[Me vs Skripsi] Part 2, TUKAR!

Apa yang sahabat rasakan jika perjuangan sahabat selama ini seakan sia-sia dan tidak berharga? Marah? Kecewa? Atau justru putus asa? Saya merasakannya.

Sebagaimana yang pernah saya tulis di sini, saya sudah menjelaskan bagaimana susahnya bimbingan skripsi dengan pembimbing satu saya. Dimarahi, ditolak, maupun diusir dari ruangannya sudah pernah saya rasakan. Tapi saya tidak menyerah. Tidak, meski itu berarti saya tertinggal dibanding teman-teman.

Kemudian sudah saya jelaskan lagi di sini, betapa saya berjuang di malam-malam kemarin untuk memperbaiki skripsi tersebut. Dibayangi mimpi buruk melihat teman-teman memakai toga sementara saya masih memegang map berisi skripsi kemana-mana. Dihantui mimpi jelek mengingat wajah kecewa mama, ibu, dan semuanya yang menyayangi saya sewaktu mengetahui saya gagal wisuda tahun ini.

Jum’at lalu, saya kembali membawa skripsi yang sudah saya perbaiki dengan rasa optimis. Kebetulan salah seorang teman saya yang pembimbing satunya bapak tersebut juga seminar. Dan bapak pembimbing satu saya datang, maka saya mencoba untuk menyerahkan skripsi saya di akhir seminar. Tapi apa? Ketika saya mendekatinya dan berkata.

“Maaf, Pak. Saya mengganggu. Saya ingin menyerahkan proposal skripsi saya yang sudah saya perbaiki.”

Ia hanya tersenyum dan berkata, “Sulung ganti pembimbing saja, ya? Kalau kamu teruskan dengan saya, nanti kamu susah.”

Saya terdiam. Saya berharap pendengaran saya waktu itu sedang bermasalah. “Maaf, Pak. Maksudnya?”

“Iya, kamu tukar pembimbing saja. Banyak pertanyaan saya yang tidak bisa kamu jawab.”

“Tapi saya sudah mencoba menjawabnya dengan memperbaiki proposal saya, Pak.” Saya masih berharap. Berharap bapak tersebut mengubah pikirannya. Tetapi tidak.

“Sudah, kamu temui saja sekretaris jurusan. Katakan kalau saya menyuruh tukar pembimbing.”

Saya hanya mendesah. “Baik, Pak. Terima kasih banyak, Pak.” Saya pun kembali ke tempat duduk saya.

Dalam khayalan saya, saya berharap kejadian tadi hanya terjadi di dalam komik. Dimana setelah bapak tersebut menyuruh saya menukar pembimbing, kemudian saya frustasi dan meledakkan dirinya dengan bom. Selanjutnya saya akan tertawa terbahak-bahak laiknya setan yang merasa bangga berhasil menjerumuskan anak manusia.

Namun ini dunia nyata. Saya hanya termenung di tempat duduk saya. Ketika sahabat saya, bertanya bagaimana hasilnya pun, saya hanya berbisik pelan. “Tukar pembimbing.” Kecewa? Pasti. Sedih? Wajar bukan? Hanya saja pertanyaan yang berputar-putar di kepala saya sampai sekarang adalah, “Kenapa baru sekarang? Di saat saya hampir selesai?”

Waktu itu saya tidak merasa marah sedikitpun. Demi tuhan, yang saya rasakan di dalam hati hanya rasa pahit seolah menelan empedu dua liter. Mungkin saya sudah kebal dengan perlakuannya selama ini? Entahlah, hanya saja waktu itu saya berharap ada hikmah di balik semua kejadian tersebut.

Maka kini, di sinilah saya. Menunggu. Menunggu pembimbing dua untuk mengadukan kegelisahan hati atas penolakan bapak tersebut. Mengadu untuk meminta solusi bagaimana cara mengurus menukar pembimbing karena kebetulan ibu tersebut juga sekretaris jurusan. Menunggu karena ibu tersebut ada urusan di Jakarta, dan sekarang entah sudah kembali atau belum.

Saya hanya bisa melampiaskan kekecewaan dan kegalauan saya ini melalui tulisan. Karenanya, saya minta maaf jika sahabat merasa bosan membaca tulisan ini. Tidak apa-apa. Itu hak sahabat. Bahkan jika wordpress mempunyai tombol dislike, silakan sahabat klik sebanyak-banyaknya. Saya tidak akan marah. Saya sekarang hanya pasrah dengan rencana Tuhan. Saya hanya bersabar dan mengadu lewat sujud-sujud di malam sepi nan dingin.

Saya bersyukur. Bersyukur karena masih banyak yang peduli dengan saya. Teman-teman saya masih menyemangati saya. Baik yang saya kenal. Maupun yang belum pernah bertemu dan hanya kenal lewat dunia maya seperti facebook dan blog ini.

Sekali lagi, maaf jika sahabat merasa tidak nyaman membaca tulisan ini. Tulisan yang penuh curhatan yang punya. Tulisan yang berserakan tata bahasanya dan tidak seperti tulisan-tulisan saya yang biasanya. Maaf.

Ketika realita mengalahkan harapan,

Ketika realita menghancurkan mimpi,

Ketika menghilangkan semangat,

Mampukah kita bertahan dalam sebuah perjuangan?

23 pemikiran pada “[Me vs Skripsi] Part 2, TUKAR!

  1. ingat bang, masalah lah yang mendewasakan kita😀

    Tetep semangat bang sulung!!! pasti bisa kok.. dan nanti begitu semua dah selesai, pasti hasilnya bakal lebih memuaskan, bang sulung bakal senyum2 sendiri mengenang perjuangan skripsinya.. hehehe
    Semangat!!
    *ambil pom2*

  2. Waduh, yang sabar ya. Mudah-mudahan pembimbing dua ini nggak rese seperti pembimbing pertama itu🙂

    Tukar pembimbing bukan berarti tukar materi kan? Jadi setidaknya nggak terlalu mulai dari nol lah.😀

  3. Ambil sisi positifnya aja, Bro. Walaupun gue engga tahu sisis positifnya dimana kalo di kasus seperti ini. Hahhaha… (Peace deh ahh)

    Gue do’ain, supaya skripsinya cepet di acc, Bro. Keep spirit ya…😀

  4. semangat,ingat wisuda.saya juga merasakan susahnya bimbingan skripsi walaupun tidak seberat yang sahabat rasakan.

    keep spirit!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

  5. Jd inspirasi, dan sprite eh spirit mksd sya bro hehe. Smngt yg luar biasa. W prnh bca bku karya Norman V Peale jdulnya *u can if u think u can* dan crta ente nmbh motifasi ane bro. Kren abis dah, and sukses slalu. Add ane y gan Bocah sableng

  6. Ucapkanlah innalillah…
    Semoga dirimu bisa fokus ke skripsi dan tak terganggu oleh pikiran2 yang memberatkan semacam ‘khawatir gak bisa wisuda bareng teman angkatan’ atau ‘khawatir gak bisa membahagiakan ortu’ dll.
    Semangat ya…🙂

  7. kalo saya ga dimarahi
    tapi cuek aja gitu Pemb. 1 nya
    BAB 1 saya belum di ACC, eh udah dilempar ke Pemb. 2
    tapi syukurnya, apa yang Pemb. 1 mau
    Pemb. 2 nya nurut aja.
    jd ga bentrok, yang 1 mau ini, yang 2 mau ini
    hhehehehe

  8. Yang sabar lung.. emang gt deh kelakuan beberapa dosen.. mengerjakan atau melakukan sesuatu gak mikir akibatnya buat mahasiswa..

    Diambil positifnya aja. mudah2an dapet dosen pembimbing yg jauh lebih baikkan🙂

  9. kalo, aku coba hibur kayaknya bukan porsiku. Sebab aku sendiri baru mengajukan judul. Tapi terimakasih mas atas sharenya. It’s opened up my mnd, how hard my way will. hahhaha. semangatttttsssssssssssssssss

  10. Ping-balik: Bayar Dengan Uang Pas, Dong! « Dunia Jungkir Balik

  11. I can imagine how you feel… Skripsiku dulu juga molor, meski mostly krn kesalahanku sendiri. Tapi ya Alloh, perjuangan nyelesaikan plus galaunya itu loooh…. Masih terbayang deg2an dan perihnya s.d sekarang… Padahal udah 6 thn yg lalu.

    Bismillah. Semoga kedepannya bs lbh lancar ya…

  12. *hanya bisa tersenyum membaca tulisan ini.
    Hmm.. pengalaman yang serupa tapi tak sama.
    Karena sulung sudah berhasil melewatinya dan saya masih dalam proses menyelesaikannya..

    # semoga barokah ya!

Biasakan Berkomentar Setelah Membaca, Ya.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s