Beranda » Fiksi Mini » Cerita Rada Pendek » Wanita Salju

Wanita Salju

Membaca obituarimu di pagi hari, menghadirkan kejut yang menyentak di sudut hati. Udara masih terasa dingin, sisa hujan semalam yang tak lalu dibawa terbit mentari. Aku merapatkan jaketku. Memandangi potret yang terpampang di koran langganan. Kau masih seperti dulu Marina. Putaran waktu tak mampu menghapus sisa-sisa kecantikanmu semasa berakting dulu. Berapa tahun kita tak lagi bersua? Ah, waktu memang terkadang seperti hantu yang mencuri diam-diam. Tiba-tiba saja guliran waktu menyadarkan kita bahwa kehidupan mesti terus berjalan.

Aku bertemu denganmu di bawah guguran daun ginkgo pada satu musim semi di dataran Jepang sana. Mengejar jadwal kereta yang mepet membuatku tak memperhatikan sekeliling. Tanpa sadar, aku lewat di depan kau dan kru mu yang sedang mengambil gambar. Pekikan sutradara membuatku tergagap, namun gelak heranmu justru melupakanku akan kereta yang berlalu.

Seperti hujan yang berlalu begitu saja, seperti itu pula pertemuan-pertemuan kita berikutnya. Ginza sering menjadi tempat kita bertemu diam-diam. Pernah aku protes, kenapa kita mesti bertemu diam-diam? Seolah-olah aku  ini pesakitan saja. Namun kau hanya tersenyum. Mengajakku masuk ke toko buku Fukuya. Menggiringku ke bagian dongeng-dongeng Jepang. Jemari lentikmu bergerak perlahan, mengambil sebuah buku. Woman of The Snow, karya Yakumo Koizumi. Begitu tulisan yang kubaca disampulnya.

“Kau tahu?” Bibir halusmu mengembang. “Di Jepang ada sebuah dongeng terkenal tentang wanita salju. Suatu hari, seorang petani bernama Mokichi bertemu dengan wanita salju yang sesungguhnya roh jahat. Wanita salju sering berpura-pura keseleo untuk menjebak laki-laki yang lewat seperti Mokichi. Mokichi menggendong si wanita di punggungnya. Roh jahat tersebut menunggu Mokichi kehabisan napas sehingga bisa memakan rohnya. Akan tetapi, alangkah kagetnya sang wanita salju ketika Mokichi bertanya ‘Kau tidak kedinginan, Nona?  Apa perlu kupinjamkan mantelku?’ Menyadari kebaikan Mokichi, si wanita salju tidak jadi membunuhnya dan memilih menghilang. Aku takut pertemuan kita berakhir sama”

Waktu itu aku tak begitu mengerti maksud kata-katamu. Namun setelah pertemuan kita berlanjut, aku menyadari ada yang menetas diam-diam di hatiku. Rasa ini tak seharusnya ada, Marina.

*

Melepas kepergianmu serasa menitipkan separuh dari diriku pada tas yang kau sandang kemana-mana. Matamu nanar. Butiran salju turun perlahan disebalik kaca bandara. Kau harus kembali ke Jakarta, menyelesaikan film yang berlatar Negeri Sakura. Pun aku, mesti kembali dengan kesibukanku. Memperkenalkan budaya Indonesia dan menari di depan petinggi Jepang. Kau memelukku pelan. Berbisik perlahan.

“Maaf, rasa ini tak seharusnya tumbuh di antara kita. Awalnya aku hanya memanfaatkanmu untuk riset filmku. Tapi ternyata semua tidak seperti yang kuharapkan. Aku tergoda dengan pesonamu, dengan kebaikan hatimu. Gomen, jika aku seperti wanita salju.”

Ada bunyi benda tergores. Aku tak tahu, apakah itu pintu kaca yang terantuk koper, atau hatiku yang perih mendengar kata-katamu barusan. Aku hanya diam.

*

Bunyi deritan pagar menyadarkanku. Ternyata sedari tadi aku melamun sambil memandangi potretmu di koran. Aku meletakkan koran, berdiri menyambut cucuku yang baru pulang sekolah. Perlahan, kurapikan rokku yang kusut saat duduk tadi. Tanganku mengembang.

“Oma Nita, coba lihat gambar yang aku buat tadi di sekolah.”

Marina, cinta tak pernah salah bila pernah hadir di antara kita.

*

Image source: http://www.wikipaintings.org/en/utagawa-kuniyoshi/women-walking-in-the-snow

37 thoughts on “Wanita Salju

  1. Wihiii..cerita cinta2annya keren nih :D
    Latarnya di Jepang euy :D
    Btw, itu kalimat endingnya oke banget, “cinta tak pernah salah bila pernah hadir di antara kita.” :D

  2. Bagus ceritanya Lung, sederhana tapi indah, hehehe :) Tapi konfliknya kayaknya bisa dibikin lebih “seru” deh (tapi kalau dibikin lebih “seru” bakalan jadi panjang ya ceritanya, huahaha :lol: )

  3. Wah, tulisannya bagus! Aku mau belajar juga ah dari mas sulung gimana risetnya…. ^^

    Pas bagian : “menari di depan petinggi Jepang” dan “rokku yang kusut” baru ngeh kalau kekasih Marina ini wanita juga hihihi….

    Bravo! Aku suka banget!

  4. wauuuu bagus ya ceritanya – memang dibuat dengan sungguh sungguh dan riset jadi seperti ini ya :) – saya harus banyak berlajar dalam membuat tulisan nich yang berkualitas dengan riset terlebih dahulu – malu melihat tulisanku sendiri :(

  5. Ping-balik: Hajatan Anak Pertama « Catatannya Sulung

  6. baru ini saya mbaca Flash-Fiction ngulang-ngulang terus karena saking twist-nya*menurutsaya* endingnya *ato mungkin saya memang readers payah, kak-__-*
    gaya bahasanya… Aa, keren kak ! speechless saya merabaraba pembendaharaan kata kakak !
    insyaAllah saya bisa deh bikin yang sejenis ini buat hajatan pertama kakak :mrgreen: hihii

Biasakan Berkomentar Setelah Membaca, Ya.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s