Surat-Surat Dari Masa Lalu

Sebelumnya sebenarnya tulisan ini merupakan lanjutan dari tulisan saya di Kenangan Di Atas Selembar Kertas. Berhubung rindu yang begitu membuncah akan masa lalu, maka saya pun iseng menulis tulisan ini.  Tulisan ini tidak pernah saya kirimkan, hanya saya post di facebook saja. Entah orang-orang yang ada di dalam tulisan ini menanggapi atau tidak.

*          *          *

Assalammu’alaikum wr. wb.

Apa kabar Ukhti Yaya dan Ukhti Sari? Semoga senantiasa dalam lindungan Allah SWT. Agar saya lebih mudah mengungkapkan apa yang saya rasakan, mungkin saya akan menulis sebagai sahabat lama yang telah lama tidak berjumpa.

Tadi malam, saya membongkar lemari baju saya. Susah terlalu banyak barang-barang yang tidak berguna dan harus dibuang, saat obrak-abrik lemari itulah saya menemukan beberapa pucuk surat di bagian paling bawah baju. Saya penasaran, surat apa ya?

Ternyata surat-surat tersebut merupakan surat-surat dari Aya dan Sari sewaktu kita SMA dulu. Sebagai pengingat memori yang mungkin tercecer, surat-surat tersebut merupakan jejak saat kita menjadi sahabat pena. Masih ingatkah, ketika saya harus pindah dari Kota Pariaman ke Lubuk Basung dan meninggalkan semua teman-teman semasa SMP. Berhubung waktu itu saya belum punya hp dan internet masih mahal, maka kita bertiga berjanji untuk saling mengirim surat sekedar bertukar kabar.

Setelah membaca surat-surat tersebut, saya senyum-senyum sendiri. Ternyata masa-masa SMA kita penuh dengan warna-warni. Masih ingatkah Aya dan Sari menulis di dalam surat tersebut saat kalian mengalami puber dan jatuh cinta? Hehe, saya tertawa sendiri ketika kalian bercerita bahwa kalian mulai menyukai seseorang dan segala hal dari orang tersebut. Sekarang bagaimana? Semoga janji kita sewaktu SMP untuk tidak mengenal pacaran masih terikat erat. Bukankah islam tidak mengenal pacaran, ya? Dan saya sendiri alhamdulillah masih bertahan dengan status jomblo meski banyak gonjang-ganjing dari teman-teman saya. 😀

Bagaimana dengan proses pendewasaan Aya dan Sari? Dulu Sari tulis dalam surat kalau Sari sering bt dengan teman-teman, masalah-masalah yang begitu banyak, sampai terbawa ke rumah. Sekarang bagaimana Sari? Bukankah seriring waktu berlalu kita belajar dari pengalaman? Yah, masalahlah yang akan mendewasakan kita bukan? Kita hanya perlu menghadapinya. Sebab ketika kita belajar berjalan dan terjatuh maka kita hanya perlu berusaha untuk bangkit dan belajar berjalan kembali.

Saya kangen dengan kalian namun bukan kangen seperti seseorang yang menyukai lawan jenisnya, status kangen saya adalah kangen sebagai sahabat lama. Kalau dari segi pertemuan, mungkin Ayalah yang paling sering saya jumpai. Berhubung kami kuliah di Universitas yang sama dan Fakultas yang sama, hanya beda jurusan saja. Namun kami tetap disibukkan dengan urusan masing-masing.

Ada masa-masa yang kosong saat kita mulai jarang komunikasi. Saat Sari berjuang untuk mendapatkan bangku di Fakultas Kedokteran meski harus menunda kuliah setahun, saya tidak tahu seberapa besar tantangan yang ia hadapi. Atau saat Aya sibuk di BEM fakultas, saya hanya mendengar kabarnya saja. Apa yang salah saat itu? Apakah teknologi yang harus kita salahkan? Padahal hp sudah berjamur dan internet sudah lumayan lancar. Atau karena kita sendiri yang menyibukkan diri sehingga lupa untuk saling memberi kabar?

Bagaimana kabar medan dakwah yang kalian hadapi? Saya masih ingat kalau sewaktu SMA Aya dan Sari aktif di forum annisa. Sementara saya hanya sempat mencicip sie kerohanian di OSIS SMA, itupun hanya sebentar. Setelah di perguruan tinggi, alhamdulillah ternyata saya dan Aya bertemu kembali di satu forum. Kalau Sari sendiri bagaimana?

Jika boleh sedikit curhat, pasti kalian tahu kondisi yang saya alami. Aya dan Sari pasti heran kenapa saya yang dulu aktif di forum kemudian mundur dan berubah. Saya yang awalnya begitu menjaga hijab dengan lawan jenis tiba-tiba kurang memperhatikan adab bergaul antar lawan jenis. Mungkin benar jika kemudian saya berubah namun demi tuhan saya sampai sekarang masih risih setiap seorang wanita tanpa sengaja menyentuh saya. Karenanya jangankan disentuh, menyentuhpun saya tidak berani. Tidak, saya masih mengetahui batas-batas tersebut.

Lalu kalian pasti bertanya, jadi apa yang mengubah saya? Ada beberapa hal yang membuat saya mundur. Pertama, lingkungan saya belum siap menerima kondisi saya yang seperti itu. Ya, lingkungan saya belum siap menerima saya yang senantiasa bercelana dasar dan menundukkan pandangan ketika berbicara dengan lawan jenis. Mungkin saya juga belum siap menerima penolakkan dan pandangan sinis mereka. hmh, seharusnya saya malu ya? Aya dan Sari saja mampu mengatasi hal tersebut. Kedua, awalnya saya hanya ingin lebih mudah berbaur tanpa terwarnai agar lebih mudah berdakwah. Namun saya salah. Mungkin karena iman saya yang belum kuat, justru saya yang terwarnai oleh mereka. perlahan-lahan pakaian saya mulai berubah. Aya dan Sari pun menemukan seorang Sulung yang suka bercelana jins dan pakai kaos.

Sampai sekarang sebenarnya saya masih bertanya-tanya, apakah seorang pendakwah mesti berpakaian khusus? Lalu bagaimana cara mereka berdakwah di lingkungan yang ekstrim sebab masih banyak yang tidak bisa menerima cara mereka berpakaian. Salahkah jika kemudian saya menyukai celana jins? Sayangnya, beberapa teman saya di forum justru menganggap perubahan saya tersebut sebagai sesuatu yang salah. Mereka pun mulai suka menanyakan cara saya berpakaian meski masih dalam konteks bercanda. Saya risih, perlahan-lahan saya mulai menjauh karena cara mereka mengomentari cara berpakaian saya membuat saya tidak nyaman. Meski terkadan tak mereka ucapkan, saya sudah dapat menangkapnya dari cara mereka menatap saya.

Lalu kenapa saya memilih keluar wisma? Waktu itu saya dilema. Menjadi pengurus di salah satu UKM kampus membuat saya jarang hadir di wisma. Saya jadi tidak enak terhadap adik-adik yang seharusnya saya bina tapi malah jarang saya temui. Intensitas kehadiran saya pun kemudian bisa dihitung dengan jari. Belum lagi dengan peraturan-peraturan yang dibuat oleh senior mulai membuat saya jenuh. Terkadang peraturan-peraturan tersebut terkesan mengada-ada. Saya yang tipe individu bebas pun merasa terkekang. Saya ingin bebas, teriak saya dalam hati waktu itu. Saya pun kemudian memilih keluar dari wisma.

Setelah beberapa tahun keluar dari wisma, saya akui wismalah yang terbaik. Ukhuwah yang tidak kita temukan di luar wisma, belum lagi kebiasaan saling mengajak shalat di mesjid. Saya paling merindukan hal-hal tersebut. Bukan berarti sejak tidak di kos-kosan saya tidak shalat di mesjid lagi, hanya saja intensitasnya tidak sesering sewaktu di wisma. Sekarang, saya sudah kadung malu dengan mereka. saya merasa seolah-olah diposisikan sebagai pesakitan.

Terlalu panjang rasanya, isinya kok lebih banyak curhatan saya ya? Sekali lagi, saya mohon maaf jika tulisan ini membuat Aya dan Sari tidak nyaman. Saya tidak mempunyai maksud apa-apa, saya hanya ingin kembali menjalin tali silaturahim di antara kita. Saya jadi merindukan saat-saat kita saling surat-suratan. Saat saya menunggu balasan surat kalian ataupun saat saya begitu gembira ketika surat kalian tiba.

Wassalam

*       *       *

Catatan: Ternyata tulisan yang publikasikan di catatan facebook tersebut ditanggapi oleh salah seorang teman saya yang namanya tersebut di atas. Berikut balasannya.

asw…
sulung, aya baru lihat pesan yg sulung buat unuk aya dan sari di wall. aya taunya juga karna ada akhwt yg kebeulan lihat FB kemarin.
iya, lung sebenarnya aya juga pernah teringat waktu kita bertman waku smp dahulu, yg bua aya teringat adlah buku diary yg diberikan sari pada aya waku ultah ke -169 kita udah d sma),,yg bikin ingat kita bertiga adalah foto kita yg aya tempel di cover belakang diary itu…foto waktu kita baru selesai pagelaran yg main randai….
hehe agak lawak lo kiro e kalo ingek maso2 ingusan dulu tu.
masalah keluar wisma dan hilangx sulung dari peredara, sebenarx sempat menajdi tnadda tnya besar bagi aya, mgkn saja ada yg salah,,,entah dari sulungx atau abnag2x d wisma,,,tapia ya yakin sulung punya alasan yg shar’i…..
sedikit pun tidak pernah menghilangkan sulung ataupun teman2 lainnya dari ingaan,,,hnya saja tak terdenagr kabarx….
padahal ingin sekali bertemu semuax…
pokokx, Lung…di manapun berada, semoga semua teman2 kita berada dlm lindungan dam Hidayah AllahSWT…tak akan pernah terlupa, dan selalu menjadi sahabat.
semua tetap teringat sampai ditakdirkan untuk pikun atau sampai menutup mata…..
tapi yg penting, d manapun kita berada, doa adalah pengikat hati masing2 saudara yg kita berkumpul dan berppisah karena Nya…..
semangat, lung….
^_^
wassalam

Iklan

18 pemikiran pada “Surat-Surat Dari Masa Lalu

  1. d manapun kita berada, doa adalah pengikat hati masing2 saudara yg kita berkumpul dan berppisah karena Nya…..

    mengharukan banget……. aamiin ya Alloh. ah aku jadi rindu kawan2 lama… I LOVE THIS POST!

  2. sulung ngetiknya semangat bener, sampe banyak kata yang salah ketik.. hehe

    itulah ukhuwah yaa Lung, kalo kita membina atas dasar cinta kepada Allah, insya Allah ukhuwah tersebut akan bener2 melekat sampai ke dasar hati.. perubahan?? hmm, sahabat2 dhe juga banyak yang seperti sulung, mereka memilih untuk mundur.. kalo dhe mah, dhe lebih suka belajar sendiri, lebih suka untuk menentukan sendiri tidak karena alasan komunitas.. yang penting mah, shalat 5 waktu tidak pernah bolong dan terus berusaha untuk menjadi hamba yang lebih baik.. semangat yaaaa 🙂

    oya, template barunya segeeeeerr banget.. menggoda iman.. hehe

  3. kok ceritanya mirip bgt ya Lung.. kadang “orang2” itu pun juga suka mengomentari cara berpakaian dan sikap saya yang agak berbeda dengan mereka. hmmm.. tapi sungguh mereka baik bgt kok.. cuma g salah kan klo pakai jeans n lebih berbaur dengan orang? hmm

Biasakan Berkomentar Setelah Membaca, Ya.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s