Bisik Mencari Busuk

Akhir-akhir ini, wakil rakyat kita di DPR-MPR sana begitu gemar berbisik-bisik. Mungkin bagi kalian berbisik itu biasa. Bukankah berbisik itu bagian dari kominikasi? Jawab kalian. Ya, benar. Namun ini berbeda.

Mereka bukan membisikkan laptop yang tidak jadi mereka terima sebagai penunjang kinerja mereka. Padahal, microsoft office saja belum tentu semua mereka bisa. Lagipula, apa yang mau mereka ketik? Aspirasi rakyat? Bagi mereka, lebih baik tidur sewaktu sidang dibanding menyampaikan tetek bengek keinginan rakyat. Bukan. Bukan itu yang mereka bisikkan.

Mereka tidak juga membicarakan anak-istri mereka yang sibuk mendesak dinaikkan tunjangan. Karena bagi keluarga mereka, selama masih bisa dinikmati kursi tersebut, kenapa tidak dimanfaatkan sebaik-baiknya? Karenanya, istri mereka begitu gemar melancong ke Singapura untuk berbelanja. Padahal, kualitas barang yang mereka beli tidak jauh beda dengan di Tanah Abang. Atau, anak-anak mereka yang begitu gemar menghambur-hamburkan uang untuk “mempercantik” kendaraan merekalah, clubbing di diskotik-diskotik ternamalah, atau apapun selama mereka masih bisa mengalirkan uang yang terlalu banyak di saku mereka. Tidak. Itu tidak benar.

Mereka pun bukan mendiskusikan jabatan mereka yang terancam, akibat pemilu. Atau, trik-trik agar bisa tetap eksist di belantika perpolitikkan dan tidak terdepak ke jalanan. Atau, cara-cara menghindari tangkapan KPK dan memusnahkan bukti-bukti yang ada. Sehingga mereka bisa dengan bebas memberi amplop pada kenalan mereka. Lagi-lagi salah.

Ya, mereka sibuk membisikkan bau busuk yang mengepung mereka akhir-akhir ini.

*          *          *

Awalnya, mereka sedang membahas krisis ekonomi yang melanda dunia. Pembahasan alot tersebut cukup membuat suasana gerah. Masing-masing fraksi berusaha mempertahankan pendapat mereka. Mereka menganggap solusi merekalah yang terbaik. Namun di sisi lain, tetap saja ada beberapa orang yang memanfaatkan momen tersebut. Semilir angin buatan dari AC membuat mata mereka terbuka dan menutup. Jika tempat mereka cukup strategis dan tidak terjangkau kamera televisi, maka mereka akan memanfaatkan posisi tersebut untuk tidur. Kursi empuk membuat tidur mereka semakin nyaman. Di bagian lain, ibu-ibu wakil rakyat sibuk berdiskusi masalah rumah tangga mereka. Dari suami yang mulai hobi lirik kanan-kiri, hingga pembantu mereka yang mogok kerja meminta kenaikkan gaji.

Lalu, semua terjadi begitu saja. Tiba-tiba, hidung mereka mencium bau ganjil. Awalnya, hanya beberapa orang di bagian belakang, hidungnya digelitik bau tersebut. Kemudian, hidung setiap orang mulai kembang-kempis dan ekspresi mereka ibarat orang menahan hajat. Bisik-bisik mulai beredar. Sampai ketua MPR di bagian depan ikut mencium bau tersebut.

“Tenang-tenang,” ujarnya. “Saya tahu apa yang kalian perbincangkan. Namun, tolong tunjukkan sikap baik sebagai wakil rakyat. Kita tidak ingin citra kita tercoreng hanya karena masalah sepele.”

Dengan penuh wibawa, ia mencoba menenangkan anggota rapat yang lain. Tapi apa mau dikata, bau busuk malah makin menguat. Karena tidak tahan, terpaksa rapat dihentikan. Setiap orang beranjak dari tempat duduk mereka sembari menutup hidung masing-masing. Petugas kebersihan segera dikerahkan untuk menemukan sumber bau. Akhirnya, nasib rakyat yang belum jelas, semakin tidak jelas karena belum ditemukan kebulatan suara.

*          *          *

Sendiri di ruangan penentu nasib rakyat. Tangannya sibuk menggeledah laci-laci tiap meja. Urat-urat melingkar dan jalin-menjalin menunjukkan kalau ia sudah terbiasa bekerja keras sedari muda. Wajahnya–meski waktu telah memakan kulit, sehingga menimbulkan bintik-bintik hitam–tetap bersemangat. Bahunya kokoh, pertanda sudah biasa ditempa hidup. Tiba-tiba ia berhenti sejenak, kemudian duduk di salah satu kursi.

“Huf… nasib jadi orang kecil. Ruangan sebesar ini, hanya aku yang ditugaskan memeriksa asal bau busuk tersebut. Padahal, apa salahnya teman-temanku membantu? Alasannya tidak usah mengeluarkan dana untuk sesuatu yang tidak perlu,” keluhnya sembari mengelap keringat yang tidak berhasil hilang oleh AC. “Memang enak menjadi pejabat. Kursinya saja sudah begini empuknya. Pantas mereka berebutan dan mencari segala cara untuk mendapatkan salah satu kursi disini,” sambungnya sambil menepuk-nepuk kursi tempat ia duduk.

Suara pintu menganggetkan pria malang itu. Segera ia berdiri dari tempat duduknya dan mencari-cari sumber suara. Sesosok bayangan berdiri di pintu bagian kanan tempatnya. Sosok tersebut perlahan-lahan menuruni tangga menuju tempatnya berdiri. Sinar lampu ruangan semakin memperjelas pemilik tubuh. Seorang wanita paruh baya dengan dandanan yang berusaha menipu orang di dekatnya. Tubuh subur menunjukkan bahwa ia terbiasa hidup senang. Potongan rambut mencerminkan sifat tegas dan tidak mau kalah. Pakaiannya berwarna merah, berusaha menyesuaikan dirinya dengan partai politik yang diusung.

“Kamu petugas kebersihan disini?” tanyanya angkuh.

“Ya, Bu.” Jawab pria itu takut-takut.

“Namamu siapa?” pandangannya menyelidik. Berusaha membongkar tiap jengkal dari tubuh pria di depannya.

“Suprapto, Bu.” Suprapto hanya bisa menekur dan menatap lantai. Ia tidak berani menatap wanita di depannya. Lagipula, menurutnya ia bukanlah siapa-siapa dibandingkan wanita di depannya. Begitulah warisan zaman feodal yang melihat segalanya dari status.

“Aku ingin kamu menemukan sumber bau ini. Gara-gara masalah sepele ini, partai kami gagal meluluskan aspirasi kami. Padahal, tinggal mendapat pengesahan saja. Ck… Sial! Ya, sudah. Pokoknya kamu temukan sumber baunya dan beri pengharum ruangan. Mengerti!?”

“Baik, Bu.”

Wanita itu pun melangkah pergi. Ia menaiki tangga tempat ia datang tadi. Suprapto baru berani melihat wanita tersebut setelah wanita itu pergi. Ia mengamati lenggak-lenggok wanita dari partai banteng seruduk tersebut. Gerakan pinggul itu membuat jakunnya naik-turun. Ingin rasanya ia terkam wanita itu sebagaimana yang ia lakukan pada istri di rumah.

*          *          *

Ternyata, masalah bau tidak berhenti sampai disitu. Sember bau di ruangan sidang belum juga ditemukan, malahan bertambah luas. Hanya dalam semalam, bau busuk berhasil menguasai seluruh gedung DPR-MPR. Akhirnya, untuk sementara gedung itu dikosongkan dan petugas kebersihan dikerahkan lebih banyak lagi. Namun anehnya, meski telah dicari hingga ke setiap sudut. Para petugas kebersihan tidak juga menemukan bangkai–yang menurut mereka menjadi sumber bau–di tiap ruangan yang ada. Petugas kebersihan semakin banyak diturunkan.

*          *          *

Belum lagi ditemukan sumber bau di gedung DPR-MPR, merebak lagi berita baru. Bau busuk yang sama mulai muncul di Istana Negara. Tempat suci pemimpin Negara Indonesia itupun tidak lagi nyaman dan tentram. Mulanya, mereka mengira bau kentut atau pun bau mulut orang-orang disekitar merekalah penyebabnya. Namun, tentu mereka tidak mungkin ikut menunjuk presiden dan berkata bahwa presiden mempunyai masalah dengan bau mulut, karena bau busuk itu merata dicium oleh setiap orang. Dari presiden, ibu negara, juru bicara presiden, ajudan, hingga satpam ikut mencium bau tersebut. Untuk itulah presiden segera diungsikan, karena ditakutkan bau busuk itu merupakan salah satu cara untuk menyerang presiden dan menyingkirkannya perlahan-lahan. Istana Negara ikut dikosongkan.

*          *          *

“Psst… psst… psst…?”

“Masa!? Psst… psst… psst…?”

“Sepertinya begitu… eh… psst… psst… psst… ya, kan?”

“Psst… psst… psst… oh, ya? Psst… psst…”

“Hm… psst… psst… psst…”

Tidak perlu menunggu lama hingga bau busuk tersebut menyebar. Akhirnya, semakin banyak orang yang mencium bau tersebut. Muncul trend baru di kota-kota besar. Kemana-mana, orang-orang memakai masker untuk mengurangi sedikit dampak dari bau busuk. Beberapa orang dengan profesi berbeda, laris didatangi orang. Mereka adalah dokter gigi, dokter THT, dan pedagang minyak wangi.

Antrean panjang di tempat dokter gigi, sudah menjadi hal yang lumrah. Orang-orang beranggapan, bau mulutlah penyebab bau busuk tersebut. Mereka dengan senang hati membuka mulut mereka dan menunjukkannya kepada orang tak dikenal yang bernama dokter gigi. Namun, bukan berarti para dokter gigi gembira. Mereka justru terkadang mengeluh, karena mendapat penolakan dari pasien atas kata-kata mereka.

“Dokter ini bagaimana,sih? Wong gigi saya saja bagus, rapi, tidak ada yang berlubang. Kok malah dibilang pembusukkan gigi penyebab bau busuk itu?” Seorang pasien ibu-ibu paruh baya protes.

“Ya, Bu. Tapi, ada lubang gigi yang dinamakan lubang mikro. Itu yang terjadi pada gigi Ibu. Itulah penyebab bau tersebut.” Si dokter berusaha menjelaskan dengan dalil, saya lebih tahu daripada anda.

Si Ibu meradang. “Anda jangan mengada-ada!!! Saya bisa saja melaporkan anda ke polisi. Anda sudah mencemarkan nama baik saya! Sudah. Lebih baik saya pergi.”

“BRAAKK!!!”

Bantingan pintulah hasil akhirnya. Kisah yang tidak jauh berbeda juga dialami dokter spesialis THT. Namun tentu dengan dalil berbeda bahwa hidung si pasien bermasalah dan harus dioperasi. Kawan, terkadang tidak semua perkataan seorang dokter harus dipercayai sepenuhnya.

Yang paling bahagia adalah pedagang minyak wangi. Omset mereka naik beberapa kali lipat. Keuntungan per harinya bisa mencapai jutaan rupiah. Orang-orang membeli minyak wangi tidak hanya untuk disemprotkan, tetapi mereka juga mandi menggunakan minyak wangi. Dalam waktu sekejap, para pedagang minyak wangi masuk daftar orang-orang terkaya di Indonesia. Dimana-mana, foto-foto mereka sambil nyengir bajing–beserta tulisan, “Ada masalah dengan bau busuk? Jangan ragu. Gunakan minyak wangi anu. Niscaya Anda tidak akan mencium lagi bau busuk tersebut.”–terpampang. Kawan, ternyata untuk menjadi orang kaya, kita harus belajar dari para pedagang minyak wangi.

*          *          *

Presiden akhirnya turun tangan. Ia mengumumkan status siaga satu untuk masalah bau busuk. Dengan kata lain, saat ini masalah bau busuk lebih penting dibanding flu babi, krisis ekonomi global, ataupun ketua KPK yang menjadi tersangka pembunuhan. Dalam pidato kenegaraannya, presiden menyatakan bahwa,

“Bau busuk ini sudah menjadi masalah serius yang mengancam stabilitas nasional kita. Sampai saat ini, belum juga ditemukan sumber bau busuk ini. Kita membutuhkan bantuan profesional untuk memecahkan masalah ini. Kita tidak ingin masyarakat Indonesia mengalami penyakit serius dikarenakan tidak tahan akan bau busuk tersebut. Oleh karena itu, kita akan mengundang ilmuwan-ilmuwan baik dari dalam maupun luar negeri untuk mencari penyebabnya dan menemukan solusi penyelesaian dari masalah ini.”

Maka, jadilah Indonesia bagaikan laboratorium raksasa. Rakyatnya merupakan kelinci percobaan yang harus siap diapa-apakan, jika ingin masalah itu selesai. Malang nian rakyat Indonesia, sudah jatuh tertimpa tangga pula. Mereka juga yang harus menanggung utang pemerintah untuk dana yang dikucurkan dalam menemukan penyebab bau busuk.

*          *          *

Dari sekian banyak orang yang mencium bau busuk, ternyata ada segelintir orang-orang yang tidak mencium bau tersebut. Mereka beraktifitas seperti biasanya. Tanpa masker penutup hidung dan tanpa bisik disana-sini. Mereka para pekerja di bagian keuangan. Jika ditanya, apa mereka mencium bau busuk tersebut, mereka akan menjawab, tidak. Dan mereka tidak bohong. Sebab, semua orang di bagian keuangan menyatakan hal yang sama. Segera saja, mereka menjadi objek penelitian para ilmuwan. Ilmuwan-ilmuwan itu ingin tahu, apa penyebab kekebalan mereka terhadap bau busuk, meskipun mereka belum menemukan sumber bau busuk itu sendiri. Orang-orang di bagian keuangan itu pun segera menjalani serangkaian tes. Mereka senang-senang saja. Sebab, dengan begitu mereka bisa terlepas dari rutinitas yang membosankan untuk sementara. Toh gaji tetap saja mereka terima.

*          *          *

Berita heboh kembali bergaung. Kali ini, berita yang cukup membuat orang-orang menarik napas lega. Salah seorang ilmuwan telah menemukan sember bau busuk. Secepat kilat, diadakan konfrensi pers. Puluhan kamera menyorot si ilmuwan. Microphone-microphone berjejeran di meja di depannya. Jutaan pasang mata turut menyimak dari siaran televisi yang merekam konfrensi pers tersebut.

“Saudara-saudara, selama ini kita telah dibuat bingung oleh bau busuk yang menyebar di sekitar kita. Sudah banyak korban yang berjatuhan karenanya. Syukurlah, akhirnya saya menemukan apa penyebab dari bau busuk tersebut. Setelah melakukan serangkaian riset, didapatlah kesimpulan. Ternyata orang-orang Indonesia memiliki anatomi yang sama untuk bagian-bagian tertentu. Bagian-bagian tersebut yakni otak dan hati. Otak masyarakat Indonesia ternyata memiliki volume yang lebih besar dibanding dengan orang-orang Eropa sana. Pun otak orang Indonesia lebih jarang digunakan, sehingga lebih tahan banting. Kemudian, hati. Setelah diselidiki, ternyata hati orang-orang Indonesia sudah mengalami kerusakan kronis. Hal itu membuat hati menjadi membusuk dan mengeluarkan bau yang tidak enak. Diduga, penyebab dari pembusukkan hati tersebut adalah perilaku masyarakat Indonesia sendiri. Orang-orang Indonesia terbiasa menyuap, menipu, berbohong, berdusta, korupsi, dan perbuatan-perbuatan lain yang membuat kerusakan di hati bertambah parah. Namun, ada kasus unik. Kenapa orang-orang di bagian keuangan tidak ada yang mencium bau busuk tersebut? Saya sendiri belum menemukan penyebabnya. Namun, ada baiknya kita dengar sendiri pengakuan langsung dari salah seorang dari bagian keuangan dan memaparkan kenapa mereka kebal terhadap bau tersebut.”

Maka naiklah seorang pria gendut dan botak. Kepalanya tidak lagi ditumbuhi rambut sehelaipun, sehingga cahaya lampu dan blitz memantul dari kepalanya yang licin. Perutnya buncit, hal itu membuat jalannya agak kepayahan. Ia duduk di sebelah ilmuwan dan berbicara,

“Saudara-saudara, jika ditanya kenapa kami orang-orang di bagian keuangan kebal terhadap bau busuk. Maka jawabannya hanya satu yakni, kebiasaan. Jika kalian menjadi pemulung dan bekerja di sekitar sampah, bukankah lama-kelamaan kalian akan terbiasa dengan bau busuk sampah tersebut, bukan!? Begitu pula dengan kami. Kami sudah lama mencium bau busuk tersebut maka kami tahan terhadapnya ketika kalian justru terganggu dengan bau busuk itu. Sekian saja, terima kasih!” Lalu pria gendut itu ngeloyor pergi.

*          *          *

Iklan

Satu pemikiran pada “Bisik Mencari Busuk

  1. Ping-balik: Menulis Dan Menjaganya « Dunia Jungkir Balik

Biasakan Berkomentar Setelah Membaca, Ya.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s