Kisah Seorang Pemaku

“Kita tak pernah tahu seberapa besar akibat yang ditimbulkan oleh kelakuan kita.”

Pernah ada seorang anak lelaki dengan tabiat buruk. Ayahnya yang ingin mengubah sikapnya kemudian memberinya sekantung penuh paku dan menyuruhnya memaku satu batang paku di pagar pekarangan tiap kali dia kehilangan kesabarannya atau berselisih paham dengan orang lain.

Hari pertama, dia memaku tiga puluh tujuh batang paku di pagar. Pada minggu-minggu berikutnya, dia belajar untuk menahan diri dan jumlah paku yang dipakukannya berkurang dari hari ke hari. Dia mendapatkan bahwa lebih mudah menahan diri daripada memaku di pagar.

Akhirnya, tiba hari ketika ia tak perlu lagi memaku sebatang paku pun dan dengan gembira disampaikannya hal tersebut kepada ayahnya. Ayahnya kemudian menyuruhnya untuk mencabut sebatang paku dari pagar setiap kali dia berhasil menahan diri.

Hari-hari berlalu dan akhirnya tiba hari dia bisa menyampaikan pada ayahnya bahwa semua paku sudah tercabut dari pagar. Sang ayah membawa anaknya ke pagar dan berkata, “Anakku, kamu sudah berlaku baik, tetapi coba kamu lihat betapa banyak lubang yang ada di pagar. Pagar ini tidak akan kembali seperti semula. Begitupula dirimu. Tiap kali kamu berselisih paham atau menyakiti hati orang lain, kamu akan meninggalkan bekas luka seperti pada pagar tersebut. Tak peduli seberapa keras kamu berusaha memperbaiki diri atau meminta maaf.”

* * *

Dalam kehidupan sehari-hari, kita pasti pernah menemukan kejadian seperti kisah di atas. Kita begitu mudah menyakiti hati seseorang tanpa menyadari akibat yang ditimbulkan dari perbuatan kita tersebut. Dan terkadang, kita melupakan begitu saja perbuatan buruk kita tersebut.

Baru-baru ini, gua sendiri juga menemui kejadian yang sama. Seorang teman SMP gua menolak ikut buka bareng yang diadakan teman-teman SMP hanya karena dia tersinggung dengan salah satu perkataan teman yang lain pada buka bareng tahun 2009. Padahal sudah dua tahun berlalu namun dia masih belum juga mau memaafkan kejadian tersebut.

Ada lagi teman sekelas gua di bangku kuliah yang enggan ikut acara-acara yang diadakan teman-teman sekelas karena mantan pacarnya yang juga teman sekelas gua ikut. Padahal sebelum mereka putus, mereka bagai perangko yang ditempel pake lem alteco ke amplop. Tidak terpisahkan. Namun setelah putus, hubungan mereka bahkan lebih buruk dari anjing dan kucing yang selalu bertengkar. Gua jadi mikir, kalau begitu lebih baik kalian tidak pernah pacaran dan tetap berteman saja.

Gua sendiri bukan tipe orang yang pendendam. Gua juga pernah marah namun paling lama hanya lima hari sewaktu teman gua mencontek tugas gua dan gua yang kena semprot oleh dosen terkiller. Hanya saja, lama-kelamaan gua berusaha menerima kejadian tersebut dan menganggapnya pelajaran buat gua. Setidaknya gua jadi tahu tipe dosen yang satu berbeda dengan yang lain. Gua juga cenderung memilih untuk menjadi seorang pendengar dibandingkan berbicara yang tak ada perlunya. Karena terkadang, sebagaimana yang gua bilang di atas, kita g tahu apa efek dari perkataan kita.

Bagaimana dengan sahabat-sahabat sekalian? Apakah sahabat sampai sekarang masih menjaga luka yang dibuat oleh seseorang untuk tetap menganga dan tak berusaha menutupnya? Atau sahabat adalah tipe orang yang spontan dan tidak terlalu memikirkan akibat dari perbuatan sahabat ke depannya?

Bagaimanapun, kita adalah makhluk sosial yang membutuhkan orang lain dalam kehidupan kita. Karenanya, alangkah baiknya jika kita mampu menjaga tingkah laku dan lisan kita dalam kehidupan sehari-hari agar kita dapat senantiasa hidup damai. Sebab sebuah persahabatan sangatlah berharga dan begitu susah untuk menjaganya untuk tetap terbina baik.

Keindahan persahatan adalah bahwa kamu tahu kepada siapa kamu dapat mempercayakan rahasia.”  (Alesandro Marzoni)

Iklan

13 pemikiran pada “Kisah Seorang Pemaku

  1. Hicha Aquino

    kalau begitu, memaku lah di tembok semen. saat dicabut, bisa ditambal, didempul, dicat kembali, dan bekas paku tersebut hilang tak bersisa. 🙂

  2. Mel sedang belajar melapangkan hati, bersabar dan memaafkan.. tapi kadang2 masih out of control..
    tapi kalau marah mel emang ga deskruttif sih, cenderung diam dan mengurung diri di kamar, membujuk diri sendiri dengan pikiran positif, baru kalau dah ga marah baru keluar deh..

    Selama ini selalu berusaha menjaga perasaan orang-orang sih, tapi karena mel orang spontan dan suka nyeplos seenaknya, walaupun ga ada maksud jahat apa-apa, ya kadang mungkin ada yang tersinggung, Who knows?
    Tapi biasanya suka kepikiran kalau salah omong, soalnya mel orangnya ga enakan..

  3. Erlinfa_Kahfi

    salam kenal bang,,kisahnya ngena bgt,, marah itu sah2 aja yang penting cara meluapkan yang perlu dikendalikan,,meskipun sudh menahan tpi sekali saja meluapkan dgn cara yg salah efeknya bisa seperti wedus gembel,,

Biasakan Berkomentar Setelah Membaca, Ya.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s