Ibu adalah Harta yang Berharga, versi Gua

Untuk tulisan kali ini, sengaja gua tulis buat memenuhi tantangan yang diajukan Mbak Fanny dalam Giveaway-nya. Meskipun gua terbilang baru di dunia per-blog-an, toh tidak ada salahnya mencoba ikut kompetisi ini. Kalaupun tidak menang, toh setidaknya gua udah mencoba. Syukurnya, ada beberapa orang yang mau memberi kesempatan kepada orang-orang yang baru di dunia per-blog-an untuk lebih berkembang dengan cara memberikan iming-iming berupa hadiah. Salah satunya Mbak Fanny ini. Sudahlah rajin menulis di blog, rajin pula bagi-bagi hadiah (menjilat banget nih, mbak😀

Nah, salah satu syarat buat ikutan Giveaway-nya adalah dengan cara memilih postingan yang telah ditulis oleh Mbak Fanny dan menyertakan alasan kenapa memilih postingan tersebut. Setelah mengobrak-abrik lemari arsip Mbak Fanny, akhirnya gua menemukan satu tulisan dengan tanggal 22 Desember 2010 yang paling gua suka. Berikut kutipannya (mohon izin di-publish ulang y, mbak).

IBU ADALAH HARTA YANG BERHARGA
Grace dan teman-temannya hendak mengadakan piknik di tepi sungai. Mereka saling berjanji untuk membawa makanan dari rumah. Tetapi, ketika ia meminta sang ibu untuk membuatkan kue bolu yang akan ia bawa, ibunya berkata :

“Maafkan, ibu sayang..persediaan telur dan terigu sedang habis. Dan, ibu tidak punya waktu untuk berbelanja ke pasar.” Ujar sang ibu dengan nada suara menyesal. “Kalau kamu mau, kamu bisa membawa sekantong biskuit.”

Meskipun kecewa, Grace mencoba memahami. Apalagi ia tahu ibunya sering pulang larut malam akhir-akhir ini karena harus bekerja lembur di kantor. Maka, Grace pergi piknik hanya dengan membawa sekantong biskuit dan 2 botol air mineral.

Namun ketika Grace dan teman-temannya sedang menyeberangi jembatan yang ada di atas sungai, tiba-tiba kaki Grace terpeleset dan kantong yang berisi biskuitnya terjatuh ke dalam sungai.
Grace berpikir ia akan menikmati pikniknya dengan perut lapar karena teman-temannya pun hanya membawa bekal secukupnya. Mungkin ia hanya akan mendapatkan satu dua potong kue dari mereka. Tetapi, saat jam makan siang, tiba-tiba saja ada suara lembut menyapa Grace dan teman-temannya.

“Kalian pasti lapar berat. Ini ibu bawakan sekeranjang makanan untuk kalian.”

Oh, oh….itu suara ibu Grace yang datang membawa kue bolu, sirup jeruk dan sekantong apel hijau. Grace dan teman-temannya pun menikmati makanan itu dengan hati riang.

Semua itu karena pengorbanan sang ibu. Dia merelakan jam istirahatnya dengan pulang ke rumah sebentar untuk berbelanja ke supermarket terdekat, lalu membuatkan seloyang kue bolu. Setelah mengantarkan makanan itu, sang ibu harus kembali ke kantornya dengan perut lapar karena ia sendiri belum sempat makan siang.

Saat itulah, Grace menyadari betapa berartinya sang ibu bagi dirinya. Ibu adalah harta yang sangat berharga. Ibu tidak pernah berhenti berjuang untuk mmeberikan segala hal yang kita butuhkan. Ia rela kelaparan demi puteri tercintanya. Ia selalu memberikan yang terbaik dari yang bisa ia berikan. Maukah kita menyatakan penghargaan kita kepadanya?

Jujur, gua sehabis membaca tulisan tersebut serasa pengen nangis. Karena tulisan tersebut pas banget dengan apa yang gua alami. Bisa dibilang, gua tumbuh di lingkungan keluarga brokenhome. Ketika gua kelas 4 SD, Papa gua pergi meninggalkan Mama, gua, dan adik gua. Ditinggalkan begitu saja tanpa sepeser uangpun oleh suaminya, tidak membuat Mama gua meratapi nasibnya dan memaki dunia yang begitu kejam padanya. Tidak, Mama gua berusaha kuat karena dia tahu bahwa dua anaknya membutuhkannya.

Segala cara dilakukan oleh Mama agar anak-anaknya tetap bisa tumbuh dan memperoleh pendidikan yang layak. Berjualan makanan ringan, menjahit, membuat kue, bahkan memasak untuk orang yang hajatan pun Mama lakukan. Dibantu oleh keluarga besar Mama, Mama berusaha menjadikan anak-anaknya orang yang berguna kelak. Terkadang, hingga tengah malam gua dapati Mama masih sibuk menjahit demi upah jahitan tiga puluh ribu perak.

Pernah gua bertanya pada Mama, kira-kira bagaimana cara gua membalas jasa-jasanya selama ini. Dia cuma tersenyum dan berkata sambil mengelus kepala gua, “Mama tidak minta apa-apa dari abang (panggilan gua di rumah). Mama cuma ingin abang akur dengan adek dan membuat Mama bangga dengan prestasi abang.” Dari kata-kata tersebutlah gua berusaha membuatnya bangga. Memenangi olimpiade; aktif di Osis dan organisasi kampus; senantiasa rangking sepuluh besar dan IP di atas tiga koma; sampai SPP dan kuliah biayanya terbantu oleh beasiswa yang gua peroleh, gua usahakan untuk melihat Mama tetap tersenyum (maaf, sedikit promisi nih. Hehe).

Satu hal yang paling gua syukuri adalah sebagai single parent, Mama berhasil menjadikan gua dan adik gua anak yang soleh. Sehingga kami tidak terjebak dengan narkoba, kenakalan remaja, atau segala macam yang biasa menimpa anak-anak brokenhome.
Terakhir, buat gua Mama adalah seorang Ibu sekaligus Ayah, sahabat tempat mengadu, idola sekaligus pahlawan bagi hidup gua. Tanpa Mama, mungkin tidak akan ada seorang Sulung seperti yang sekarang ini.

Nah, sekian saja alasan kenapa gua menyukai tulisan Mbak Fanny di atas. Kalau terlalu panjang, takut dibilang curhat dan membuat Mbak Fanny serta yang baca bosan. Hehe. Buat yang lain, kalau mau dapat hadiah novel dari Mbak Fanny, klik di sini. Semakin banyak yang berpartisipasi, semakin baik. Semoga dengan banyak yang ikut, silaturahim di antara narablog bisa semakin erat. Terima kasih.

gambar diculik dari sini

Best Regards
Sulung Lahitani Mardinata

40 pemikiran pada “Ibu adalah Harta yang Berharga, versi Gua

  1. wow…post ini bertepatan dengan ulang tahun mama saya tercinta…
    My mom also like your mom…wonderfull women.
    sehat selalu yah buat mama kamu..
    and sukses buat lombanya😀

  2. kalo udah ngomongin ibu mah, berjuta kata pun nggak akan pernah habis untuk menceritakan sosok perempuan hebat kita itu.. salam untuk mamanya lung, dan semoga kita sebagai anak bisa selalu membuat ibu kita bangga dengan kita..

    sukses yaa kontesnya.. ternyata abang (versi mama) adalah sainganku, hahahahaha..😛

  3. bener, emang selalu kasih seorang ibu tidak akan putus buat anaknya. kisahnya memang menginspirasi ya.. ah jadi kangen sama bunda saya nih. *lebaran cepatlaah datang!

Biasakan Berkomentar Setelah Membaca, Ya.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s