpen harus memperhatikan struktur yang membangun cerita itu sendiri.

  1. B.     Penelitian yang Relevan

Penelitian terdahulu yang berkaitan dengan kemampuan menulis karangan deskripsi telah dilakukan oleh sejumlah peneliti. Ada beberapa penelitian terdahulu yang telah dilakukan, yaitu: (1)  Susanti (2003) meneliti tentang tinjauan terhadap “Kemampuan Menulis Karangan Deskripsi Siswa Kelas VIII SMP Negeri Kampung Dalam Kabupaten Padang Pariaman.” Hasil penelitiannya menyatakan bahwa siswa kelas VIII SMP Negeri Kampung Dalam Padang Pariaman cukup mampu menulis karangan deskripsi sugestif dengan gaya dan pemilihan kata yang mampu menggugah perasaan; (2) Yusnidar (2005) meneliti Perbandingan Kemampuan Menulis Deskripsi dengan Menggunakan Media Gambar dan Cerita Siswa Kelas V SD Negeri 01 Padang Utara. Hasil penelitiannya menyatakan bahwa kemampuan menulis karangan deskripsi siswa kelas V SD Negeri 01 Padang Utara dengan media gambar dan cerita berada pada nilai yang cukup. (3) Marta (2009) dengan judul penelitiannya Peningkatan Kemampuan Menulis Cerpen dengan Teknik Mind Map  Siswa Kelas X SMA Pembangunan Kopri UNP. Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa secara keseluruhan rata-rata hasil observasi siklus I berada pada kualifikasi kurang dan siklus II berada pada kualifikasi lebih dari cukup.

Penelitian ini berbeda dengan penelitian-penelitian terdahulu. Pada penelitian ini, penulis melakukan penelitian yang terkait dengan hubungan kemampuan menyimak karangan deskripsi dengan kemampuan menulis cerpen siswa kelas VIII SMP N 03 Lubuk Basung. Aspek yang penulis teliti adalah kemampuan menyimak karangan deskripsi, kemampuan siswa menulis cerpen, serta bagaimana hubungan kedua kemampuan tersebut.

  1. C.    Kerangka Konseptual

Bentuk karangan ada lima, yaitu: deskripsi, eksposisi, persuasi, argumentasi, dan narasi. Karangan deskripsi adalah tulisan yang berusaha menghadirkan objek tersebut senyata mungkin seolah pembaca melihat langsung objek, masalah, atau kejadian itu.

Untuk mengukur kemampuan menyimak karangan deskripsi siswa dilakukan dengan tes objektif, dengan soal-soal yang sudah dilakukan uji coba terlebih dahulu untuk memenuhi syarat-syarat valid, reliabel, dan praktis. Tes kamampuan menulis cerpen adalah tes menulis. Pada tes tersebut, penulis memberikan kebebasan kepada siswa untuk mengembangkan idenya menjadi sebuah cerpen, kemudian hasil karangan siswa dianalisis dari ciri-ciri karangan deskripsi. Setelah itu, tes kemampuan menyimak siswa dihubungkan dengan hasil tes kemampuan menulis karangan deskripsi siswa. Selanjutnya, dilihat apakah ada hubungan yang signifikan antara kedua variabel tersebut atau tidak.

Bagan Kerangka Konseptual

 

  1. D.    Hipotesis Penelitian

Hipotesis yang diajukan dalam penelitian untuk lebih menguatkan penelitian berupa jawaban sementara dari penelitian ini, maka diajukan hipotesis penelitian sebagai berikut:

(Ho):    Kemampuan menyimak karangan deskripsi berpengaruh terhadap kemampuan menulis cerpen siswa kelas VIII SMP Negeri 03 Lubuk Basung.

(Hi):     Kemampuan menyimak karangan deskripsi tidak berpengaruh terhadap kemampuan menulis cerpen siswa kelas VIII SMP Negeri 03 Lubuk Basung.

Keterangan:

Ho:      hipotesis penelitian

Hi:       hipotesis alternatif

BAB III

RANCANGAN PENELITIAN

  1. A.    Jenis Penelitian

Sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai, penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif. Metode ini disebut metode kuantitatif karena data penelitian berupa angka-angka dan analisis menggunakan statistik (Sugiyono, 2009:7). Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode deskriptif dengan pendekatan korelasional. Pendekatan korelasional bertujuan untuk menemukan ada tidaknya hubungan, dan apabila ada, seberapa eratnya hubungan serta berarti atau tidaknya hubungan itu (Arikunto, 2002:239). Metode ini digunakan untuk memperoleh data tentang hubungan antara menyimak karangan deskripsi dengan menulis cerpen siswa kelas VIII SMP Negeri 03 Lubuk Basung.

  1. B.     Populasi dan Sampel

Sampel pada penelitian kuantitatif dipilih dari suatu populasi sehingga dapat digunakan untuk mengadakan generalisasi (Moleong, 2005:223). Populasi penelitian ini adalah siswa kelas VIII SMP Negeri 03 Lubuk Basung yang berjumlah 261 dan tersebar di tujuh kelas. Teknik penarikan sampel penelitian ini adalah teknik acak kelompok kelas, yaitu pengambilan sampel berdasarkan kelompok kelas VIII. Pada penelitian ini, penulis menetapkan sampel sebanyak 15% dari populasi, sehingga sampel yang diambil berjumlah 39 orang yang terdapat pada kelas VIII-7. Dalam hal ini, penulis mengambil siswa kelas VIII-7 sebagai sampel, karena dengan mengambil siswa kelas VIII-7 dianggap sudah dapat memberikan gambaran terhadap maksud penelitian yang dilakukan.

  1. C.    Variabel dan Data

Variabel penelitia ini ada dua, yaitu variabel bebas dan variabel terikat. Variabel bebas penelitian ini adalah kemampuan menyimak karangan deskripsi. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah kemampuan menulis cerpen. Data dalam penelitian ini berupa hasil tes kemampuan menyimak karangan deskripsi dan kemampuan menulis cerpen.

  1. D.    Instrumen Penelitian

Instrumen untuk kemampuan menyimak karangan deskripsi adalah tes objektif dan tes kemampuan menulis cerpen berupa tes menulis. Khusus untuk kemampuan menyimak, sebelum tes diberikan secara menyeluruh terlebih dahulu diadakan uji coba instrumen. Uji coba instrumen dimaksudkan untuk menentukan ketepatan dan keterpercayaan tes yang diberikan. Hal ini bertujuan untuk menguji tingkat validitas, reliabilitas, taraf kesukaran dan indeks daya beda soal, maka perlu dilakukan pengujian soal. Tes dikatakan baik apabila tes tersebut dapat memenuhi syarat-syarat valid, reliabel, dan praktis.

  1. E.     Teknik Pengumpulan Data

Untuk memperoleh data kemampuan menyimak pada sampel diberikan tes menyimak. Tes yang diberikan berupa rekaman pada pita kaset. Sampel diberikan lembaran jawaban yang memuat pilihan jawaban A, B, C, dan D. Kemudian sampel meresponnya dengan cara menyilangi alternatif jawaban yang dianggap paling benar pada lembar jawaban yang telah disediakan.

Untuk kemampuan menulis cerpen mencakup tiga langkah, yaitu: (1) siswa ditugaskan untuk menulis cerpen dengan ide bebas, (2) tugas siswa dikumpulkan, dan (3) tugas siswa dianalisis dengan alat ukur penilaian.

  1. F.     Teknik Analisis Data

Teknik analisis data dalam penelitian ini dilakukan dengan cara menganalisis data yang diperoleh dari sampel. Data yang terkumpul, dianalisis melalui beberapa langkah.

Pertama, mencatat skor mentah. Skor 1 diberikan untuk jawaban yang benar dan skor 0 apabila jawaban salah.

Kedua, skor kemampuan menyimak karangan deskripsi dan skor kemampuan menulis cerpen diubah menjadi nilai. Pengubahan skor menjadi nilai berdasarkan PAP (Pedoman Acuan Patokan) menggunakan rumus berikut ini:

x s max

Keterangan:

N:              tingkat penguasaan

SM:           skor yang diperoleh siswa

SI:                         skor yang harus dicapai dalam suatu tes

Smax:        skala yang digunakan                          (Abdurrahman dan Ratna, 2003:264)

Ketiga, menentukan nilai rata-rata hitung. Menurut Nurgiantoro (dalam Abdurrahman dan Ratna, 2003:270), rumus yang digunakan sebagai berikut:

Keterangan:

M:             mean

F:              frekuensi

X:             skor

∑FX:        jumlah skor dikali frekuensi

N:             jumlah siswa

Keempat, mengkonversikan nilai kemampuan menyimak karangan deskripsi dan kemampuan menulis cerpen ke tabel skala 10 berikut ini:

Tabel Pedoman Konversi Nilai Skala 10

No. Rentang Nilai Nilai Sebutan Mutu
1. 0-10 1 Buruk Sekali
2. 11-20 2 Buruk
3. 21-30 3 Kurang Sekali
4. 31-40 4 Kurang
5. 41-50 5 Hampir Cukup
6. 51-60 6 Cukup
7. 61-70 7 Lebih dari Cukup
8. 71-80 8 Baik
9. 81-90 9 Baik Sekali
10. 91-100 10 Sempurna

Nurgiyantoro (dalam Abdurrahman dan Elya Ratna, 1987:68)

Kelima, membuat histogram kemampuan menyimak karangan deskripsi dan kemampuan menulis cerpen siswa secara keseluruhan.

Keenam, mengkorelasikan nilai kemampuan menyimak karangan deskripsi siswa dengan nilai kemampuan menulis cerpen siswa dengan menggunakan rumus koefisien korelasi produk momen, yaitu:

Keterangan:

N:           jumlah subjek penelitian

rxy:        koefisien korelasi antara variabel x dan y

x:            variabel bebas

y:            variabel terikat

∑xy:       jumlah perkalian tiap-tiap skor asli x dan y

∑x:         jumlah skor asli variabel x

∑y:         jumlah skor asli variabel y

X2:         kuadrat dari x

Y2:         kuadrat dari y              Nurgiantoro (dalam Abdurrahman dan Ratna, 2003:183)

 

Ketujuh, melakukan pengujian terhadap hipotesis yang diajukan. Arikunto (2006:263) berpendapat bahwa untuk pengujian hipotesis digunakan rumus uji t, sebagai berikut:

Keterangan:

t:   signifikasi (keberatian)

n:  jumlah sampel

r:   koefisien korelasi

Kedelapan, menganalisis, membahas, dan menarik kesimpulan.

  1. G.    Penutup

Demikianlah susunan dan isi proposal ini. Penulis menyadari masih banyak kekurangan dalam penulisan proposal ini. Penulis harapkan kritik dan saran dari semua pihak untuk perbaikan kedepannya.


DAFTAR PUSTAKA

 

 

Abdurrahman dan Ellya Ratna. 2003. “Evaluasi Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia” Buku Ajar. Padang: FBSS UNP.

Arief, Darnis dan Khairanis. 2002. “Peningkatan Kemampuan Berbahasa melalui Pendekatan Komunikatif dan Terpadu.” Dalam Buletin Pembelajaran.

Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta.

Atmazaki. 2005. Ilmu Sastra: Teori dan Terapan. Padang: Citra Budaya Indonesia.

———–. 2006. Kiat-kiat Mengarang dan Menyunting. Padang: Yayasan Budaya Indonesia.

Depdiknas. 2002. Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching and Learning). Jakarta: Depdiknas.

Gani, Erizal. 1999. “Pembinaan Kemampuan Menulis di Perguruan Tinggi” Buku Ajar. Padang: FBSS UNP.

Hasanuddin, WS. 2001. “Pembinaan Apresiasi Sastra di Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama: Studi Deskriptif terhadap siswa SLTP Negeri Kotamadya Padang.” Dalam Forum Pendidikan.

Keraf, Gorys. 1982. Eksposisi dan Deskripsi. Ende-Flores: Nusa Indah.

Matra, Fajar. 2009. “Peningkatan Kemampuan Menulis Cerpen dengan Teknik Mind Map Siswa Kelas X SMA Pembangunan Kopri UNP.” Skripsi. Padang: Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah FBSS UNP.

Moleong, Lexy J. 2005. Metode Penelitian Kualitatif.  Bandung: Remaja             Rosdakarya.

Muhardi dan Hasanuddin, WS. 1992. Prosedur Analisis Fiksi. Padang: IKIP Padang.

Nurgiantoro, Burhan. 1995. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Nursaid. 2003. “Teori Belajar Bahasa dan Interaksi Belajar Mengajar” Buku Ajar. Padang: FBSS UNP.

———. 2003. “Kumpulan Perkuliahan MK Pengajaran Keterampilan Menyimak” Buku Ajar. Padang: FBSS UNP.

Semi, M. Atar. 1988. Anatomi Sastra. Padang: FPBS IKIP Padang.

—————–. 1990. Menulis Efektif. Padang: FBSS UNP.

Septiani, Nurul Melti Indah. 2007. “Peningkatan Kemampuan Menulis Cerpen melalui Teknik Pengandaian Diri sebagai Tokoh dalam Cerita dengan Media Audio Visual pada Siswa Kelas X4 SMA N 2 Tegal.” Skripsi. Semarang: Universitas Negeri Semarang.

Sugiyono.  2009. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta.

Susanti. 2003. “Kemampuan Menulis Deskripsi Siswa Kelas VIII SMP Negeri Kampung Dalam Kabupaten Padang Pariaman.” Skripsi. Padang: FBSS UNP.

Sutari, Ice, dkk. 1997. Menyimak. Jakarta: Depdikbud.

Tarigan, Djago. 1986. Membina Keterampilan Menulis Paragraf dan Pengembangannya. Bandung: Angkasa.

Tarigan, Hendri Guntur. 1983. Menulis sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa.

Thahar, Harris Effendi. 1999. Kiat Menulis Cerpen. Bandung: Angkasa.

Yusnidar. 2005. “Perbandingan Kemampuan Menulis Deskripsi dengan Menggunakan Media Gambar dan Cerita Siswa Kelas V SD Negeri 01 Padang Utara.” Skripsi. Padang: FBSS UNP.

Zulaikhoh, Siti. 2009. “Upaya Meningkatkan Kemampuan Menulis Siswa Kelas IV SD N Sumber 3 dengan Media Gambar Berseri.” Skripsi. Surakarta: Universitas Muhammadiyah Surakarta.

3 pemikiran pada “Hubungan Kemampuan Menyimak Karangan Deskripsi Dengan Menulis Cerpen Siswa Kelas VIII SMP Negeri 03 Lubuk Basung

Biasakan Berkomentar Setelah Membaca, Ya.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s