Gigiku Sayang, Gigiku Malang

“Musibah dan rezeki itu ibarat dua sisi koin yang berlainan. Sama-sama tidak bisa ditolak datangnya dan sama-sama tidak bisa diduga kedatangannya.”

Dalam hidup, kita pasti sering mengalami pengalaman-pengalaman tidak mengenakkan. Pengalaman tersebut biasanya berhubungan dengan kemaluan rasa malu yang kita miliki. Pengalaman tersebut terkadang ingin kita bagi kepada orang lain agar bisa menjadi pelajaran bagi mereka, namun terkadang kita tutup rapat-rapat dan tidak ingin diketahui oleh siapapun. Nah, gua sendiri juga punya pengalaman tidak mengenakkan kalau tidak bisa dibilang memalukan.

Kejadiannya sendiri sudah cukup lama berlalu, tapi bekasnya masih ada sampai sekarang. Waktu itu seorang senior gua, Bang Irwan ulang tahun dan ingin mentraktir gua makan di Pizza Hut. Berhubung gua seseorang yang menganut prinsip rezeki g boleh ditolak, gua jelas langsung mengiyakan. Mata gua ijo demi mendengar ditraktir di Pizza Hut. Gua pikir, ”Lumayanlah sebagai selingan lauk anak kos yang begitu-begitu aja.” *ngintip dompet

Singkat cerita, kami pun janjian di Basko-salah satu mall di Kota Padang-pukul 19.00. Kami janjian di depan pintu masuk Basko. Pada hari yang ditentukan, beberapa menit sebelum waktu janjian gua udah nyampe di Basko. G biasa-biasanya gua on time. Gua jadi mikir, kenapa semangat buat datang tepat waktu ini g muncul kalo gua lagi kuliah?

Berhubung udah malem, suasana di luar mall sudah mulai gelap. Cahaya lampu dari dalam mall pun berpendar-pendar indah mengalihkan gua sesaat dari keriuhan di luar sana. Sambil menunggu, gua asyik memperhatikan orang-orang yang keluar-masuk mall. Terkadang belanjaan mereka begitu banyaknya sampai perlu troli khusus membawanya. Kawan, banyaknya pusat perbelanjaan memang membuat kita hidup konsumtif.

Tiba-tiba Bang Irwam mengagetkan gua dari belakang. “Yuk, Lung!” katanya. “Bentar, Bang. Gua mau pipis dulu.” Terlalu lama menunggu bikin gua kebelet rupanya. Nah, di sinilah musibah tersebut terjadi. Gua yang kebelet g nyadar jarak antara gua dengan pintu kaca Basko yang bisa tertutup otomatis. Ditambah lagi cahaya dari dalam bikin mata gua silau. Begitu gua balik badan, “BRAKK!!!” Muka gua nabrak pintu kaca Basko yang ternyata lagi tertutup!

Aduh!” spontan gua terpekik dan megang mulut gua. Begitu gua buka tangan gua, tampaklah gigi gua yang unyu tersenyum manis digenggaman gua. “Gigi gua patah!” pikir gua. Ternyata gigi gingsul gua patah gara-gara saking kerasnya gua bertabrakan dengan pintu Basko. Selain itu, karena kerasnya gua tabrakan, orang-orang di Pizza Hut dan J-Co Donuts yang ada di dekat pintu masuk sampai-sampai keluar buat ngeliat bunyi apa gerakan. Orang-orang pada ngeliatin gua, beberapa orang ada yang tertawa namun lebih banyak yang prihatin karena kerasnya gua nabrak. (kalau masih belum bisa bayangin, coba liat iklan Cling pembersih kaca waktu seekor kucing nabrak kaca. Kira-kira seperti itulah kejadiannya)

Gua yang masih terpaku di depan pintu berusaha berpikir cepat. Gua langsung lari ke dalam mall menuju toilet dan meninggalkan Bang Irwan begitu saja. Di toilet gua nyari kaca buat lihat nasib gigi gua. Ternyata bener, patah. Ada sedikit darah mengucur menetes dari gigi tersebut. Sakitnya g seberapa kawan, tapi malunya itu lho. Bikin gua serasa pengen sembunyi di toilet sampai brewokan dan baru keluar ketika orang-orang g mengenali gua.

Tapi hal tersebut g mungkin gua lakukan. Jadi ketika gua keluar dari toilet, gua angkat dagu gua sedikit dan berlagak cool. Gua langsung menuju Pizza Hut tempat Bang Irwan menunggu. Gigi boleh patah, tapi traktiran tetep mesti lanjut. Gua jelas g mau rugi gede, udah menderita gini. Alhasil, gua mengunyah pizza dengan rasa ngilu ditemani tampang mesem Bang Irwan. Keliatan banget nahan tawanya.

Setelah kejadian tersebut, terjadi perubahan pada diri gua. Gua jadi irit senyum. Selain itu, gua yang hobi ketawa terpaksa ketawa sambil menutup mulut. G mau berada dalam penderitaan berkepanjangan, gua pun pergi ke dokter gigi.

Sewaktu giliran gua tiba, si dokter yang mirip Chef Vindex pun nanya apa masalah gua. Gua bilang gigi gua patah sekalian dengan cerita pengantarnya. Eh demi mendengar cerita gua, si dokter bukannya prihatin malah tertawa terbahak-bahak. Dia bilang gua kaya superman aja adu kuat sama pintu kaca. Terus gua bilang, “Dokter tega banget, menari-nari di atas penderitaan saya.” Si dokter malah bilang, “Enak, aja. Jangan samakan saya dengan para pejabat dong, dek.” *ceile

Lanjut cerita, dia pun berkenan meriksa gigi gua. Sebenernya gua kurang suka sih memperlihatkan isi mulut gua ama orang asing. Serasa nunjukkin apa warna pakaian dalam kita aja. Tapi gua pasrah, gua g mau ke depannya dikenal sebagai SSO=> sulung si ompong. Setelah dia meriksa gigi gua, dia ngomong dengan tampang serius. “Giginya masih bisa diperbaiki, Dek. Tapi mesti dipasangin baut atau mau dimantel aja?”

Demi mendengar omongannya, gua shock. “Hah, hipahangin haut Dok?” jawab gua dengan mulut yang masih menganga. Terus apa tadi, di mantel? Emangnya gigi gua keliatan kedinginan ya? “Tenang, Dek. Di pasangin baut itu g berbahaya kok. Lha wong bautnya cuma sebesar upil, eh korek api. Tapi lebih pendekan.” Oh, gua langsung nyedot ingus menghirup napas lega. “Ok deh. Dok. Gak apa-apa.”

Si Dokter pun memberi wejangan padsa gua buat buka mulut lebar-lebar. Setelah gusinya dibius, si dokter pun sibuk ngotak-ngatik mulut gua. Gua cuma bisa pasrah, kalo misalnya gigi gua dipasangin chip dan tiba-tiba gua bisa jadi robot. Gua pasrah.

Selama lebih kurang  satu jam, gua cuma menganga. Dan begitu selesai, mulut gua pegel banget. Serasa abis nonton Warkop DKI terus ketawa g berhenti rasanya. Selesai masangin bor dan gigi gua dipasangin sesuatu, dia pun memperlihatkan hasilnya. Wah, gua seneng banget. Serasa dilahirkan kembali aja. Gua pun mencium takzim tangan si dokter dan pulang dengan langkah riang.

N.B.: sampai sekarang, cuma beberapa orang yang tahu kejadian ini. Dan mohon maaf, foto tidak bisa dipublikasikan. Dikhawatirkan si empunya gigi yang masih di bawah umur bakalan tenar mendadak. Terimakasih

TTD: Sulung yang terobsesi dengan film Abdel dan Temon.

Image source: mancahaya.blogspot.com

19 pemikiran pada “Gigiku Sayang, Gigiku Malang

  1. lu juga berhasil bikin mulut saya sakit Lung gara2 tertawa abis2an.. hahahahaha, kalo saya ada disitu juga dan menyaksikan adegan tubrukan lu pasti sumpah ketawa ngakak.. lain kali makanya hati2 sob.. mending masih dipakein baut tuh gigi, gimana kalo mesti di paku segala..😀

  2. buset, berarti nabrak kacanya keras banget ya sampai gigi bisa patah gitu!

    Dan itu di dokter giginya kayanya sengsara bener ya harus menganga sejam gitu, hahaha😛

Biasakan Berkomentar Setelah Membaca, Ya.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s