Ikatan Itu Bernama Ukhuwah

Tepukan lembut di lengan membangunkan tidur nyenyakku. Mataku memicing, kaget dengan pancaran cahaya lampu yang menusuk tepat ke retinaku. Setelah bayangan buram beranjak dari mata, kudapati sesosok tubuh yang berdiri di sampingku. Di tangannya mushaf kecil tergenggam erat. Melihatku yang akhirnya bangun, ia tersenyum.

“Tahajjud dulu, Lung. Mumpung masih ada waktu.” ujarnya. Ia pun kemudian duduk bersila di atas sajadah. Lantunan ayat suci mengalun lembut dari mulutnya.

Kupandangi jam dinding dihadapanku. 04. 30. Setengah jam lagi azan subuh kan bergema di penjuru Kota Padang. Aku bangkit dan menuju kamar mandi. Sejuknya air wudu menghilangkan kantuk yang bergelayut sejak tadi. Kugelar sajadah di sudut ruangan yang temaram.

“Allahu Akbar.”

*          *          *

Selepas SMA, keinginanku yang kuat untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi menepis kenyataan bahwa aku berasal dari keluarga tidak mampu. “Dimana ada kemauan, di sana ada jalan” adalah prinsip yang aku pegang. Lulus di perguruan tinggi negeri membuatku mesti mencari tempat tinggal lain selama menuntut ilmu dikarenakan rumah yang jauh berada di kampung.  Kemudian seorang senior mengajakku untuk tinggal di tempatnya. Tinggal di sebuah wisma islami.

Guliran waktu berlalu sudah, entah berapa minggu berbilang yang telah kuhabiskan semenjak tinggal di sini. Kuakui selama tinggal di sini batinku merasa tentram. Kami saling mengajak untuk shalat di mesjid yang letaknya tak begitu jauh. Seperti pagi ini, lagi-lagi lenganku ditepuk oleh Bang Herman, teman sekamarku.

“Bangun, Lung. Sebentar lagi subuh. Ke mesjid, yuk!” ajaknya. Senyuman tak pernah lepas dari bibirnya.

Entahlah di wisma ini tidak pernah kudengar ada yang berkata kasar. Kami semua saling menghargai. Yang tua berusaha menjadi contoh yang baik dan membimbing yang lebih muda. Sedangkan yang lebih muda menghormati yang lebih tua. Secara tidak langsung, sebuah ikatan telah terjalin di antara kami. Kata Bang Taufik, ikatan itu bernama ukhuwah. Ikatan seperti inilah yang senantiasa dibina oleh Rasulullah SAW. Beliau mendidik para sahabat untuk selalu menjaga ikatan ukhuwah di antara mereka.

“Ikatan persaudaraan antara sesama mukmin merupakan model persaudaraan yang paling berharga dan hubungan paling mulia yang terbentuk antara sesama manusia. Persaudaraan antara sesama mukmin lebih unggul dari hubungan persaudaraan dengan saudara kandung sendiri, karena ikatan akidah lebih kukuh dari ikatan keturunan.” Demikian jawab Bang Herman kepadaku ketika aku bertanya kenapa kita mesti menjaga ukhuwah tersebut.

Masih terekam di memoriku. Semester dua di bangku perkuliahan, tiba-tiba aku mendapat gejala tipus. Mungkin karena terlalu lelah dengan kegiatan kampus dan sedikit istirahat. Selama sakit tersebut, saudara-saudaraku di wisma itu lah yang merawatku.

“Masih panas, Lung?” tanya Yoga yang seangkatan denganku. “Ini Yoga belikan bubur, dimakan ya. Yoga tahu pasti mulut terasa pahit kalau sakit begini, tapi coba dipaksakan. Daripada lambungnya kosong.” Ia pun meletakkan semangkuk bubur panas yang ia beli di warung depan wisma ke dekatku.

Selang beberapa saat, Bang Herman yang datang. “Lung, ini teh manis sama roti. Kalau buburnya g enak di makan, coba makan yang ini. Siapa tahu mulutnya mau menerima.” Teh manis hangat dan roti ia letakkan tak jauh dari tempat tidurku.

“Makasih banyak, Ga. Makasih banyak, Bang.” Hanya kalimat tersebut yang terucap di dalam hati. Mulut ini jangankan untuk makan, untuk berbicara saja rasanya berat.

Siangnya, bersama dengan beberapa orang dari wisma, aku dipapah untuk menuju poliklinik. Merekalah yang menebus resep obatku. Saat aku merasa tidak enak dengan perlakuan tersebut, mereka hanya tertawa.

“Namanya juga saudara, Lung. Jadi tidak ada salahnya kan menolong saudara sendiri. Sudah yang penting sekarang kamu sembuh dulu. G usah dipikirkan masalah lainnya.” tukas Bang Randi.

Begitulah, di saat kita jauh dari orang tua dan kita mendapat musibah. Maka saudara kita lah yang akan membantu kita. Bukan saudara kandung akan tetapi saudara seiman. Meski mereka tak pernah secara langsung mengatakannya tapi aku tahu bahwa dari cara mereka berbicara kepadaku, cara mereka merawatku, cara mereka menyemangatiku, mereka sangat menyayangiku. Meski kami bukan saudara kandung.

Di wisma ini, setiap orang mendapat giliran piket. Tugas bagi yang piket adalah menyiapkan nasi untuk seluruh penghuni, membeli lauk makan malam, serta membersihkan rumah. Setiap makan malam, kami senantiasa membiasakan makan bersama. Selama makan tersebut, terkadang kami saling bercanda. Atau pun berebut lauk kepunyaan teman. Kebiasaan makan bersama ini tanpa kami sadari mengingat kami lebih erat lagi.

Setiap pagi di wisma senantiasa diadakan acara subuh.  Secara bergantian kami mendapat tugas untuk menjadi moderator, mengaji, serta memberikan siraman rohani. Tidak pernah ada rasa merendahkan yang lebih muda ataupun menganggap yang tua merasa lebih hebat di sini. Kami saling menyimak siraman rohani yang diberikan yang lain. Kegiatan tersebut menjadikan kami terbiasa menerima tanggung jawab, melaksanakannya dengan baik, serta melatih kami terbiasa berbicara di depan umum.

Saat gempa meluluhlantakkan Sumatera Barat, rumahku terkena imbasnya. Sebagian rumahku runtuh, belum lagi salah seorang mamakku (kakak mama) yang meninggal karena tertimpa reruntuhan. Saat itu merupakan saat yang terberat bagiku. Saat itulah mereka datang ke rumahku. Berusaha membesarkan hatiku.

“Sabar, Lung. Allah tak kan memberikan cobaan melebihi batas kemampuan hamba-Nya. Dido’akan saja semoga mamak Sulung diterima di sisi-Nya.” Bang Taufik menepuk bahuku lembut. Kemudian ia mengasurkan amplop ke dalam genggamanku.

“Ini sedikit dari kami. Mungkin nilainya tidak seberapa, tapi semoga bisa meringankan beban Sulung.” ujarnya saat melihat sinar mataku yang kebingungan. Lagi-lagi hatiku terenyuh. Lagi-lagi setitik air mengalir tanpa permisi dari sudut mataku.

“Terima kasih.” jawabku pelan. Suaraku serak menahan sesuatu yang bangkit di dalam sana.

Setiap jum’at pagi merupakan hari yang istimewa. Karena pada hari ini beberpa orang dari wisma lain akan berkunjung ke wisma kami. Kemudian kami bersama-sama membaca do’a yang biasa dibaca Rasulullah yang biasa disebut Al-Matsurat. Do’a yang paling kusukai adalah saat bagian berikut.

“Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui bahwa hati ini telah berkumpul untuk mencurahkan kecintaan kepada-Mu, bertemu untuk taat kepada-Mu, bersatu dalam dakwah-Mu, dan berjanji setia membela syariat-Mu, maka kuatkanlah ikatan pertaliannya. Ya Allah, kekalkanlah kasih sayangnya, tunjukkanlah jalannya dan penuhilah ia dengan cahaya-Mu yang tidak pernah redup, lapangkanlah dadanya dengan limpahan iman dan keindahan tawakal kepada-Mu, hidupkanlah dengan makrifat-Mu, dan matikanlah dalam keadaan syahid di jalan-Mu. Sesungguhnya Engkau sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong.”

*          *          *

“Woy, Lung. Ngapain lu bengong aja? Jadi nggak kita perginya?” Tepukan Budi di pundakku membuyarkan lamunanku.

“Lu ngelamunin apa, sih?” Ia mengikuti arah pandanganku. “Ngapain lu lihatin mereka. Pria-pria berjenggot dan wanita-wanita berkerudung besar?” Aku diam.

“Ah, bengong lagi. Yuk, ah. Yang lain udah nunggu.” Budi menarikku dari tempat dudukku.

Aku beranjak meninggalkan tempatku duduk tadi, namun pandanganku tidak lepas dari apa yang disebut Budi.

“Aku merindukan kalian, akhi.” bisikku pelan.

Cerita ini diikutsertakan dalam kontes Bahasa Cinta di Atap Biru

31 pemikiran pada “Ikatan Itu Bernama Ukhuwah

  1. ke .. keren :O cerita nyata atau terinspirasi ? tapi kayaknya nyata sih😀
    enaknya ya punya teman yang bahkan bisa jadi saudara gitu, ak mau deh berusaha jadi teman yang baik seperti diatas :O

  2. Hicha Aquino

    Wew, kangen beneran nih kayaknya..😀

    Konsekuensi pilihan lung,,,😉

    saran kakak, coba sambung kembali silaturahim yg dulu *halah, sotoy ni kk hicha.. :P*

  3. subhanallah sekali ya. wisma itu asrama ya. sama saya juga pernah ngalamin betapa ramah dan akrabnya orang-orang yang tinggal di asrama/wisma sewaktu di perguruan tinggi. selain itu mereka pun rajin memakmurkan mesjid dan sering ada kegiatan-kegiatan yang positif

    alhamdulillah semoga ukhuwah dengan semuanya tetap terjalin baik, amin..

  4. Ping-balik: Menulis Dan Menjaganya « Dunia Jungkir Balik

  5. selamat ya mas sulung. yang ditulis diatas, saya belum pernah alami . beruntung banget mas sulung dapet lingkungan begitu, pernah mengalami itu di jaman yang…. ya jaman yang sudah jauh juah juah bgt dari budaya islam. all my tumbs up dahhhh. hahahhaa

Biasakan Berkomentar Setelah Membaca, Ya.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s