Air Mengalir Sampai Jauh

Wah, akhirnya bisa nge-blog lagi! Bisa dibilang, seminggu sudah gua g nulis sesuatu yang baru. Dikarenakan selama di kampung gua g bisa berhubungan terhubung dengan koneksi internet, maka terputus sudah hubungan gua dengan dunia luar. Selama masa hibernasi gua tersebut, gua g bisa tidur nyenyak, makan pun tak enak (jiah!). Baru gua sadari, ternyata gua mengidap penyakit Candukus Internetus. Hehe.

Baru-baru ini gua nonton berita, katanya saudara-saudara kita di Jakarta sana sedang dilanda kesulitan. Beberapa tempat di Jakarta mengalami krisis air gara-gara tanggul yang jebol. Hal ini mengakibatkan beberapa orang terpaksa membeli air bersih. Bahkan ada yang terpaksa mandi dan mencuci di sungai karena tidak ada air. Padahal, sebagaimana yang kita ketahui sungai-sungai di Jakarta itu kebanyakan tidak layak konsumsi. Sungai-sungai di Jakarta sudah banyak yang tercemar sehingga airnya keruh dan berwarna coklat, belum lagi dengan sampah-sampah yang berserakan di sungai tersebut.

Sehabis menonton tayangan berita tersebut, gua jadi berpikir. Sebenarnya dimana salahnya? Dulu air bersih begitu melimpah. Anak-anak bebas berenang hilir-mudik. Warga pun tidak segan-segan menggunakan air sungai untuk keperluan sehari-hari. Namun sekarang, apa yang kita lihat membuat begitu membuat kita miris. Apakah alam sudah tidak sayang lagi kepada kita? Atau kita sebagai manusia yang semena-mena kepada alam? Entahlah, jawabannya ada di hati kita masing-masing.

Bercermin dari sungai-sungai di kota-kota besar, gua merasa bersyukur dilahirkan sebagai anak kampung. Sewaktu libur lebaran kemarin, gua menyempatkan diri menyambangi sungai yang terletak di kampung gua, Padang Alai. Sungai tersebut biasa disebut masyarakat kampung gua dengan nama Aia Tan Dareh (Air yang Deras). Nah, yang bikin gua seneng adalah meskipun gua jarang pulang kampung, tapi tidak banyak yang berubah dengan sungai tersebut. Sungai tersebut masih digunakan orang-orang untuk mencuci dan mandi. Tidak heran masyarakat lebih suka mandi di sungai, karena di kampung gua g ada PDAM. Masyarakat di sana cenderung membuat bak tadah hujan. Jika kemarau tiba, mandi di sungailah pilihan mereka.

Aia tan Dareh merupakan sungai yang lingkungan sekitarnya masih asri. Selain airnya jernih, terdapat mata air di daerah yang agak tinggi yang biasa diambil airnya oleh masyarakat untuk dikonsumsi. Kontur sungainya pun beragam, ada bagian dalam buat yang bisa berenang dan suka melompat dari ketinggian. Ada juga bagian yang landai dan berbatu untuk yang tidak bisa berenang dan mandi di sungai memakai timba. Bahkan ada bagian yang terdapat pohon beringin raksasanya sehingga anak-anak bisa berayun-ayun ala tarzan sebelum melompat ke sungai.

Gua tidak mau ketinggalan menjajal berenang di Aia tan Dareh. Berhubung satu-satunya gaya berenang yang gua bisa cuma gaya batu maka adik gua pun berbaik hati meminjamkan kacamata renang sambil memberi les renang kilat.

Terkadang gua malu juga segede ini tapi tidak bisa berenang, sedangkan anak-anak kecil di kampung gua masih kecil udah bisa berenang ala ikan duyung. Tapi dari apa yang gua lihat, lingkunganlah yang mempengaruhi diri kita. Karena mereka sedari kecil sudah berhadapan dengan air, mau tidak mau, alam memaksa mereka untuk pandai berenang. Sementara gua yang sedari kecil terbiasa tinggal berpindah-pindah, memang tidak pernah diajari berenang. Bagaimanapun, gua tidak putus asa. Gua tahu kemampuan berenang sangat berguna bagi diri kita sendiri. Sampai kapan pun, gua tetap bakal belajar berenang. Karena bukan tidak mungkin suatu saat gua bakal kehilangan Aia tan Dareh yang jernih dan asri seperti sekarang.

sungai jernih
Aia tan Dareh dengan batu-batuannya
sungai jernih
Aia tan Dareh dengan airnya yang jernih
kebersamaan
Cheers!!
santai di sungai
Ngaso dulu, ah!

Catatan: Berhubung gua g bawa kamera, foto-foto di atas adalah buah karya Kak Icha. ๐Ÿ™‚

Iklan

24 pemikiran pada “Air Mengalir Sampai Jauh

  1. Ah..jadi pengen renang deh ๐Ÿ˜€
    Air emang kebutuhan pokok, kalu udah gak ngalir eh pasti pada bingung mau minum apa ๐Ÿ˜€
    Syukurnya air di kompleks gue udah sering ngalir, gak kayak dulu ๐Ÿ˜€

  2. Sama kak, saya juga bisanya renang gaya batu doang. Ralat, gaya batu engap-engap ๐Ÿ˜€ hahaha…

    Btw, itu sungainya jernih banget. Udah jarang saya lihat yang sejernih ini. Jd kepikiran, berapa tahun ya, yang kita butuh buat membersihkan sungai kotor kaya kali ciliwung. 10 tahun ga cukup kayaknya.

    1. wah, berbahaya kalau kita berenang bareng. kalau salah satu kelelep, g ada yang nolongin ๐Ÿ˜€
      iya, sungainya jernih. kalau masyarakat di sekitar ciliwung mau menjaga kebersihan dan g buang sampah di sana, g ada yang mustahil lho ๐Ÿ™‚

  3. Ya begitulah. Perkembangan industri dsb begitu pesat tapi alam dan lingkungan dilupakan. Sekarang kita nemu tempat air (entah sungai atau danau) yang bersih dan jernih aja sampe terkagum-kagum yah, hehe.

  4. Sulung, maap lahir batin yee… ๐Ÿ˜ฅ

    Barangkali kejadian kelangkaan air ini… karena air bersih diprivatisasi (diserahkan bebas pada pihak swasta) dan bukan dikelola oleh pemerintah? ๐Ÿ˜•

    Kalo mau ditilik kembali, pemerintah kita udah melanggar UUD 45 lho. ๐Ÿ˜ฎ Coba kita lihat UUD kita, pasal 33 ayat 3. Coba deh Sulung lihat. ๐Ÿ˜

    1. sama-sama, Mas ๐Ÿ™‚ Mohon maaf lahir dan batin juga

      hm, kalau g salah pasal yang bunyinya “air, tanah, dan memenuhi hajat hidup orang banyak dikelola oleh pemerintah dan bla, bla, bla?”
      Lupa, Mas. hehee

  5. tinggal di daerah yang masih ijo-ijo emang the best kan ๐Ÿ˜€
    gua tinggal di kota Sukabumi yang notabene masih banyak alam-alam dengan kondisi seperti poto diatas. Gawatnya, perlahan-lahan udah mulai berkurang sama pembangunan nih. Jadi sering macet dan timbul polusi jga. Waduh, lama-lama bisa kaya Jakarta nih ๐Ÿ˜ฅ

      1. iyaaah,, habisnya ngapain jongkok di sungai macam begitu. hehehe

        soalnya yang mau disusul ada di sana.. hehehe,
        dibalik macet, gerah, copet, dan susah airnya..
        Jakarta menjanjikan berbagai fasilitas dan kemudahan
        Kanpus kan ada di sana juga,, ga tau kenapa penasaran pingin jadi Direktur nih #ngayal

  6. Ping-balik: Bersama « Dunia Jungkir Balik

Biasakan Berkomentar Setelah Membaca, Ya.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s