Apa sih perbedaan anak zaman sekarang dengan anak zaman dahulu? Kalau menurut saya pribadi sih, anak-anak zaman sekarang cenderung lebih kritis dan banyak tanya. Anak zaman sekarang tidak mempan lagi dinasihati, mereka lebih cenderung akan meniru dibanding mendengarkan apa yang dikatakan orang yang lebih tua. Tidak heran, banyak orang tua bilang kalau anak zaman sekarang bandel-bandel. Sebenarnya, bukan salah anak-anak tersebut juga. Seandainya para orang tua lebih memfokuskan diri kepada memberikan contoh dibanding hanya berbicara/menyuruh anaknya, tentu anaknya meniru orang tuanya tersebut.
Hal itulah yang saya temukan di tempat saya mengajar. Siswa-siswa saya luar biasa kritisnya. Terkadang pun mereka lebih tahu tentang suatu hal dibanding saya sebagai gurunya. Karenanya, sekarang sudah bukan masanya lagi ‘guru selalu benar’. Tidak ada salahnya seorang guru melakukan kesalahan, sebab guru pun seorang manusia yang penuh kekhilafan. Dan untungnya, siswa-siswa saya bisa dibilang anak-anak yang mempunyai good character, jadi meskipun guru mereka salah, mereka tidak mengejeknya. Palingan hanya menunjukkan yang benar dan tugas guru lah berlapang dada menerima kritikan mereka.
Siswa-siswa saya juga suka sekali menanyakan banyak hal. Dari hal remeh-temeh, hingga hal-hal yang mungkin bagi beberapa pihak masih dianggap tabu, contohnya sex. Yup, tidak dapat dipungkiri kalau arus informasi zaman sekarang tidak terbendung. Dengan adanya internet, anak-anak bisa mencari apapun hanya dengan mengetikkan sekian kata di mesin pencari. Akan tetapi, untuk urusan sex, anak-anak tidak boleh dibiarkan mencari informasi sendiri. Agar mereka tidak mendapatkan informasi dari sumber yang salah.
Saya suka duduk-duduk bersama para siswa dan mendengarkan pembicaraan mereka. Sambil mengamati tingkah mereka, saya sesekali menjawab pertanyaan yang mereka ajukan. Tentunya, saya lebih sering berkumpul dengan para murid cowok. Nah, murid-murid cowok ini kalau sudah berkumpul cerita mereka bisa kemana-mana. Dari soal musik, band, film, iklan, kejadian sehari-hari, cewek yang mereka sukai, sampai ke masalah sex.
Tidak dapat dipungkiri, usia mereka memaksa perubahan terjadi di dalam diri mereka. Pubertas membuat mereka mulai mengalami hal-hal yang selama ini tidak pernah mereka alami. Misalnya, suara yang berubah, tumbuh rambut di beberapa tempat, dada dan bahu yang melebar, sampai soal alat kelamin.
Sebagai seorang guru, saya tidak ingin membiarkan mereka mendapatkan informasi soal masa pubertas mereka dari pihak yang salah, karenanya saya senantiasa berusaha menjawab hal-hal yang mereka tanyakan. Para murid cowok ini suka sekali bertanya sambil bercanda dengan saya soal sex, misalnya kenapa penis mereka suka tegang pada pagi hari, kenapa pada saat orgasme mereka mengalami perasaan bahagia (ini biasanya yang pernah onani), apakah benar kalau sering onani lutut bisa kopong, mengapa di bagian alat-alat kelamin mereka tumbuh bulu-bulu halus, apakah bulu-bulu tersebut mesti dibiarkan memanjang atau mesti dicukur, sampai ke pertanyaan-pertanyaan aneh semisal apakah cowok bisa mengalamai kanker payudara?
Mendapat pertanyaan-pertanyaan tersebut, saya selalu berusaha menjawab pertanyaan mereka dengan kapasitas ilmu yang saya miliki. Untungnya saya tipe orang yang suka membaca, jadi saya cukup bisa menjawab pertanyaan mereka. Namun, saya menyadari tugas saya sebagai seorang guru adalah membimbing mereka ke arah yang baik. Karenanya, di akhir-akhir jawaban selalu saya sisipkan pesan moral sambil bercanda.
Misalnya, saya bilang kalau sering onani nanti anaknya jelek. Soalnya bibit-bibit yang bagus sudah mereka buang sewaktu muda. Ditambah lagi, energi yang dikeluarkan saat onani sama dengan energi yang dikeluarkan saat mereka main tenis dua lap. Dengan kata lain, semakin sering mereka onani, maka energi yang dikeluarkan makin besar. Belum lagi penis yang sering dionani akan mengalami lecet. Selain itu, sperma membutuhkan waktu empat hari untuk mengalami kematangan. Kalau sering onani, maka ketika mereka orgasme bukan lagi sperma (mani) lagi yang mereka keluarkan. Melainkan hanya berupa cairan semen. Makanya sebisa mungkin onani tersebut dihindari. Salurkan energi kalian pada hal-hal yang positif, seperti olah raga, main band, dan lain-lain.
Lalu kenapa saya memilih menjawab pertanyaan mereka dibanding menasihati mereka kalau hal-hal yang mereka tanyakan itu tabu? Sebab saya menyadari kalau saya pernah diusia mereka. Saat mengalami pubertas, maka pada saat itu pula mereka sedang mengalami pencarian jati diri. Jangan sampai mereka mendapat informasi dengan cara yang salah dan dari sumber yang salah. Orang tua/guru yang cenderung menutup-nutupi hal-hal seperti sex tersebut, justru sama saja dengan membiarkan anaknya mencari informasi dari sumber-sumber lain tanpa filter.
Jadi apakah menurut saya perlu adanya dibuat sebuah kurikulum yang menjelaskan soal sex education kepada anak-anak? Menurut saya belum tentu. Sex education seharusnya diberikan pada siswa yang memang mempunyai capability untuk memahami soal sex education tersebut dengan cara yang positif. Dan tentunya, seorang pemateri soal sex education tersebut harus memahami karakter anak-anak dan tumbuh kembang mereka terlebih dahulu.
Yah, itulah gambaran anak-anak zaman sekarang. Jika sahabat mempunyai seorang anak yang masih kecil, sudah saatnya sahabat memikirkan bagaimana cara menjelaskan soal sex education kepada mereka dengan cara yang halus dan baik. Jangan sampai mereka mencari informasi dari sumber yang salah. Misalnya saja ketika anak sahabat mengalami menstruasi atau mimpi basah pertama mereka.
Oke, buat penutup berikut beberapa foto kegiatan siswa-siswa saya yang saya sayangi di sekolah. Selamat menikmati.

Keren euy jawabannya. Gak jamannya lagi anak ga boleh bertanya soal seks. Dan sex education sepertinya perlu masuk kurikulum biar anak mendapatkan informasi dari sumbr yang benar. Salut Mas.
iya, mas. soalnya, jaman sekarang anak2 sudah lbih dewasa, makanya mereka mesti diberi pengarahan sejak dini. trims
selain guru, tempat yang tepat untuk sex education adalah orang tua.. sayang banyak orang tua sekarang yang masih menganggap pendidikan sex adalah hal yang tabu..
yup, padahal anak2 juga butuh tempat bertanya
salutt banget sama sikap uda sulung dalam menanggapi pertnyaan murid2nya..
mudah2n banyak ya guru kyk uda sulung
amin,saya juga guru yang masih perlu banyak belajar
Wuih, keren sekali Lung. Benar sekali ya, sekarang pendekatan akan sex education ini harus berbeda dibanding dulu-dulu. Rasa-rasanya sekadar menyatakan seks adalah tabu bukannya akan menyelesaikan masalah, tetapi malah bisa membuat ini berkomplikasi menjadi lebih parah dan mungkin hanya akan sekedar ‘menunda’ masalah itu saja
. Dan memang ini bukan hanya tanggung-jawab guru di sekolah saja sih ya, karena terutama orangtua juga harus terlibat…
iya,zil. namun tentunya bukan dengan cara membagi2kan kondom gratis seperti rencana menteri kesehatan di indo
Aku malah jadi ikut penasaran sama pertanyaan2 muridmu itu mas… Gugling ahhh apaan jawabannya wkwkwk
nyahahahaa,, ntar kaget dengan jawabannya Na
Kalau dulu mah, aku mana berani tanya gituan ama guru hihihi…
Dulu sempat ada seminar-seminar sex education di sekolah beberapa kali, jadi tahu deh hehehe…kayaknya perlu juga tuh Lung, di sekolah tempat kamu ngajar adain seminar sex education juga ^_^
bener juga, mbak. namun, untungnya di sekolah saya membicarakan soal sex bukan hal yang tabu, soalnya di sini orang2nya lumayan berpikiran terbuka. namun tetap dalam koridor yg baik tentunya
gaaaannnnnn……
mantaabbbbssss…….
two thumb ups for you….
ingat waktu dulu klo ada apa2 pasti takut dan malu buat bertanya.. klo skrg anak2nya emg beda2 ya lung..
tapi keren deh kamu jawabnya… lanjutkan!
iya, mbak. kalau cowok sih ga masalahm soalnya mereka terkadang memang rada cuek. namun yang cewek juga mesti mempunyai tempat bertanya
ketika anak saya menginjak pubertas saya ajak berbincang berduaan. tentang kewajiban yang harus dilakukan. yang berkaitan tentang penjagaan farji” . titik tekan saya agar mereka tak malu dengan mandi besar ketika harus mandi besar ( krn mimpi basah).
benar mbak, soalnya masih banyak anak-anak yang tidak paham soal yang seperti demikian. jangan sampai mereka justru tahu dari teman dg cara yg salah
jempol untuk pak guru
ini tantangan guru jaman sekarang, hehe
termasuk menjawab secara jujur pertanyaan pertanyaan tentang sex
benar, mas. Guru sekarang juga mesti mengikuti perkembangan zaman
“Anak zaman sekarang tidak mempan lagi dinasihati, mereka lebih cenderung akan meniru dibanding mendengarkan apa yang dikatakan orang yang lebih tua.”…. sayangnya lagi yang di tiru malah lebih ke hal yang seharusnya jangan di tiru…
iya, mas. makanya kalau kita nanti jadi orang tua semestinya memberi contoh yang baik terlebih dahulu
Saya cuma dengarkan y pak guru. Mungkin pikirkan saya belum sampai kesitu. Makasih infonya. Murid-murid kak Sulung sama dengan teman-teman saya waktu SMA. Nanti saya beritau sama teman-teman saya.
wah, terima kasih. kalau murid2 saya masih setingkat SMP. hehe
sudah terlalu banyak literatur gratis yang menjawab segudang pertanyaan mereka : internet.. maka tidak perlu lagi mereka bertanya apakah definisi, cara, bahkan resiko yang akan terjadi..
tapi pada literatur itu tidak terdapat : hati, pikiran, serta bimbingan secata batin..
benar, mas. itulah fungsi orang tua dan guru. memberikan pengetahuan sembari menyisipkan pesan moral di dalamnya
waaah… sungguh bijaksana Pak Guru ini… salut..
anak sekarang memang kritis
kalo jawaban dianggap kurang memuaskan mereka akan mencari dengan caranya sendiri
sementara orang tua belum terbiasa terbuka ngomongin soal itu
benar banget, mas. makanya kita sebagai orangtua juga mesti membuka diri dengna perubahan zaman
tapi berapa banyak yang mampu begitu..?
ga banyak juga, soalnya tergantung tingkat pendidikan si orang tua juga sih, mas
iya, sebaiknya kasih tau saja dan beri pengarahan,
salam kenal, design blognya keren sekali
salam kenal juga, terima kasih sudah berkunjung
Perlu sekali mereka diberi penjelasan, tentunya bukan tentang hal2 yang vulgal namun lebih kepada sebuah pendidikan sehingga dapat terarah dengan baik, bukan malah memancing mereka sehingga menjadi penasaran.
benar mas, sebab sex education memang dibutuhkan dann mesti disampaikan dengan bahasa yang komunikatif
Mas Sulung ini guru bidang studi apa, ya? Koq bisa-bisanya menjawab masalah sex. Hehehe… Kalo saya kayaknya belom siap diskusi soal sex dengan anak-anak. Salut buat Mas Sulung lah…
saya sebenarnya guru bahasa indonesia, namun saya sejak zaman sekolah dulu juga suka dengan mata pelajaran biologi serta suka membaca artikel2 yg terkait, mas
nancep euy…
penyampaian yang edukatif, kreatif itu sungguh mudah dicerna..;-)
iya, mas, mesti disampaikan dengan bahasa mereka
tapi terkadang kita sendiri agak kesulitan untuk ‘mencapai’ bahasa mereka…apa ada tips?
hm,, ada dua cara sih mas. yg pertama, bahas dg bahasa ilmiah, namun ini hanya berlaku jika memang memiliki tingkat pengetahuan yg sudah lumayan tinggi. tapi kalau mereka tidak tahu pun, kita bisa menjelaskan maksud istilah tsb bukan?
dan cara yng kedua menurut saya adalah berandai2 menjadi mereka. bahasa seusia mereka biasanya simpel, santai, dan apa adanya. makanya, ketika kita membahas sex dengan mereka, tidak ada yg perlu ditutup2i. Kcuali hal2 yg mrka blm saatnya mengetahuinya
nah justru itu mas, tidak ada yang perlu ditutupi satu sisi harus tahu apa saja hal-hal yang belum saatnya perlu diketahui…
makasih mas..;-)
Penjelasannya gamblang banget tapi perlu. Sudah waktunya pendidikan sex itu diatur dan diberikan biar pada gak tersesat.
Ah untunglang murid-murid tersebut bisa bertanya pada dirimu ya
yup, mbak. kalau tidak bukan guru, kepada siapa lagi mereka mesti bertanya jika orang tua tidak memberi pengetahuan tentang hal tersebut.
Nah itu dia, di Indonesia ini, ortu masih menganggap pengetahuan sex itu tabu.
Lha gimana bisa mencegah bahayanya kalau pengetahuannya kurang.
wow .. salut sama kamu Lung juga lingkungan sekolahmu di mana membicarakan soal sex bukan hal yang tabu, dan berpikiran terbuka namun tetap dalam koridor yg baik
yah, soalnya ketua yayasannya pernah mengecap pendidikan ala Barat di Jerman, mbak. makanya menurutnya sex education itu perlu dijelaskan kepada siswa2
oh, kaka guru ya……??? yisha baru tau…..
ga keliatan kaya guru, ya?
Tapi Firaun, Abu Jahal bukankah anak jaman dulu …
good job masgan.
kalo diluar negeri suka ada film tentang sex education. mungkin bisa ditiru buat di indonesia.
beda-beda sekolah bro, klo diliat dari gambaran sekolah dan siswa di sekolah tempat lo ngajar sepertinya bisa diterima dengan baik, tapi kalau sekolah dengan tingkat kesadaran pendidikan yang rendah dan pola pikir yang belum terbuka sepertinya pendidikan seks bakal sangat dianggat taboo
wah anak2 SMP jaman skrg, badannya gede2 udah kek anak SMA, hehe….
iya tuh aku setuju dgn perlunya sex-ed buat anak-anak. bahkan benernya dari TK udah perlu diajarin hal yg sederhana lho. seperti misal : “Ini (maksudnya: alat kelamin) punya adek. orang gak boleh liat atau pegang, kecuali ibu dan si mbak kalo mau nyebokin. Kalo ada yg maksa megang, adek harus lapor ibu ya….”
krn buanyak emg korban pelecehan sex itu merupakan anak-anak balita kan?
angguk2
memang udah mesti sedini mungkin ya, mbak. saya juga sering menonton berita sperti itu dan rasanya miris
wah beruntung banget murid2 qm bisa dapat guru yg bisa memahami mereka dan tidak bersikap menggurui. andai saja semua guru bisa seperti qm, tentu kualitas siswa di negri ini bisa lebih tinggi.
keep up the good work, Mister
yahh, saya hanya mencoba berada di posisi mereka
gambar ilustrasinya ‘lucu’