Lapau

Goncangan kuat membuatku tersentak. Padahal aku baru saja mencoba tidur. Ada apa ini, tanyaku. Kegelisahan juga melanda penumpang lainnya. Pesawat yang oleng membuat keringat dingin mengalir dari tiap pori-pori tubuh. Aura ketakutan tak mampu ditepis dinginnya ac meski sedari tadi menyelimuti kami. Seorang ibu berdandan menor di seberang kananku, tampak komat-kamit. Wajahnya berlipat-lipat dan mengkilat karena make up, sia-sia sudah usahanya membohongi umur.

Lampu pesawat terus berkedip-kedip, sementara bunyi mesin malah terdengar seperti orang terkena bronchitis. Para pramugari berusaha menenangkan penumpang. Tapi pramugari di dekatku tak dapat menutupi ketakutannya, kentara sekali dari caranya mencengkram bahuku. Kuku-kukunya memang cantik terawat, tapi tetap saja menusuk kulitku. Wanita di sebelah kiri, tak beda jauh. Sedari tadi, ia menangkupkan tangannya padaku. Mencoba mencari perlindungan mungkin. Padahal, kenal pun tidak. Berbicara pun hanya lewat bahasa senyum sewaktu aku mencari tempat duduk tadi.

Aku sendiri hanya bisa pasrah. Beginilah kalau kita menggunakan jasa maskapai penerbangan. Mau tak mau, kita terpaksa menitipkan setengah nyawa kita pada kotak hitam di sudut sana. Presiden sekalipun, toh memang begitu aturan mainnya.

Huft. Kucoba mengendurkan dasi yang terasa mencekik daripada biasanya. Penerbangan kali ini memang di luar rencana. Bagaimana tidak, judul berita di televisi tadi jelas membuatku tersentak. “Gempa 7,6 SR mengguncang Kota Padang dan Kabupaten Pariaman.” Langsung kuhubungi karib kerabat, tapi tanyaku justru tak berkesudahan.

“Desa kita porak poranda, rumah-rumah runtuh,” jawab salah seorang mamakku. Tapi, berita yang membuatku menggigil justru kelanjutannya. “Tabahkan hatimu Buyung, Amakmu tertimpa rumahnya sendiri.” Secepat itukah. Bahkan, menimang cucu pun kau belum merasainya.

Berbekal persiapan seadanya, selesai meeting aku langsung berangkat ke bandara. Kutinggalkan segala hiruk pikuk Ibukota, kubatalkan semua jadwal rapat dan pertemuan yang mengantri. Konsekuensinya Laksmi, sekretarisku, kalang kabut menyusun kembali semua jadwal tersebut. Meskipun aku benci kepada kampung halamanku, tapi aku tidak ingin menjadi Malin Kundang kedua. Hanya Ibu yang paling kusayang di dunia ini, selain adikku tentunya. Semua kesuksesan yang kuraih selama ini pun, kulakukan untukknya.

Cuaca di luar pesawat masih saja buruk. Hujan deras dan angin ribut mengiring perjalanan pesawat ini. Beberapa kali, burung besi ini oleng ditiup angin kencang. Suara pilot yang menenangkan penumpang terdengar sayup-sayup senyap. Tertutup pekikan penumpang dan petir menggelegar. Aku mencoba realistis. Toh kenyataannya kita bisa mati kapan saja. Tapi untuk saat ini, aku sedikit berharap. Semoga malaikat maut urung menjemput nyawaku, setidaknya sampai aku bertemu keluargaku.

Wanita di sampingku tampak begitu ketakutan. Ia tidak lagi menitipkan genggamannya di atas tanganku. Kali ini ia benar-benar memeluk lenganku dan bersandar di sana. Ah, jodoh memang misteri. Tapi haruskah di tengah intipan maut aku menemukannya.

Aku menoleh, mencoba mengamati wajahnya. Tidak terlalu tua. Kisaran dua puluh empat. Dibandingkan denganku yang berumur dua puluh enam, ia tampak lebih matang. Bulu matanya lentik, tampak jelas saat mata tersebut terpejam. Tai lalat kecil menghias sudut atas bibirnya, mengingatkanku pada salah satu bintang film Amerika. Entah siapa namanya, aku lupa. Terlalu sibuk dengan pekerjaan, terkadang memang membuat manusia lupa mencari hiburan. Bibirnya terkatup rapat. Namun aku tahu, jika ia berbicara pria-pria kan tertantang karenanya. Sapuan bedaknya tipis saja. Tak tampak bermusuhan dengan usia yang makin dewasa. Tipe wanita karir, simpulku.

“Mau ke Padang?”

Ia membuka matanya. Sadar memeluk, ia melepas lenganku malu-malu.

“Iya,” jawabnya sembari membetulkan lipatan rok yang agak kusut. Namun suara guruh memaksanya memeluk lenganku kembali.

“Ma’af,” bisiknya nyaris tak terdengar.

“Tak apa. Asalnya darimana?”

“Pariaman.”

“Oh, ya? Saya juga! Persisnya?”

“Tandikek. Itu, yang di berita katanya terkubur. Keluarga saya semuanya di sana.”

“Oo…” Malang. Semuda ini harus kehilangan keluarganya. “Sendirian?”

“Iya.”

“Sudah berapa lama merantau?” Pertanyaan khas orang awak.

“Enam tahun.”

“Oo… Kenapa merantau?”

“Tidak betah di kampung.”

Senasib denganku rupanya. Akhir-akhir ini, semakin banyak orang minang merantau. Entahlah, kampung semakin lama makin membuat orang tidak nyaman saja. Aku makin ragu dengan lagu Kampuang Nan Jauah di Mato yang sering kudengar.

“Ya, sudah. Sebaiknya matanya dipejamkan saja kalau memang takut.”

Ia mengangguk dan kembali mengatupkan matanya. Aku sendiri memilih bersandar dan tidur. Biarlah, kalaupun harus mati tentu tidak akan terasa sakit kalau terjadi sewaktu kita tidur.

  Dalam tidur, memoriku berputar. Menjamah ceceran kenangan saat tinggal di kampung. Mengulang masa-masa yang begitu sering menimbulkan kepiasan hati.

*                 *                   *

“Buyung, sesekali kau pergilah ke luar. Bergaul. Jangan hanya di rumah saja.”

Saat itu, aku baru kelas 3 SMP. Ibu asyik menjahit celana adik yang sompong sehabis bermain kemarin. Kulirik Ibu dari sudut buku. Ia menjahit sembari mengawasi adikku satu-satunya di halaman. Di luar hujan lebat dan bagi anak kecil seperti adikku, hujan merupakan permainan gratis.

“Aku malas, Bu.”

“Kan sudah Amak bilang, jangan panggil Amak dengan sebutan Ibu lagi. Kita ini sekarang bukan tinggal di kota. Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya. Kita harus menyesuaikan diri dengan pergaulan di kampung.”

Uft, pepatah lagi. Akhir-akhir ini, Ibu begitu sering menyelipkan pepatah pada kata-katanya. Sejak kembali ke kampung sebulan yang lalu, Ibu mati-matian menyesuaikan diri. Ia berusaha menghilangkan gaya hidupnya selama tinggal di Jawa dan kembali melakoni kehidupan kampung seperti saat ia masih kecil.

“Ciek lai, kenapa kamu tidak suka bergaul dengan anak-anak di sini? Apa karena mereka anak-anak kampung? Asal kamu tahu, Amak sudah bosan dengan gunjingan-gunjingan tetangga. Mereka heran dengan sikapmu. Berkurung saja di dalam rumah. Seperti podusi 1, kata mereka,” sambungnya sambil mengigit putus benang.

Aku memilih meletakkan bukuku. Percuma saja meneruskan membaca, tidak ada yang masuk. Kupandangi ia. Meski keningnya berlipat-lipat, tapi ketegaran tampak menghias wajahnya. Bibirnya senantiasa mengulas senyum. Ia tak pernah ragu mengulurkan tangan jika ada orang yang kesusahan. Walau akhirnya terpaksa mengorbankan permintaan kedua anaknya.

Ah, Bu. Andai saja Ibu tahu. Bukannya aku memandang rendah anak-anak kampung. Cuma, aku tak suka dengan mereka yang paota 2. Perempuannya rata-rata gemar bergunjing. Kaum pria gemar duduk di lapau membuang waktu. Namun, rata-rata yang mereka bicarakan cuma satu. Ayah yang meninggalkan kita karena menikah dengan perempuan lain. Bagaimana tidak panas kuping mendengarnya. Lebih baik kuhabiskan waktu dengan membaca daripada meladeni lirikan miring mereka.

“Ah, sudahlah Bu. Aku mau belajar saja.” Kutinggalkan kursi tempatku duduk menuju kamar. Dari dalam masih kudengar gerutunya.

“Selalu saja seperti itu. Kok diagiah nasehat, lari. Mau jadi apa waang nanti?”

Tamat SMP, aku memilih melanjutkan sekolah di Padang. Aku sudah muak tinggal di kampung. Dimana-mana, selalu kurasakan tatapan tak bersahabat. Apalagi dengan status janda Ibu. Semakin gemar saja mereka mempaotakan keluarga kami. Setelah bersikeras, akhirnya Ibu menurutkan keinginanku. Di Padang, aku bekerja di sela-sela waktu luangku. Tak ada waktu terbuang. Aku  bertekad setamatnya sekolah, aku akan merantau ke Jakarta. Kan kubuktikan pada mereka, meski tak mempunyai ayah, aku juga bisa menjadi orang sukses. Untuk menghemat uang, aku hanya pulang sesekali. Bila liburan tiba, baru aku pulang. Sekedar mengetahui kabar Ibu dan adik.

“Anak kau mana, Ti?”

“Ada di dalam kamar. Inyo sadang libur sekolah.” Aku diam saja mendengar jawaban Ibu. Dari suaranya, aku tahu kalau Ibu sedang berbicara dengan Datuak Mudo, mamakku.

“Ajarilah anakmu itu adat, Ti! Ajari pula ia basa-basi, kato nan ampek 3. Jangan sampai orang mengatakan anakmu tidak beradat. Minang apo tu namonyo?” Hening sesaat. Kemudian tercium bau rokok lintingan dari arah ruang tamu.

“Ya, Da. Tapi dia memang indak mangarati 4. Entahlah, sejak ditinggal bapaknya, ia jadi seperti itu. Pendiam, suko bakuruang 5. Padahal, dulu dia tidak seperti itu.” Suara Ibu agak bergetar. Ia berusaha membelaku, meski harus membantah kata-kata kakaknya.

“Iya, tapi suruhlah dia bergaul. Sesekali duduk-duduk di lapau. Biar orang kampung kenal dengannya. Di kampuang kito ko Ti, kaba baik baimbauan, kaba buruak bahambuan 6. Jangan sampai dia tidak kenal dengan orang-orang kampung. Kalau keluarga kau ada kemalangan atau alek, siapa yang akan membantu kalau bukan orang kampung.”

Lai ambo suruah. Beko ambo paso inyo kalua 7.”

“Terserah kaulah bagaimana cara mengajarnya. Oh ya, sawah jo ladang yang diwariskan Amak dulu lai kau urus? Kok ndak talok kau, biar den urus 8. Hasilnya kita bagi bersama.”

Ambo lai talok mangarajoannyo, Da. Ambo tidak ingin merepotkan Uda. Kok ado nan barek-barek, ambo upahkan. 9” Suara Ibu makin bergetar. Aku paham ke arah mana maksud mamak tadi.

“Ya sudahlah. Terserah kau, Ti. Aden pulang lu!” Terasa sekali nada kesal dari suara mamakku itu. Tampaknya ia tidak puas dengan jawaban Ibu. Kupandangi punggungnya yang beranjak jauh dari jendela kamar. Ah, selalu begitu. Mereka seakan tidak puas dengan pembagian harta warisan yang didapatkan Ibu. Padahal, mereka yang selalu berkoar-koar tentang adat. Lalu mengapa mereka mempersalahkan pembagian warisan yang sejalan dengan adat. Harta memang selalu membutakan mata.

*                   *                   *

“Da… Da… Lah sampai, Da!” Sebuah tepukan di pundak membangunkanku. Penerbangan tadi membuatku begitu letih. Meski akhirnya sampai dengan selamat, namun cuaca buruk telah menghisap habis tenagaku. Karenanya, sejak dari bandara hingga sampai di tujuan, aku terus tidur. Sejenak, kurenggangkan sendi-sendi tubuhku yang berderak seperti ranting patah. Dibantu sitokar, kukeluarkan barang-barangku.

Tapi, benarkah ini kampungku? Betapa dahsyat kekuatan gempa hingga membuat wajah kampungku jadi semrawut. Banyak rumah rubuh mencium tanah. Tonggak-tonggak jadi saksi bisu betapa manusia tak bisa menandingi kekuatan Tuhan. Tembok-tembok berserakan tak kenal bentuk. Belum lagi rumah yang dulunya bertingkat kini tinggal bagian atasnya saja. Anak-anak kecil menangis. Entah trauma dengan gempa, entah mainannya tertimpa. Miris. Apa dosa mereka hingga Tuhan murka.

Kucoba menelan isak yang makin mendesak. Sejak kecil, aku memang sensitif. Tapi untuk saat ini, lebih baik kuhapus kabut yang mulai membayangi mata. Kuturutkan langkah. Sampai di halaman, diam menyapa. Menatap. Mencoba merasakan sisa-sisa kepedihan. Sejenak, urung menghadangku masuk. Tapi segera kutepis. Ini rumahku, batinku.

“Assalammu’alaikum.”

“Wa’alaikumsalam,” koor balasan dari dalam. Terdiam. Kupandangi sesosok tubuh terbujur kaku. Wajahnya semakin bening dengan kain putih yang menyelimuti. Hening mencekam. Hanya beberapa pasang mata diiringi bibir berbisik menemaniku.

“Bu… Aku pulang.” Bisikan di telinga tak mampu membuatnya bangun ternyata. Kubaringkan kepalaku di sisinya. Tak kan pernah lagi kurasakan belaian lembutnya. Tak ada lagi masakan buatannya yang selalu kurindukan. Bahkan, aku merindukan suaranya yang marah yang menyuruhku segera berumah tangga di telepon dulu.

“Amak pergi dengan tenang, Da.” Suara yang kukenal. Suara adikku. Sebesar inikah engkau kini.

“Kenapa sepi?” Dahulu, setahuku rumah orang kematian selalu sesak. Orang-orang datang membawa tenong berisi beras atau pun kain dan kapas.

“Itu karena kau tak mau bergaul. Orang kampung tidak peduli karena mereka tidak kenal dengan kau!” Ah, Tek Ros. Bicaranya masih begitu. Menghunjam hati.

“Orang-orang yang datang cuma kawan adikmu dan kenalan Amakmu. Itu pun, karena Amakmu suka menolong. Dulu selalu kukatakan pada Amakmu, paksa si Buyung itu  ke luar rumah. Duduk-duduk di lapau.” Datuak Mudo angkat bicara. Ia menghembuskan rokok kegemarannya. Matanya menerawang jauh.

“Sepenting itukah fungsi sebuah lapau?” tanyaku nyaris berbisik.

“TENTU SAJA! Di minang, seorang laki-laki harus sering-sering ke lapau. Semakin sering ia ke lapau, semakin orang-orang kenal dengan dia. Semakin orang kenal dengan dia, maka semakin dikenal pula lah keluarganya. Ah, ini sebabnya dulu aden tidak setuju si Siti tu menikah dengan orang di luar Minang. Tidak ada yang mengajari anak-anaknya adat.” Mak Itam, kakak tertua Ibuku, berang. Ia gusar. Sedari tadi ia membuang muka, memancangkan pandangannya ke arah luar. Seolah aku ini sampah saja rupanya.

“Adat? Bagiku, adat kini tak ada gunanya lagi. Adat telah lapuk oleh zaman. Kalian selalu berkoar-koar adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah. Namun cobalah lihat realita yang ada. Apakah orang minang sekarang masih paham dengan semboyan tersebut? Kalian ke sini pun sebenarnya cuma ingin membahas sawah dan ladang kepunyaan Ibu bukan?”

“APO KECEK ANG? KURANG AJA!” Datuak Mudo muntab. Hilang sudah ketenangan yang ia jaga dari tadi.

“PLAK!” Sebuah tamparan mendarat di pipiku. Telak. Semua orang kehilangan kata-kata. Terpana. Dari sudut mataku, kulihat adikku berusaha menahan tanganku yang terkepal. Cemas menghias wajahnya.

Yo sabana ndak baradat wa’ang, Yuang. Bantuak tu ang mangecek jo urang gaek? Itu nan dapek dek ang salamo di sakola? Percuma Amak ang manyakolahan tinggi-tinggi. 10” Tek Ros ikut naik pitam mendengar perkataanku tadi.

“Bukankah memang begitu kenyataanya. Kalian datang cuma untuk memperebutkan harta warisan Ibu. Selama ini, kalian kemana saja? Saat kami digunjingkan orang-orang sekampung, kalian seolah tidak peduli. Saat Ibu tidak bapitih, adakah kalian bakarilaan menolongnya? Ketika adikku sakit keras dan Ibu hilia mudik mencari pinjaman, adakah kalian membuka pintu untukknya? Tidak. Kalian hanya datang saat panen tiba. Kalian memanfaatkan sifat Ibu yang baik hati.” Bak kepundan yang meletus, kumuntahkan semua yang kupendam selama ini. Aku sudah tidak peduli lagi meskipun mereka akan memutuskan tali persaudaraan kami. Kan kubawa adikku pergi sesegera mungkin.

“Wa’ang… JAGO MUNCUANG ANG TU! 11” Datuak Mudo mendekatiku. Tangannya terkepal. Matanya merah. Suara gemeretak terdengar dari mulutnya. Urat-urat lengannya yang seperti ular, mengeras. Aku ambil ancang-ancang membela diri.

“SUDAH. Jangan diteruskan. Malu kita dengan urang kampung. Ancak kito pai. Uruslah Amak ang tu surang! 12” Mak Itam bangkit dari duduknya. Wibawanya membuat Datuak Mudo terdiam. Kemudian ia pergi meninggalkanku yang masih terduduk. Saudara-saudara Ibu yang lain mengikutinya. Perih. Namun kata-kataku tidak sebanding dengan perlakuan yang selama ini keluargaku terima.

“Da, bagaimana ini?” tanya adikku bingung.

“Sudahlah. Lebih baik kita urus jenazah Ibu daripada memusingkan mereka.” Aku bangkit. Masuk ke dalam rumah untuk meletakkan barang-barangku.

Begitulah, selanjutnya kami menyolatkan jenazah Ibu. Suaraku bergetar saat memimpin shalat jenazah. Aku tahu, di belakangku hanya beberapa orang yang ikut menyolatkan Ibu. Bu, salahkah aku?

Selesai shalat, aku dibantu adikku dan teman-teman adikku menggotong keranda menuju pemakaman keluarga. Tidak ada isak tangis. Tidak ada keramaian yang mengiringi jenazah Ibu ke liang lahat. Hanya rintik-rintik rinai yang seolah turut bersedih. Matahari pun tertutup mendung. Kelabu.

Kupandangi tanah merah di hadapanku. Nisan putihnya membuatku kembali bertanya. Sepenting itukah lapau di kampungku. Sampai-sampai orang akan dikenal jika sering ke lapau. Sempat kudengar si penggali kubur bertanya pada adikku.

Sia tu? Dunsanak ang? Indak pernah nampak dek den di lapau do! 13

Hening. Tinggal angin berdesau.

 *               *                  *

Ket:

1. Podusi: wanita/cewek

2. Paota: banyak omong

3. Kato nan ampek: kata yang empat

4. Suko bakuruang: suka berdiam di kamar

5. Indak mangarati: tidak mengerti

6. Kaba baiak baimbauan, kaba buruak bahambuan: kabar baik dipanggil, kabar baik diusir

7. Lai ambo suruah. Beko ambo paso inyo kalua: ada saya suruh, nanti saya paksa dia keluar.

8. Kok ndak talok kau, biar den urus: kalau kau tak kuat, biar kuurus.

9. Ambo lai talok mangarajoannyo, Da. Ambo tidak ingin merepotkan Uda. Kokado nan barek-barek, ambo upahkan: Saya kuat mengerjakannya, bang. Saya tidak ingin merepotkan abang. Kalau ada yang berat-berat, saya upahkan.

10. Yo sabana ndak baradat wa’ang, Yuang. Bantuak tu ang mangecek jo urang gaek? Itu nan dapek dek ang salamo di sakola? Percuma Amak ang manyakolahan tinggi-tinggi: Benar-benar tidak beradat kau ini, Yung. Seperti itu caramu berbicara dengan orang tua? Itu yang kau dapatkan selama di sekolah? Percuma ibumu menyekolahkan tinggi-tinggi.

11. JAGO MUNCUANG ANG TU: jaga mulutmu itu.

12.  Ancak kito pai. Uruslah Amak ang tu surang: lebih baik kita pergi. Uruslah ibumu itu sendiri.

13. Sia tu? Dunsanak ang? Indak pernah nampak dek den di lapau do: Siapa tuh? Sodaramu? Kok g pernah saya lihat di lapau?

14. Lapau : Kedai.

*        *          *

Catatan:

Cerpen ini sebenarnya sudah lama tersimpan. Cerpen ini dibuat setelah gempa melanda Sumatera Barat. Selain itu, cerpen ini sebenarnya tugas kuliah. Karenanya, mohon maaf jika bahasanya amburadul.

Iklan

36 pemikiran pada “Lapau

  1. Pas awal2 baca cerpen ini, tak kira terinspirasi dari kecelakaan pesawat cassa, tenyata malah karena bencana alam di Padang 😀 Kereeeen yang pasti mah 😀

        1. Irfan Handi

          Gara-gara ngeblog cerita ane sama kaya sulung, jarang nonton TV, padahal ada TV online tapi gak kuat ngangkat.(LEMOT). he.hee . . .

  2. Cerpennya keren!! 🙂 Cuma agak kebanyakan bahasa Minangnya. Kalo nggak ngerti bahasa Minang agak kesulitan bacanya di bagian itu (walau maksud yang disampaikan tetap bisa dimengerti sih), hehe 🙂 Hanya pendapat saja sih 😀

  3. keren lung, dhe benar2 serasa dibawa ke Padang.. bagus kali ceritanya, alurnya dan dhe yakin separuh dari kisah ini pun kejadian nyata kamu kan.. tapi bukan hanya di minang Lung, “lapau” pun berlaku di semua daerah, intinya sih biar kita bersosialisasi dengan orang2 di daerah kita..

  4. onde, rancak bana tulisan awak 😀

    kebetulan bahasa minang, agak mirip sma bahasa palembang. jdi gk terlalu sulit menafsirkan kata2nya….keep share kawan 😀

  5. Bagian rebutan hartanya itu, perih. Bagian ibu diejek krn dia janda, itu jg perih. Sesek di hati ya bacanya….

    Overall, meski gak ngerti bahasanya, tapi aku suka cerpen ini 🙂

  6. weitsss… ko iyo mahasiswa jurusan b.ind ma.. 😀
    bagus lung! tapi berebut harta-nya jadi kayak sinetron euy.. (duh, kk hicha ini selalu ada ‘tapi’ ya.. hehe, mudah2an kritik membangun)
    pengen liat kalo sulung bikin cerpen lucu.

    1. Wahaha, jadi inget sinetron Tersanjung yang berebut harta kak 😀
      Iya, kak. Mungkinlain kali konfliknya dicoba yang agak beda. Terima kasih kritiknya 🙂

      Waduh, dapet tantangan bikin cerita lucu. Takut garing dan kalah sama poconggg, Kak. Hihi

  7. Jadi ingat novel Andrea Hirata. Lelaki Melayu paling sering ke warung kopi.

    Bagus, Lung! Saya malah nunggu kelanjutan cerita si Buyung dengan gadis di pesawat itu hihihi… ^^
    Gimana kabarnya dia?

  8. Aku anaknya gampangan, gampang jatuh cinta pada tulisan fiksi dengan kedaerahan yang kuat, hehe. Buatku, cerita ini sangat kuat lokalitasnya; terlepas dari apakah sesuai/tidak atau lebay/tidak dibandingkan realitasnya, itu sih aku ndak paham. Aku mulai paham dan hafal nih sama gaya nulisnya Uda.
    Kurangnya, apa ya? Romantika dgn cewek sesama Pariaman di pesawat agak melenceng dari mood cerita yg sebenernya. Mungkin dimaksudkan utk trigger bahas soal orang rantau, kali ya. Cuma moodnya jd drop lalu baru naik lagi. Itu aja sih.
    *oke, aku masih keracunan TKVDW*

Biasakan Berkomentar Setelah Membaca, Ya.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s