Mencari Ning

Gerimis menyambutku saat langkahku terhenti di tepi jalan sekitar Jam Gadang. Kristal-kristal air berhamburan dari awan di atas kepalaku. Kemudian memercik ketika permukaan aspal menyambutnya. Lompatan-lompatan tersebut mengingatkanku padamu, Ning. Dimanakah kau kini? Ini kali kedua aku singgah di Bukittinggi, bukan untuk perjalanan kantor, tapi berusaha menemukan jejakmu yang hilang dua tahun lalu. Saat gempa menggoyang ranah minang ini.

Waktu itu gempa memang berpusat di sekitaran Padang Pariaman, namun aku yakin getarannya terasa hingga ke tempatmu berada. Dua hari kita tak bisa saling menghubungi. Luluh lantak menara-menara penerima sinyal tak berfungsi, membuatku seolah terisolasi di belantara Padang. Kau cemas waktu itu, Ning? Aku yakin itu. Namun kenapa kau tiba-tiba menghilang setelah peristiwa itu? Belum kering tanah pusara ibuku, apakah kini aku pun harus merelakan kehilanganmu?

Hubungan kita tak kan pernah berhasil, kau tahu itu Gus. Meski kita senantiasa berusaha mempertahankannya, adat lah yang kan memutus benang kisah kita nantinya.

Waktu itu aku seolah tak ingin berusaha mendengarkan perkataanmu, menolak semua kalimat yang telah meluncur dari bibir tipismu. Aku pun berusaha menjelaskan keadaan kita kepada keluarga dan mamak-mamakku, dan mereka mengerti. Terbiasa tinggal di rantau membuat mereka tak ingin memaksakan adat seperti yang kau risaukan. Terlebih pun, sepertinya mereka segan kepada ibuku yang anak tertua. Lalu bagaimana denganmu? Apakah kau sudah berusaha mengatakannya kepada keluargamu? Dimanakah kau kini, Ning?

*

Sudah empat kali aku menyusuri trotoar yang sama, di sekitaran Hotel The Hills. Namun bayanganmu tak kunjung ku temukan. Padahal kelopak-kelopak beringin yang berguguran di depan hotel membuat hatiku terpiuh. Bukankah kau begitu menyukai beringin?

Kokoh, seperti ayahku.

Demikian alasanmu dulu. Lalu kau akan menyedot es tabu panggang yang kubelikan untukmu. Melihat bibirmu menyedot bersemangat, aku jadi teringat saat kita terhenti di Gua Lubang Jepang. Suasana kelam membuatmu takut. Kemudian kita berpegangan tangan menyusuri gua peninggalan penjajah tersebut. Memisahkan diri dari guide, seolah kita hapal jalannya. Lalu entah terdorong angin halus di kudukku yang menelusup di sela-sela dinding gua, atau terpengaruh oleh suasana remang-remang. Bibir kita pun menyatu, Ning. Sesaat aku merasa melambung. Tapi berbeda denganmu, air matamu malah menetes. Kau pun menghapus jejak bibirku di bibirmu sembari berbisik.

Hubungan kita tak kan pernah berhasil, kau tahu itu Gus. Meski kita senantiasa berusaha mempertahankannya, adat lah yang kan memutus benang kisah kita nantinya.

Lalu kemana lagi aku harus mencarimu, Ning.

*

Awalnya aku tidak menyadari jurang yang akan memisahkan kita, hingga kita berbincang di atas jembatan gantung antara kebun binatang dan Benteng Fort de Kock. Di atas Jembatan Limpapeh itulah baru kita menyadari kalau kita bersuku sama, dari datuk yang sama pula. Sejak itulah sikapmu mulai berubah.

Aku tidak terlalu mengerti, Ning. Tapi sepertinya keluargamu begitu menjunjung tinggi adat Minang. Maka pernikahan yang pernah kita ancangkan, buyar karena kita satu suku. Namun bukankah kita memang tidak mempunyai hubungan darah? Bersuku sama belum tentu bertalian darah bukan? Aku tidak paham dengan pemikiran keluargamu, Ning. Atau kau sendiri yang memang tidak berniat menegaskan hal tersebut kepada keluargamu?

Gus, keluargaku termasuk terpandang di kampung. Jika sampai tetangga tahu kalau ayahku menikahkan anaknya dengan satu suku, maka gunjingan akan meruyak di kampungku bak epidemi. Hubungan kita tak kan pernah berhasil, kau tahu itu Gus. Meski kita senantiasa berusaha mempertahankannya, adat lah yang kan memutus benang kisah kita nantinya.

Aku pernah mencoba menghubungi nomor yang dulu kau berikan padaku. Tapi perempuan lain yang mengangkatnya. Perempuan-perempuan dengan suara yang sama di semua telepon saat hubungan tak tersambung. Atau perempuan tersebut sesungguhnya hanya satu yang kemudian direkam suaranya? Ah, aku tidak butuh suara perempuan asing tersebut. Yang kupingku cari, suaramu yang kadang mendesah parau saat aku menghubungimu. Dimana kau kini, Ning?

*

Lama aku menyusuri jalan, aku berhenti di depan KFC. Berputar-putar membuat perutku merintih. Aku pun baru sadar kalau matahari telah membakar di ubun-ubun. Haruskah aku mampir di restoran cepat saji tersebut, atau kembali ke Jam Gadang? Jam Gadang tempat berawal aku mencari sisa langkahmu.

Kalau kau masih ingat, Ning. Di Jam Gadang pula lah pertemuan kita berawal. Saat itu aku melihatmu duduk menepi di bangku sekitar Jam Gadang. Wajahmu agak pucat. Entah karena matahari Bukittinggi yang tidak ramah kali itu, atau karena kau punya masalah sendiri. Aku memperhatikanmu dari kios kecil di pinggir jalan menurun dekat Jam Gadang. Dari kios itu pula, jika aku melihat ke belakang kan tampak jajaran kios di Pasar Aur Kuning.

Tergerak melihat lengan putihmu yang menghapus peluh, aku pun membeli sebotol air mineral. Aku berjalan melewati jalanan yang lengang menuju tempatmu duduk. Saat aku menawarkan air mineral dan tisu, wajahmu menengadah heran. Aku bisa melihat lehermu yang jenjang dari tempat aku berdiri. Sesaat matamu menyelidik. Mungkin kau teringat kejahatan dengan modus hipnotis lewat pemberian air mineral. Saat aku menarik tangan yang berisi air mineral, kau malah merebut air tersebut. Jari lentikmu membuka tutup botol dan langsung mereguk air hingga tandas. Astaga, kau benar-benar haus ternyata.

“Sakit atau terpisah dari rombongan karya wisata?” tanyaku setelah mengambil tempat di sebelahmu.

“Bukan keduanya”

“Lalu kenapa? Tidak biasanya ada seorang perempuan terduduk lesu di dekat Jam Gadang.”

“Aku mau ke Taman Panorama, tapi lupa jalannya. Sedari tadi, aku hanya berputar-putar di sini.”

“Ke Taman Panorama? Menikmati panorama Ngarai Sianok atau mau masuk ke Lubang Jepang?”

“Lagi-lagi bukan keduanya. Aku ingin meloncat ke Ngarai Sianok.”

Jawabanmu yang terus terang membuatku kaget. Apa aku baru salah dengar? Wanita semuda ini mau bunuh diri?

“Kenapa mau bunuh diri?”

“Bukan urusanmu”

“Oh, pasti masalah asmara.”

Tiba-tiba kau menghujamkan tatapanmu padaku, membuatku jengah. Aku pun berlagak membuang botol air mineral tadi untuk menghindari tatapanmu. Tanganmu sedari tadi terkepal.

“Laki-laki dimana-mana sama saja. Seolah tahu segalanya, tapi sesungguhnya mereka cuma sok tahu.”

Aku diam. Tak mau lancang terlalu jauh. Kubiarkan kau memainkan kakimu. Sepatu putihmu, tampak bebercak coklat di sana-sini. Aku menebak, sebelum kau ke Jam Gadang kau sempat ke Lapangan Kantin. Sebab cuma di sana ada genangan air yang tidak kering waktu itu.

“Antarkan aku ke Taman Panorama”

“Aku tidak mau menjadi pembunuh,” jawabku. Keningmu berkerut.

“Aku yang akan bunuh diri, kenapa kau tidak ingin dicap pembunuh?”

“Menunjukkanmu jalan ke tempat meregang nyawa, sama saja dengan aku yang menjadi pembunuh.”

“Ah, tidak usah banyak berkomentar. Justru kau akan berpahala karena telah membantuku.”

“Baiklah, kalau memang itu maumu. Dan kau memang sudah siap dengan konsekuensimu.”

Aku pun berdiri. Kau mengikuti langkahku menuju tempat kau mengakhiri nyawamu. Sebenarnya aku tak kuasa melihat kematian di depan mata, namun aku ingin tahu sejauh mana keberanianmu. Apakah kau memang seteguh yang kau katakan tadi?

Dan kau tahu, Ning? Ternyata kau tidak sekukuh tadi. Sampai di Taman Panorama, kau justru termenung. Lama aku menunggumu berdiri di pinggir pagar. Sesaat, aku melihat kakimu yang sudah menaiki pagar. Dari seberang pagarlah usahamu untuk melompat tak akan ada kendala. Namun kau ternyata malah urung.

“Aku, tidak siap mati ternyata. Aku takut.”

Aku tersenyum penuh kemenangan. Menarik lengannya ke arahku.

“Sudahlah, dunia belum berakhir bukan. Mungkin dia bukan orang yang tepat untukmu?”

Kau hanya diam. Aku pun menarikmu menjauhi bibir taman panorama. Kau tidak menolak.

*

Pencarianku berakhir di Taman Panorama. Setelah sedikit mengisi perut, aku melanjutkan perjalanan ke kebun binatang, melewati Jembatan Limpapeh, hingga Benteng Fort de Kock. Senja mulai menggantung di langit. Kelepak sayap kelelawar menandakan penghujung hari telah tiba. Aku memutuskan terakhir mencarimu di Taman Panorama.

Dari luar, orang-orang sudah berdiri bersisian di pinggir pagar. Menyambut senja yang bergulir di Ngarai Sianok. Aku baru saja akan membeli tiket masuk saat melihat papan pengumuman di sebelah loket. Tertempel secarik koran lusuh bertanggal tiga hari lalu. Isinya tentang seorang wanita yang melompat ke Ngarai Sianok. Dalam foto, tampak sepatu putih bebercak coklat tertinggal di bibir ngarai. Sepatumu, Ning.

*

Source image: http://justathoughtdevotionals.com/2012/01/09/mans-search-for-meaning/

31 pemikiran pada “Mencari Ning

  1. Lho, sepatu itu belum tentu sepatunya Ning kan? Masak setelah sekian lama sepatunya masih berbercak coklat kotor gitu dan kaga dicuci? Lagian sepatu putih kan bukan berarti punya Ning aja, hahaha :)

    Dan lagi, itu berarti pelaku bunuh dirinya sebelum bunuh diri melepas sepatunya di bibir ngarai terus lompat begitu? Aneh, masa orang mau bunuh diri lepas sepatu dulu… *berpikir*

    Hmm, jangan-jangan ini bukan bunuh diri, tapi pembunuhan… #apaseh #sokdetektif #melencengdaricerita

  2. waah..berasa bener2 kliling di bukittinggi lung..uhff capek..
    smpai kaki gw panek, kliling ikutin jalan ceritanya..ke kbun bntang lah, k lubang jepanglah..komplit deh..

  3. Mayya berkata:

    Ceritanya Sulung malah bikin aku terbayang-bayang Ngarai Sianok, tauuuuu! Huaaaa…kapan bisa ke Bukittinggi lagi? T_T

    How sad your love life, Ning…I’m sorry to hear that…

  4. Rancak bana carito e Uda Sulung. Iyo sabana lain blog anak sastra ko… ckckck :)

    Eh iyo, blog awak blogroll toloang ubah donk, blog awak bukan khasyii lagi tapi alah jadi hijriyan. silakan cek…. :) makasih

Biasakan Berkomentar Setelah Membaca, Ya.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s