Sehabis Lebaran

Lambang Kota PariamanSeminggu sudah berlalu, akan tetapi nuansa idul fitri masih tampak dimana-mana. Di mall-mall, label diskon masih berserakan menggoda hasrat belanja kita. Belum lagi dengan kue lebaran yang mungkin masih banyak tersisa di rumah kita. Di rumah gua sendiri, saking banyaknya gua sampai disuruh sama Mama buat bawa kue-kue tersebut ke kosan. Pantas saja ada teman gua yang bilang kalau lebaran itu cuma sehari tapi suasananya seminggu pun masih kerasa. Nah, selama berlebaran di kampung kemarin. Banyak keunikan-keunikan yang gua dapati di kampung gua yang mungkin tidak gua temukan di tempat lain. Nyok, disimak.

Pada saat hari raya idul fitri, sebelum shalat id dimulai di mesjid tempat gua shalat ada kebiasaan unik. Sebelum shalat id dimulai, maka pihak masjid akan mengimbau para jemaah untuk berinfak bagi pembangunan mesjid. Nah, yang uniknya biasanya ada satu atau dua orang pria yang akan berdiri, kemudian orang tersebut akan bersorak menganjurkan jemaah untuk berinfak. Setiap orang yang berinfak akan diteriakan namanya dan jumlah infaknya. Makanya sebelum shalat id dimulai, mesjid di kampung gua bakalan penuh dengan teriakan-teriakan seperti ini.

“Si Budi! Lima puluh ribu!”

“Udin sagalo nan maningga, seratus ribu!”

“Uniang Kima, induak bako si Bujang, tigo puluh ribu!”

Terkadang bapak-bapak yang bersorak tersebut akan berkelakar dengan rekannya dengan tujuan mengundang jemaah berinfak lebih banyak.

Bara nan mesjid wak paralu ko? Tigo juta? Aman tu, duo puluah juta takumpua beko mah. Ba’a gak ti, Sanak?” (Berapa yang mesjid kita perlukan? Tiga juta? Aman, dua puluh juta nanti bakalan terkumpul. Gimana menurut, Dunsanak?)

Iyo bana tu, Sanak. Biasonyo kalo hari rayo ko sakunyo taba-taba. Pado habih untuak bali gincu jo badak bareh, ancak diinfakkan ka mesjid lai. Lai nio ibu-ibu?” (Bener banget. Biasanya kalau hari raya ini sakunya pada tebal-tebal. Daripada habis buat beli lipstik sama bedak beras, bagusnya diinfakkan ke mesjid. Mau g, ibu-ibu?)

Jika kita tidak ingin timbul rasa riya saat berinfak, kita bisa berinfak cukup dengan mengatasnamakan hamba Allah. Yang menambah keunikan adalah beberapa orang biasanya akan berinfak atas nama keluarganya yang meninggal. Gua juga kurang tahu tujuannya. Mungkin ada hubungannya dengan kata orang, “Jika meninggal anak Adam akan terputuslah amalannya kecuali tiga hal. Do’a anak yang saleh, ilmu yang berguna, dan sedekah jariah.”

Pada malam harinya, akan diundang orgen tunggal untuk menyambut para perantau yang pulang kampung. Pesta ini biasa disebut Ba-orgen. Pesta ini biasanya diadakan pada larut malam karena nanti di atas pentas penonton diperbolehkan untuk berjoget dengan penyanyi sehingga tidak baik untuk ditonton oleh anak-anak. Setiap penonton yang ingin berjoget di atas pentas diharuskan untuk membayar. Biasanya berkisar antara lima sampai sepuluh ribu untuk satu orang. Uang yang terkumpul akan digunakan untuk membayar orgen tersebut.

Sebenarnya untuk tradisi yang satu ini gua kurang suka. Karena bagaimanapun kalau sudah baorgen ada aja masalah yang bakalan timbul. Selain suaranya yang pasti bising dan bakal mengganggu istirahat orang lain, terkadang beberapa pemuda nakal sengaja membawa minuman keras untuk minum-minum di acara ini. Belum lagi dengan pakaian para penyanyinya yang seronok, ditambah pula jika ada penonton yang berjoget di atas pentas maka penyanyinya boleh dicolek-colek kalau berani menyawer. Beuh, padahal baru saja fitri! Ibaratnya baru saja memakai baju putih baru, langsung diceburin ke got. Kotor lagi! 

Hari-hari setelah lebaran adalah hari yang menyibukkan bagi para ibu-ibu. Setelah bekerja keras membuat kue lebaran, lontong, ataupun opor ayam. Di kampung gua pekerjaan mereka masih akan ditambah dengan tradisi Barayo.

Barayo merupakan kebiasaan orang Pariaman, Sumatra Barat, untuk mengantarkan makanan kepada keluarganya. Makanan tersebut biasanya terdiri dari nasi; lauk-pauk seperti ayam, ikan, ataupun rendang; serta kue-kue. Nah, seseorang yang mendapat hantaran tersebut mau tidak mau akan memberikan sejumlah uang pada orang yang membawa hantaran. Biasanya yang pergi barayo adalah pihak laki-laki yang sudah berkeluarga. Maksudnya, jika anak lelaki dalam keluarga tersebut sudah beristri maka ia mesti membawa hantaran tersebut kepada saudara-saudara ibu mereka. Tidak heran, dari awal ramadhan sampai idul fitri pengeluaran masyarakat Pariaman sangat banyak.

Puncak dari perayaan idul fitri tersebut adalah Pesta Pantai. Pesta pantai ini biasa diadakan selama seminggu penuh di Pantai Gandoriah, Pariaman. Selama pesta pantai, orang-orang dari Paris (pariaman dan sekitarnya) bakal tumpah-ruah di pantai. Di pantai tersebut bermacam-macam hiburan ditampilkan, dari dangdutan sampai Buayan Kaliang (kincir angin). Belum lagi dengan penjaja makanan yang berserakan dimana-mana. Dari bakso, pangsit, es teler, sampai ke makanan khas Pariaman sebangsa sala lauak, rakik kapitiang, dan lain-lain. Benar-benar memanjakan hidung, mata, sekaligus dompet kita. 

Bagaimana dengan sahabat? Apakah di kampung sahabat juga ada tradisi-tradisi unik lainnya?

31 pemikiran pada “Sehabis Lebaran

  1. you_rha

    wuiih enk t..
    dsnii mah msh bnyak..yg smp j msh mau.gag maluu..
    hbih pitih ama 2 kabek sibu2 tgang dek nyo.
    bryo kluarga bnyk lo t.ko kue bolu msh ado 3 lai.

  2. Themenya lucu.
    Minal Aidin Wal Faidzin ya. Maaf lahir batin.
    Karena saya tak tinggal di kampung jadi memang tak ada tradisi2 unik sih… Cuma kumpul keluarga saja, standard🙂.

  3. Wah, wah.. lucu juga ya kalau sebelum sholat id dengerin tereakan sahut2an.. hahaha

    mohon maaf lahir batin ya bang..
    atas segala salah dan khilaf
    yang entah sengaja atau tidak mel lakukan😀

Biasakan Berkomentar Setelah Membaca, Ya.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s