teknik penyusunan instrumen

PENDAHULUAN

Penelitian adalah suatu cara ilmiah untuk memecahkan suatu masalah atau menemukan sesuatu yang baru. Cara ilmiah di sini berarti kegiatan penelitian itu didasarkan pada ciri-ciri keilmuan yaitu rasional, empiris, dan sistematis. Dalam proses penelitian ilmiah akan diperoleh data-data yang akan diproses dan pada akhirnya diterjemahkan menjadi suatu hasil atau kesimpulan dari penelitian tersebut. Untuk mendapatkan data tersebut maka diperlukan suatu alat ukur/instrumen. Proses dalam menyusun alat ukur (instrumen) penelitian sangatlah penting karena instrumen tersebut menjadi pedoman untuk mengukur variabel-variabel penelitian. Variabel-variabel penelitian tersebut perlu diukur agar hubungan antara variabel dapat diungkapkan.
INSTRUMEN (ALAT UKUR)

Dalam penelitian kuantitatif, peneliti akan menggunakan instrumen untuk mengumpulkan data, sedangkan dalam penelitian kualitatif-naturalistik peneliti akan lebih banyak menjadi instrumen, karena dalam penelitian kualitatif peneliti merupakan key instruments (instrumen kunci). Instrumen penelitian digunakan untuk mengukur nilai variabel yang diteliti. Dengan demikian jumlah instrumen yang akan digunakan untuk penelitian akan tergantung pada jumlah variabel yang diteliti. Sebuah instrumen dikatakan baik jika memenuhi dua kriteria sebagai berikut:

a. Valid
Valid adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat keandalan atau kesahihan suatu alat ukur. Valid berarti instrumen tersebut dapat digunakan untuk mengukur apa yang seharusnya diukur. Analoginya misalnya meteran yang valid dapat digunakan untuk mengukur panjang dengan teliti, karena meteran memang alat untuk mengukur panjang. Meteran tersebut menjadi tidak valid jika digunakan untuk mengukur berat.
b. Reliabel
Reliabel adalah keajekan (konsistensi) alat pengumpul data/ instrumen dalam mengukur apa saja yang diukur. Instrumen yang reliabel maksudnya instrumen yang jika digunakan beberapa kali untuk mengukur objek yang sama, akan menghasilkan data yang sama. Meteran dari karet yang digunakan untuk mengukur panjang merupakan contoh alat ukur yang tidak reliabel.

DATA DAN JENIS DATA

Data adalah bahan mentah yang perlu diolah sehingga menghasilkan informasi atau keterangan, baik kualitatif maupun kuantitatif yang menunjukkan fakta.
Ada beberapa jenis data, yaitu:
a. Data kualiatif yaitu data yang berhubungan dengan kategorisasi, karakteristik berupa pertanyaan atau kata-kata.
b. Data kuantitatif yaitu data yang berwujud angka-angka.

JENIS-JENIS SKALA PENGUKURAN

a. Skala nominal yaitu skala yang paling sederhana disusun menurut jenis atau fungsi bilangan, hanya sebagai simbol untuk membedakan sebuah karakteristik dengan karakteristik lainnya.
contoh:
jenis kelamin:

laki-laki (1)
perempuan (2)

suku daerah:

jawa (1)
madura (2)
bugis (3)
batak (4)
sunda (5)
b. Skala ordinal yaitu skala yang didasarkan pada ranking, diurutkan dari jenjang yang lebih tinggi sampai jenjang yang paling rendah atau sebaliknya.
contoh:
status sosial:

kaya(1)
sederhana (2)
miskin (3)

c. Skala interval yaitu skala yang menunjukkan jarak antara satu data dengan data yang lain dan mempunyai bobot yang sama.
contoh:
temperatur atau suhu
skor IQ
kualitas pelayanan:

sangat puas (5)
puas (4)
cukup puas (3)
kurang puas (2)
tidak puas(1)

d. Skala ratio yaitu skala pengukuran yang mempunyai nilai nol mutlak dan mempunyai jarak yang sama.
contoh:  berat badan, tinggi badan, jarak, panjang.

Tipe-Tipe Skala Pengukuran
a. Skala pengukuran untuk mengukur perilaku susila dan kepribadian.

Contoh: skala sikap,skala moral,test karakter,skala partisipasi sosial.
b. Skala pengukuran untuk mengukur berbagai aspek budaya lain dan lingkungan sosial.

Contoh: skala mengukur status sosial ekonomi,dll.

BENTUK-BENTUK SKALA SIKAP
Macam-macam skala sikap yang dapat digunakan dalam pengukuran untuk mendapatkan data interval atau rasio, yaitu:

1. Skala Likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang atau sekelompok tentang kejadian atau gejala sosial. Dengan skala Likert, maka variabel yang akan diukur dijabarkan menjadi indikator variabel. Kemudian indikator tersebut dijadikan sebagai titik tolak untuk menyusun instrumen yang dapat berupa pernyataan atau pertanyaan.
Contohnya:
Sangat Setuju (SS) = 5
Setuju (S) = 4
Netral (N) = 3
Tidak Setuju (TS) = 2
Sangat Tidak Setuju (STS) = 1

2.  Skala Guttman merupakan skala kumulatif, digunakan untuk jawaban yang bersifat jelas (tegas) dan konsisten. Hanya menggunakan 2 interval yaitu “benar (b)” dan “salah (s)” atau “setuju” dan “tidak setuju”. Dalam skala Guttman, jawaban dapat dibuat skor tertinggi satu dan terendah nol. Misalnya untuk jawaban setuju diberi skor 1 dan tidak setuju diberi skor 0.

Contohnya:
apakah anda sudah memiliki pacar?
a. sudah (1)
b. belum (0)

3.  Skala Semantik Defferensial atau skala perbedaan semantik merupakan skala pengukuran yang dikembangkan oleh Osgood. Skala ini berisikan serangkaian karakteristik bipolar (dua kutub), seperti panas-dingin, baik-tidak baik. Skala ini juga digunakan untuk mengukur sikap, hanya bentuknya tidak pilihan ganda maupun checklist, tetapi tesusun dalam satu garis yang kontinum yang jawaban “sangat positifnya” terletak di bagian kanan garis dan jawaban yang “sangat negatif” terletak di bagian kiri garis, atau sebaliknya.

Beri nilai gaya mengajar dosen anda

Contohnya:
Tepat waktu    5          4          3          2          1          tidak tepat waktu

Bersahabat      5          4          3          2          1          tidak bersahabat

Komunikatif    5          4          3          2          1          tidak komunikatif

Responden yang memberi penilaian dengan angka 5, berarti persepsi responden terhadap dosen itu sangat positif, sedangkan bila memberi jawaban pada angka 3, berarti netral, dan bila memberi jawaban pada angka 1, maka persepsi responden terhadap dosennya sangat negatif.

4. Skala Rasio (rating scale). Dengan skala rasio, data mentah yang diperoleh berupa angka kemudian ditafsirkan dalam pengertain kualitatif. Dalam skala rasio, responden tidak akan menjawab salah satu dari jawaban kualitatif yang telah disediakan, tetapi menjawab salah satu jawaban kuantitatif yang telah disediakan. Oleh karena itu, skala ini lebih fleksibel, tidak terbatas untuk pengukuran sikap saja tetapi untuk mengukur responden terhadap fenomena lainnya, seperti skala untuk mengukur status sosial ekonomi, kelembagaan, pengetahuan, dan lain sebagainya.

Contoh:

Seberapa tinggi pengetahuan anda terhadap mata pelajaran berikut sebelum dan sesudah mengikuti pendidikan dan latihan. Arti setiap angka adalah sebagai berikut:

0 = bila sama sekali belum tahu

1 = telah mengetahui sampai dengan 25 %

2 = telah mengetahui sampai dengan 50 %

3 = telah mengetahui sampai dengan 75 %

4 = telah mengetahui 100 % (semuanya)

Mohon dijawab dengan cara melingkari nomor sebelum dan sesudah latihan

Pengetahuan sebelum mengikuti diklat Mata pelajaran Pengetahuan sesudah mengikuti diklat
0    1   2   3   4 Komunikasi 0    1   2   3   4
0    1   2   3   4 Tata ruang kantor 0    1   2   3   4
0    1   2   3   4 Pengambilan keputusan 0    1   2   3   4
0    1   2   3   4 Sistem pembuatan laporan 0    1   2   3   4
0    1   2   3   4 Pemasaran 0    1   2   3   4
0    1   2   3   4 Akutansi 0    1   2   3   4
0    1   2   3   4 Statistik 0    1   2   3   4

METODE DAN INSTRUMEN PENGUMPULAN DATA
Metode pengumpulan data adalah teknik atau cara-cara yang dapat digunakan oleh peneliti untuk mengumpulkan data.

Jenis metode dan jenis instrumen yang digunakan sebagai berikut:
a. Angket (questionaire): angket, daftar cocok, skala, dan inventori, dan lain-lain.
b. Wawancara (interview): pedoman wawancara, daftar cocok, dan lain-lain.
c. Pengamatan/observasi (observation): lembar pengamatan, panduan pengamatan, panduan observasi, daftar cocok, dan lain-lain.
d. Ujian atau tes (test): soal ujian/tes, inventori, dan lain-lain.
e. Dokumentasi: daftar cocok, tabel, gambar, dan lain-lain.

 

LANGKAH-LANGKAH MENYUSUN INSTRUMEN
a. mengindentifikasi variabel-variabel dalam rumusan judul penelitian.
b. menjabarkan variabel tersebut menjadi sub variabel/dimensi
c. mencari indikator/aspek setiap subvariabel
d. menderetkan deskriptor dari setiap indikator
e. merumuskan setiap deskriptor menjadi butir-butir instrumen
f. melengkapi instrumen dengan petunjuk pengisian dan kata pengantar.

 

Selain itu, dalam menyusun butir-butir instrumen pengumpulan data perlu juga diperhatikan:
a. Pertimbangan dari peneliti: (1) mengenai variabel yang akan diungkap, (2) tersedianya tenaga, waktu, dana, dan mudahnya analisis, (3) teknik pengujian realibilitas yang akan dipilih.
b. Pertimbangan dari responden: (1) pemahaman responden tentang item-item pernyataan/pertanyaan, (2) kesibukan responden, maksudnya menyangkut pekerjaan dikantor, nelayan,petani,dokter, dll.

About these ads

2 pemikiran pada “teknik penyusunan instrumen

Biasakan Berkomentar Setelah Membaca, Ya.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s