Fenomena Ramadhan di Lingkunganku

G terasa Ramadhan sudah memasuki minggu ketiga dan hanya tinggal beberapa hari lagi kita bertemu dengan hari yang fitri. Bagi yang mau lebaran di kampung pasti sudah bersiap-siap untuk mudik. Nah, selama beberapa minggu Ramadhan yang gua lewati ada beberapa fenomena yang gua dapati terjadi di sekitar lingkungan gua. Cekidot!

 

Sang Penjaga Sahur

Di daerah kos-kosan gua ada fenomena yang gua sebut Sang Penjaga Sahur. Kenapa gua beri nama Sang Penjaga Sahur? Dalam bahasa Minang, orang yang membangunkan orang lain biasa disebut Panjago. Nah, sengaja gua bahasa Indonesiakan menjadi Penjaga meskipun maknanya secara semantik jadi agak berbeda. Tapi kalau dibaca lengkap, Sang Penjaga Sahur jadi mempunyai makna yang ambigu. Dapat berarti orang yang menjaga waktu sahur dan dapat berarti orang yang membangunkan orang lain diwaktu sahur. Sang Penjaga Sahur ini biasa membagunkan orang-orang dengan cara yang unik. Dia akan memukul-mukul tiang listrik dengan irama tertentu di setiap tiang listrik yang ia temui. Sampai sekarang gua belum pernah melihat sosok Sang Penjaga Sahur ini. Meskipun terkadang gua sengaja menunggu dia lewat dan memukul tiang listrik di dekat kos gua, ketika gua keluar untuk melihat sosoknya, dia sudah tidak ada. Walau terkesan misterius, gua tetap berterima kasih padanya. Sebab, berkat ulahnya memukul tiang listrik gua bisa bangun untuk sahur.

Bubar (Buka Bareng)

Sudah beberapa hari belakangan gua dapat ajakan berbuka bareng terus. Ada yang dari teman-teman SMP, sesama penyuka main PIU, teman organisasi kampus, teman-teman sekelas, sampai teman-teman satu praktek lapangan. Gua lama-lama jadi terbiasa berbuka di luar. Di Kota Padang, fenomena buka bareng ini sudah menjadi rutinitas. Jika kita mau berkeliling Kota Padang menjelang waktu berbuka tiba, maka akan kita dapati setiap rumah makan dipenuhi oleh orang-orang yang sengaja berbuka di luar rumah. Terkadang tempat parkirnya saja tidak mampu memuat semua kendaraan yang dibawa orang-orang sehingga melimpah ke jalanan.

Sayangnya buka bareng ini lama-lama bikin kantong cepat kempes. Bagaimana tidak, rata-rata setiap berbuka kita mengeluarkan uang dua puluh ribuan ke atas. Makanya, orang-orang banyak yang mengeluh kalau pada bulan puasa mereka bukannya bisa berhemat malahan semakin boros.

Jamaah Masjid Semakin Berkurang

Satu lagi fenomena yang gua lihat di lingkungan gua. Semakin mendekati hari raya, jamaah masjid bukannya bertambah banyak malah semakin berkurang. Shaf-shaf yang biasanya penuh berangsur-angsur kosong. Pada akhirnya yang tetap bertahan menjadi pengunjung setia mesjid adalah para orang tua yang sudah uzur. Sementara orang-orang yang masih sehat dan muda malah berebut membeli baju raya. Padahal gua pernah dengar salah satu ustad mengatakan, seharusnya di akhir-akhir ramadhanlah kita semakin rajin ke mesjid. Sebab di akhir-akhir ramadhan terdapat malam yang lebih baik daripada seribu bulan yaitu Malam Lailatul Qadar. Makanya di beberapa mesjid ada tradisi beri’tikaf yaitu berdiam diri di mesjid untuk beribadah kepada Allah SWT.

Berani Tidak Berpuasa di Depan Umum

Kalau yang ini fenomena yang tergolong parah. Gua lihat zaman sekarang semakin banyak orang yang dengan beraninya menunjukkan di depan umum kalau mereka tidak puasa. Ada yang makan, minum, ataupun mengunyah permen karet di depan umum. Padahal mereka tahu kalau orang-orang di sekitar mereka sedang berpuasa tetapi mereka berlagak cuek dan seolah-olah sengaja menantang orang-orang di sekitar mereka untuk menegurnya. Bukannya mereka tidak punya hati atau tidak punya otak. Juga bukan masalah apakah mereka nonmuslim ataupun mereka adalah wanita yang sedang tidak berpuasa (meskipun pelakunya lebih banyak dari kalangan pria). Yang jadi permasalahan adalah mereka tidak mempunyai tenggang rasa. Seharusnya mereka menghargai orang-orang di sekitar mereka yang berpuasa. Kalau memang mereka tidak ingin berpuasa dan melanggar perintah Allah, mbok ya dilakukan sembunyi-sembunyi kek. Apa harus menunjukkan secara terang-terangan? Lama-lama gua jadi mikir kalau zaman sekarang orang-orang semakin banyak yang kehilangan kemaluan rasa malu mereka.

Ya, begitulah beberapa fenomena yang gua tangkap di lingkungan gua selama Ramadhan ini. Bagaimana dengan di lingkungan sahabat sekalian? Apakah juga ada fenomena-fenomena unik lainnya?

Iklan

17 pemikiran pada “Fenomena Ramadhan di Lingkunganku

  1. soal bubar, gue setuju banget ma lo
    gue aja yang masih di bdg, udah dapet 6 undangan buat bubar, bubar Sma, bubar smp, bubar kelas SMA, bubar ma temen2 dekat, bubar ma temen2 TK gue, bubar ma temen2 jauh, bubar ma semua mantan pacar(8 orang), bubar sesama kaum homo di padang.hahaha

  2. Yang terakhir itu mungkin salah satu godaan dalam puasa. Jangan dipermasalahkan terlalu jauh. Kalau menurut ane sih. Makanya kalau ada yang makan, minum, ngerokok depan gw, gw mah oke-oke aja.

  3. Kunjungan perdana mas dan salam kenal dari saya
    kalau di tempat ane unik lagi mas, di depan mesjid tu ada pedagang-pedagang siomay dan makanan menwarkan daganganya, mereka malah tidak ikut sholat tarawih.

Biasakan Berkomentar Setelah Membaca, Ya.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s