Situ Laki?

Wah, g terasa udah masuk minggu ketiga Ramadhan. Bagaimana puasanya narablog (minjem istilah Kang Asop, nih. Nuhun izinnya ya, kang)? Masih lancarkah? Semoga puasa kita lancar hingga hari yang fitri tiba.🙂

Dua minggu kemarin, gua menghabiskan waktu liburan puasa di tempat saudara di Sungai Penuh, Kerinci, Jambi. Nah, tadi malam gua balik ke Padang karena besok udah mulai kuliah lagi. Gua memilih perjalanan malam hari biar g memberatkan puasa gua. Soalnya kalau siang hari bakalan gersang banget di atas mobil selama 8 jam perjalanan. Meskipun kekurangannya gua g bisa menikmati pemandangan dan hanya bisa melihat kegelapan malam.

Di dalam mobil, penumpangnya rata-rata laki-laki. Hanya ada tiga orang perempuan di bagian depan. Jangan ditanya mereka cantik atau gak, deh. Soalnya di atas mobil gelap banget, yang kelihatan cuma gigi mereka. Selama dalam perjalanan untuk mengusir kebosanan, sang sopir sengaja memutar musik. Musik yang diputar cukup bikin gua seneng, soalnya lagu-lagunya rata-rata lagu lawas semua. Semacam lagunya Gigi; Sheila on 7; Krisdayanti waktu dia masih adem ayem ama Anang Hermansyah; dan band kesukaan gua Peter Pan.

Yah, meskipun memang vokalisnya si Ariel tersandung kasus video esek-esek, toh g bisa dipungkiri kalau lagu-lagu mereka abadi. Lagu-lagu mereka masih tetap digemari sampai sekarang. Dibandingkan dengan bursa musik Indonesia sekarang yang dikuasai Boyband/Girlband serta band melayu, gua yakin kualitas musik Peter Pan lebih baik. Apalagi waktu lagu yang diputer Menghapus Jejakmu-nya Peter Pan, gua langsung tercenung. Gua tiba-tiba ingat masa-masa gua SMA, waktu gua masih imut-imutnya, waktu gua diputusin ama cewek. Argh, waktu itu gua galau banget. Dunia gua serasa jungkir balik. Lagu Menghapus Jejakmu-lah yang bikin gua nyadar. Gua serasa ditampar ama Ariel dan dia bilang, “Woi, cewek g satu di dunia ini kali!” Yup, berkat lagu tersebut gua bisa keep moving forward.

Nah, lagi asyik-asyiknya gua menikmati pemandangan di luar jendela yang gelap (dimana asyiknya, coba?), tiba-tiba gua melihat gerak-gerik mencurigakan dari cowok di sebelah gua. Gua langsung waspada dan pasang kuda-kuda. Cowok tersebut mengeluarkan sebuah kotak putih dan mengambil sebentuk benda panjang dari dalamnya. Kemudian dia membakar benda tersebut dan meletakkannya di bibirnya. Ya saudara-saudara, dia MEROKOK! Gua langsung frustasi, gua jambak-jambak rambut gua, gua jedotin kepala gua ke jendela. 

Kenapa gua sebegitu frustasinya dengan orang yang merokok? Karena sejujurnya gua ini g suka dengan asap rokok. Setiap ada orang merokok di samping gua, bawaannya sesak napas. Beberapa orang pasti bilang, “Lu kan cowok, kok g suka rokok?”

Gua nyadar kalau gua cowok. Waktu Mama gua melahirkan gua, demi melihat sebentuk benda manis diantara paha gua, Ibu Bidan langsung teriak, “LAKI!!” Berarti gua laki, kan? Sekarang gua yang bertanya. “Apakah cowok identik dengan merokok? Apakah cowok yang tidak merokok berarti mereka tidak jantan? Salahkah orang-orang yang menghindari rokok karena ingin hidup sehat?”

Sebenarnya, gua tidak terlalu mempermasalahkan seseorang yang merokok. Gua tipe orang  yang menjunjung tinggi kebebasan berpendapat dan berekspresi. Mereka mau bakar uang (baca: merokok) juga bukan urusan gua. Hanya saja yang gua tidak suka adalah mereka merokok di ruang publik!

Padahal sudah ada peraturan yang mengatur soal merokok di ruang publik. Merokok di ruang publik, sangat berbahaya bagi orang-orang yang menghirup asapnya. Bukankah konsekuensi yang mesti ditanggung oleh para perokok pasif lebih besar daripada perokok aktif? Lalu kenapa masih banyak orang yang tidak menyadari bahayanya merokok di ruang publik? Jawabannya adalah mereka kurang mempunyai sifat tenggang rasa dalam diri mereka.

Seandainya setiap orang hidup saling bertenggang rasa, pasti seseorang akan lebih memikirkan akibat perbuatannya sebelum melakukan suatu hal. Tidak akan ada permusuhan, tawuran, ataupun bentrok antar agama jika setiap orang mempunyai sifat tenggang rasa dan empati yang tinggi.

Kembali ke masalah rokok, sebagai seorang laki-laki bukan berarti gua g dihina oleh orang-orang akibat ketidaksukaan gua akan rokok. Banyak hinaan, cacian, sindiran, bahkan godaan dari orang-orang di sekitar gua. Beberapa dari mereka ada yang sengaja menghembuskan asap rokok di muka gua. Atau menawarkan rokok disertai ancaman dan rayuan. “Coba dulu, Lung. Dijamin suka!” atau “Kita kan temen, Lung. Coba merokok dulu sebagai bukti pertemanan kita.” Atau “Lu g merokok, Lung? Ah, cemen lu. Lu cowok apa kaga?” adalah kata-kata yang sering gua denger dari orang-orang ke gua. Untungnya sampai sekarang gua tetap berpegang teguh sama pendirian gua dan tidak sekalipun mencoba merokok.

Nah, bagaimana dengan sahabat sekalian. Apakah sahabat setuju dengan stigma, “Merokok itu cowok banget?” Atau jika sahabat adalah seorang perokok, apakah sahabat masih suka merokok di ruang publik sehingga merugikan orang-orang di sekitar?

images sources: http://keperawatankita.wordpress.com

37 pemikiran pada “Situ Laki?

  1. kenapa orangnya tidak ditegur saja?🙂 Merokok dalam mobil kan berarti asapnya terkurung banget dalam mobil tuh dan penumpang lain juga bakal “menghirup” asapnya🙂

    Kalau disini orangnya pada ngerti loh. Kalau mau ngerokok pasti menyingkirkan dulu dulu ke area merokok atau setidaknya keluar gedung (ga cuma keluar ruangan aja, tapi sekalian keluar gedung!)😀

    Btw, saya juga nggak suka sama yang namanya rokok🙂 Cuma rasanya hal ini ga pernah dipermasalahkan teman-teman, hehe🙂 (lagian ngapain juga mempermasalahkan hal ini?🙂 ). Ditawarin sih pernah, tapi ya saya tolak aja saya bilang saya ga merokok.🙂

    1. Kalau ditegur malah-malah bisa berantem, lalu nanti tahu-tahu situ bisa dikeroyok orang pula.
      Di sini memang toleransinya belum tinggi. Sudahlah, lain kali biar aman, pakai masker saja sebelum naik, biar kesannya kita sedang sakit….

  2. Hhahah…gue pun demikian, laki tapi gak suka merokok, wkwkwk…😆
    Bodoh amat deh kata orang ape😛
    Kemarin sempat nyoba isep.
    Hmmm…heran sih, gak ada enaknya, mulut apalagi, kayak pahit2 gimana, wkwkwk…😆

  3. Kenapa harus minta ijin saya?😆 Bukan saya yang menciptakan ‘narablog’, nih yang menciptakan.:mrgreen:

    Saya jadi inget sebutan Ariel sekarang. Bukan “Ariel Peterpan” lagi, tapi “Ariel Peterporn”.😆

    Astagaa kita sama, Bung, pembenci rokok!😡 Sebel banget kalo orang merokok di sebelah kita yang bukan perokok. Siapa yang egois coba? Perokok dong. Kalo mau gak dibilang egois, merokoklah di tempat yang khusus utk perokok. Kalo nggak, telen lagi asapnya!😡

    Saya bisa membenci rokok karena saya (jujur saja) pernah jadi perokok, meski hanya sebentar, gak sampe sebulan. Setelah itu saya pikir, gak enak banget rasanya (lama banget yah butuh sebulan utk tahu bahwa ga enak:mrgreen: ). Lagipula, apa enaknya ngisep asap? Kayak orang bego aja. Sama aja kayak bakar duit.👿

    Saya gak setuju dengan “merokok itu laki”. Ogah banget. Itu pikiran sempit sekali.😆

    1. wah, bapak blogger indonesia yg mnciptakan rupanya😀
      sama, Kang. saya bakal lebih menghargaiseorang perokok kalau dia juga menghargai saya yang bukan perokok. hanya saja tenggang rasa merka kurang banget.

  4. wuahahahahah,,
    Kasus kita sama..
    One jg bukan perokok,,
    Dan kadang suka di bikin kesel ma orang2 yg semacam itu..
    Tiap kali ada yang kayak gtu, pengen bgt rasanya gue cabut tuh rokok dari mulutnya, terus gue colokin kematanya..
    Tapi apa daya, itu cuma angan angan..
    Hehehe

  5. Itu tagline yang menjerumuskan banget, “Kalo gak ngerokok gak laki”. Kebayang gak kalau tagline itu masuk mendarah daging di otak cowok-cowok abg dan labil yang lagi cari jati diri?! Makanya beruntunglah orang-orang yang gak suka merokok🙂

  6. Kalo saya mah beruntung, karna di kantor si bos gak ngerokok. Jadi, buat yang ngerokok musti diluar kalo mau ngerokok.

    Kayanya memang perlu ada lahan khusus untuk smoking area, ya kayak di jepang ato singapur gitu (tapi saya jg blum ke sana sih hihihi.. :lol:)

  7. tadi mau komentar apa ya lupa #gara-gara internet lola😦
    oh ya … setuju deh sama pendapatmu kak, ak juga gg begitu suka sama cowok yg ngerokok, mereka itu egois, gg sayang diri sendiri terlebih tidak menghargai lingkungan, well emang sih rokok itu hak asasi tapi mbok ya hak tiap individu kan dibatasi hak individu yang lainnya, yang gg ngerokok juga punya hak untuk menghirup udara segar😦
    daripada buat beli rokok mending ditabung, sehari 10ribu sebulan 300ribu setahun bisa 3jutaan $)

  8. saya juga suka peterpan, suka sama karya-karya indah mereka.. nyanyi aja lagunya Yang Terdalam lung di depan saya, meskipun mungkin suara kamu kacaunya bikin saya pingsan, tapi saya akan tetep mendengarkan tu lagu.. #lebay😀

    saya juga tidak suka rokok, tapi saya tidak pernah benci perokok. saya juga tidak mempermasalahkan orang-orang yang suka merokok, hanya saja please jangan ngerokok di sebelah saya. teman-teman dekat saya yang laki-laki kebanyakan pada nggak merokok, jadi gk ada istilahnya cowok yang gk ngerokok itu gk jantan. malahan saya bangga dan kasih applause untuk kalian (laki-laki) yang sudah berhasil untuk tidak merokok.

  9. saya seorang perokok..dan saya ngggak gitu mentingin apakah merokok itu membuktikan kita jantan apa engga..

    terkait dengan mas yang ga suka ada orang merokok di sebelah mas, saya punya quote dari dosen paling gokils di kampus saya(yang ngebolehin orang ngerokok dalam kelas),
    begini quote nya..
    “Anda punya hak untuk tidak menghisap asap rokok orang disebelah Anda, namun saya(sang perokok) juga punya hak untuk merokok didekat siapapun”
    piss..no offense..hehe

Biasakan Berkomentar Setelah Membaca, Ya.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s