A Story Before Eid

“Baju, udah. Cas-an hp, ada. Sikat gigi, masuk. Celana dalam, komplit.” Ichi asyik bergumam sambil memasukkan barang-barang yang ia butuhkan untuk mudik. Ya, besok Ichi akan mudik ke kampung halamannya di daerah Pariaman. Dia sudah tidak sabar berkumpul kembali bersama keluarganya. Saat akan memasukkan buku catatannya, tiba-tiba dadanya terasa sakit.

“Uhuk, uhuk!” Ichi terbatuk dengan keras. Perutnya kembali melilit. “Jangan-jangan dia datang lagi?” pikirnya. Saat berusaha tegak untuk menuju kamar kecil, badannya limbung. Ia bergegas berpegangan erat pada handle pintu. Tanpa menunggu hilangnya kunang-kunang yang berkeliaran di depan mata, Ichi terburu-buru ke belakang. Ada sesuatu yang ingin keluar dari tubuhnya. Ia membanting pintu dan tak memperhatikan buku catatannya terjatuh dari atas meja. Buku tersebut terbuka dan menampakkan tulisan tangan Ichi sendiri.

Padang, 18 Agustus 2011

Akhir-akhir ini, dia semakin sering menggangguku. Kian hari, sesak napas ini makin sering kurasakan. Aku tahu perkembangannya semakin baik dalam tubuhku. Sempat aku berkaca dan bertanya pada bayanganku yang semakin kurus. “Kenapa dia memilihku?”

Aku tahu ada sesuatu yang tumbuh dalam tubuhku. Aku tak tahu kapan ia menetas dan menjadikan tubuhku inangnya. Merasuk dalam nadiku dan bercampur dalam tiap tetes merah darahku. Aku mulai menyadari keberadaannya di ragaku saat dadaku mulai sering terasa sakit.

Telah kucoba meretas hari-hari yang kulalui, mengikis kerak-kerak memori yang berada di benakku. Bertanya kenapa mesti aku yang mengalaminya. Namun jawabannya tak berkesudahan, malahan ia semakin kuat. Ia mulai mencecap neuron-neuronku dan meludahi tiap impulsku dengan racunnya.

Aku tak kuasa memberitahukannya pada Ibu. Biaya kuliahku ditambah biaya sekolah adik saja sudah membuat Ibu sering merenda malam untuk sekedar mencari tambahan penghasilan. Tidak, aku tak ingin menambah kerutan di wajah Ibu. Biarlah kupendam kehadirannya dalam diriku. Membiarkannya tumbuh kembang dalam diamku tanpa seorang pun yang tahu. Sampai tiba waktunya, untuk ia keluar dari tubuhku.

* * *

 Ichi termenung di depan cermin, menatap bayangan buram yang begitu mirip dengannya. Ia berusaha menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan.

“Huft.” Tangannya memegang gunting, perlahan ia mulai menggunting beberapa helai rambutnya. “Entah sampai kapan aku harus menggunting sendiri rambutku agar kepalaku tidak tampak aneh. Tetapi rambutku yang rontok di beberapa bagian memaksaku melakukannya. Menurutmu aku akan terlihat lebih tampan dengan potongan hasil karyaku?” Ia bertanya pada bayangannya sendiri. Tidak menuntut jawaban, namun seolah mengerti bayangannya tersenyum dan mengangguk padanya.

Tiba-tiba pintu kosnya diketuk. Ichi segera meletakkan gunting dan merapikan helaian rambutnya yang tampak berantakan. Ternyata ibu kosnya.

“Pulang kini, Ichi?” tanya Ibu kosnya.

“Iyo, Nte. Ibu lah menelepon, batanyo bilo Ichi ka pulang.”

“Hm, iyo lah. Hati-hati jo di jalan, yo. Jan lupo baok kue rayo bisuak ko.”

“Aman tu, Nte.” Ichi tersenyum menampakkan gigi putihnya yang berderet rapi. “O yo, Nte. Mumpung takana, Mohon Maaf Lahir Batin.” Ichi menyalami ibu kosnya yang sudah ia anggap ibunya sendiri.

“Samo-samo. Salam untuk keluarga di kampung sadonyo, yo.” Ibu kosnya kemudian kembali meninggalkan Ichi sendiri.

Ichi termenung. Ia menatap kamar kosong di hadapannya. Cimu, kucing yang ia pelihara di kosnya, mendekatinya. Ichi mengangkat Cimu ke dalam gendongannya.

“Ternyata aku kuat juga bertahan dua minggu dalam kesendirian, Cim. Teman-teman kos bilang mereka bau akan kembali setelah Idul Fitri saja. Meskipun terkadang aku khawatir dengan sesak napasku sementara aku sendirian, namun untungnya aku bisa melewatinya dengan baik.” Seolah memberi kekuatan, Cimu menggosokkan kepalanya ke badan Ichi.

“Nah, sekarang aku harus pergi. Kamu harus berusaha mencari makan sendiri selama aku g ada, ya?” Ichi melepaskan Cimu dari pangkuannya. Ia mengambil ranselnya dan menutup pintu. Setelah mengunci pintu, tak lupa ia menempelkan sebuah poster bergambar di pintu kamarnya.

Selamat Hari Raya Idul Fitri
gambar diambil dari sini

Ichi tersenyum dan setelah memastikan semuanya sempurna, ia berlalu diikuti Cimu.

Catatan: Awalnya cuma iseng ingin membuat ucapan “Selamat Idul Fitri” dalam bentuk berbeda. Tapi hasilnya malah cerita seperti yang di atas. Gua memang g terlalu pandai menulis cerita. 

Bagaimanapun, sekali lagi gua mau mengucapkan

Selamat Hari Raya Idul Fitri. Mohon Maaf Lahir dan Batin.”

Hari ini gua mau mengikuti tradisi yang dilakukan jutaan manusia di Indonesia yaitu mudik. Dan selama di kampung mungkin tidak menemukan internet, makanya mau puas-puasin menulis di blog terlebih dahulu. Terakhir, semoga kita semua bisa bertemu kembali dengan Ramadhan di tahun berikutnya. Wassaalam. 

Iklan

40 pemikiran pada “A Story Before Eid

  1. Bila Sms Mohon maaf lahir batin
    tidak masuk ke nomor hape panjenengan biarlah ucapan ini kami sampaikan

    Tiada kata yang indah selain saling maaf memaafkan di bulan suci nan fitri .
    Bila ada kata sikap . Kami atas nama admin kawanlama95 mengucapkan:

    Selamat Hari Raya Idul Fitri 1432 H, Mohon Maaf Lahir Dan Batin
    “Taqabbalallahu minnaa wa minkum. Taqabbalallahu yaa kariim. Waja’alnallah.

    Wa iyyakum minal ‘aidiin wal faa iziin..
    Selamat Hari Raya Idul Fitri, Mohon Maaf Lahir Dan Batin”

    Semoga kebersamaan yang terjalin selama ini bisa memberikan keberkahan dan kebaikan untuk kita semua. Amien

  2. “Taqabbalallahu minnaa wa minkum. Taqabbalallahu yaa kariim. Waja’alnallah. Wa iyyakum minal ‘aidiin wal faa iziin..
    Selamat Hari Raya Idul Fitri 1432 H, Mohon Maaf Lahir Dan Batin”

  3. Saya sedikit lebih tertarik sama nama tokohnya. Lucu aja, tadinya saya pikir Ichi itu orang Jepang, tapi pas dialog, eh, bahasanya daerah (btw, itu bahasa mana ya?) hahaha 😀

    btw, ceritanya bagus. Meski agak bingung apa hubugan prolog-nya sama ceritanya. Yang jelas, enak dibaca 😀

  4. Walau ceritanya dibuat ga sengaja tapi keren deh…. biasanya aku ngarang itu pas ujian disaat mulai mepet ga ketemu jawaban, hehehe….

    Salam lebaran yaaa… mohon maap lahir bathin…

    *background temanya keren deh…

Biasakan Berkomentar Setelah Membaca, Ya.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s