Cerita Si Bolang: Trip to Jembatan Siti Nurbaya-Pantai Air Manis-Teluk Bayur

Dari dulu sampai sekarang, gua paling suka travelling. Bisa dibilang, gua ini tipe orang yang g bisa diam. Mesti selalu bergerak. Kalau g ada sesuatu yang mesti dikerjakan, badan gua langsung merah-merah, kaki teriak-teriak minta dipake. *ah, lebay! Nah, baru-baru ini gua ama temen-temen praktek lapangan gua abis triping  ke beberapa tempat sekaligus. Awalnya gua ama Bunga-nama disamarkan untuk menghindari tuduhan pencemaran nama baik-smsan. Kami berdua bosan karena ada di Padang, tapi g ada kerjaan. Sementara yg lain sibuk ama skripsi , kita cuma nyetor muka ke kampus (derita mahasiswa yg pasrah g wisuda tahun ini). Lama-lama bosen juga, tiap ke kampus pasti ditanyain “Kapan sidang? Kapan wisuda? Kapan kawin? (ini juga pertanyaan wajib lho bagi BP gaek).” Kami yang ditanya begitu, jelas frustasi. Sumpah, kaya wakil rakyat yang ditanya janji-janjinya selama kampanye.

Gua: Bung (?), berpetualang yuk? Bosan gua di kampus, ditanya-tanya mulu.

Bunga: Iya, Lung. Gua juga, serasa dikejar-kejar debt collector aja! Kemana bagusnya?

Gua: Gimana kalo kita ke Pantai Air Manis? Tapi kita lewat rute yang sulit (sok kuat)! Ajak Ardi juga!

Bunga: Ok, Hari Minggu ya! Jam 6 di Tapi Lauik!”

Gua: Mantap!

Akhirnya, hari H tsb pun tiba. Berhubung kami org Indonesia maka kami pun menggunakan jam karet. Jam 7 baru nyampe! Di Taplau, Bunga udh nunggu dg muka merah padam sementara gua ama Ardi cuma cengengesan. Perjalanan kami pun dimulai.

Tapi lauik (tepi laut) atau yang biasa disebut orang-orang taplau merupakan daerah pinggiran pantai Kota Padang. Taplau ini ramai dikunjungi masyarakat Kota Padang pada sore hari, serta Minggu pagi. Di Taplau ini terdapat banyak bangku yang sengaja disewakan untuk orang-orang yang ingin berbuat mesum memadu kasih asmara. Meskipun sudah sering kali diadakan razia, tapi para pemilik bangku tersebut tetap saja membandel. Bagi mereka yang penting cari uang meski dengan cara yang tidak baik. Dari taplau ini, kami berjalan menuju Jembatan Siti Nurbaya. Sepanjang taplau, ramai dengan orang-orang yang berolahraga atau sekedar menikmati pemandangan pantai di pagi hari. Sambil jalan, gua ama Ardi jelas g menyia-nyiakan kesempatan emas ini buat tebar pesona. Bunga yang melihat gelagat tersebut, jadi gregetan.

Bunga: Eh, lu pada bisa lebih cepet dikit g sih jalannya? Udah telat, nih. Ntar kita kesiangan nyampenya. Mana Papa ama adek gua udah nunggu dari tadi di Siti Nurbaya.

Gua ama Ardi melotot. Ini jelas-jelas di luar rencana kami.

Gua: Kok lu bawa  papa lu, sih? Kan rencananya Cuma kita bertiga?

Bunga: Mana boleh gua ama papa kalo cuma gua ceweknya. Ntar terjadi hal-hal yang tidak diinginkan!

Gua: Enak aja, emang kami maniak?

Pupuslah harapan gua buat seru-seruan bareng mereka berdua aja. Masa iya jalan-jalan bawa ortu, kaya mau ngelamar aje. Ck3. Sampai di Siti Nurbaya, si Bunga celingak-celinguk. Dimana nih papanya?

“Bentar, katanya dia nunggu di sini.”

Sambil menunggu Bunga menghubungi papanya, gua ama Ardi ngobrol sambil lihat pemandangan dari Jembatan Siti Nurbaya. Jembatan Siti Nurbaya sudah lumayan terkenal, lho. Jembatan yang berwarna merah ini menghubungkan Taplau dengan Gunung Padang (dibilang gunung pun sebenarnya cuma sebuah bukit). Konon, di Gunung Padang ini terdapat makam Siti Nurbaya yang diceritakan dalam Novel Siti Nurbaya. Pemandangannya di malam hari luar biasa indahnya. Jembatan tersebut bakalan dihiasi cahaya dari lampu-lampu jalan. Sementara di bawahnya kapal-kapal nelayan terombang-ambing dibuai ombak.

“Yuk, Lung, Di! Papa gua nunggu di bawah tangga Gunung Padang.” Bunga memotong obrolan gua ama Ardi.

Sampai di Gunung Padang, kami bertiga udah ditunggu ama papa dan adiknya Bunga. Setelah berkenalan, papanya Bunga pun nanya.

“Ada dua tangga. Mau yang 200 tapi curam atau yang 500 tapi landai?” tanyanya. Yang pake ekskalator g ada y om? Tanya gua dalam hati. Akhirnya kami pun memilih yang 200 tangga biar  lebih cepat sampai. Baru itungan puluhan tangga, nafas kami udah satu-satu. Gila, sumpah curam banget. Nyesel juga gua jarang olahraga. Tapi gua jelas g mau kelihatan lemah. Gua tetep naik tangga dengan semangat meski tampang gua udah kaya orang mau melahirkan. Sampai di puncak bukit Gunung Padang, gua girang bukan main. Puasnya bisa sampai di atas serasa buat gua mau nyium tanah.

Nah, dari atas sini. Ternyata jalannya menurun. Jadi g perlu keluar banyak tenaga. Setelah melewati rumah-rumah penduduk, kami pun mulai memasuki hutan kecil. Berbekal ransel dan tongkat di tangan, gua udah serasa Panji Petualang aja. Selama di hutan kecil tersebut, banyak banget hal-hal baru yang gua lihat. Dari rumah orang yang di puncak bukit (gua jadi mikir, gimana cara membangunnya, ya?), sampai pohon-pohon di pinggir jalan yang berbuah lebat. Ada rambutan, jambu, sampe durian. Dan semua itu, g ada yang punya! Naluri tukang panjat gua langsung beraksi, tapi pas gua mau manjat, gua dicegah ama Ardi.

“Jangan, Lung. Gua g mau dibilang orang jalan-jalan sambil bawa monyet.” Sial. Terpaksa gua tahan nafsu manjat gua. Semakin lama, perjalanan yang kami lalui semakin jauh. Waktu sudah menunjukkan pukul 9. Tiba-tiba, gua serasa denger suara mobil. Lho, kok ada mobil. Perasaan g ada jalan? Makin lama, suara kendaraan tersebut makin jelas. Tiba-tiba jalan setapak yang kami lalui berakhir di pinggir jalan. Kami semua bengong. Ini dimana? Apa kita tersesat? Seharusnya kan nembus di pantai?

Setelah tanya sama orang yang lewat, kami baru ngeh. Ternyata jalan setapak yang kami lalui merupakan jalan baru yang nembus ke jalan raya menuju Pantai Air Manis. Jalan yang lama udah runtuh. Nyess, semangat gua langsung turun. Ah, kalau lewat jalan raya mah bukan berpetualang namanya. Apalagi pas tau jalan tersebut rutenya lebih jauh sebab mesti memutar. Untungnya setelah cukup lama berjalan, kami menemukan jalan tembus ke pantai. Kami mengikuti jalan tersebut dan begitu melihat pantai, kami semua bersorak kegirangan. Bunga langsung berlari menuju bangkai pohon yang dia lihat dan bergelantungan ala Tarzan Girl. *Auooo…

auoo
auooo

Dari pantai yang tidak kami tau namanya, kami teruskan perjalan menuju pantai Air Manisnya. Setelah beberapa lama, akhirnya kami sampai di tujuan kami. Di sebelah kanan Pantai tersebut, terdapat Pulau Pisang yang bisa dilalui dengan jalan kaki ketika air surut. Kami  melepas lelah sejenak di bawah pohon cemara yang banyak terdapat di pantai tersebut. Kemudian kami menuju ke ujung pantai tersebut. Di ujung kiri pantai, terdapat Batu yang melegenda yaitu Batu Malin Kundang. Tampak jelas sosok seorang manusia yang bersujud dan bangkai kapal pecah disekitarnya. Sayangnya, kami tidak sempat memfoto batu tersebut karena tidak sembarangan orang boleh memfotonya.

Kelar melepas lelah, kami bersiap-siap pulang. Rute yang kami pilih yaitu lewat Teluk Bayur. Jalan menuju Teluk Bayur ini pun menanjak lagi. Karena rasa capek sudah terobati, maka kami semua bersemangat untuk pulang. Apalagi waktu sudah menunjukkan pukul 11. Padahal kami semua belum sarapan. Sampai di bagian tertinggi, tampaklah Teluk Bayur dengan segala kesibukannya. Setelah menanjak maka jalan kembali menurun. Kami melaluinya dengan santai. Tiba di bawah, kami langsung naik angkot menuju rumah/kos masing-masing.

Perjalanan kali ini memang seru, meski tanpa persiapan yang maksimal tapi kami tetap puas. Selain karena kekompakan selama perjalanan, juga karena pemandangan yang kami lihat bisa mengalihkan kami sejenak dari hiruk-pikuk kesibukan kuliah.

Di atas angkot, gua lihat tampang mereka masing-masing. Sambil bertatapan, kami semua nyengir.

Bunga: Betis gua serasa udah segede paha, saking capeknya.

Ardi: Badan gua remuk-redam! *sroot

Gua: Tapi seru, kan? Kapan-kapan kita backpaker sekalian, ya? Gua pengen ke Lombok! (hegh, temen-temen gua langsung melotot)

Bunga & Ardi: Lu g kesambet kan, lung?? 

 

 

 

 

13 pemikiran pada “Cerita Si Bolang: Trip to Jembatan Siti Nurbaya-Pantai Air Manis-Teluk Bayur

  1. hahaha lucuu…. nah, itung itung perjalanan ke siti nurbaya plus pantai air manis ini jadi pembuka buat bekpeking-bekpeking selanjutnya deeh. seseruan bareng temen-temen, plus jangan lupa bawa kamera buat jeprat-jepret.

  2. baru tahu Lung kalo ternyata Siti Nurbaya itu orang Padang, hahahahaha..😀

    kalo mo backpacker ajak2 dong, mau juga ke Lombok atau ke Raja Ampat aja sekalian.. #plak

    1. Beneran, Am. Gua pengen banget backpaker ke Lombok. Makanya sekarang mulai nabung dan nyari waktu yang tepat.
      Soalnya, di Indonesia beda ama di Eropa. Kalo di Eropa, dengan modal jempol doang kita bisa numpang mobil orang kemana-mana. hehe *mental gratisan

  3. Ping-balik: Ten Things About Me « Dunia Jungkir Balik

  4. wahh.. aku pernah ke jembatan Siti Nurbaya, keren😀 (7 tahun yang lalu) dan gak sempet ke Pantai Air Manis😦
    Air laut nya manis gak mas lung? hehehe😀 #plak

    wah.. aku juga pengen tuh, ke Lombok, Raja Ampat, Karimunjawa..
    I love Bolang lang lang buanaa😀 hahaha

    Oia mas lung, pernah jalan ke kelok 44 gak??? seruuu yakkk🙂

Biasakan Berkomentar Setelah Membaca, Ya.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s