Bidadari Besi

Detik berlalu. Saya masih memperhatikan bidadari besi itu dari jauh. Menyeret kakinya tanpa kenal lelah, menuju salah satu ruangan di kampus kami.

*            *             *

Pernahkah sahabat merasa tidak puas dengan apa yang ada pada diri sahabat? Terdiam di depan cermin dan merutuki jerawat yang tumbuh subur? Terpaku di hadapan kaca menyadari lemak yang bertambah? Menyesali aktifitas di luar ruangan yang membuat kulit menjadi hitam? Atau malah berusaha meniru seseorang yang populer di lingkungan sahabat?

Saya pun terkadang mengalami hal tersebut. Bertanya-tanya kepada Tuhan kenapa saya tidak diciptakan sama seperti mereka?  Tidak pernah puas merupakan sifat dasar manusia. Terkadang, sifat tersebut membuat kita maju karena tidak puas dengan apa yang kita pelajari dan berusaha lebih maju. Namun lain kali, sifat itu justru membuat kita rendah diri. Bahkan mengutuki Tuhan yang menciptakan kita berbeda dari mereka. Seandainya kita membuka mata lebih lebar, betapa banyak mereka yang berkekurangan namun tak pernah menangisi nasib yang tidak berpihak kepada mereka.

Saya menemukan salah satu contohnya. Perempuan tersebut satu kampus dengan saya. Awalnya saya tidak terlalu memperhatikan keberadaannya. Karena dia bukan tipe orang yang aktif berorganisasi maupun populer. Tapi suatu saat, ada sesuatu dari dirinya yang membuat saya tersentuh dan lebih menyukuri apa yang saya miliki.

Perempuan tersebut biasa saja, tidak ada yang istimewa darinya. Berkekurangan malah. Kakinya pendek sebelah sehingga mengharuskan dia memakai tongkat dan menyeret salah satu kaki tersebut. Suatu saat, saya bisa saja melihatnya berjalan menuju ke salah satu ruang kuliah. Terbungkuk-bungkuk karena beban tas yang berlebihan. Kerepotan karena satu tangan mesti mengepit tongkat di ketiak sementara tangan yang lain memegang kamus yang berat. Keringat sebesar biji jagung berleleran dari wajahnya. Tapi yang membuat saya kagum adalah parasnya.

Parasnya tidak sedikitpun terlihat lelah. Bahkan mukanya tampak penuh semangat. Sinar kebahagiaan terpancar jelas dari tubuhnya. Ia tampak begitu senang karena akan menuntut ilmu. Saya yang melihat semangat menuntut ilmunya yang begitu besar merasa malu. Malu karena terkadang membolos dari perkuliahan ataupun mengomel akan dosen yang terlalu lama menjelaskan materi. Padahal saya diciptakan lengkap. Lalu kenapa saya tidak meniru semangatnya?

Yang lebih membuat saya sering menundukkan muka jika berpapasan dengannya adalah kebaikan hati yang ia miliki. Tak jarang saya memergokinya merogoh saku di depan pengemis tua di gerbang kampus. Atau melipat sehelai uang untuk dimasukkan ke dalam kotak amal yang ada di masjid. Tak tampak rona tidak ikhlas di muka ketika seorang pengemis kecil meminta kesediaan hatinya berbagi. Ia justru tersenyum. Senyum yang malah membuat wajahnya yang biasa tampak luar biasa. Ia adalah seorang bidadari besi. Bidadari dengan kekuatan hati menghadapi segala kekurangan yang ada.

Saya belajar darinya. Belajar menyukuri tubuh saya yang kurus. Belajar menyukuri rambut yang susah diatur. Belajar menyukuri jerawat yang tumbuh satu-satu. Belajar menyukuri apa yang diberikan Tuhan pada diri saya. Sebab saya diciptakan sesempurnanya ciptaan.

Saya berkaca darinya. Berkaca akan semangat menuntut ilmu yang tak padam meski terhalang cacat tubuh. Berkaca akan kesediaannya berbagi dengan sesama. Berkaca untuk banyak-banyak tersenyum dengan orang-orang yang ia temui. Karena saya berkaca akan kecantikan hatinya.

Begitulah, bersyukur dan berbagi mungkin merupakan dua hal sederhana yang sering terlupakan. Jika bersyukur adalah memberikan ruang di hati untuk menerima keadaan yang diberikan Tuhan, maka berbagi adalah menyediakan luang dari waktu dan tenaga yang ada untuk sesama.

“Syukuri apa yang ada

Hidup adalah anugerah

Tetap jalani hidup ini

Melakukan yang terbaik.”

(Jangan Menyerah-D’Massive)

*            *                *

Biasakan Berkomentar Setelah Membaca, Ya.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s