Perploncoan, Masih Trendkah?

Pagi ini seperti biasa gua pergi menjalankan misi mulia ke kampus. Meskipun kuliah sudah tidak ada lagi dan tugas gua tinggal menyelesaikan skripsi yang belum kelar juga, gua tetap pergi ke kampus buat sekedar nampang dan menunjukkan kalau gua masih eksis. 

Nah, saat gua melewati Fakultas Teknik, mata gua yang jireng tiba-tiba melihat pemandangan menarik. Beberapa orang cowok botak berdiri di depan cowok-cowok berambut. Antena ingin tahu gua langsung berdiri tegak. Gua pun sengaja melambatkan langkah dan berusaha mengetahui apa yang sedang mereka lakukan. Ternyata para cowok botak tersebut sedang diplonco! 

Memang semester baru belum terlalu lama dimulai. Tidak heran para mahasiswa baru masih tampak berbeda dengan mahasiswa-mahasiswa tua. Mahasiswa pria masih tampak botak sedangkan mahasiswa wanita masih berbaju putih-hitam. Melihat perploncoan tersebut gua jadi mikir. 

Padahal perploncoan sendiri sudah dilarang di kampus gua. Sedari awal, Dekan masing-masing fakultas sudah mewanti-wanti dengan mulut berbusa bahwa perploncoan dilarang. Akan tetapi toh masih saja banyak yang melakukannya.

Balik ke peristiwa tadi, dari apa yang gua dengar rata-rata mereka ditanya sebelum disuruh-suruh bagai budak.

Sia namo ang?” (Siapa nama lu?)

“Si Bla-bla-bla, Bang.”

Ang mahasiswa baru ndak? Lah kenal jo senior-senior ang ko?” (Lu mahasiswa baru, kan? Udah kenal dengan senior-senior lu?”

Alun kasadonyo lai, Bang.” (Belum semuanya, Bang)

A, itu waang. Jaleh mahasiswa baru, tapi gaya kasok-sokan. Lah, kini den suruah ang. Lai nampak dek ang cewek babaju kuniang tu? *Menunjuk seorang wanita yang lewat. Kenalan jo inyo tu minta nomor hapenyo sakalai!” (Nah, itu kamu. Jelas-jelas mahasiswa baru tapi gaya sok-sokan. Sudah, sekarang gua suruh lu. Lu lihat cewek yang baju kuning itu. Kenalan ama dia dan minta nomor hapenya sekalian!)

Ndak barani wak do, Bang.” (G berani gua, Bang)

Ang nio kenalan jo inyo ato den suruah buka baju disiko?” hardiknya dengan suara keras (Lu mau kenalan sama dia atau gua suruh buka baju di sini?)

“I, iyo, Bang” Para perjaka botak tersebut pun langsung mabur mengejar si cewek berbaju kuning. Si cewek yang g tau apa-apa jelas takut dan langsung lari. Mungkin dia kira mau diapa-apain.

Gua yang lihat kejadian tersebut jadi serba salah. Di satu sisi, gua ketawa lihat kejadian tersebut. Di sisi lain, gua miris. Kok masih ada juga orang yang tega melonco orang lain. Padahal zaman udah bebas gini. Kalau menurut gua sendiri, perploncoan dan dendam kepada senior yang dilampiaskan ke junior udah g zamannya lagi. Perploncoan jelas sudah menyalahi hak asasi manusia untuk hidup bebas. 

Bagaimana dengan sahabat sendiri? Apakah masih banyak terjadi perploncoan di sekitar sahabat? Apa yang seharusnya kita lakukan melihat hal tersebut?

Iklan

22 pemikiran pada “Perploncoan, Masih Trendkah?

  1. fakultasku dari dulu gg ada yang namanya plonco atau apapun, ospeknya aja cuma denger ceramah, hadeuh capede ==a
    pernah liat maba teknik industri yang kampusnya seberang kampusku lagi dibentak-bentak, dibanjur air nah anak fakultasku sampe senior2nya pada melongo aja ngeliatin kayak lagi liat layar tancep padahal itu kita mau LDKS 😀

  2. hmmm, menurutku tergantung juga sih. Kalau dilaksanakan dengan benar (jadi isinya nggak plonco/ngerjain/marah2nya doank, malah porsi plonco/ngerjain/marah2nya ini relatif kecil), ada juga sih beberapa manfaatnya, hehehe 😀 Misalnya ini bisa menjadi katalis pertemanan sesama mahasiswa baru (kan ceritanya senasib gitu, hahaha)

    Cuma ya kalau udah dilarang dan masih dilakukan ya itu namanya nggak bener juga dong ya, hmmm

  3. Ospek itu menurutku penting ya, perplonco-an itu yang nggak banget. Ospek itu, kalo formatnya tepat, bener2 bisa menjadi ajang memper-erat hubungan antara mahasiswa seangkatan lho.

  4. Kalo perpeloncoan secara mental, saya gak setuju. Maksudnya yang cenderung melecehkan atau bullying gitu. 😦

    Tapi kalo sedikit main fisik seperti push-up, sit-up, dan lari keliling lapangan, boleh lah. :mrgreen:
    Bukan main fisik seperti IPDN yang dipukul dan ditendang ya. Itu saya BIG NO NO!! 😡

  5. wkwkwkwk..
    dari awal baca udah ngakak gan..
    saya suka gaya menulismu..
    menarik…
    kita sama2 lagi nyusun skripsi ternyata..wkwkwk
    Di kampusku juga dilarang gan perploncoan,,
    adanya ta’aruf..
    sememangnya perploncoan udah ga jaman..
    huhu..masih ingat saya dibentak2 waktu masuk SMP dulu..

Biasakan Berkomentar Setelah Membaca, Ya.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s