Si Bapak Kucing

Belakangan ini gua sengaja nahan-nahan hati buat g posting tulisan baru di blog. Bukannya males, sih. Hanya saja, gua lagi dikejar deadline buat penyelesaian TA. Melihat teman-teman yang udah mau wisuda aja sudah bikin galau, ditambah lagi dengan teman-teman gua yang g wisuda sudah mulai seminar. Oh, tidaak. Gua g mau tertinggal buat kedua kalinya. 

Nah, berbekal dukungan semangat dari teman-teman dan omelan dari si Mama yang tanya kapan gua wisuda. Gua pun sengaja mengurangi tidur malam gua dan memilih berkencan dengan TA tercinta *tssah! Padahal setiap akan tidur, ide-ide selalu beseliweran di benak gua dan minta ditulis. Namun setiap mengingat TA, gua akhirnya berusaha menahan diri. 

Sebenarnya salah gua juga menunda-nunda TA tersebut, habisnya punya pembimbing pun serasa g punya pembimbing. Tiap bimbingan dioper-oper terus, yang besoklah, yang nantilah. Beuh, berasa mau ketemu ama presiden aja. Gara-gara mikirin TA, gua jadi iseng nulis curhatan TA buat gua sendiri.

Duhai, berikan sedikit ruang

Atas waktu yang terluang tuk mencumbuku.

Bila memang aku menghantui tidur lelapmu

Tidakkah kau kan kembali menjamahku?

Berbilang hari telah tercecer

Sejak kau melupakanku. Kembalilah.

Rengkuh aku kembali.

Omong-omong, sebenarnya bukan masalah TA yang mau bicarakan. Capek kalau ngomongin sesuatu yang sering bikin kita galau. Gua cuma mau cerita-cerita aja soal kecintaan gua sama kucing. Awalnya gua bukanlah pecinta kucing, malah gua benci banget sama kucing. Kebencian gua sama kucing tersebut dikarenakan pengalaman gua waktu kecil. 

Sewaktu kecil dan kebetulan tinggal di Tuban, Jawa Timur, gua pernah memelihara kelinci. Kelinci-kelinci yang jumlahnya sepasang tersebut merupakan hadiah dari papa sewaktu gua ulang tahun yang entah keberapa. Yang jantan warnanya putih salju dan gua namakan putih, sedangkan si betina berbulu hitam-putih sehingga gua namakan hipi. Si putih dan hipi ini kemudian menghasilkan keturunan empat ekor.

Suatu hari, anak-anak kelinci yang sudah lumayan besar tersebut gua bawa ke halaman depan. Tujuannya sih pengen pamer sama tetangga, tapi kejadian setelah itu bikin gua menyesal membawa mereka ke depan. Saat gua lengah, tiba-tiba seekor kucing menerkam salah satu anak kelinci (kalau g salah namanya Pipi). Gua jelas kaget, gua kejar si kucing nakal sampai ke rumah tetangga. Di rumah sebelah, tetangga gua kaget karena gua nyelonong masuk tanpa permisi. Lalu gua jelaskan kalau kucingnya memakan kelinci gua. Tetangga gua pun menolong gua menangkap kucingnya yang bersembunyi di bawah kursi.

Meskipun gua berhasil menyelamatka si Pipi, tapi umurnya tidak bertahan lama. Berhubung lehernya sudah terlanjur luka digigit oleh si kucing, tidak beberapa lama kemudian dia menghembuskan napas terakhir sambil menatap mata gua. Gua yang melihat kelinci gua mati, jelas syok. Gua menangis teriak-teriak, gua jejeritan di tanah.

“PIPIIII, JANGAN MATIII. PIPIII. “ 

Begitu kira-kira bunyi teriakan gua. Mungkin karena gua punya bakat jadi penyanyi seriosa, mendengar tangisan gua tetangga-tetangga pada berdatangan. Sampai-sampai Bapak RT pun keluar dari rumahnya karena mengira ada apa-apa.

“Ada apa ya, Mamanya Sulung?” tanya Pak RT pada mama gua. Mama gua cuma mesem sambil jawab.

“Itu, Pak. Si Sulung kelincinya mati digigit kucing.”

“Oh, kirain ada apa.” 

Sejak hari itu, kucing punya musuh bebuyutan selain anjing yaitu Sulung. Setiap gua lihat kucing, pasti gua tendang. Habisnya saking sayangnya gua sama si Pipi, gua sampai buatin kuburannya di depan rumah dan gua rajin menaburkan bunga di atasnya.

Namun kebencian gua tersebut berubah sewaktu gua SMA. Awalnya gua merasa heran dengan Ibu (panggilan buat kakak mama gua, red) yang rajin kasih makan kucing liar di rumahnya. Setiap habis makan, pasti dia tidak lupa memberi makan kucing-kucing di sekitar rumah. Ditambah lagi, kucing-kucingnya sepertinya sudah hafal dengan suara ibu yang memanggil mereka. Jadilah setiap mendengar bunyi piring di dapur, mereka ribut mengeong di depan pintu.

Suatu saat gua nanya sama ibu, kok rajin kali ngasih makan kucingnya. Padahal bukan kucing kita. Lalu ibu menjelaskan kalau kucing juga ciptaan Tuhan. Sudah sepatutnya kita turut berbagi rezeki yang dilebihkan Tuhan pada kita. Kucing-kucing tersebut akan menghibur kita jika kita mencintai mereka. 

Awalnya gua g terlalu percaya, tapi sewaktu gua kesepian di rumah ternyata apa yang dikatakan ibu tersebut benar adanya. Dimulakan dengan keisengan gua yang memberi makan kucing sambil berbicara dengan mereka, sejak itu kucing-kucing tersebut jadi jinak sama gua. Kucing-kucing tersebut jadi tempat gua curhat kalau misalnya lagi sedih. Gua pun merasa senang karena ada yang mau mendengarkan cerita gua tanpa protes cerita gua terlalu panjang atau membosankan. Yang penting, sediakan ikan sebagai sogokan buat mereka terlebuh dahulu.

Kecintaan gua kepada kucing tersebut, berlanjut hingga sekarang. Setiap gua bertemu dengan kucing, gua pasti menyapa mereka. Sampai-sampai gua dijuluki Bapak Kucing oleh teman-teman. Akan tetapi, gua tidak mau memelihara kucing di kos gua. Bukan berarti gua tidak suka keterikatan sebagaimana gua g suka ikatan dalam pacaran, hanya saja gua merasa ribet kalau mesti memberi makan mereka secara rutin. Lha buat makan gua sendiri aja masih empot-empotan.

Dilingkungan kos gua juga ada seorang ibu yang sangat menyayangi kucing. Ibu tersebut setiap hari memberi makan kucing-kucing yang ada di sekitar kos-kosan gua dengan nasi dan campuran ikan goreng. Belum lagi kucing-kucing yang ia pelihara di rumahnya berjumlah puluhan. Malahan gua pernah dengar kabar kalau ibu itu sampai menyuntik KB kucing-kucingnya. Yang bikin gua tambah salut adalah di sebuah kuburan yang banyak kucing-kucing liarnya, ternyata ibu tersebut yang memelihara dan memberi makan mereka. Ya, miriplah kira-kira dengan tayangan di tv tentang seorang ibu yang suka memberi makan kucing-kucing liar.

Bagaimana dengan sahabat sendiri? Apakah sahabat menyukai hewan tertentu? Apa yang menyebabkan sahabat begitu menyayangi hewan tersebut?

kucing cantik

kucing cantik

funny cat

Iklan

24 pemikiran pada “Si Bapak Kucing

  1. Well, Sulung harus pinter2 nyari dosen pembimbing. 🙂

    Itu saya suka banget gambar emot kucing yang terakhir!! 😳

    Btw, lihat cerita2 mahasiswa di serial “Balada Mahasiswa” di blog saya, ini link-nya. 😀 Ada beberapa kisah mengenai mahasiswa tingkat akhir. 😆

  2. Wah, dosen pembimbingnya rese juga ya kalo gitu. Mungkin mesti bikin janji dulu deh di depan, hmmm.

    Btw, kalau aku sih entah kenapa lebih suka anjing daripada kucing, huehehe

  3. sama bang,, hamsterku juga dulu mati dimakan kucing.. hiks.. tapi ga sampe membenci kucing sih,, soalnya sadar itu seleksi alam,,hhehe

    dulu sempet suka banget sama hewan peliharaan yang imut2,, semasa kecil pasti melihara kucing, silih berganti, hilang satu datang satu lagi
    sekarang,, mungkin karena udah kagak ada waktu yaa,, jadinya udah biasa aja,,

  4. benci, lama2 suka.. akibat saking benci-nya ma kucing gara trauma, skrng malah sayang.. itu biasa dalam kehidupan.. 😉
    kata orang tua..
    “Klo benci, jangan terlalu benci. Klo sayang jangan terlalu sayang”

  5. Ping-balik: [Me vs Skripsi] Part 2, TUKAR! « Dunia Jungkir Balik

Biasakan Berkomentar Setelah Membaca, Ya.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s