Terkungkung

Bulir-bulir gerimis mencumbu daratan

Waktu itu, cahaya begitu temaram

Jejak langkahku masih tercetak

Saat ratapku bergema di lorong sunyi

 

Dunia sudah terlalu penuh, bukan?

Setiap hari rengekan kecil bergema di sela fajar

Lalu masihkah ada ruang untuk kita?

‘kan kesendirian?

 

Foto-foto suram membayangiku

Mengeja memori, saat kebebasan masih bernama

Lelahku mengorek tanah penghabisan

Mencari sisa jeda yang mungkin masih tercecer

 

Duhai, waktu. Lihatlah.

Topeng-topeng terlalu banyak berserakan

Terbuang bersama denting jam dinding

Mereka butuh topeng baru.

2 pemikiran pada “Terkungkung

Biasakan Berkomentar Setelah Membaca, Ya.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s