Drama Bersarung

Sahabat tahu apa itu sarung? Bukan, sarung bukan tempat untuk menyimpan gula maupun beras. Kalau itu sih, namanya karung (Apa, sih. Garing tau!). Benar, sarung merupakan kain berbentuk segi empat yang berlubang di tengahnya. Terkadang beberapa orang menyamakan sarung dengan donat karena sama-sama berlubang di tengah.  Tapi percayalah, sarung dan donat merupakan dua benda yang berbeda. Sarung sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia biasa menggunakan sarung untuk shalat, bersantai di rumah, bahkan pergi ngeronda.

Bicara mengenai sarung, selain sering gua gunakan untuk main ninja-ninjaan, sarung juga menyimpan kenangan tersendiri buat gua. Gua ingat pengalaman gua dengan sarung sewaktu bermain drama di tahun ketiga gua kuliah.

Waktu itu, salah satu mata kuliah gua mewajibkan tiap mahasiswa untuk membentuk kelompok dan mementaskan sebuah drama. Nah, gua yang kebetulan sekelompok dengan delapan orang lainnya mendapat kesempatan untuk mementaskan sebuah drama minang yang berjudul Rajo nan Panjang.

Drama ini mengisahkan tentang seorang raja yang lalim. Raja tersebut sengaja membunuh Rajo Babandiang untuk mendapatkan anaknya, Sabai nan Aluih. Padahal ia sendiri sudah mempunyai istri yang bernama Narawatu. Ia kemudian menyuruh Datuak Kalek-anak buahnya-untuk mencelakakan Rajo Babandiang. Sabai yang mengetahui kalau ayahnya mati dibunuh, berusaha mencari pelaku pembunuhan tersebut bersama adiknya, Mangkutak. Ia mencari tahu dengan cara bertanya kepada Bujang Salamaik yang merupakan orang kepercayaan ayahnya sewaktu masih hidup. Drama ini juga diwarnai kelucuan-kelucuan yang ditimbulkan seorang kernet. Dalam drama tersebut, gua berperan sebagai Bujang Salamaik.

Drama Rajo Nan Panjang
Ki-Ka: Datuak Kalek, Narawatu, Mangkutak, Rajo nan Panjang, Kernet, Bujang Salamaik, dan Sabai (yang dilingkari itu si sarung yang banyak ulah)

Nah, Si Bujang Salamaik ini untuk kostumnya mesti menggunakan sarung. Bukan sarung biasa, karena sarung tersebut akan dipakai di pinggang seperti orang Melayu agar terkesan bangsawan. Berhubung sarung gua g ada yang bagus (kebanyakan udah robek-robek gara-gara keseringan dipake) maka gua berusaha mencari pinjaman. Telepon sana-sini, sms kesana-kemari, sarung yang ada g cocok sama kostum gua. Setelah dua hari lelah, barulah dapat sarung yang cocok. Sarung tersebut berwarna merah marun. Gua sendiri lupa apa merek sarung tersebut.

Selesai latihan, nampang dulu.

Tibalah hari H. Sebelum pertunjukkan dimulai, kami semua di make-up terlebih dahulu. Teman gua-Afni-berperan sebagai Narawatu yang sedang hamil. Maka ia pun didandani layaknya ibu hamil. Perutnya disumpal dengan bantal kecil agar tampak menggembung. Okto yang berperan sebagai Rajo nan Panjang, memakai kostum raja-raja melayu. Sedangkan Leni-si Sabai-berdandan layaknya wanita-wanita minang. Sedangkan Elin bertindak sebagai sutradara.

Berhubung kelompok gua kekurangan cowok maka didaulatlah tiga orang cewek berperan menjadi cowok. Dina mendapat peran sebagai Datuk Kalek. Ayu mendapat peran sebagai Kernet. Dan terakhir, Widi berperan sebagai Mangkutak. Si Widi ini perannya juga mengharuskannya memakai sarung. Hanya saja berbeda dengan gua, sarung Widi cuma diselempangkan ke pundak layaknya orang pergi ngeronda.

Berani Lawan Gua?

Gua sendiri mendapat sedikit masalah saat  memakai kostum. Di dalam cerita, diceritakan kalau Bujang Salamaik itu memakai gigi emas. Karena ingin tampil maksimal, mau tidak mau gua juga  mesti pakai gigi emas. Kertas emas mengkilat sudah disiapkan, akan tetapi tidak bisa menempel dengan kuat. Akhirnya gua nekat, setelah diberi sedikit LEM ALTECO, baru kertas emas tersebut bisa nempel di gigi gua.

Gigi gua yang ditempel kertas pakai lem altceo!

Sewaktu pementasan, sarung yang gua pakai berulah pula. Karena lupa menguatkan ikatan sarung dengan ikat pinggang, selama pementasan gua sibuk menarik-narik si sarung yang melorot agar tidak jatuh. Tentu saja gua menariknya saat cahaya tidak disorotkan ke arah gua, sehingga penonton tidak terlalu memperhatikannya. Untungnya setelah itu drama kami berjalan lancar dan cukup sukses menghibur penonton. Terlebih lagi penampilan Ayu sebagai kernet mampu membuat penonton terpingkal-pingkal. Setidaknya kerja keras dan latihan selama berminggu-minggu terobati sudah ketika mendengar tepukan penonton yang membahana. Setelah kami membersihkan muka kami masing-masing, maka kami pun melanjutkan dengan makan bersama.

Lapaaarr!!!!

Tulisan ini disertakan pada giveaway Berbagi Cerita Tentang Sarung yang diadakan oleh Kaka Akin.

62 pemikiran pada “Drama Bersarung

  1. Hahhaha…kayaknya seru banget ya😀
    Kalo gue sih paling banter pake sarung buat main ninja2an😀
    Atau gak saat Hari Kartini, pake sarung kayak kabayan😆
    Serius dilem pake lem Alteco?
    Gileee…nekat banget😆

  2. Ngakak guling” ngeliat foto yang gigi emas itu. Jadi penasaran, gimana rasanya secara tidak langsung ngemut Lem (secara kan di tempel di gigi, pasti kenalah dikit” ke lidah.) hahahahaha.

  3. Huahaha..
    Gue juga punya kenanangan sendiri sama sarung, tapi kenangan buruk..
    Keserimpet sarung pas lagi lari-larian, sampe tulang engkel tangan gue bergeser.. >.<

Biasakan Berkomentar Setelah Membaca, Ya.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s