First Love ~ Happy Ending?

give away emotional flutter

Jantung gua g berhenti berdetak keras. Seolah-olah seluruh darah sengaja dipompa ke sana. Gua nervous. Aroma kopi luwak di hadapan gua g mampu menghilangkan kegugupan gua karena bakal bertemu dengan Cia. Ya, Cia yang selama ini menemani hari-hari gua di dunia maya, hari ini datang ke Bandung.

Untuk menghilangkan sesak napas akibat jantung yang bekerja terlalu giat, gua coba melihat sekeliling. Kafe ini tidak terlalu ramai. Beberapa pasangan duduk  di bangku-bangku bundar di sekitar gua. Lampion-lampion berbentuk burung tergantung di langit-langit. Beberapa lukisan tampak menghiasi dinding kafe. The Starry Night karya van Gogh, The Last Supper-nya da Vinci, hingga lukisan almarhum Affandi menambah kesan klasik kafe. Belum lagi musik yang sejak tadi tidak berhenti mengalun.

“Wolfgang Amadeus Mozart,” ujar gua dalam hati sambil menutup mata, mencoba meresapi nada yang mengalun lembut. Tiba-tiba dari arah belakang gua ada suara langkah kaki.

“Maaf, terlambat,” Seorang wanita berparas Jepang membungkuk pelan ketika gua membalikkan badan. Gua melongo.

“Cia?” Wajahnya sama sekali berbeda dengan yang ada di dalam foto. Garis-garis kerutan mulai bermunculan di wajah putihnya. Meski tampangnya sudah tampak berumur, gua akui sisa kecantikan masih membayang dari sana.

“Bukan,” jawabnya sambil tertawa renyah. “Saya mamanya Cia. Waktu sampai di sini, Cianya langsung ke toilet. Mau membetulkan dandanan dulu, katanya.”

“Oh, maaf tante,” gua yang merasa g enak pun mempersilakannya duduk. “Mari duduk dulu.”

“G usah, tante cuma mau ngantarin Cia kok. Soalnya dia kan belum terlalu kenal Bandung, takut diculik ntar. Ya sudah, tante tinggal dulu ya. Tante mau shopping dulu, mumpung lagi ada di Bandung.” Ia pun beranjak pergi meninggalkanku. Setelah sosoknya tampak jauh, gua kembali duduk.

“Pantes si Cia ramah banget, mamanya aja lucu.”

Gua tersenyum mengenang kejadian tadi. Saat gua sedang minum kopi yang sudah mulai dingin, seorang wanita berdiri di hadapan gua. Kecantikannya kontan membuat gua tersedak.

“UHUK!!”

Kopi yang ada di mulut gua pun tersembur keluar dan mengotori kemeja gua. Gua gelagapan berusaha menghapus noda kopi dengan tisu yang tersedia. Wanita tersebut juga tidak mau tinggal diam, ia mengeluarkan sapu tangan merah jambu dari sakunya. Ketika ia membungkuk dan berusaha membantu gua, beberapa helai rambutnya jatuh. Hembusan angin mengibarkan helai-helai rambut tersebut ke arah muka gua. Sesaat, gua lupa gua ada di mana. Setelah selesai membersihkan kopi yang tumpah (meskipun nodanya g mau hilang dari kemeja gua), wanita itu pun duduk. Ia meletakkan sebuah tas kertas di hadapan gua.

“Maaf ya, Ven. Tadi jalanan rame banget, ada pawai gitu. Kamu pasti udah nunggu lama banget, ya?”

“G, g apa-apa kok. Belum terlalu lama.” Gua g kuasa bilang kalau gua udah nunggu setengah jam. Kali ini dia pasti beneran Cia.

“Oh, iya. Hampir lupa. Ini aku bawa oleh-oleh.” Ia mengeluarkan sebuah kotak yang terbungkus rapi dan mengangsurkannya ke arah gua. Gua meraih kotak tersebut.

“Dibuka sekarang?”

Ia mengangguk manis. Gua pun membuka bingkisan yang Cia berikan. Tidak butuh waktu terlalu lama, sebuah mug biru mungil gua keluarkan dari dalamnya. Di salah satu sisinya, tampak sebuah ayunan yang dinaungi pelangi.

Ayunan?” Gua tercenung.

“Katanya kamu suka dengan ayunan di TK kamu. Itu mugnya aku pesan khusus, lho. Desainnya aku yang buat. Kamu suka g?” Ia tersenyum menampakkan gigi putihnya yang berderet rapi. Lesung pipit membuat wajah itu tampak menggemaskan.

“Suka banget,” jawab gua serak. Entah kenapa gua jadi terharu dengan hadiah yang ia berikan. Ada setetes air yang memaksa mengalir dari sudut mata, tapi gua berusaha menahan lajunya. Malu, kan. Masa seorang cowok nangis, apa kata Cia nanti.

“Sory, gua g ngasih lu apa-apa.” Sumpah, gua lupa mampir beli kado sebelum ke sini. Gara-gara udah g sabar mau ketemu Cia.

“G apa-apa kok, Ven. Bisa lihat kamu dari sedekat ini aja udah hadiah kok buat aku.”

“Makasih, Cia.” Gua speechless. Pesona Cia terlalu kuat buat gua taklukkan. Gua cuma bisa diam tanpa kata. Ternyata begini rasanya bertemu dengan seseorang yang belum pernah bertemu tapi telah mencuri hati kita diam-diam.

“Kamu mau ajak aku ke suatu tempat atau mau ngebiarin aku jadi patung di sini nih, Ven?”

Cia yang merasa didiamkan, protes. Pura-pura merajuk yang membuat gua tambah gugup.

“I, iya. Yuk, gua mau ngajak lu ke suatu tempat.”

Gua tiba-tiba dapat ide setelah melihat lukisan-lukisan yang bersandar di dinding. Awalnya gua g ada rencana ngajak Cia kemana-mana selain ke mall. Tapi masa jauh-jauh ke Bandung, ujung-ujungnya cuma ke mall sih? Pastinya lebih banyak mall yang lebih bagus di Australia sana.

*          *          *

“Gimana?”

“Bagus banget, Ven. G nyesel datang ke sini jauh-jauh.”

Mata Cia memancarkan binar kekaguman. Lekuk bibirnya menunjukkan kalau gua g salah mengajak dia ke sini. Gua sengaja ngajak Cia ke jalan Braga untuk melihat-lihat lukisan yang dipajang di sepanjang jalan. Gua tahu kalau Cia suka lukisan. Tambahan lagi, kesan kuno dari jalan Braga membuat lukisan-lukisan di sini tampak lebih indah.

“Eh, Ven. Lihat lukisan yang di sana, yuk?”

Cia menarik tangan gua. Gua jadi bisa merasakan halusnya tangan di genggaman gua. Mungkin tidak jauh berbeda dengan kemeja sutra yang biasa gua pakai buat pergi ke sebuah acara. Napas gua kembali sesak.

Setelah berjalan di sepanjang Braga, gua dan Cia pun melepas lelah. Duduk di trotoar sembari melihat kesibukan kendaraan di jalanan. Sementara di belakang kami, seorang pelukis tengah berjuang menyelesaikan lukisannya.

“Kamu belum jawab pertanyaanku lho, Ven.”

“Eh?” Di tengah deru suara motor, gua g bisa dengar suara Cia dengan jelas.

“Kamu belum jawab pertanyaanku waktu itu. Kamu lupa?”

Gua ingat, justru pertanyaan tersebut yang sering bikin tidur gua g nyenyak. Gua g tahu gimana cara ngomongnya. Tolol banget gua.

“Ven…?”

“I, iya. Eng, jujur. Sebenarnya gua juga sayang sama lu. Gua mulai suka sama lu sejak kita sering chat. Sory, waktu itu gua g langsung jawab.”

Gua ngomong dengan terbata-bata. Kali ini, gua beranikan diri menyatakan apa yang gua rasakan. Gua sepatutnya bersyukur udah diberi kesempatan kedua, sehingga gua bisa mengatakan kalau gua sayang sama dia.

Cia tersenyum, tidak membalas kata-kata gua. Tapi dari genggamannya yang semakin erat, gua tahu kalau gua sudah bertindak benar.

 Love is the feeling that grow from our togetherness, regardless of distance and difference.

*          *          *

Setelah kedatangan Cia ke Bandung, hubungan gua dengannya pun semakin dekat. Beberapa bulan kemudian, Cia sengaja pindah ke Indonesia. Alasannya sih mau bekerja di sini, tapi gua tahu alasan sebenarnya karena kami berdua g kuat kalau harus berjauhan lagi. Sudah cukup masa-masa saat gua hanya bisa membayangkan parasnya sembari chatting dengannya.

Dua tahun berlalu tanpa gua sadari. Nama Alice perlahan-lahan mulai menguap dengan intensitas kedekatan gua dengan Cia. Gua sudah bisa melupakan sosok Alice, meski mungkin kenangan bersamanya g bakal gua hapus.

Akhirnya kami memutuskan buat menikah, tanggal 1 Oktober sengaja kami pilih sebagai hari bahagia kami. Undangan pun disebar. Gua dan Cia memutuskan untuk menikah secara tradisional saja. Menikah di gereja dan tidak mengundang banyak orang.

It was not exactly love at the first sight. But the turns out, it was love.

*          *          *

Lagi-lagi gua gugup. Dasi kupu-kupu ini serasa mencekik. Sementara pendeta yang melihat kegelisahan gua hanya tersenyum maklum. Sesekali gua melirik ke arah pintu tempat Cia muncul nanti. Orang tua gua tampak bahagia dari arah bangku-bangku gereja. Tiba-tiba pintu gereja di buka. Cahaya menyilaukan membuat gua tidak bisa melihat sosok Cia. Setelah retina gua bisa beradaptasi, gua baru bisa melihat Cia berjalan perlahan menuju altar.

Lagi-lagi gua speechless. Cia tampak begitu anggun. Balutan gaun karya Vera Wang tampak serasi di tubuhnya. Matanya berbinar, seulas senyum tak lepas dari bibirnya. Di tangannya tergenggam rangkaian bunga mawar putih. Sementara di depannya, seorang anak kecil berjalan sembari menaburkan bunga. Seolah-olah sengaja menghias jalan yang akan dilalui Cia. Musik lembut mengantarnya ke arah gua. Gua meraih tangannya ke altar. Kami pun siap untuk mengucapkan sumpah pernikahan.

“Cia, apakah kamu bersedia menerima Kevin sebagai suamimu. Dalam suka dan duka. Dalam susah dan senang?”

Cia menoleh ke arah gua sebelum akhirnya menjawab.

“Aku bersedia.”

“Kevin, apakah kamu bersedia menerima Cia sebagai istrimu. Dalam suka dan duka. Dalam susah dan senang?”

Gua membuka mulut, berusaha berkata. Namun sesosok tubuh yang berdiri di pintu menghentikan gua. Gua tersentak. Sosok tersebut makin mendekat. Sosok yang gua kenal sejak kecil. Mata yang menyimpan keteguhan sewaktu membela gua dari gangguan anak-anak nakal. Mata yang menyimpan kesedihan saat akan meninggalkan gua.

“Alice?”

*          *          *

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba “First Love ~ Create Your Own Ending” yang diadakan oleh Emotional Flutter dan Sequin Sakura.

33 pemikiran pada “First Love ~ Happy Ending?

  1. Sumpah keren Gan… wah..wah.. klo soal sastra aku kalah dari sulung yaa.. hahaha.. sampe2 bahas ending terbuka (crhatan kuliah,hahaa..).. aku jadi terinspirasi buat cerita sambungannya, hahaaa..
    makasih byk dah ngasih byk ilmu dari postingan km ini,hee

  2. ahahha ending nya bikin gemes dah..😛

    gimana siii ni.. keven di kevenin ini mah wkwkwk (tukang bikin penasaran dibikin penasaran balik) ciahahaha🙂 selamat ya.. akhirnya jd pemenang.. ceritanya emang menarik🙂

  3. Ping-balik: Hadiah Pertama « Catatannya Sulung

Biasakan Berkomentar Setelah Membaca, Ya.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s