Story Pudding: Pernikahan Itu

Pernikahan itu ibarat makan sambal terasi. Pedas memang, tapi kita tetap menikmatinya meski keringat bercucuran karenanya. Bahkan terkadang bau dan pahitnya membuat kita sakit, namun toh kita tidak menolak jika disodorkan lagi. Aku memang tidak tahu banyak tentang pernikahan. Karena jangankan menikah, memikirkan untuk berumah tangga saja belum terbersit di benak ini. Akan tetapi, aku belajar banyak tentang pernikahan dari seorang wanita luar biasa yang aku panggil Mama.

Mama menikah di usia yang terbilang masih muda (sekitar 20-an). Menikah dengan seorang pria dari suku yang berbeda, membuat ia belajar banyak tentang arti sebuah perbedaan. Mama berdarah minang sedangkan papa kelahiran Aceh. Mereka bertemu di Aceh saat mama tinggal di sana dengan kakaknya. Meski awalnya ditentang oleh kakek karena berbeda suku, toh mama tetap bersikeras ingin membina mahligai rumah tangga dengan papa.

Manisnya pernikahan ia rasai setiap saat. Dikaruniai buah hati yang tampan (ini kata mamaku, lho) dan cerdas melengkapi kebahagiaan mereka. Bekerja di salah satu perusahaan pertambangan minyak membuat mama sering ditinggal papa. Terkadang, mereka hanya bertemu dua kali dalam setahun. Akan tetapi hal tersebut tidak menjadi kendala bagi mama untuk berbakti kepada suaminya. Ia tetap setia menunggu suaminya pulang ketika cuti. Saat-saat kepulangannya, adalah saat-saat yang mendebarkan bagi mama.

Aku masih ingat. Setiap menjelang idul fitri, mama selalu cemas. Apakah suaminya akan menemaninya di hari kemenangan tersebut atau justru hanya berlebaran dengan buah hati tercinta? Ia tidak tidur hingga subuh. Menunggu ketukan halus di pintu rumah penanda kepulangan suaminya ditemani gema takbir yang berkumandang.

Saat papa di rumah, adalah saat yang paling membahagiakan bagi mama. Selama papa di rumah, wajah mama tampak lebih bercahaya. Rumah pun diselimuti aura romantisme. Terkadang, mereka duduk di beranda menunggu terbenamnya sang surya sambil bercerita dan berpegangan tangan. Jika cuti yang didapat oleh papa lumayan panjang, maka ia akan mengajak kami sekeluarga jalan-jalan. Borobudur, Pantai Parang Tritis, Pantai Pangandaran, dan objek wisata lain menjadi saksi kebahagiaan kami sekeluarga.

Pekerjaan papa yang berpindah-pindah membuat mama mesti ikut pindah pula. Meski lebih sering ditinggal oleh suaminya, mama tak pernah mengeluh. Tempaan sewaktu sekolah di STM dulu dan sifat keras kepala mama membuat ia menjadi wanita paling tangguh yang pernah aku temukan. Ketika melahirkan adikku pun, mama tanpa dampingan papa. Tapi ia tak bersedih, ia mengecup kening adikku dan berdo’a semoga adikku menjadi anak yang soleh. Telah banyak tempat yang ditinggali mama. Indramayu, Cirebon, Cilegon, bahkan hingga ke Tuban di Jawa Timur.

Ketika krisis moneter melanda, saat itu pula badai menyerang rumah tangga mama. Papa dipecat oleh bosnya. Mempunyai suami dengan penghasilan tidak tetap tidak membuat mama berpaling. Didikan minang yang mengajarkan seorang istri mesti berbakti hingga akhir hayat, ia pegang teguh. Namun hatinya hancur ketika suatu saat ia mendapat telepon dari seorang wanita yang mengaku istri papa. Ia pantang dibohongi. Mendustai perkawinan sama saja dengan menghancurkan kepercayaan yang telah ia pupuk selama ini. Mama marah.

Mama mengadu pada nenek di Aceh (orang tua papa). Nenek pun mencoba bertanya pada ustad setempat. Ustad tersebut mengatakan bahwa papa sudah berada di puncak tinggi yang berkabut dan tidak menemukan jalan pulang. Dengan kata lain, papa sudah diguna-guna oleh wanita yang berasal dari Banten tersebut sehingga lupa dengan keluarganya.

Sifat mama yang keras membuat ia tidak mau menerima alasan apapun yang papa berikan. Ia bersikeras ingin pulang kampung. Akhirnya kami pindah ke Pariaman, tempat kelahiran mama. Setelah mengantarkan kami pulang, papa kembali ke Jawa untuk mencari pekerjaan dan berjanji akan pulang. Namun hati mama waktu itu sudah meragu.

Tinggal di kampung tidaklah seenak tinggal di kota. Sewaktu tinggal di kota, sifat masyarakatnya yang individual justru menguntungkan kami. Namun tidak di kampung, dari hilir hingga mudik mempergunjingkan kami saat kami pulang. Aku yang waktu itu baru masuk SD, sudah mengerti apa itu pahit ketika ditanya dimana papa aku. Awalnya kami menumpang di rumah salah seorang saudara jauh. Akan tetapi, cibiran dan kata-kata sindiran dari si empu rumah terlalu sering membuat mama menangis di sujudnya. Akhirnya saudara-saudara mama bergotong royong, membuat sebuah rumah sederhana di atas tanah peninggalan kakek. Kami pun pindah ke rumah tersebut.

Perjuangan semakin berat. Membesarkan dua orang anak tanpa bantuan seorang suami membuat mama sering mengorbankan tidurnya. Segala cara ia lakukan asal anaknya bisa tetap bersekolah dan makan dengan cukup. Dengan sedikit modal, ia berjualan makanan ringan di rumah. Ia ingin anaknya tidak manja sehingga terkadang menyuruh aku berjualan ketika di kampung ada acara. Aku masih ingat, saat di kampung ada lomba sepak bola, aku disuruh untuk menjajakan semangka. Aku yang tidak terbiasa berjualan, menangis pulang ketika ada seorang pembeli yang membentak dan mengatakan kalau semangkanya hambar. Lama kelamaan, mama dan aku pun kebal. Kebal dengan semua rasa sakit yang sering kami terima.

Kegigihan mama membuat ia mulai dipercaya orang-orang kampung. Ia kemudian bekerja sebagai penjahit bordir di rumah seorang tetangga. Mama yang sejak dulu pandai memasak juga mulai dipercaya tenaganya ketika seseorang ada hajatan dan butuh tukang masak. Ia ingin membuktikan kepada orang-orang bahwa tanpa seorang pria ia mampu membesarkan anaknya. Mama kemudian menjadi seorang ayah, ibu, guru, tukang, koki, akuntan, maupun sahabat bagi kedua anaknya. Mama yang memperbaiki genteng bocor sewaktu aku masih kecil. Mama yang mengajari kami hal-hal yang tidak kami peroleh dari bangku sekolah. Mama pulalah tempat aku mengadu ketika teman-temanku mengejekku tidak punya ayah.

Mama bertahan dalam kesendiriannya sejak aku kelas 4 SD hingga kuliah semester lima. Biasanya seorang wanita tak kan mampu hidup sendiri tanpa pendamping, namun ia bisa. Pernah sewaktu aku dan mama tidur-tiduran di ruang tamu, aku bertanya kenapa mama tidak menikah lagi. Ia pun menjawab kalau hatinya masih sakit dengan kebohongan yang dilakukan papa. Lagipula, ia belum menemukan seorang pria yang bisa menerima aku dan adikku seperti anaknya sendiri. Karena itulah, mama selalu menolak jika

saudara-saudaranya ingin menjodohkannya dengan seorang pria. Meski itu berarti ia harus menebalkan kupingnya dari gunjingan-gunjingan tetangga. Saat aku menanyakan statusnya, mama menjawab tentu saja mama sudah menjadi janda. Sebab apabila ada seorang suami yang tidak memberi nafkah istrinya selama lebih dari enam bulan, maka sama saja dengan menjatuhkan talak kepada istrinya.

Sewaktu aku naik semester enam, mama menyerah. Seorang duda berhasil meyakinkannya agar tidak kapok membina rumah tangga. Pria tersebut berkata bahwa tidak semua pria dapat melakukan kesalahan yang sama, sebab pria tersebut pun mengalami hal yang sama dengan mama. Meski awalnya sempat ditentang keluarga karena usia si pria yang lebih muda lima tahun dari mama, mama bersikukuh. Ia ingin mencoba membangun kembali rumah tangga yang selama ini hampa tanpa seorang suami. Terlebih lagi, pria tersebut berjanji menerima aku dan adikku sebagai anaknya sendiri. Maka pernikahan pun dilaksanakan.

Pernikahan kedua mama tidak semeriah dulu. Ia hanya mengundang tetangga dan keluarga dekat. Akan tetapi di pernikahan tersebut, tampak wajah bahagia mama yang selama ini jarang kulihat. Mama tampak lebih muda. Aura kecantikannya kembali bersinar. Aku bersyukur, tertebus sudah penderitaan dan pengorbanan mama sebagai seorang janda selama bertahun-tahun. Dan yang lebih kusyukuri, papaku yang baru menepati janjinya. Ia memperlakukan aku dan adikku layaknya anaknya sendiri. Sudah banyak kebaikannya yang kulihat. Aku berharap, pernikahan mama yang kedua ini akan bertahan hingga akhir hayatnya.

“I am woman, hear me roar

In numbers too big to ignore

And I know too much to go back and pretend

’cause I’ve heard it all before

And I’ve been down there on the floor

No one’s ever gonna keep me down again

Oh yes I am wise

But it’s wisdom born of pain

Yes, I’ve paid the price

But look how much I gained

If I have to, I can do anything

I am strong

I am invincible

I am woman”

(I am Woman-Hellen Reddy)

 Kisah ini diikutsertakan pada “A Story Pudding For Wedding” yang diselenggarakan oleh Putri Amarillis dan Nia Angga.

31 pemikiran pada “Story Pudding: Pernikahan Itu

  1. Ya Alloh…. mama-mu bener2 wanita tangguh ya… semoga pernikahan kedua ini, senantiasa berada dalam lindungan dan kasih sayang Alloh Swt, awet till death do us part deh istilahnya…. no marriage is perfect but I hope your mother and your step-dad is always at least 80% happy in their marriage. aamiin.

  2. Ping-balik: Dusta Pertama « Dunia Jungkir Balik

Biasakan Berkomentar Setelah Membaca, Ya.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s