Beranda » Coretan Kuliah » Proposal Penelitian » Pengaruh Didikan Orang Tua Tuna Wicara Terhadap Pemerolehan Bahasa Pertama Anak

Pengaruh Didikan Orang Tua Tuna Wicara Terhadap Pemerolehan Bahasa Pertama Anak

BAB I

PENDAHULUAN

 

A. Latar Belakang

Bahasa merupakan salah satu media yang digunakan manusia dalam berkomunikasi. Manusia tidak akan lepas dari proses penggunaan bahasa dalam kehidupannya sehari-hari. Bahasa digunakan dalam setiap lini kehidupan untuk mempermudah proses berkomunikasi. Penggunaan bahasa tidak mengenal usia, dari orang tua hingga anak kecil, harus menggunakan bahasa untuk menyampaikan apa yang ingin disampaikannya.

Namun pada anak kecil, tata bahasa yang mereka gunakan tentu berbeda dengan tata bahasa yang orang dewasa gunakan. Hal ini disebabkan bahasa mereka masih berupa bahasa sederhana.

Seorang anak biasanya mengucapkan kata-kata yang mereka dapatkan dari lingkungan mereka. Hal ini biasa disebut pemerolehan bahasa. Menurut Marjusman Maksan (1993:20), pemerolehan bahasa adalah proses penguasaan bahasa yang dilakukan oleh seseorang (bukan cuma anak-anak) secara tidak sadar, implisit, dan informal. Hal ini berarti bahwa proses tersebut tidak mengenal guru atau orang yang semacam itu yang bertanggung jawab terhadap pencapaian hasil belajar. Juga tidak ada semacam kurikulum atau rencana pelajaran tertentu, seta tidak ada pula waktu dan tempat yang khusus yang disediakan untuk belajar bahasa tersebut.

Bahasa pertama atau bahasa ibu merupakan bahasa yang pertama kali didengar oleh seorang anak. Bahasa pertama tersebut kemudian  berusaha diucapkan oleh seorang anak dengan cara peniruan. Meskipun kata-kata tersebut tidak jelas maknanya. Ketidakjelasan tersebut disebabkan alat ucap yang belum sempurna, kemudian lama kelamaan karena ia tidak mendengar bunyi bahasa selain dari bunyi bahasa ibunya sendiri, maka ia pun hanya akan membunyikan bahasa ibunya saja.

Terdapat hubungan antara bahasa pertama yang diperoleh oleh seorang anak, dengan perkembangan anak nantinya. Seorang anak yang memperoleh bahasa pertama berupa kata-kata kotor, maka anak tersebut akan menirunya dan mengucapkannya hingga ia dewasa. Selanjutnya, perilakunya akan terpengaruh pula. Hal ini sesuai dengan penelitian di Jepang. Bahwa air yang diucapkan kata-kata buruk, kristal-kristalnya akan berbentuk buruk pula. Berbeda dengan air yang diucapkan kata-kata baik, kristal-kristalnya akan berbentuk sangat bagus. Manusia sendiri terdiri 90% dari tubuhnya terdiri dari air. Karenanya, bukan tidak mungkin kata-kata yang biasa didengar oleh anak akan membentuk pribadi anak sesuai dengan kata-kata yang mereka dengar.

Lingkungan juga mempunyai peranan penting terhadap perkembangan bahasa pertama anak. Tidak jauh berbeda dengan contoh di atas, seorang anak yang tumbuh di lingkungan dengan kondisi sosial buruk, akan memperoleh kata-kata yang buruk untuk didengar. Kata-kata tersebut kemudian diulang-ulangnya, meskipun dia tidak tahu apa artinya. Bahkan terkadang, ketika menangis pula kata tersebut mereka ucapkan tanpa sadar. Contoh lainnya, seorang anak yang tumbuh di lingkungan dengan banyak larangan, maka kata-kata yang didengarnya hanyalah kata-kata negatif yang dapat mempengaruhi kondisi kejiwaan si anak. Anak tersebut akan tumbuh menjadi anak yang pesimis, penuh rasa takut, tidak mampu menghadapi masalah, dan lainnya.

Lalu seorang anak yang dibesarkan oleh orang tua tuna wicara. Meskipun si anak awalnya adalah anak yang normal, namun karena ia tidak mendengar kata-kata yang seharusnya diucapkan orang tuanya, lama kelamaan ia akan menjadi tuna wicara pula.

Berdasarkan hal itu, penulis merasa tertarik untuk meneliti pemerolehan bahasa pertama anak yang dibesarkan oleh orang tua tuna wicara. Terutama bagaimana proses ia memperoleh bahasa pertama, penggunaannya, dan perkembangan si anak ke depannya. Penulis memilih Epi sebagai objek penelitiannya, karena ia salah satu anak yang berumur 0-5 tahun.

Epi merupakan seorang anak yang tinggal di daerah desa Padang Alai, Kecamatan V Koto Timur, Kabupaten Padang Pariaman. Epi awalnya dibesarkan oleh orang tua kandungnya sendiri. Orang tua kandungnya merupakan tuna wicara yang berprofesi sebagai petani. Orang tua Epi membesarkannya dengan penuh kasih sayang, meskipun serba kekurangan. Namun sayang sekali, dikarenakan orang tuanya tuna wicara, maka Epi pun berangsur-angsur tidak dapat berbicara. Padahal menurut bidan yang mengurus persalinannya, pada saat ia dilahirkan hingga umur beberapa bulan, ia masih bisa menangis seperti anak normal pada umumnya. Epi tinggal di daerah terpencil sehingga sangat jarang berkomunikasi dengan orang lain. Uniknya, Epi dapat meniru suara gonggongan anjing. Ini dikarenakan orang tuanya memelihara seekor anjing. Suara anjing tersebut sering didengar oleh Epi dan ditirunya. Jadi meskipun Epi tidak bisa berbicara, ia masih bisa meniru suara-suara yang ia dengar disekelilingnya. Saat ini, Epi diasuh oleh saudara ibunya. Meskipun telah diajarkan mengucapkan kata-kata oleh orang tua angkatnya, ternyata Epi tetap tidak dapat berbicara. Ia hanya bisa meniru bunyi-bunyian yang pernah didengarnya dahulu sewaktu masih dibesarkan oleh otang tua kandungnya. Kenyataan inilah yang membuat penulis tertarik untuk menganalisis pemerolehan bahasa pertamanya selama dibesarkan oleh orang tua yang tua wicara.

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, dapat diidentifikasi permasalahan sebagai berikut:

  1. Pengaruh bahasa pertama terhadap perkembangan anak.
  2. Pengaruh bahasa lingkungan terhadap perkembangan bahasa pertama anak.
  3. Pengaruh didikan orang tua tuna wicara terhadap pemerolehan bahasa pertama seorang anak.

C. Fokus Masalah

Mengingat luasnya cakupan permasalahan yang ada disertai berbagai keterbatasan yang ada pada penulis, maka penulisan karya tulis ini hanya akan dibatasi pada permasalahan: Pengaruh didikan orang tua tuna wicara terhadap pemerolehan bahasa pertama anak.

D. Perumusan Masalah

Permasalahan pada penulisan makalah ini dapat dirumuskan sebagai berikut:

  1. Bagaimanakah pengaruh didikan orang tua tuna wicara terhadap pemerolehan bahasa pertama seorang anak?
  2. Bagaimanakah pengaruh lingkungan terhadap perkembangan seorang anak yang dibesarkan oleh orang tua yang tuna wicara?
  3. Apakah yang terjadi apabila si anak kemudian diasuh oleh orang lain yang tidak tuna wicara?

E.  Tujuan Penulisan

Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk menjelaskan:

  1. Untuk mengetahui pengaruh didikan oleh orang tua tuna wicara terhadap pemerolehan bahasa pertama seorang anak?
  2. Untuk mengetahui pengaruh lingkungan terhadap perkembangan seorang anak yang diasuh oleh orang tua tuna wicara?
  3. Untuk mengetahui apa yang akan terjadi apabila si anak kemudian dibesarkan oleh orang lain yang tidak tuna wicara?

F.  Manfaat Penulisan  

Kegunaan dari penulisan ini adalah:

            1. Penulis dan pembaca agar dapat menambah wawasan dalam meneliti suatu pemerolehan bahasa khususnya mengenai pengaruh didikan orang tua tuna wicara terhadap pemerolehan bahasa pertamanya.

2. Peneliti lain agar dapat menambah wawasannya dan mengembangkan penelitian ini dari sudut pandan yang berbeda.

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

 

A. Hakikat Pemerolehan Bahasa

  1. Pengertian Pemerolehan Bahasa

Proses anak mulai mengenal komunikasi dengan lingkungannya secara verbal disebut dengan pemerolehan bahasa anak. Pada masa pemerolehan bahasa anak, anak lebih  mengarah pada fungsi komunikasi dari pada bentuk bahasanya.

Ada dua pengertian mengenai pemerolehan bahasa. Pertama, pemerolehan bahasa mempunyai permulaan yang mendadak, tiba-tiba. Kedua, pemerolehan bahasa memiliki suatu permulaan yang gradual yang muncul dari prestasi-prestasi motorik, sosial dan kognitif pralinguistik. Marjusman Maksan (dalam Psikolinguistik, Edisi I/1993) menyatakan  tentang pemerolehan bahasa sebagai berikut :

Setidak-tidaknya terdapat dua teori tentang pemerolehan bahasa. Teori pertama, teori  aliran Behaviorisme, menyatakan bahwa perkembangan bahasa anak-anak itu melalui penambahan sedikit demi sedikit. Jadi seolah-olah pemerolehan bahasa itu bersifat linear atau garis lurus. Makin hari makin  bertambah juga sampai akhirnya lengkap seperti bahasa orang dewasa. Menurut teori yang kedua, teori aliran  rasionalisme yang menyatakan  bahwa perkembangan bahasa anak itu mengikuti suatu pola perkembangan tertentu.

Setiap insan potensi yang sama untuk menguasai bahasa. Proses dan sifat penguasaan bahasa setiap orang  berlangsung dinamis dan melalui tahapan berjenjang. Dalam hal ii  dikenal dua istilah  yakni pemerolehan dan pembelajaran bahasa. Kridalaksana (2001 : 159) mendefinisikan pemerolehan bahasa (language learning) diartikan sebagai proses  dikuasainya bahasa sendiri atau bahasa lain oleh seorang manusia. Krashen  (dalam Johnson & Johnson, 1999 : 4) menyifati pemerolehan  sebagai proses alami yang berlangsung tanpa adanya perhatian secara  sadar terhadap bentuk-bentuk linguistis, kondisi minimal pemerolehan ialah partisipasi  dalam situasi komunikasi yang alami.

  1. 2.      Pemerolehan bahasa pertama (B1) pada anak

Pemerolehan bahasa pertama (B1) sangat erat hubungannya  dengan perkembangan kognitif yakni pertama, jika anak dapat menghasilkan ucapan-ucapan yang berdasar pada  tata bahasa yang teratur rapi, tidaklah secara otomatis mengimplikasikan  bahwa anak telah menguasai bahasa yang bersangkutan dengan baik.

Pemerolehan bahasa pertama  erat sekali kaitannya dengan perkembangan sosial anak dan  karenanya juga erat hubungannya dengan pembentukan identitas sosial. Mempelajari bahasa pertama merupakan salah   satu perkembangan menyeluruh anak menjadi anggota penuh suatu masyarakat. Bahasa memudahkan  anak mengekspresikan gagasan, kemauannya dengan  cara yang benar-benar dapat diterima secara sosial. Bahasa merupakan media yang dapat digunakan anak untuk memperoleh nilai-nilai budaya, moral, agama dan nilai-nilai  lain dalam masyarakat.

Dalam melangsungkan upaya memperoleh bahasa, anak dibimbing oleh  prinsip atau falsafah “jadilah orang lain dengan sedikit perbedaan”, ataupun “dapatkan atau perolehlah suatu identitas sosial  dan di dalamnya, dan kembangkan identitas pribadi anda sendiri”.

Melalui bahasa khusus bahasa pertama (B1), seorang anak belajar untuk menjadi anggota masyarakat. B1 menjadi  salah  satu sarana mengungkapkan perasaan, keinginan dan  pendirian dalam bentuk-bentuk bahasa yang dianggap ada.

Pemerolehan bahasa pertama (B1) pada  anak memiliki pola-pola atau tingkat-tingkat tertentu. Tingkat pemerolehan bahasa pertama tersebut dari pendapat Mangantar Simanjuntak dan Soerjono Dardjowidjojo, adalah sebagai berikut :

  1. Tingkat Membabel

Pada prinsipnya masa membabel dibagi atas dua yakni (a) cooing atau mendekut dan kedua, babbling atau membabel. Masa mendekut yang berlangsung dari umur 0;0 sampai dengan umur 0;6b anak membunyikan bunyi-bunyi bahasa sedunia.

Masa kedua yang disebut masa membabel itu, ialah pada usia 0;6 sampai dengan 1;0. pada saat ini anak mengarah untuk mengucapkan pola suku kata KV (konsonan dan vokal). Suatu hal yang menarik dari masa membabel (cooing dan babbling) ini ialah bahwa anak yang pekakpun ternyata ikut membunyikan bunyi-bunyi bahasa seluruh dunia itu, dan ikut juga mengucapkan pola suku kata KV tersebut.

  1. Masa Holofrasa (1;0 – 2;0)

Masa holofrasa yang berlangsung antara umur 1;0 sampai dengan 2;0 ialah masa anak-anak mengucapkan satu kata dengan maksud sebenarnya menyampaikan sebuah kalimat. Kalau seorang anak menyebutkan [cucu] misalnya yang berarti susu, maka maksud anak tersebut mungkin untuk menyampaikan sebuah kalimat lain (tergantung pada konteks) seperti” “Nah, ibu membuatkan susu untuk saya” dan sebagainya.

  1. Masa Ucapan dua Kata (2;0 – 2;6)

Pada masa ini anak sudah mulai mengucapkan dua buah kata. Pada awalnya ucapan jangan dua buah kata ini mungkin saja gabungan dari dua buah holofrasa seperti [ma] dan [cucu] yang berarti: Mama sedang membuatkan susu buat saya. Akhirnya barulah mengucapkan dua buah kata yang sebenarnya seperti [ju di?] untuk “baju kepunyaan adik.

B. Pengasuhan dan Perkembangan Anak

Pengasuhan anak merupakan salah satu faktor yang menentukan pertumbuhan dan perkembangan anak, terutama pada masa-masa kritis, yaitu usia 0 – 8 tahun. Kehilangan pengasuhan yang baik, misalnya perceraian, kehilangan orang tua, baik untuk sementara maupun selamanya, bencana alam dan berbagai hal yang bersifat traumatis lainnya sangat mempengaruhi kesehatan fisik dan psikologisnya.

Dengan mengacu kepada konsep dasar tumbuh kembang maka secara konseptual pengasuhan adalah upaya dari lingkungan agar kebutuhan-kebutuhan dasar anak untuk tumbuh kembang (asuh, asih, dan asuh) terpenuhi dengan baik dan benar, sehingga anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal. Akan tetapi, praktiknya tidaklah sesederhana itu karena praktik ini berjalan secara informal, sering dibumbui dengan hal-hal yang tanpa disadari dan tanpa disengaja serta lebih diwujudkan oleh suasana emosi rumah tangga sehari-hari yang terjadi dalam bentuk interaksi antara orang tua dan anaknya serta anggota keluarga lainnya. Dengan demikian hubungan inter dan intrapersonal orang-orang di sekitar anak tersebut dan anak itu sendiri sangat memberi warna pada praktik pengasuhan anak.

Menurut Sears (1957) child rearing is not a technical term with precise significance. It refers generally to all the interactions between parents and their children. These interactions between parents and their children include the parent expressions of attitudes, values interests, and beliefs as well as their children care-taking and training behavior. Sociologically speaking, these interactions are an inseparable class of events that prepare the child, intentionally or not, for continuing his life (Sunarwati, 2007).

Dalam pengasuhan anak ada empat hal yang harus dipenuhi, yaitu bahwa setiap anak membutuhkan orang tua, dan tumbuh secara alamiah dengan saudara kandung yang dimilikinya, di dalam rumah mereka sendiri dan di dalam lingkungan yang mendukungnya. Diharapkan bahwa pengasuhan anak ini akan mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak. Pertumbuhan (growth) berkaitan dengan masalah perubahan dalam besar, jumlah, ukuran atau dimensi tingkat sel, organ maupun individu, yang bisa diukur dengan ukuran berat (gram, pounds, kilogram), ukuran panjang (cm, meter), umur tulang dan keseimbangan metabolik (retensi kalsium dan nitrogen tubuh). Perkembangan (development) adalah bertambahnya kemampuan (skill) dalam struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam pola yang teratur dan dapat diramalkan sebagai hasil dari proses pematangan (Soethiningsih, 1995).

Menurut teori perkembangan psikososial Erikson ada empat tingkat perkembangan anak yaitu:

1. Usia anak 0 – 1 tahun yaitu trust versus mistrust. Pengasuhan dengan kasih sayang yang tulus dalam pemenuhan kebutuhan dasar bayi menimbulkan “trust” pada bayi terhadap lingkungannya. Apabila sebaliknya akan menimbulkan “mistrust” yaitu kecemasan dan kecurigaan terhadap lingkungan.

2. Usia 2 – 3 tahun, yaitu autonomy versus shame and doubt. Pengasuhan melalui dorongan untuk melakukan apa yang diinginkan anak, dan sesuai dengan waktu dan caranya sendiri dengan bimbingan orang tua atau pendidik yang bijaksana, maka anak akan mengembangkan kesadaran autonomy. Sebaliknya apabila pendidik tidak sabar, banyak melarang anak, akan menimbulkan sikap ragu-ragu pada anak. Hal ini dapat membuat anak merasa malu.

3. Usia 4 – 5 tahun, yaitu inisiative versus guilt, yaitu pengasuhan dengan memberi dorongan untuk bereksperimen dengan bebas dalam lingkungannya. Pendidik dan orang tua tidak menjawab langsung pertanyaan anak, maka mendorong anak untuk berinisiatif sebaliknya, bila anak selalu dihalangi, pertanyaan anak disepelekan, maka anak akan selalu merasa bersalah.

4. Usia 6 – 11 tahun, yaitu industry versus inferiority, bila anak dianggap sebagai “anak kecil” baik oleh orang tua, pendidik maupun lingkungannya, maka akan berkembang rasa rendah diri, dampaknya anak kurang suka melakukan tugas-tugas yang bersifat intelektual dan kurang percaya diri.

Teori lainnya yang berkaitan dengan perkembangan kognitif, yaitu Piaget menyebutkan bahwa ada tiga tahapan perkembangan kognitif anak, yaitu :

  1. Tahap sensorimotorik (usia 0 – 2 tahun). Pada tahap ini anak mendapatkan pengalaman dari tubuh dan indranya.
  2. Tahap praoperasional. Anak berusaha menguasai simbol-simbol (kata-kata) dan mampu mengungkapkan pengalamannya, meskipun tidak logis (pra-logis). Pada saat ini anak bersifat egosentris, yaitu melihat sesuatu dari dirinya (perception centration), dengan melihat sesuatu dari satu ciri, sedangkan ciri lainnya diabaikan.
  3. Tahap operasional kongkrit. Pada tahap ini anak memahami dan berpikir yang bersifat kongkret belum abstrak.
  4. Tahap operasional formal. Pada tahap ini anak mampu berpikir abstrak.
    Berkaitan dengan anak-anak, beberapa anak ditemukan memiliki kerentanan untuk menghadapi perubahan atau tekanan yang mereka hadapi.Akan tetapi, tidak jarang pula, orang tua atau pendidik mengeluhkan anak-anak memerlukan penyesuaian diri yang lama terhadap situasi baru, atau anak yang trauma dengan pengalaman negatif, seperti kehilangan sahabat, pindah rumah, nyaris tenggelam di kolam renang, atau menjadi korban bencana alam seperti gempa (Ilham, 2007).

C. Hakikat Tuna wicara

Tuna wicara merupakan gangguan verbal pada seseorang sehingga mengalami kesulitan dalam berkomunikasi melalui suara. Tun wicara sring dikaitkan dengan tuna rungu. Van Uden (1971) menyatakan bahwa penyandang tuna rungu bukan saja tuna rungu tetapi juga tuna bahasa. Sedangkan Leigh (1994)  mengemukakan bahwa terhadap anak tuna rungu, orang akan langsung berpikir tentang ketidakmampuan mereka dalam berkomunikasi secara lisan (berbicara), padahal masalah utamanya bukan pada ketidakmampuan dalam berbicara melainkan pada akibat dari keadaan ketunarunguan tersebut  terhadap perkembangan bahasa. Pendapat van Uden yang menyatakan bahwa penyandang tuna rungu juga pasti tuna bahasa, berlawanan dengan pendapat Morag Clark, seorang International Consultant in Natural Auditory Oral Education for children who are hearing impaired. Clark (2007) menyatakan bahwa apabila anak-anak dengan gangguan pendengaran diberi alat bantu dengar yang tepat sehingga dapat baik maka kualitas bicara mereka sangat mengagumkan.

Sesungguhnya kemampuan berbahasa anak tuna rungu tidak hanya bergantung dari sisa pendengaran yang ada. Ada banyak hal yang mempengaruhi kemampuan berbahasa penyandang tuna rungu. Penggunaan alat bantu dengar (ABD) yang tepat sesuai kebutuhan pada awal terdeteksinya ketunarunguan dan pemakaian ABD sepanjang hari akan sangat mempengaruhi kemampuan berbahasa anak tuna rungu. Kemampuan berbahasa juga tergantung dari intervensi dini yang dilakukan oleh orang tua dan keluarga dari anak tuna rungu tersebut.   Sesuai dengan pendapat Robertson dan Flexer (Robertson & Flexer, 2000, p.7): “the earlier and more efficiently we can allow a child access to meaningful sound with subsequent direction of the child’s attention to sound , the better opportunity that child will have to develop spoken language, reading and academic skills”. Maka demikian pentingnya intervensi dini harus diberikan kepada anak tuna rungu.


BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

 

  1. A.    Jenis dan Metode Penulisan

Metode penulisan ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Penulis menggunakan metode ini dalam meneliti peristiwa yang terjadi. Penelitian kualitatif merupakan penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari manusia dan perilaku yang dapat diamati. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara secara mendalam dan metode lain yang dapat menghasilkan data yang bersifat deskriptif tentang sesuatu, misalnya sebab terjadinya suatu peristiwa yang dialami oleh subjek penelitian.

Penelitian kualitatif mempunyai ciri-ciri sebagai berikut: (1) dilakukan pada latar alamiah atau pada konteks dari suatu keutuhan; (2) manusia sebagai alat penelitian; (3) menggunakan metode kualitatif; (4) menganalisis data secara induktif; (5) lebih menghendaki arahan penyusunan teori substantif yang berasal dari data; (6) data berupa deskripsi (kata-kata, gambar dan bukan angka-angka); (7) lebih mementingkan proses daripada hasil; (8) adanya “batas” yang ditentukan oleh “fokus”; (9) meredefinisikan validitas, realibitas, objektivitas dalam versi tersendiri dibandingkan dengan lazimnya digunakan dalam penelitian klasik; (10) desain bersifat sementara ; dan (11) hasil penelitian (interpretasi) dirundingkan dan disepakati oleh orang yang dijadikan sumber data (Moleong, 1997:4-8).

B. Subjek, Objek, dan Fokus Penelitian

Menurut Badudu dan Zain (1996:1361), subjek penelitian adalah sasaran pelaku yang dikenai tindakan di dalam suatu penelitian. Untuk itu, subjek penelitian adalah seorang anak perempuan yang bernama Epi dan berusia 4,5 tahun. Selanjutnya, mereka juga mengemukakan bahwa sesuatu yang jadi sasaran penelitian disebut dengan objek penelitian (1996:956). Berdasarkan hal itu, maka objek penelitiannya adalah pemerolehan bahasa pertama anak selama dibesarkan oleh orang tua tuna wicara. Lain halnya dengan fokus penelitian yang menurut mereka (1996:409) merupakan titik pusat dalam penelitian. Oleh sebab itu, tuturan dari Epi, bunyi-bunyi yang dikeluarkan oleh Epi dijadikan fokus dalam penelitian ini.

C. Informan Penelitian

 

Informasi atau data  mengenai  pengaruh didikan orang tua tuna wicara terhadap pemerolehan bahasa pertama anak dapat diperoleh dari informan penelitian yaitu seorang ibu bernama Maryati yang merupakan orang tua angkat Epi. Adapun penentuan informan dengan menggunakan kriteria sebagai berikut :

  1. Berada di lokasi penelitian dan jarang meninggalkan  daerahnya, informan itu penduduk  asli tempat penelitian
  2. Sudah  dewasa, yaitu berumur  35-70 tahun,
  3. Informan berada di daerah penelitian  dan jarang meninggalkan daerahnya
  4. Informan sehat jasmani  dan rohani
  5. Punya kesediaan  waktu yang cukup
  6. Memiliki sifat yang terbuka, sabar, ramah dan tidak mudah tersinggung (Kasim, 1983 : 11)

Informan haruslah orang yang dewasa. Tidak  ada perbedaan antara pria dan wanita yang jelas informannya sehat lahir batin dan menyesuaikan diri dengan  lingkungannya.

D. Instrumen  Penelitian

 

Instrumen utama penelitian ini adalah peneliti sendiri melalui observasi dan wawancara yang dilakukan di  tempat tinggal informan penelitian, yang dibantu oleh alat sebagai berikut : (1) tape recorder , digunakan untuk merekam  informasi pada saat wawancara berlangsung, (2) daftar pertanyaan tentang masalah yang diteliti yang diajukan kepada informan secara lisan dan dalam situasi santai  atau non  formal, (3) kertas dan pena, digunakan untuk mencatat hasil wawancara serta informasi lain dari observasi

 

E. Teknik dan Alat  Pengumpulan Data

Penulis menggunakan prosedur pengumpulan data untuk memperoleh data di lapangan adalah sebagai berikut : (1) teknik simak, libat dan cakap merupakan teknik dimana peneliti terlibat langsung dalam dialog dengan informan, (2) peneliti mengobservasi ke lokasi penelitian, (3) rekaman dilakukan pada saat wawancara  berlangsung, agar peneliti mengetahui dengan jelas tentang data yang diperlukan, (4) pencatatan dilakukan untuk mencatat kembali hasil rekaman yang dilakukan (Sudaryanto, 1993 : 133 – 136).

Sebelum mengambil data, peneliti melakukan pendekatan dengan subjek penelitian dan informan   penelitian, yakni dengan berkunjung beberapa kali ke rumah informan, setelah bisa mengakrabkan diri barulah peneliti membuat janji mengenai  tempat dan waktu wawancara serta observasi terhadap anak. Setelah mendapat kesepakatan, peneliti mempersiapkan segala  sesuatunya dalam pengumpulan data, lebih  tepatnya  adalah alat pengumpulan data. Alat tersebut diantaranya tape  recorder, kuisioner atau daftar pertanyaan, kertas dan pena. Setelah  itu barulah peneliti mengumpulkan  data dengan  teknik wawancara dan  observasi, dengan tujuan memperoleh informasi  selengkap-lengkapnya

Observasi dilakukan untuk memperoleh informasi tentang perilaku manusia yang terjadi secara alami. Dengan observasi kita dapat memperoleh gambaran yang lebih jelas tentang perilaku yang sukar diperoleh dengan metode lain. Observasi juga dilakukan bila belum banyak informasi yang dimiliki tentang masalah yang kita teliti. Di samping itu, observasi juga diperlukan untuk menjajaki atau berfungsi sebagai eksplorasi. Secara garis besarnya, observasi dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu: (1) dengan partisipasi, pengamat berlaku sebagai partisipan dan (2) tanpa partisipasi, pengamat berlaku sebagai partisipan (Lufri: 2007:107-108). Dari penjelasan tersebut, penulis melakukan observasi tanpa partisipan. Penulis bukan merupakan bagian atau keluarga dari objek yang diteliti.

Wawancara atau interview merupakan suatu bentuk komunikasi verbal atau semacam percakapan yang bertujuan untuk memperoleh informasi tertentu. Keberhasilan pengumpulan data dalam wawancara sangat tergantung pada hal-hal berikut ini: (1) kemampuan pewawancara menciptakan hubungan baik dengan responden sehingga wawancara dapat berjalan dengan lancar; (2) kemampuan pewawancara menyampaikan semua pertanyaan yang telah disiapkan kepada responden; (3) kemampuan pewawancara untuk merekam semua jawaban lisan dari responden dengan teliti dan akurat; (4) kemampuan pewawancara untuk menggali informasi lebih dalam (probing) dengan pertanyaan yang tepat dan netral. Pada umumnya, wawancara dapat dibedakan atas dua macam, yaitu wawancara berstruktur dan wawancara tak berstruktur. Pada penelitian ini, penulis menggunakan jenis wawancara tidak berstruktur.

F. Teknik Analisis Data

Teknik analisis data yang dilakukan dari penelitian singkat ini adalah  sebagai berikut : (1) data yang telah  diperoleh dari informan baik melalui wawancara langsung yang bersifat non formal maupun rekaman, serta dari hasil observasi dicatat pada lembaran tersendiri, (2) data yang diperoleh kemudian diklasifikasikan berdasarkan aspek-aspek yang diteliti, (3) mengklasifikasikan data sesuai dengan kebutuhan penelitian, (4) menganalisis  data penelitian sesuai dengan keadaan yang sebenarnya berdasarkan tujuan  penelitian, (5) merumuskan simpulan dan menyusun laporan

G. Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan karya tulis ini adalah sebagai berikut:

  1. Pendahuluan

Pada bab pendahuluan, penulis memaparkan bagaimana pengaruh orang tua tuna wicara terhadap pemerolehan bahasa pertama anak serta pengaruh lingkungan disekitar tempat anak itu.

  1. Kajian pustaka

Merupakan dasar yang dapat digunakan untuk menganalisis permasalahan yang diperoleh dari beberapa referensi.

  1. Metode penulisan

Merupakan uraian tentang metode yang digunakan dalam menyusun karya tulis ini sehingga dapat tersusun secara sistematis.

  1. Pembahasan

Merupakan inti dari penulisan, dimana dasar teori diperoleh, dianalisis, dan dikaitkan antara yang satu dengan yang lainnya.

  1. Penutup

Merupakan bab yang memuat kesimpulan dan saran dari keseluruhan isi penulisan.


BAB IV

PEMBAHASAN

 

A. Pengaruh Didikan Orang Tua Tuna Wicara terhadap Pemerolehan Bahasa Pertama Seorang Anak

Pemerolehan bahasa pertama pada anak tergantung pada bunyi-bunyian atau kata-kata yang mereka dengar pada masa-masa awal mereka tumbuh. Sejauh mana mereka bisa meniru, membunyikan, dan mengucapkan suatu kata tergantung dari bahasa ibu yang mereka dapatkan.

Karenanya jika mereka tidak mendapatkan bunyi-bunyian untuk ditiru, maka alat ucap mereka menjadi tidak berfungsi. Ini disebabkan karena mereka tidak mengoptimalkan penggunaan alat ucap mereka.

Hal ini yang terjadi pada Epi. Selama dibesarkan oleh orang tuanya yang tuna wicara, Epi tidak pernah mendengar bunyi-bunyian atau kata-kata yang dapat ia tiru untuk kemudian diucapkan. Padahal, pada awalnya Epi mamapu bersuara seperti anak-anak pada umumnya. Ia mampu menangis seperti pada umumnya. Namun, setelah berumur beberapa bulan hingga umur 4 tahun, ia tidak pernah mendengar kata-kata dari orang tuanya. Sehingga ia pun tidak bisa berbicara. Epi hanya bisa membunyikan bunyi-bunyian tertentu, dimana bunyi-bunyi tidak pernah ia dapatkan dari kedua orang tuanya. Bunyi-bunyian yang ia dengungkan pun tidak jelas maknanya dan tidak berupa kata-kata, hanya berupa lenguhan-lenguhan singkat.

Epi mengalami masa-masa pertumbuhan yang tidak seperti biasa dialami oleh anak-anak pada umumnya. Ia tidak pernah mengalami masa-masa membabel, holofrasa, dan dua kata seperti yang biasa dialami anak-anak pada umumnya. Ia tidak pernah berusaha menggunakan alat ucapnya untuk mengucapkan suatu kata, ini dikarenakan tak ada kata-kata yang bisa ia tiru.

Dengan demikian jelas sudah. Terdapat hubungan antara cara mendidik orang tua dengan pemerolehan bahasa pertama anak. Seorang anak apabila tidak mendapatkan kata-kata untuk ia tiru pada masa-masa ia seharusnya meniru sebuah kata, maka alat ucapnya tidak akan berfungsi lagi.

B. Pengaruh Lingkungan terhadap Perkembangan Seorang Anak yang Dibesarkan oleh Orang Tua yang Tuna Wicara.

Terdapat kaitan antara lingkungan dengan pemerolehan bahasa pertama seorang anak. Seorang anak yang dibesarkan pada lingkungan buruk dan biasa mendengar kata-kata yang buruk juga, niscaya ia akan tumbuh menjadi anak yang berkepribadian buruk pula.

Epi, meskipun dibesarkan oleh orang tua tuna wicara dan tidak pernah berkomunikasi dengan orang lain, ternyata mampu membunyikan bunyi-bunyian tertentu. Ia mampu meniru bunyi suara anjing yang biasa ia dengar. Hal tersebut terjadi karena orang tuanya memelihara anjing di rumah. Kemudian, Epi sering mendengar suara anjing tersebut dan menirunya. Epi hanya mampu meniru suara-suara binatang ataupun benda yang ia dengar, namun tidak mampu meniru atau membunyikan suatu kata. Hal ini menimbulkan keunikan tersendiri pada diri Epi. Ia mampu meniru bunyi-bunyi yang tidak berupa kata yang ia dengar, namun tidak mampu mengucapkan suatu kata dikarenakan tidak pernah menerima suatu kata dari orang tuanya.

Dari ilustrasi di atas, tampak kaitan antara lingkungan dengan pemerolehan bahasa pertama seorang anak. Lingkungan, juga dapat memberikan pengaruh terhadap pemerolehan bahasa pertama seorang anak. Pada kasus Epi contohnya, ia tidak mampu mengucapkan kata-kata karena orang tuanya tuna wicara dan tidak pernah mengucapkan suatu kata yang dapat ia tiru. Namun, ia mampu meniru bunyi-bunyian tertentu yang ia dengar dari lingkungan tempat ia tinggal. Ia mampu meniru suara anjing yang dipelihara oleh orang tuanya. Epi sudah biasa mendengar suara si anjing kemudian mencoba meniru bunyi suara tersebut sehingga ia mampu membunyikan suara anjing tersebut.

C. Akibat yang Terjadi Apabila Seorang Anak yang Dibesarkan oleh Orang Tua Tuna Wicara, Kemudian Dibesarkan oleh Orang Lain yang Tidak Tuna Wicara.

Seorang yang pada awalnya dibesarkan oleh orang tua yang tuna wicara kemudian dibesarkan oleh orang lain yang tuna wicara, ternyata menimbulkan suatu fenomena baru.

Epi yang pada awalnya dibesarkan oleh orang tua kandungnya yang tuna wicara, pada umur 4 tahun diambil oleh saudara ibunya. Selama ia tinggal dengan orang tua angkatnya, orang tua angkatnya mencoba mengajarkan kepadanya mengucapkan kata-kata. Namun, anehnya Epi tetap tidak mampu mengucapkan kata-kata tersebut. Ia hanya mampu mengucapkan atau membunyikan suara-suara yang pernah ia dengar semasa ia dibesarkan oleh orang tua kandungnya. Ia hanya mampu meniru suara anjing yang pernah ia dengar dahulu. Namun, ia kini ia juga mampu meniru suara-suara lain yang  ia dengar di lingkungan barunya. Tetapi, suara-suara tersebut bukan berupa kata.

Dengan kata lain, Epi yang biasa diasuh oleh orang yang tuna wicara kemudian diasuh oleh orang lain yang tidak tuna wicara. Ternyata tetap tidak mampu mengucapkan kata-kata, meskipun telah diajarkan oleh orang tersebut. Ia hanya mampu meniru bunyi-bunyian tak bermakna. Ini disebabkan ia juga pernah meniru bunyi-bunyian tidak bermakna dahulunya, yakni bunyi suara anjing sewaktu ia masih diasuh oleh orang tuanya yang tuna wicara. Ternyata, seorang anak yang sudah biasa dengan suatu kondisi tertentu-dalam kasus ini tidak mendengar bunyi suatu kata-ketika dihadapkan dengan kondisi lain. Anak tersebut tetap tidak mampu mengubah kebiasaannya.

BAB V

PENUTUP

 

A. Kesimpulan

Berdasarkan analisis data dan pembahasan tersebut dapat disimpulkan sebagai berikut:

1. Seorang anak yang dibesarkan oleh orang yang tuna wicara, maka hal tersebut akan mempengaruhi penggunan alat ucapnya. Alat ucapnya menjadi tidak berfungsi, kerna tidak pernah digunakan untuk mengucapkan suatu kata.

2. Lingkungan juga dapat berpengaruh bagi pemerolehan bahasa pertama seorang anak. Seorang anak yang meskipun dibesarkan oleh orang tua yang tuna wicara, ternyata mampu mengucapkan bunyi-bunyian tertentu yang tidak pernah diajarkan oleh orang tuanya.

3. Seorang anak yang pada awalnya dibesarkan oleh orang tua yang tuna wicara, kemudian dibesarkan oleh orang lain yang tidak tuna wicara ternyata tetap tidak mampu mengucapkan kata-kata. Meskipun orang tersebut sudah mengajarkan kepadanya mengucapkan suatu kata dan si anak mendengar bagaimana orang tua angkatnya berbicara atau mengucapkan suatu kata.

B. Saran-saran

Berdasarkan kesimpulan di atas, maka penulis dapat menyarnkan beberpa hal sebagai berikut:

1. Pembaca agar dapat memahami dan menambah wawasannya terhadap suatu pemerolehan bahasa, khususnya mengenai bagaimana sutau anak yang dibesarkan oleh orang tua yang tuna wicara dalam pemerolehan bahasa pertamanya.

2. Peneliti lain agar dapat menambah wawasannya dan mengembangkan penelitian ini dari sudur pandang yang berbeda.


DAFTAR PUSTAKA

Bunawan, Lani & Yuwati, Cecilia Susila. 2000. Penguasaan Bahasa Anak Tuna Rungu. Jakarta: Andika.

Clark, Morag. 2007. A Practical Guide to Quality Interaction with Children Who Have Hearing Loss. Harvard University Press.

Haditono, Siti Rahayu. 2002. Psikologi Perkembangan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Kridalaksana, Harimurti. 2001. Psikolinguistik, Suatu Pengantar. Bandung: PT.  Remaja Rosda Karya.

Maksan, Marjusman. 1993. Psikolinguistik. Padang: IKIP Padang.

Poerwanti, Endang, Widodo, Nur. 2005. Perkembangan Peserta Didik. Malang: Universitas Muhammadiyah Malang.

Walgito, Bimo. 2004. Pengantar Psikologi Umum. Yogyakarta: Andi.

Yusuf, Syamsu. 2004. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung: PT.  Remaja Rosda Karya.

http://helpkidshear.org/communication_strategies/auditory_oral

http://jtc.org

http://www.kalbe.co.id/files/cdk/files/06_PengaruhKetulianPadaPsikis.pdf/06_PengaruhKetulianPadaPsikis.html

http://dtarsidi.blogspot.com/2007/08/studikasustunarungu.html

5 thoughts on “Pengaruh Didikan Orang Tua Tuna Wicara Terhadap Pemerolehan Bahasa Pertama Anak

  1. saya tengok-tengok..
    nyari tentang bahasa pertama..
    nyasar disini..
    eh pas liat gravatarnya, ternyata si Sulung.. :lol:
    mantap lah artikelnya

    gimana gan skripsinya?
    udah nyampe bab brapa?

Biasakan Berkomentar Setelah Membaca, Ya.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s