Me vs Skripsi (skripsi, oh skripsi) part 1

“Ujian terberat seorang mahasiswa adalah pada saat menyusun skripsi.”

Gw g ingat, kapan dan dimana gw pernah membaca kutipan tersebut. Atau jika memang kutipan tersebut g pernah gw baca, maka mungkin gw yang membuatnya (de javu?). Yup, skripsi. Umat manusia di dunia ini pasti akrab dengan kata tersebut. G peduli dia kuliah di perguruan tinggi ternama semacam Institut Teknologi Bandung; di luar negeri seperti di Harvard University; bahkan sampe universitas yang g masuk daftar perguruan tinggi di Indonesia yang dibuat Dikti, pasti pernah mendengar kata skripsi. Buat gw sendiri, skripsi itu sebuah mahakarya tingkat tinggi yang dibuat dengan cucuran keringat dari jidat ampe ketek hingga tetes darah penghabisan (halah, lebay).

Karir gw sendiri sebagai mahasiswa dimulai saat gw lulus SPMB (zaman gw namanya belum senam-senaman kaya sekarang>SNMPTN) dan diterima di PTN ternama di Kota Padang. Begitu gw tahu gw lulus, gw langsung lompat-lompat kaya orang menang lotre yang hadiahnya duren sekarung. Abis itu gw langsung nyium-nyium lantai dengan penuh rasa syukur (baca: sujud syukur). Kelakuan gw tersebut sempat buat Mama gw cemas. Dia mikir, jangan-jangan gw kesambet waktu mandi di sungai belakang rumah kemarin. Tapi begitu tahu gw lulus SPMB, Mama gw langsung gembira ampe meluk gw segala (taela).

Perjalanan gw selama kuliah pun bisa dibilang mulus, lancar, dan menyenangkan. Menyenangkan karena gw sekelas ama orang-orang yang saking gilanya gw ngerasa seolah-olah tinggal di planet lain. Satu kelas isinya empat puluh orang dan ceweknya tiga puluh empat orang. Jadi bisa dibilang gw setiap hari serasa kuliah di pasar dengan tiga puluh empat mulut cewek-ceweknya. Mulus dan lancar karena selama kuliah g begitu menemukan kendala yang berarti. Ok, mungkin kerikil-kerikil yang menghambat perjalanan gw tetap ada, tapi tidak begitu kentara. Bukan maksud nyombong nih, tapi IP gw dari semester 1-7 cuma sekali yang di bawah 3,5. Waktu semester 2, gara-gara gw sakit IP gw jeblok jadi 3,46. Waktu itu rasanya gw kaya jatuh ke jurang terdalam yang ada kolam dan sesak napas karena tenggelam (nyontek iklan dikit boleh, ah). Selain itu, kuliah gw aman tentrem loh jinawi.

Nah, justru pas gw nyusun skripsilah gw diuji ama Allah. Yah, sesuai firmannya bahwa tiap kita bakal diuji dengan kelaparan, kekurangan buah-buahan, dan lain sebagainya. Itulah yang gw alami. Judul skripsi gw sendiri memang lain dari yang lain. “Penyimpangan Orientasi Seksual dalam Novel Gerhana Kembar karya Clara Ng.” gimana? Keren, kan?😀 Yah, bukan berarti gw suka ama sesuatu yang menyimpang atau otak gw yang agak g beres, hanya saja gw pengen nyoba sesuatu yang beda.

Ujian dimulai saat gw mesti nyari novelnya. Setelah gw cek dan ricek, ngacak-ngacak Gramedia, Sari Anggrek, ampe ke tukang loak di Kota Padang, gw g dapet itu novel. Mereka bilang, “Maaf, novel ini sudah tidak dijual lagi” (maklum, novelnya terbitan tahun 2008). Gw jelas keder, masa mesti ganti judul? Gw udah terlanjur suka ama itu judul, soalnya. Setelah tanya sana-sini, akhirnya ada yang ngusulin beli di toko buku online aja. Masalahnya, gw g ngerti gimana cara beli barang secara online (maklum, kelamaan tinggal di zaman neolitikum. Jadi kalo ama sesuatu yang terlalu maju, gw agak gimana gitu). Gw pun mencoba minta tolong ama kakak sepupu gw yang di Bandung. Ternyata dia g bisa juga, tapi dia janji bakal nolong gw katanya. Setelah beberapa minggu dengan nasib yang tak pasti, akhirnya kabar gembira datang juga. Salah satu temen kakak sepupu tersebut ada yang udah sering beli buku secara online dan dia mau nolongin (alhamdulillah). Jadilah dia ngirimin novel tersebut ke rumah. Waktu novelnya sampai, gw kaget. Ternyata dia tinggal di Banjarmasin! Ck, jadi novelnya udah nyebrang lautan segala. Dan lebih kagetnya lagi, ternyata dia g minta ganti biayanya! Huah, terima kasih banyak ya kak (sayang, gw lupa nama kakak baik hati tersebut).

Ujian berikutnya datang dari pembimbing gw sendiri. Gw dapet pembimbing yang ke-killer­-annya udah terkenal seantero jurusan gw. Disiplin, idealis, sensitif, misterius, g bisa ditebak, itulah sifatnya. Tiap mahasiswa yang bimbingan ama dia, serasa langsung kompre aja. Belum lagi dengan kesibukannya yang membuat mahasiswa cuma bisa ketemu ama dia satu kali seminggu. Oho, jangan pernah menghubunginya. Sebab dia paling tidak senang diganggu oleh mahasiswanya. Makanya, sewaktu bimbingan, di kover map kita harus ditulis nomor yang dapat dihubungi. Jadi dia yang bakal menghubungi kita dan jika kita tak disuruh menemuinya, jangan coba-coba menemuinya kalo g mau kena sembur.

Saking idealisnya, gw ama teman-teman gw yang satu pembimbing ama dia pernah dapat pengalaman buruk. Suatu saat gw menerima short message service alias sms di telepon genggam gw. Isinya, “Anda dapat mengambil draft proposal/skripsi di ruangan saya di pascasarjana pada hari … pukul … Trims” (beneran gw simpan sms nya, buat gw pamerin ama anak-cucu gw nanti). Ok, jawab gw dalam hati. Jadilah pada hari yang ditentukan gw menemuinya. Dari pagi gw dan teman-teman yang lain udah duduk manis di ruang tunggunya. Tapi, apa? Ketika dia keluar dia malah bilang (sambil nunjuk gw ama beberapa teman gw), “Anda yang tidak membalas sms saya. Silakan temui saya minggu depan!” Lalu dia pun menutup pintu ruangannya dengan anggunnya (BRAK!).

Shock? Jelas! Waktu itu, wajah kami langung pucat. Temen cewek gw matanya langsung berair. Lalu salah seorang kakak senior yang ada di situ bilang, “Kalau sama Bapak itu, sms nya harus dibalas.” Yaela, jelas-jelas gw baru pertama kali bimbingan sama bapak tersebut. Dapat sms dari dia aja udah kaget, kalau dibalas takut dibilang mengganggu (mengingat reputasinya). Ibarat makan buah simalakama lah pokoknya.

Lalu gw coba nenangin temen gw tersebut. Gw bilang, “Jangan nangis. Kita coba cari solusinya. Jangan sampai usaha kita datang dari jauh sia-sia. Kamu boleh pinjam bahu aku kalau mau.” Dia pun berhenti menangis dan menyenderkan kepalanya di bahu gw. Waktu itu gw menganggap setiap kejadian buruk emang selalu ada hikmahnya (Ok, STOP! Sebelum diteruskan, gw ngaku kalau adegan tersebut cuma dalam imajinasi gw. Bisa-bisa gw digampar ama cowok dia).

Akhirnya kami mencoba masuk bareng-bareng dan minta maaf. Menyadari kesalahan kami dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Tapi yang ada kami malah diusir dan bapak tersebut tidak mau menerima alasan apapun (naudzubillah, idup ya orang kaya gini?). Yaudah, akhirnya kami pulang dengan tangan hampa. Yah, karena insiden itulah sampai sekarang skripsi gw belum kelar-kelar. Meski bapak tersebut tidak pernah mengungkitnya lagi, tapi setiap gw bimbingan ama dia, selalu aja ada yang salah. Seolah-olah di kening gw menempel cap yang jadi penanda buat dia bahwa gw mahasiswanya yang harus diuji mental. Alhasil, dicaci, dihardik, bahkan sampai diusir pun udah jadi biasa buat gw setiap bimbingan sama dia. Terpaksalah wisuda gw tertunda karena batas seminar udah ditutup bulan Mei kemarin. Tapi gw g terlalu larut bersedih, toh rata-rata mahasiswa yang bimbingan sama bapak tersebut juga banyak yang belum disetujui skripsinya. Sekarang, gw cuma bisa terus berusaha dan berdo’a. Semoga gw diberi kekuatan buat menghadapi semua ujian ini. Mungkin buat saat ini, sekian saja dulu cerita gw tentang skripsi. Lain waktu pasti gw lanjutin lagi.😉 *curhat

3 pemikiran pada “Me vs Skripsi (skripsi, oh skripsi) part 1

Biasakan Berkomentar Setelah Membaca, Ya.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s