Di Suatu Siang Yang Terik

Saya bertemu dengannya di suatu siang yang terik. Terik yang membuat beberapa orang menyeka keringat dengan semangat. Terik yang menyadarkan saya bahwa bumi semakin panas. Lalu saya intip matahari, apakah jaraknya sudah semakin dekat hingga membuat badan bermandi peluh. Saya bergidik dan berharap itu tidak terjadi.

Saya menatap matanya di siang yang ramai. Di depan sebuah toko buku yang selalu sesak pengunjung. Beberapa orang hanya melihat-lihat buku pajangan dan sebagian lainnya mengerling aksesoris unik yang turut di pampang. Saya salah satu dari mereka. Hanya bermodalkan beberapa keping picis untuk membeli es tebu yang menggoda selera.

Awalnya, tidak ada yang istimewa darinya. Dia hanyalah satu dari sekian peminta-minta yang memenuhi trotoar di depan toko buku. Berharap belas kasihan orang dengan senjata tangan terkembang. Merah atau tidak tanggal di almanak, bagi dia sama saja. Yang penting mendapatkan sedikit uang untuk membeli penganan di rumah.

Sembari menunggu sahabat saya yang membeli buku, saya bersandar di pagar toko buku. Mengedarkan pandangan sekedar pelepas kejemuan. Saat saya memutar mata saya ke arahnya, pandangan kami bersirobok. Kami saling menghujamkan tatapan. Tidak ada kata, namun dari binar mata tersebut saya sudah bisa mengerti kerasnya hidup yang ia jalani. Tiba-tiba sahabat saya datang dan mengajak pergi, saya pun mengikuti sahabat saya sambil tak lupa menoleh terakhir kali. Ia masih menatap kepergian saya.

Di perjalanan pulang, saya termenung. Ada sesuatu yang mengganggu benak ini. Entah kenapa sosoknya tidak bisa hilang dari ingatan. Bukan, bukan berarti saya jatuh hati padanya. Usianya terpaut terlalu jauh. Hanya saja, ada sesuatu dari binar mata yang saya tangkap tadi.

Penampilannya biasa saja. Berbalut jilbab kecil bersih, berpakaian sederhana, dan tak lupa sebuah ember dengan receh yang berdencingan ditaruh di hadapannya. Saya paling tertarik dengan matanya. Berbeda dengan mata peminta-minta lainnya yang menyimpan kesedihan mendalam dan putus asa berkepanjangan, matanya menyembunyikan ketegaran. Kekuatan untuk tetap bertahan menjalani hidup yang berat namun tetap terpercik harapan akan nasib yang berubah. Ia seolah-olah tidak ingin menerima begitu saja nasib yang menimpanya.

Terik kedua saat saya kembali melihat sosoknya, akan tetapi ada yang berbeda pada perjumpaan kali ini. Seorang bapak-bapak tampak berkacak pinggang di depan toko buku tersebut. Mengata-ngatai peminta-minta yang duduk di depan toko, termasuk dirinya. Sekilas terdengar kalau si bapak mengusir mereka pergi. Bapak itu tidak ingin peminta-minta berkeliaran di depan toko. “Mengganggu orang-orang yang lewat,” ketusnya galak.

Beberapa orang pengemis memprotes si bapak, tidak terima dengan perlakuan si bapak. Menurut mereka, si bapak telah menginjak-injak harga diri mereka. Tetapi mereka kalah galak, satu persatu beranjak pergi meninggalkan emperan toko buku tersebut. Termasuk dirinya. Saya sendiri memilih melanjutkan perjalanan. Melihat orang dimarahi, bukanlah sesuatu yang sopan bagi saya.

Di persimpangan menunggu angkutan, saya menunggu. Matahari yang tadi begitu garang, perlahan-lahan mulai diselimuti mendung. Rintik rinai perlahan mulai berjatuhan dari langit. Orang-orang berlarian mencari tempat berteduh. Tempat saya berdiri pun lama-kelamaan mulai penuh sesak. Di antara orang-orang yang berteduh, si mungil tadi terdapat di dalamnya. Jarak yang tidak begitu jauh, membuat saya memberanikan diri bertanya.

“Tadi kenapa dimarahi, Dek?”

Awalnya ia tampak ragu menjawab. Wajah yang tampak asing membuat ia enggan bersuara. Tapi kemudian seulas senyum mengembang. Untunglah ia pribadi yang terbuka.

“Biasalah, Bang. Diusir sama bapak-bapak. G boleh mengemis di situ, katanya.”

“Memangnya kamu tidak sekolah?”

Ia tertunduk. “Sudah lama berhenti, Bang. G ada biaya.”

Saya terdiam. Ada yang perih mendengar alasan tersebut.

“Memangnya kamu g mau sekolah lagi?”

“Pengen dong, Bang. Kalau g sekolah, gimana bisa pinter? Ini juga lagi ngumpul-ngumpulin duit.”

“Cukup ntar?”

“G tahu sih, Bang. Yang penting usaha dulu, nanti biar yang di atas aja yang menentukan.” Senyum tetap tak lepas dari parasnya. Tapi saya masih belum puas.

“Kamu g mau seperti mereka?” tanya saya sambil menunjuk anak-anak sekolah yang kelihatannya orang berada. Ia memandang aneh ke arah saya.

“Kalau semuanya jadi orang kaya, nanti tidak ada yang mau bersedekah lagi dong? Awak cukup puas seperti ini, Bang. Eh, udah dulu ya, Bang. Adik saya manggil” Ia berlari menembus rinai saat seorang anak kecil memanggilnya di kejauhan.

Saya terdiam di tempat saya berdiri. Orang-orang disekitar saya tiba-tiba seperti bergerak dalam gerakan lambat. Sementara rinai masih menetes. Samar-samar membiaskan pelangi karena matahari yang menyembul malu-malu.

Jika aku menjadi
Seperti yang lain hidup bercahaya
Mungkin saja aku kehilangan rasa syukur
Tak tersenyum dalam damai

Coba kau jadi aku
Sanggupkah bernafas tanpa udara
Namun ku nikmati nasib dan takdir hidup ini
Bila Tuhan yang mau

(Jika Aku Menjadi-Melly G)

35 pemikiran pada “Di Suatu Siang Yang Terik

  1. Wuiiih kereeen dan terharu :’)
    kayaknya jarang2 juga lho untuk sekarang ini masih ada anak yang jadi pengemis, dan masih berhasrat ingin sekolah..
    Salut🙂

  2. Hmm.. kita patutnya bersyukur ya Sulung.. bisa sekolah..
    masih byk yang lebih prihatin dibanding kita.. katanya anak terlantar dan fakir miskin dipelihara negara ??
    (tanya kenapa?!?!? hehee)

  3. pernah ngirim naskah2 cerita ke surat kabar….gan..?
    alur tata bahasanya bagus…..ane bisa menikmati ceritanya….!
    klo ane baru sebatas pembaca……(terutama cerpen yg ada di kompas minggu)
    nice post…..!

  4. “Melihat orang dimarahi, bukanlah sesuatu yang sopan bagi saya.”

    >> iya. aku juga ga suka ngeliatin orang yg lg di marahin, atau memberhentikan mobil untuk melihat orang yg lg ketimpa musibah di pinggir jalan. ga usah diliatin kecuali emang niat mau nolong. ga perlu dibiasakan menjadikan hal2 seperti itu sebagai hiburan reality show bagi kita🙂

    nice writing, well written🙂

  5. saya kenal dekat sama pengamen
    masih kecil lah, sekitar 8 tahunan
    saya perhatikan dia sering tidur dijalan
    pernah saya traktir makan
    trus sambil makan, saya tes matematikanya
    saya tanya kalo sehari dapat 50 ribu, trus dipake jajan 20 ribu
    sisa berapa duitnya? eh, dia bisa jawab 30 ribu
    sayang, ga diterusin sekolahnya
    (_ _”)

Biasakan Berkomentar Setelah Membaca, Ya.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s