Banyak yang bilang kalau saat-saat paling berat itu adalah saat menyusun skripsi. Masa-masa bimbingan, mengolah data, perbaikan, hingga dosen yang susah ditemui menjadi sebab munculnya pendapat tersebut. Namun menurut saya sendiri, sesungguhnya saat-saat yang paling berat ternyata adalah saat mencari pekerjaan.
Bagaimana tidak. Bergelar sarjana, tapi pengangguran. Tentu beban mental yang disangga begitu berat. Belum lagi cibiran dari orang-orang. Bertemu dengan kolega saja malas rasanya jika harus berakhir dengan pertanyaan, “Sudah kerja dimana?”
Minggu-minggu setelah di wisuda benar-benar minggu-minggu yang melelahkan buat saya. Baik mental, maupun fisik. Saya bukanlah tipe orang yang suka berdiam diri. Sewaktu kuliah saja, saya dikenal sebagai orang yang tidak bisa diam. Jika tidak ada kuliah, maka saya memilih untuk jalan-jalan mengobrak-abrik belantara Kota Padang dibanding tidur di kosan. Tidak heran, fungsi kosan bagi saya hanyalah untuk tempat beristirahat.
Setelah selesai mengembalikan jubah wisuda serta mengurus ijazah dan tetek bengek lainnya, maka mulailah saya berjuang di dunia pekerjaan. Saya jadi sering mampir ke kantor pos untuk melihat lowongan pekerjaan atau sekedar mengintip iklan lowongan di surat kabar.
Berhubung back ground saya adalah pendidikan, maka pekerjaan yang saya cari tentu tidak jauh-jauh dari mengajar. Setiap ada lowongan yang berkaitan, segera saya mengirimkan lamaran ke sana. Jika dihitung-hitung, total lamaran yang saya kirim waktu itu adalah lima surat lamaran pekerjaan.
Menunggu saat-saat panggilan adalah saat paling menyiksa. Saya tidak suka ketidak pastian. Untunglah, akhirnya dua dari tempat saya melamar pekerjaan memanggil saya. Dua tempat tersebut adalah lembaga bimbingan belajar yang cukup terkenal di Kota Padang. Mereka ingin saya mengikuti tes yang telah mereka sediakan terlebih dahulu.
Yang cukup menguras tenaga saya adalah dua bimbel tersebut melaksanakan tes pada hari yang sama, meskipun waktunya berbeda. Maka setelah selesai tes di satu bimbel, sorenya saya beranjak ke bimbel lain untuk mengikuti tes yang lain. Tiga hari saya menjalani kegiatan seperti itu.
Kelar tes di dua tempat tersebut, saya pun diminta menunggu untuk hasilnya. Sekali lagi, menunggu saat-saat panggilan adalah saat paling menyiksa. Kebetulan, pada masa-masa senggang tersebut, saya mendapat panggilan lagi untuk mengikuti tes. Kali ini di sebuah sekolah swasta di Kota Padang.
Hasil tes di sekolah swasta tersebut, bersamaan dengan pengumuman hasil tes di dua bimbel yang sebelumnya. Dan tenyata saya lulus di ketiga tempat tersebut. Jujur, saya bingung.
Jika awalnya saya bingung dan galau dengan status pengangguran saya, maka kali ini saya bingung dan galau harus memilih dimana. Sebab tentu saya tidak bisa kerja di dua tempat sekaligus. Apalagi jika dua-duanya menuntut kita untuk kerja full time (bukan sekadar freelance).
Orang-orang terdekat saya menganjurkan saya untuk Salat Istikarah. Salat untuk menentukan pilihan. Setelah beberapa kali Salat Istikarah dan senantiasa mengadu di akhir salat wajib, pilihan saya pun berakhir di Junior High School sebuah sekolah swasta di Padang. Maka disinilah saya, sekolah swasta dengan kurikulum Eropa.
Suasana sekolah ini membuat saya betah. Siswa dan guru diperbolehkan memakai baju bebas (kecuali hari Senin karena harus upacara), siswa dan guru diharuskan berbahasa Inggris dalam berinteraksi (berhubung saya guru Bahasa Indonesia, maka dalam kegiatan belajar-mengajar saya diperbolehkan untuk tetap berbahasa Indonesia), siswa yang hanya berjumlah sebelas tiap lokal, serta keakraban yang diantara guru dan siswa membuat saya betah.
Saya ingat dengan masa-masa pencarian kerja dulu. Untuk menentramkan hati, saya berusaha rutin Salat Dhuha. Dan syukurlah, hasilnya mulai tampak sekarang. Tuhan memang Maha Benar, dibalik kesulitan pasti ada kemudahan yang menunggu. Kita hanya dianjurkan berusaha, maka Ia pun akan melakukan sesuatu untuk usaha kita. Hanya saja, yakinlah jika pilihan yang Ia pilihkan tidak sesuai dengan pilihan kita, Tuhan tahu yang terbaik bagi kita. Tuhan memberikan apa yang kita butuhkan, bukan memberikan apa yang kita inginkan. Salam persahabatan.
Source image: thestockmarket.com

alhamdulillah udah resmi jadi Pak Guru
huahhh setelah ada Mam Tyka sekarang ada Mr Sulung
selamat ya Lung, kapan nih jadinya kita makanmakan? *tetep*
congrat ya…
pilihlah sesuai kata hati yang paling dalam…
akhirnya keluar juga ceritanya,..
semoga pekerjaannya berkah ya bang, dan bisa mengamalkan ilmunya secara maksimal
Selamat!
Dirimu pasti akan temukan jalan yang terbaik…
Congrats ya, Lung. Dimana ada doa dan usaha, disitu pasti ada hasil
Alhamdulillah ya lung!
Mudah-mudahan betah dan nyaman di pekerjaan sekarang…Dan tentu saja, mdh2an ilmu yang diberikan utk anak2 menjadi barokah dan ladang pahala kelak. amin.
alhamdulillah Lung.
setiap fase kehidupan pasti ada enak-nggak-nya.
tinggal pinter2 kita berusaha senantiasa bersyukur aja
Whaaoww.. selamat yaaa.. jadi Bapak Guru nih sekarang
Semoga bisa mengamalkan ilmu yang didapat di bangku kuliah yaaa
wah, luar biasa. mengajar, sepertinya menyenangkan sekali itu, mas
barakallah atas pekerjaan barunya
semoga jadi pak guru yang baik (loh?!)
Selamat yo Uda Sulung….
Menjadi guru sebuah pilihan yang mulia dan tanggung jawab yang tidak mudah…selamat berjuang!!!
semoga sukses menjadi guru sukses
wahh..
jadi inget temen pernah bilang,
kalo dunia kerja adalah dunia hidup yang sesungguhnya,
ternyata cari kerja emang susah ya.
Ya Allah, mudahkanlah..
walau masih TA, tapi deg degan cari kerja udah sedikit terasa
#lebai
hehe
mmm..new experience…tentu menyenangkan ya uda..smg mencintai pekerjaannnya da..
Selamat ya…???!!! sekarang udah resmi jadi Bapak Guru Sulung Sahitani….
selamat memasuki dunia kerja lung, semoga bisa menikmati pekerjaan barunya.
kirain, New World Order…. hehe
jadi pendidik yah, jangan cuma pengajar…. hehe bisa di bilang, kamu jadi Calo, persis postingan terakhir ane gan….
selamat selamat ya sob, wah, pendidik itu pekerjaan yg mulia lho, selamat sekali lagi
Alhamdulillah, penantian berdebar,
dengan hasil sesuai bidang, suasana kondusif, semoga semakin semangat mencetak generasi rabbani
Selamat ya Lung!
Bener banget, saat-saat ketidak-pastian itu memang menyiksa banget, hmmm. Tapi memang harus percaya bahwa “everything will be alright in the end”, hehehe. Memang mudah diucapkan atau ditulis tetapi sulit diterapkan, hahaha
Alhamdulillah
segala terjadi untuk yang terbaik
semangat!
Selamat Selamat selamat – tentukan dengan hati karena hati akan membawa pada kejujuran walaupun otak mengingkari hehe jiayooooo
selamat jadi pak guru, semoga siswanya lengket dengan pak guru baik hati
keren lung.. bener bener mantep deh pilihannya.. siapa tahu nanti bisa dapet beasiswa ke eropa kan yak.. *amiiinnn
sukses buat dunia barunya
semangat pak guru! Semoga murid-muridnya jadi makin mencintai Bahasa Indonesia ya,,
Guru apa ni kak?? saya juga insyaAllah mau jadi guru,.. amiin,.. hehehe ,.. sukses selalu
wkwkwk untung saat2 itu sudah berlalu buatku,, eheheh. selamat yaa
Ping-balik: Adaptation « Catatannya Sulung
wah selamat ya sudah memasuki dunia kerja
kayak gitu ya rasanya transisi antara beres kuliah sampai masuk dunia kerja? hmm aku bentar lagi akan mengalaminya,masih belum siap rasanya
Salah satu sisi unik manusia, sering kali menganggap bahwa masalahnya adalah masalah yg paling rumit sedunia.
Anak sma, nganggap bahwa ujian nasional adalah hal yg tersulit. Yg udah nikah kadang mikir, urusan ekonomi adalah hal yg tersulit.
Tp pas udah kita lewati, ternyata its to small. Sometimes the mountain you’ve been climbed is just a grain of sand.
Btw, congratulation.
Dan sukses selalu.
situasi seperti ini akan saya hadapi setelah ini. sekarang masih berada dlm fase ‘yg paling sulit adalah menemukan topik skripsi’ hehehe
Lebih sulit lagi kalau dapat kerjaan yang tidak sesuai. Selain itu tadi saya lihat jadi guru di darerah padang. Berarti dekat kakaku dong.
kakaknya dimana ya, mas
Ping-balik: Semester yang Berat « Catatannya Sulung