The Graduation

Sabtu lalu (08/10), beberapa teman gua di wisuda. Melihat mereka di wisuda rasanya seperti, “Separuh jiwaku, pergi.” *tsaah. G kerasa, empat tahun terlewati sudah. Selama empat tahun tersebut, kami senantiasa bersama-sama di bawah naungan  RB 07. Kalau diingat-ingat, banyak perubahan yang terjadi sama diri gua sejak berteman dengan mereka ini. Gua yang dulunya cupu abis, perlahan-lahan mulai mengubah penampilan gua. Awalnya gua masih pake celana dasar kemana-mana, kemudian atas saran teman-teman gua pun mulai belajar pakai celana jeans.

Gua jadi ingat dengan kehebohan kelas kami ini. Kelas kami sudah terkenal di kalangan dosen sebagai kelas yang paling ribut tapi juga paling kompak. Meski kami sering beradu mulut ketika diskusi tapi setelah diskusi kami kembali berteman baik. Tidak heran kalau dosen-dosen betah mengajar di kelas kami. Dan yang pasti, sudah banyak dosen killer yang kami tundukkan.

Entah kapan tepatnya, tapi gua mulai ikut-ikutan bolos. Yah, abis ada teman gua yang bilang kalau kita belum jadi mahasiswa sejati kalau belum pernah bolos. Sebenarnya, ada gunanya juga sih bolos. Habis, terkadang kita jenuh dengan perkuliahan yang diberikan. Apalagi kalau dosennya g pinter dalam mengajar. 

Masalah kebersamaan, kelas kamilah yang paling sering ngadain acara kelas. Kami sering pergi ke suatu daerah hanya untuk main-main bersama. Atau menyewa vila untuk menjalin keakraban. Bukti kekompakan kami adalah hampir semua anggota kelas ikut acara tersebut. Hanya beberapa yang tidak bisa dikarenakan tidak dapat ijin dari orang tua. Padahal kalau di kelas lain, yang sering mengadakan acara-acara kebersamaan biasanya hanya gang-gang tertentu dan yang ikut pun orang-orang tertentu pula.

Saya merasakan kehilangan. Tidak ada lagi ngumpul-ngumpul di pendopo kelas sehabis kuliah. Tidak ada lagi ribut-ribut bergunjing sambil menunggu dosen tiba. Tidak akan pernah lagi merasakan rebutan menjawab pertanyaan saat diskusi. Saya merasa rindu. 

Tapi di balik semua rasa kehilangan saya melepas kepergian teman-teman ke dunia kerja, ada juga hal-hal lucu yang saya temukan menjelang wisuda mereka. Satu hal yang tertanam di benak saya adalah cewek paling ribet kalau mau wisuda.

Dari apa yang saya dengar, mereka sampai menghabiskan duit berjuta-juta untuk menghadapi wisuda tersebut. Dari beli bahan kebaya, menjahitnya, membeli sepatu, make up wisuda, dan segala tetek bengek wisuda lainnya. Saya sendiri jadi geleng-geleng kepala ketika mendengar ada teman yang terpaksa pergi ke salon jam 3 pagi untuk dirias. Saya menertawakan mereka. Masa iya mata masih mengantuk tapi sudah harus dirias mukanya. Padahal acaranya dari jam tujuh pagi sampai jam enam sore. 

Ketika hari wisuda tersebut tiba, kampus saya membludak. Keluarga wisudawan/ti semuanya datang ke kampus untuk melihat anaknya di wisuda. Dari kakek-nenek, ayah-ibu, adik-kakak, sampai ke tetangga, semuanya tumpek blek di kampus. Tidak heran kalau macet pun terjadi di jalanan kampus. Sudahlah jalannya kecil, eh beberapa orang seenaknya memarkir kendaraan mereka di pinggir jalan.

Saya jadi miris juga. Manusia sekarang semakin tidak peduli dengan lingkungan mereka. Apa salahnya berjalan sedikit untuk membuang sampah mereka di tempat sampah. Akhirnya sampah-sampah pun bertebaran dimana-mana. Saya jadi kasihan dengan tukang bersih-bersih di kampus saya.

Hal lain yang saya lihat di acara wisuda adalah wisuda menjadi ladang bisnis bagi beberapa orang. Pedagang-pedagang akan seenak jidat mereka menaikkan harga makanan. Bagi wisudawan/ti yang ingin mengabadikan momen indah tersebut dengan keluarga, tersedia tenda-tenda yang sengaja didirikan studio foto. Belum lagi mahasiswa yang jeli dengan insting bisnis mereka. Ada yang menjual bunga karya sendiri. Ada pula yang menyediakan jasa difoto dengan kamera profesional. Pokoknya semua orang berlomba-lomba menguras kantong undangan yang datang ke acara wisuda tersebut.

Yah, mungkin demikian saja laporan selayang pandang acara wisuda di kampus saya. Saya sendiri berharap bisa secepatnya mengikuti jejak mereka. Saya sudah capek dengan pertanyaan-pertanyaan seperti:

“Kapan wisuda?”

“Kapan nyari kerja?”

“Kapan kawin?”

Saya berharap dosen-dosen yang selama ini menyulitkan langkah saya dengan ego mereka, mau melunakkan hati masing-masing dan berwelas asih untuk memudahkan skripsi saya. Pokoknya, Maret mesti jebol! 

Iklan

28 pemikiran pada “The Graduation

  1. Waktu wisuda dulu, aku gak beli apa-apa yg baru. Pake aja baju dan selop yg udah ada. Maklum, lagi bokek, hehehe… Dan karena jarak selesainya skripsiku dgn wisuda terpaut 6 bulan, jadi euforianya udah gak kerasa. Mau rasanya gak usah wisuda aja, haha. Tp mamahku kepengen ngeliat aku wisuda, gitu. Sempet sih foto studio yg menurutku overpriced dan hasilnya jelek. Akhirnya, foto yg dipasang di dinding adalah foto pake digicam biasa, aku edit2 sendiri deh. Lbh bagus, hihi….

  2. hahahahaha, tos dulu Lung.. dhe juga capeeeeeeekk banget kalo ditanya pertanyaan2 itu, tapi sekarang dhe punya jawaban pamungkas, “secepatnya”.. :))

    untuk urusan bolos, itu mah selalu pasti ada di tiap mata kuliah.. sssst, diem2 aja yaa..

  3. Semangat Luuuung.

    Tapi ga usah heran sm ‘never ending question’ kek gitu mah, coz pasti adaaaaa aj yg keppo bin rempong nanya ini itu yg bukan urusannya sm kita *haiyyah…curcol* hihihii

  4. haha, makanya memang lebih enak jadi cowok kalo pas wisuda, hehe. Waktu aku wisuda 1,5 tahun yg lalu, bangunnya ya bangun kayak biasa aja, jam 7 kurang gitu. Tinggal mandi, pake baju yg rapi, udah siap deh. Kalo cewek emang harus bangun subuh, make-up, pake kebaya, dll. Eh, tapi temen2ku yg cewe dulu kebayanya ga perlu jahit koq, kalo ga salah ada deh jasa penyewaan kebaya gitu, huahahaha 😆

    Dan masalah foto, bener bgt tuh. Waktu itu juga ada yg foto dan tarifnya mahal banget, mana hasilnya biasa aja lagi, zzzz…

    Dan tentang never-ending question itu, never mind lah, haha 🙂 Orang lain koq mau ngikut2 urusan kita, ya ga? haha 😛

    Btw, good luck ya! Mudah-mudahan Maret jebol tuh! 🙂

Biasakan Berkomentar Setelah Membaca, Ya.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s