Bayar Dengan Uang Pas, Dong!

Baru dua hari g nulis sesuatu, serasa udah seminggu aja. Ternyata emang gua g bisa lepas dari yang namanya menulis. Udah kaya kebiasaan aja selain makan, minum, tidur, dan pup. Nha, kemarin-kemarin kan gua lagi sedih-sedihnya gara-gara disuruh tukar pembimbing, padahal sedikit lagi mau seminar. Tapi dipikir-pikir juga, inilah hidup. Kita tak akan tahu apa rencana Tuhan untuk mendewasakan kita.

Selasa kemarin, akhirnya gua bertemu dengan pembimbing dua gua. Gua pun ngadu masalah disuruh tukar pembimbing. Lalu dia tanya, “Kok Sulung belum wisuda?” (kebetulan gua cukup dekat dengan ibu ini sejak awal masuk perguruan tinggi). Lalu gua jawab, “Lha, saya juga heran, Buk. Kenapa saya belum diwisuda. Padahal IP saya bagus terus.” (tsaah, sombong. Hihi) Tapi sayangnya jawaban tersebut cuma tercetus di dalam hati. Kenyataannya gua cuma cengengesan dan menjawab, “Mencari waktu yang tepat, Bu.” Halah, sok diplomatis kali jawaban gua.

Untungnya ibu itu mengerti dan menyarankan sebuah nama untuk diajukan sebagai pembimbing baru. Gua bersyukur banget si ibu g ngomel-ngomel. Soalnya pembimbing dua gua ini orangnya moody-an banget. Gua lihat dengan mata kaki kepala gua sendiri, sewaktu seorang senior mendatanginya untuk minta bimbingan. Eh, malah disemprot sama si ibu. “Sudah, anda cari saja pembimbing baru!” Beuh, gua langsung surut. Mending gua nunggu ibu itu agak tenangan dikit, deh. Jangan coba-coba membangunkan harimau lapar. 

Agak lega sedikit karena sudah menemukan solusi dari masalah gua, gua memutuskan buat liburan sebentar. Gua pengen menenangkan diri sejenak dari beban yang begitu berat ini.  *halah Gua pun milih buat mengunjungi sekolah tempat gua praktek mengajar dulu. Apalagi mantan siswa-siswa gua udah pada ribut bilang kangen, malah ada yang bilang sombong segala. Ck3. Kemudian gua pun memutuskan buat silaturahim pada Hari Rabu bersama teman gua, si Yura.

Berhubung daerahnya jauh (kira-kira tiga jam perjalanan bus lah), maka gua pun pulang sore hari agar sampai di Lubuk Basung malam hari. Untuk urusan naik kendaraan umum, gua mungkin termasuk ke kategori unik. Gua tipe orang yang lebih menyukai naik kendaraan yang berangkatnya lama daripada yang cepat-cepat (asalkan gua g lagi terburu-buru). Kenapa gua menyukai hal tersebut? Karena gua jadi punya banyak waktu untuk merenung. Gua sengaja milih duduk di dekat jendela, kemudian sambil melihat pemandangan di jalanan, pikiran gua pun ikut mengembara. 

Selain bermenung, kegiatan gua lainnya saat di atas angkutan umum adalah mengamati aktifitas orang. Gua suka mengamati kelakuan orang yang unik. Gua jug suka mendengar pembicaraan orang. Gua g bermaksud menguping sih, hanya saja terkadang pembicaraan orang tersebut bisa jadi ide buat gua di suatu hari nanti.

Nah, di atas bus kemarin, ada kejadian yang bikin gua angguk-angguk geleng-geleng. Ada seorang ibu yang protes saat dimintai ongkos. Awalnya si kernet berkata kalau ongkos si ibu kurang seribu. Si ibu malah sewot dan merepet.

Aden ko lah biaso naiak oto ko nyo. Biasonyo ongkosnyo sagitu jo. Jan ang kicuah lo den!(Saya ini sudah biasa naik bus ini. Biasanya ongkosnya juga segitu. Kamu mau nipu saya?)

Si kernet yang g terima pun bilang, Ongkos sagitu untuak bus yang ciek lai, Buk. Bus ko labiah ketek. Tu makonyo ongkosnyo agak maha setek!(Ongkos segitu buat bus yang besar, Bu. Bus yang ini lebih kecil. Makanya ongkosnya agak mahal sedikit).

Tapi berhubung si ibu g berhenti merepet (maklum ibu-ibu), si kernet pun mengalah. Meski tampangnya tampak gondok. Gua yang lihat kejadian tersebut geleng-geleng kepala. Peristiwa seperti itu bukan yang pertama kalinya gua lihat. Pernah malah kernet bus yang gua tumpangi tidak bisa menahan emosi dan berusaha memukul penumpang yang ongkosnya kurang.

Buat gua sendiri, gua bukan tipe orang yang suka cari ribut. Prinsip gua, “Kalau memang segitu ongkosnya, buat apa kita marah-marah dan g mau bayar. Kalaupun dia nipu, toh dia sendiri yang dosa.” Karenanya, gua lebih nyaman membayar ongkos dengan jumlah yang semestinya. Selain batin tenang, si kernet pun kerjaannya jadi lebih gampang.

Sampai sekarang, gua masih sering tidak habis pikir dengan orang-orang yang mempermasalahkan ongkos yang beda seribu-dua ribu. Memang sih nyari uang itu susah, namun daripada kita mesti gontok-gontokan dengan si kernet dan mengganggu kenyamanan penumpang yang lain, bukankah lebih baik jika kita membayar dengan uang yang sepantasnya mereka terima?

Bagaimana dengan sahabat? Apakah sahabat pernah mengalami kejadian tersebut? Atau justru sahabat adalah tipe orang yang memperhitungkan tiap rupiah yang dikeluarkan seperti ibu di atas?

35 pemikiran pada “Bayar Dengan Uang Pas, Dong!

  1. Iya, apalah arti seribu-dua ribu ya kalau bikin hati tak tenang dan bikin ribut segala. Maksudnya, jumlah yang “diirit” sama “keributan” yang dibuat juga sepertinya tidak setimpal…

    Kalo masalah angkutan umum, kebetulan aku jarang banget naik angkutan umum waktu di Indo dulu. Cuma pernah beberapa kali naik angkot. Dan aku juga bayar sesuai tarifnya aja, hehe. Kalo di Belanda sih semua udah elektronik jadi ga akan bisa “nawar-nawar” gitu deh, hehe🙂

  2. mel juga males ribut… waktu di Jakarta pernah tuh dibilang ongkosnya kurang, padahal biasanya ya jumlah yang saya bayar ituu..
    daripada ribut, ya mel kasih aja..

  3. Komentarnya zilko mah toppp!
    Tp mungkin si ibu itu juga duitnya bener2 ngepas kali ya?😦 tp dia malu kalo bilang: uang saya cm segitu.

    Pdhl kalo misal kejadiannya begitu (duitnya kurang) , dan dia bilang aja (meski dgn nahan malu), mungkin kernetnya jg maklum ya…..

  4. selain itu ada satu hal lagi yg saya perhatikan. ibu2 dan mbak2, biasanya suka ribet sama tempat duduk. pengennya dpt tempat duduk yg nyaman dengan alasan pusinglah, mual lah.. kalau ga dikasi bisa menceracau sampai tujuan. heuheu..

  5. irfan handi

    wadduh kebetulan saya udah gak naik angkot sejak tamat SMA dulu, jadi gak tau perkembangan angkot. kalau dulu kita pelajar uang seribu sangat berarti mas. he.he . . .

  6. beuhh..!
    manusia yang bergelimang skripsi emang kehidupannya rada sulit.
    mau onlen juga ga sebebas seorang Guru..

    btw.. masalah onkos, di tagih lagi.. itu bukan masalah duit yang jadi msalah.. cuma misalkan kita ditagih, maka bersamaan dengan itu, martabat kita sebagai seorang seleb bisa rontok.
    masa ada seleb bayar ongkos kurang..?!
    seleb..? siapa seleb??
    situ kali sama centong nasi..

    sekian dan terima kasih.
    sampai jumpa di lain angkot..
    si yu
    remember.. seno tudrags

  7. yaa kalo saya karena saya penumpangnya yaa manut aja.. kurang yaa bayar lah..

    masa dah numpang nggak tau diri sih. hehehe..😛

    sorry sulung, lama nggak mampir.. (atau jangan2 ini malah perdana?). Sibuuuk soalnya >.<

  8. ckckck…
    Gua ongkos angkot mustinya 2 rebu. ternyata di kantong cuma ada 1rebu. Pas turun gua lempar duitnya ke si sopir trus ngacir tanpa noleh ke belakang.

  9. Eits…seribu 2 ribu kalo dikumpulin selama setahun kan bisa jd beratus2 ribu jg Lung hihihi… tapi kalo sampe hrs ngotot2an sm kernet angkot sih skip aja kali ya, buang2 energi aja😛

  10. Iya sama lung.. kalau uang yg diminta gak besar juga seperti.seribu dua ribu gt mendingan aku kasih deh.. Capek hati ngeladininnya daripada capek nyari uang segitu.. hmmm

  11. sama… gue sendiri juga males mas ribut2 cuma karena ongkos angkot mas..
    tapi emang kadang ada sih angkot di Jakarta yang suka naikin yang jadi seharusnya karena dia kejar setoran.. yang kayak gini nih yg nyebelin…🙄

  12. kadang ongkos seribu rupiah memang bisa jadi masalah. apalagi kalau status ekonomi yang masih tergolong kurang. mungkin ibu tersebut juga merasa seperti itu.

Biasakan Berkomentar Setelah Membaca, Ya.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s