Kasur (satu)

Bagi kebanyakan orang, kasur bukanlah benda istimewa. Kasur hanya mereka pergunakan sekedar tempat pelepas penat, penat setelah seharian bergulat dengan takdir. Bagi sebagian yang lain, kasur bisa jadi tempat pemuas nafsu. Ada desah dan sisa keringat yang mengendap dalam tiap lipatan kasur yang mereka gunakan. Namun tidak bagi Pras.

Bagi Pras, kasur merupakan tempat yang sakral. Di atas kasur lah Pras dilahirkan dari rahim wanita perkasa. Wanita yang kelak ia panggil ibu, meski kelak ia tidak pernah tahu siapa ayahnya. Kasur juga pusat semesta Pras. Dari atas kasur lah bermula dan berakhirnya semua kegiatan Pras. Di kamarnya, Pras menghabiskan waktu membaca buku, menonton tv, makan, tidur, bahkan hingga ganti baju, semua Pras lakukan di atas kasur. Kasur ibarat suaka tersendiri bagi Pras. Orang-orang boleh saja berada di kamarnya, namun tidak di kasurnya.

Mungkin semua orang akan beranggapan kalau Pras tidak waras dan tak kan ada yang betah sekamar dengannya, tapi toh hidup selalu punya pengecualian. Pengecualian tersebut juga berlaku bagi Narno, teman sekamar Pras. Narno tidak mempermasalahkan keganjilan Pras, selama ia masih bisa menggunakan fasilitas di kamar Pras (yang memang kebanyakan kepunyaan Pras), ia tidak akan protes. Palingan, sesekali ia berusaha mengajak Pras beranjak dari kasurnya, meski acapkali gagal.

*          *          *

Malam Minggu, Pras masih asyik berkutat dengan buku yang ia baca. Sesekali tangannya bergerak mengambil biskuit tak jauh dari kasurnya. Narno sendiri sudah berganti baju dari tadi. Sembari menyemprotkan parfum, Narno melirik pada Pras.

“Lu ga mau keluar, Pras?”

Pras meletakkan buku yang ia baca dan duduk, tentunya di atas kasur. Pras memerhatikan Narno yang mulai memakai sepatu. Kulit Narno yang hitam, tampak kontras dengan kemeja kuning yang ia kenakan. Meski Pras bukan pemerhati fashion, tapi Pras tahu kalau Narno baru saja melakukan pantangan dalam berpakaian. Tabrak warna.

“Memangnya kamu mau kemana?”

“Biasalah, jalan-jalan. Emangnya lu, tiap hari tiduran mulu di atas kasur.” Narno berhenti sejenak, menghapus noda di sepatu putihnya. “Lu sesekali keluar kek, Pras. Bergaul. Jangan cuma di kamar mulu. Gua sih ga masalah, tapi gua nya kasihan aja ngeliat lu yang sendiri mulu. Ga kesepian apa?”

Pras tersenyum, baginya teguran Narno seperti ini sudah jadi makanan sehari-hari. “Ga, ah. Aku cukup nyaman kaya gini.”

Narno mengangkat bahunya. “Terserah lu lah. Gua pergi dulu, ya.” Narno membanting pintu kamar dan Pras kembali bergelut dengan bukunya.

*          *          *

Pras baru saja selesai kuliah. Tak ada kerjaan, ia memilih jalan-jalan di pasar. Pasar selalu menawarkan pesona tersendiri baginya. Ia suka memerhatikan orang-orang yang lalu-lalang, ribut masalah harga yang terlalu mahal, hingga panggilan dari beberapa wanita menor yang mengajak pria dewasa untuk mampir ke salon mereka. Salon yang merangkap tempat prostitusi. Pras kadang heran, bagaimana mungkin kota yang mempunyai semboyan islami, membiarkan begitu saja tempat-tempat maksiat tumbuh menjamur. Namun juga sudah bukan rahasia lagi, tempat tersebut selalu dilindungi oknum aparat.

Selain di tengah pasar, Pras menyenangi berjalan di sekitar emperan toko. Tempat favoritnya adalah toko kasur di depan bundaran. Toko tersebut senantiasa ramai, meski terik tengah memayungi kota tempat Pras tinggal. Seperti kali ini.

Pras tertegun di depan toko. Ia melangkah masuk untuk melihat-lihat. Jika surga pernah diciptakan Tuhan di muka bumi, mungkin di sinilah tempatnya dulu. Kasur-kasur yang dipajang begitu memukau Pras. Ada kasur yang mesti diisi dengan udara, kasur pegas, kasur yang berisi air, kasur busa, bahkan hingga kasur yang masih diisi dengan kapas pun ada. Belum lagi bentuknya yang membuat Pras terperangah. Bagaimana mungkin ada kasur anak-anak yang seperti mobil, lapangan bola, malahan berbentuk seperti kereta kencana. Ada pula ranjang yang dipagari dengan jati pernisan, ranjang besi yang kerap Pras temukan di kampungnya dulu.

Pras masih asyik memerhatikan kasur-kasur tanpa menyadari sesosok wanita yang mendekatinya. Wanita itu mengamati rupa Pras dari belakang, setelah yakin wanita tersebut pun berdiri di samping Pras.

“Kamu sangat suka kasur, ya?”

Pras terperanjat. Ia seolah mendengar suara nafiri purba. Belum pernah sekalipun ada wanita yang mau menyapanya, apalagi wanita bertutur merdu seperti di sebelahnya. Wanita tersebut tersenyum.

“Kamu Pras, kan? Temannya Narno?”

Pras mengangguk. “Dari mana kamu tahu namaku?”

“Kita pernah sekelas, tapi mungkin kamu tidak menyadarinya. Kamu terlalu sibuk dengan duniamu. Kebetulan aku menemukanmu di sini.”

“Tidak biasanya ada seorang wanita yang memperhatikanku. Biasanya mereka menjauh karena keanehanku.”

“Mungkin kamu lah yang terlalu menutup diri. Dinding yang kamu bangun terlalu tinggi sehingga yang lain tak mampu memanjatnya. Buktinya, sedari tadi kita berkenalan, kamu tidak pernah menanyakan namaku.”

Pras tertegun. Tatapannya kembali berpaling pada kasur di depannya.

“Apalah arti sebuah nama? Klise, bukan? Tapi bagiku tidak. Aku tidak pernah menanyakan nama seseorang, karena aku bukanlah pengingat nama yang baik. Sebab itu pula, aku lebih suka mengaitkan ingatanku akan seseorang dengan simbol. Terkadang, simbol lebih lama bertahan di memoriku dibanding sebaris nama.”

Pras menolehkan wajahnya kembali pada wanita tersebut. Wanita tersebut sesaat tampak terpana, namun kemudian tertawa kecil. Bias-bias yang berkilauan di sudut matanya membuat sendi lutut Pras serasa linu seolah tak mampu menopang tubuh Pras lagi.

“Baik, kalau begitu simbol apa yang kamu berikan untukku?”

“Perempuan di toko kasur?”

Wanita itu tergelak. Rona pipinya mengingatkan Pras akan apel yang dipetik adam di surga. Jika Pras memetik apel yang ini, akankah Pras diusir dari surga kasurnya?

“Aku memang sering mendengar orang-orang mengatakanmu aneh, tapi tidak kusangka seaneh ini. Baiklah. Perkenalkan, aku perempuan di toko kasur”

Perempuan di toko kasur menyodorkan lengannya.

*          *          *

(bersambung)

sourceimage: hotelsbycity.net

29 pemikiran pada “Kasur (satu)

  1. Hmm, jadi penasaran sama kelanjutannya nih Lung. Unik ceritanya, tokoh utamanya punya ‘obsesi’ yang agak berbeda dari biasanya, hehehe :D

  2. buatku kasur adalah tempat terindah….hehehehe…bisa baring sambil dengerin lagu,menghayal,mikirin someone,nonton tv sambil ngemil…..hmmmm…pokoknya enak deh…:P

  3. Perempuan di toko kasur… Hmmm…

    Kalo versi saya, saya akan membuatnya “perempuan di toko buku”… wuiih betapa indahnya… :oops: :oops:

Biasakan Berkomentar Setelah Membaca, Ya.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s