Kenangan Di Atas Selembar Kertas

Kemarin malam, iseng-iseng bongkar lemari baju yang berantakan. Saat lagi asyik-asyiknya memilah-milah pakaian, tiba-tiba ada beberapa lembar surat yang jatuh. “Surat apa, ya?” batin gua. Gua coba baca alamat suratnya, dari teman-teman SMP gua. Pikiran gua pun melayang jauh. Ternyata surat tersebut adalah surat-surat sewaktu gua SMA.

Setelah menamatkan pendidikan di sebuah Sekolah Menengah Atas di Kota Pariaman, gua mesti melanjutkan pendidikan gua ke Sekolah Menengah Atas di Kota Lubuk Basung. Teman-teman SMP gua yang tahu hal tersebut merasa sedih. Mereka mencoba membujuk gua untuk tetap sekolah di Kota Pariaman, tapi apa daya dikarenakan beberapa hal gua tetap mesti sekolah di Lubuk Basung. Nah, ada beberapa orang teman gua yang menyuruh gua untuk tetap menjaga silaturahim dengan cara saling surat-menyurat. Dari beberapa orang teman, hanya ada dua orang teman gua yang rajin menyurati gua hingga gua tamat SMA. Mereka adalah Puspita Sari dan Putri Desvira.

Gua pun membaca surat-surat mereka yang gua terima waktu SMA dulu. Setelah membaca surat-surat tersebut, gua senyum-senyum sendiri. Banyak kisah-kisah manis yang tergores di dalam surat-surat tersebut. Namun ada tiga hal yang paling gua kenang dari cerita-cerita di dalam surat-surat tersebut.

Cinta Monyet

Ya, setiap insan manusia pasti pernah merasakan yang namanya jatuh cinta. Hanya saja berbeda waktunya. Gua sendiri merasakan jatuh cinta pertama kali sewaktu kelas 3 SMP. Waktu itu, gua suka dengan seorang cewek dari kelas sebelah yang berkacamata dan berambut panjang. Entah kenapa gua suka dengan cewek berkacamata, tapi mungkin bagi gua cewek berkacamata itu kesannya pintar. Gua yang pemalu pun berusaha mencari cara buat menembaknya (istilah ini sebenarnya muncul sejak kapan, sih?). Sayangnya, gua ditolak oleh cewek tersebut. Sejak itu, gua males banget kalau mesti menyatakan cinta dengan seseorang. Kalau dipikir-pikir, gua terkesan cemen kali ya. Masa ditolak sekali, langsung nyerah dan tidak mau berusaha lagi hingga sekarang? Tapi itulah, gua trauma dengan yang namanya penembakan.

Nah dari surat-surat teman gua tersebut, mereka banyak yang menceritakan kisah mereka yang jatuh cinta dengan seorang cowok. Kemudian menanyakan saran kepada gua mereka mesti gimana (kesannya gua udah kaya psikolog cinta). Tapi akhirnya mereka menyerah. Ya, karena kami bertiga berjanji bersama-sama untuk tidak akan merasakan pacaran. Kami berkomitmen untuk mengikuti anjuran nabi saja. Terkesan kuno dan aneh memang. Namun ini masalah prinsip. Makanya gua sampai sekarang g pernah pacaran dikarenakan prinsip serta rasa sakit yang gua ceritakan di atas.

Komunikasi

Zaman gua SMP dulu, belum ada yang namanya telepon genggam. Sewaktu gua SMA pun, telepon genggam masih jadi barang mewah. Makanya kami cuma bisa berkomunikasi lewat surat. Ok, emang sih waktu itu kami sudah mulai kenal dengan internet. Tapi untuk bisa mengakses internet masih susah dan belum banyak warnet seperti sekarang. Apalagi waktu tarifnya mahal banget. Satu jam ngenet itu Rp. 10. 000,-!! Busyet, mahal gila. Kalau sekarang, kita tidak perlu susah lagi dengan komunikasi. Telepon genggam harganya sudah dapat dijangkau oleh berbagai kalangan. Kemudian internet pun bisa diakses dimana saja. Bisa lewat hp ataupun lewat warnet dengan tarif yang tidak telalu mahal.

Masalah dan Kedewasaan

Yup, dari dulu sampai sekarang. Gua selalu jadi tempat curhat teman-teman. Dari masalah dengan teman, orang tua, pacar, pelajaran, sampai ke masalah-masalah kecil sekalipun. Awalnya gua juga heran kenapa teman-teman gua suka curhat sama gua, g cuma yang cewek, cowok pun terkadang curhat dengan gua. Namun kemudian setelah gua tanyakan pada beberapa teman, mereka mengatakan kalau curhat dengan gua itu asyik. Selain karena gua selalu menyimak dengan baik curhata mereka, juga karena gua selalu mencoba memberikan solusi terhadap masalah-masalah mereka.

Balik ke surat teman-teman gua tadi, gua jadi mikir. Ternyata semakin beranjak dewasanya kita, maka akan semakin banyak permasalahan yang kita alami. Dan itu menandakan bahwa kita mesti semakin pandai menyikapi masalah-masalah yang kita alami. Bayangin saja, sewaktu kecil hidup kita cuma untuk tertawa-tawa, bermain, makan, minum, dan istirahat tanpa perlu memikirkan tentang kehidupan. Kemudian semakin bertambahnya pemahaman kita, maka kita dituntut untuk semakin dewasa. Makanya g semua orang bisa mengatasi masalah yang mereka alami, terkadang mereka membutuhkan pihak ketiga untuk memecahkan masalah mereka.

Terakhir, kalau dipikir-pikir. Gua kangen dengan masa-masa saat gua masih surat-suratan. Saat gua masih sering bersahabat pena dengan orang-orang dari daerah lain. Sekarang, kenangan tersebut tertutupi dengan kemajuan teknologi. Rasa kangen kita bisa terlampiaskan hanya dengan beberapa menit bicara lewat telepon genggam. Teman-teman yang sempat kehilangan kontak dengan kita, bisa kita temukan kembali lewat berbagai jejaring sosial yang ada. Yah, begitulah. Kemajuan teknologi terkadang memang mengorbankan keindahan dari cara tradisional yang pernah ada.

Bagaimana dengan sahabat sendiri? pernahkah bersahabat pena dengan seseorang dan hal tersebut menimbulkan kesan tersendiri bagi sahabat? Atau sahabat sama sepertis saya, merindukan masa-masa saat Pak Pos masih berjaya dan kita senantiasa menantikan kehadirannya di rumah kita?

24 pemikiran pada “Kenangan Di Atas Selembar Kertas

  1. Aku sih memang jarang banget surat-suratan. Makanya sekarang kalau harus ngirim surat gitu (buat ngurus satu dan lain hal di Belanda ini kadang harus pake surat loh, hahaha :P) juga agak males-males gimanaa gitu, hehe🙂

    Dan benar, makin kita tua, makin berat pula masalah yang kita hadapi. Tapi memang koq masalah-masalah itulah yang mendewasakan kita. Kadang aku senyum sendiri kalau ingat bagaimana aku dulu menghadapi satu masalah yang aku hadapi. Kesannya tuh lugu dan polos banget kalo diingat-ingat lagi, hahaha🙂

  2. Sampe kelas 2 SMP-an, aku masih ngirim2 surat. Kadang2 sih. But at least, masih…. Pas SD mah rajin bener, berkirim surat dgn sahabat pena yg kenalan dari rubrik sahabat pena di majalah, ataupun dgn temen2 lama yg udah gak tinggal se-kota lagi. Dan kayaknya, kegemaran surat menyurat gandengan ama hobi ngumpulin perangko dan kertas surat ya? Ya gak sih? Apa aku aja?😛

      1. eeh,, jangan salah,, sekarang kantor pos juga jadi tempat setor penerimaan negara…
        malah di Baubau, penerimaan negara paling banyaknya disetor lewat pos..
        sekarang pak pos kerjanya mirip2 orang bank.. hehehe

  3. upidupid

    aku juga masi banyak nyimpen surat bang🙂
    saat aq harus sekolah di jawa timur meninggalkan tanah air bandung tercinta..
    Tp zaman itu sirna sudah..

  4. Ping-balik: Surat-Surat Dari Masa Lalu « Dunia Jungkir Balik

  5. Dulu aku suka tuh nyari2 sahabat prna dari majalah bobo.. tapi gak ada yv dibalas tuh!! #hiks

    tapi kalau difikir2 lagi, sahabat blogger juga bs dibilang sahabat pena sekarang deh yak.. kita cerita ada yg dengar dan kasih saran kan?😀

Biasakan Berkomentar Setelah Membaca, Ya.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s