Cerita Dari Lomba Debat


Dua hari lalu benar-benar hari yang melelahkan buat saya. Sampai-sampai tidak ada waktu buat BW kemana-mana.  Sebelumnya saya ditanyai oleh salah seorang adik kelas apakah saya bersedia untuk ikut lomba debat dengannya. Kemudian setelah pikir-pikir sesaat saya pun mengiakan ajakannya. Daripada g ada kerjaan, pikir saya. Jadilah saya ikut lomba tersebut pada hari Rabu dan Kamis lalu.

Lomba debat tersebut tepatnya merupakan Lomba Debat Berbahasa Indonesia Antarmahasiswa Sekota Padang. Lomba ini diadakan oleh Balai Bahasa Kota Padang dalam rangka memperingati bulan bahasa sekaligus dalam upaya meningkatkan kepedulian mahasiswa akan berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Tidak dipungkiri, saat ini kepedulian mahasiswa untuk berbahasa Indonesia yang baik dan benar semakin minim. Sekarang mahasiswa lebih suka menggunakan bahasa gaul dalam kehidupan sehari-hari. Tidak heran, mahasiswa merasa kesulitan ketika mereka harus menyusun sebuah karya tulis ilmiah.

Pada hari Rabu, berangkatlah saya beserta beberapa orang teman menuju tempat perlombaan. Di tempat perlombaan, peserta-peserta dari universitas lain pun sudah berdatangan. Total peserta yang mengikuti lomba tersebut adalah empat belas kelompok dengan tiga orang ditiap kelompoknya.

Saya sendiri awalnya sempat tidak yakin untuk ikut lomba karena minimnya persiapan. Namun  adik kelas tersebut meyakinkan saya bahwa kita setidaknya ikut lomba ini untuk mencoba mengetahui sejauh mana penguasaan kami akan bahasa Indonesia. Tiap peserta mendapat topik yang berbeda. Selain itu, peserta juga dibagi atas dua kelompok untuk tiap topik yakni kelompok pro dan kelompok kontra. Setelah diundi, ternyata kelompok kami mendapat bagian kelompok kontra.

Setelah berdebat akan topik yang ditentukan, saya pun kembali ke tempat duduk saya. Saya tidak terlalu memikirkan apakah saya akan lolos ke babak perempat final atau tidak. Yang penting saya sudah mencoba. Namun tidak disangka-sangka kelompok saya lolos ke babak perempat final. Keberuntungan pun berlanjut, esoknya kami lolos ke babak semi final dan lanjut ke babak final. Namun sayangnya, kami harus puas dengan tempat kedua. Saya akui, lawan saya di babak final lebih unggul dibandingkan kelompok kami.

Setelah mengabadikan kenangan bersama peserta yang lain dan dewan juri, kami pun beranjak pulang. Tidak lupa, di pinggir jalan kelompok saya langsung bagi-bagi jatah duit hasil kemenangan kami.  Kemudian kami pun memilih mengisi perut terlebih dahulu di rumah makan terdekat. Haha, benar-benar euforia kemenangan. Sampai sekarang, saya masih tidak percaya rasanya sebentar saja.

Ada beberapa hal yang saya pelajari dari lomba debat tersebut. Pertama, dalam sebuah kelompok, dibutuhkan kerja sama yang baik agar kelompok tersebut dapat melewati rintangan yang ada. Sewaktu lomba, tiap orang membantu temannya agar temannya tidak kesulitan saat menyatakan pendapatnya.

Dalam kelompok pun, harus ada manajemen konflik yang baik agar dalam kelompok tidak terjadi konflik yang dapat menjatuhkan kelompok. Dari apa yang saya alami, saya sendiri harus memotivasi adik-adik kelas yang satu kelompok dengan saya agar mereka tidak takut saat berbicara. Selain itu, saya juga mesti pandai-pandai memacu semangat adik-adik tersebut agar mereka tidak lemah mental saat berhadapan dengan lawan.

Kedua, berbicara dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar itu sulit. Sewaktu lomba, tiap peserta mesti menjaga lisan agar tidak sampai keceplosan berbicara dengan bahasa sehari-hari, seperti “bilang”, “nyebut”, dan lain-lain. Sewaktu menyampaikan pandangan pun, peserta mesti memilih diksi yang akan diucapkan jika ingin mendapat tambahan nilai. Tidak semua orang mampu melakukannya. Salah seorang juri mengatakan, “Jika ingin lihai dalam beretorika, biasakan membaca dan menulis!” Sebab, seseorang yang banyak membaca akan memiliki banyak kosakata dan diksi saat akan diucapkan. Selain itu, dengan sering berlatih menulis seseorang akan terbiasa sistematis dalam berbicara.

Ketiga, saya entah mengapa merasa sangat bahagia setiap sesi berbicara saya tiba. Tidak dapat saya pungkiri, ternyata saya begitu merindukan atmosfer kompetisi yang biasa saya temukan saat perkuliahan. Saya merindukan saat-saat berdebat, berdiskusi, dan memecahkan masalah. Saya begitu bersemangat saat lomba tersebut dan saya tidak terlalu memikirkan akan menang atau tidak. Saya benar-benar puas setelah lomba tersebut selesai.

Bagaimana dengan sahabat? Apakah pernah merasakan apa yang saya rasakan? Merindukan atmosfer kompetisi yang pernah sahabat alami saat kuliah dan tidak lagi sahabat rasakan saat ini? 

*           *           *

Catatan: Sumpah, tulisan di atas kok kayaknya baku banget ya? Kayaknya saya masih terbawa suasana lomba. 

Iklan

17 pemikiran pada “Cerita Dari Lomba Debat

  1. upidupid

    memang sekarang sudah sulit berbahasa indonesia yang baik dan benar.
    Segala jadi gaul,4l4y,disingkat2 kaga jelas (paling sebel,males bgt nulis 🙂 )
    pokoknya gitu deh..
    Sukses dah untuk abang Sulung,

  2. hyahaha baru saya mau berkata posting-an ini terasa agak baku #capeek

    fyuh ngomong baku tuh agak melelahkan 😛 saya malah pernah berantem gg ngomong sampe 2 bulan lebih sama temen dekat, soalnya saya menggunakan kata “saya” 😀

  3. kadang kangen masa2 kuliah. bukan pas kompetisi atau persaingannya sih, karena biasanya aku gak pernah masuk top 10, hehehe….

    ngomong2 soal berbahasa dengan baik dan benar, wah tau sendiri kan di blogku isinya campur2: bahasa Indonesia pasti sebagai dasar….boso jowo onok, bahasa inggris yes, boso bences juga ada cyiiiin! 😛

      1. kayaknya kalo aku harus menulis makalah atau anything formal, bakalan kesulitan deh. soalnya trakhir kali bikin paper atau tugas kuliah berbahasa Indonesia juga udah thn 2007-2008 pas kuliah Akta 4 😀

  4. Salam, Saya membenarkan kalimat juri di atas “Jika ingin lihai dalam beretorika, biasakan membaca dan menulis!” Beberapa pengalaman telah memberi bukti nyata, membaca dan nulis sangta erat dan saling berkaitan sobat. Keep reading and then writing ^_^

  5. Menurutku, sebenarnya nggak masalah koq kalau dalam kehidupan sehari-hari kita ngomong bukan pakai bahasa baku. Malah aneh kan kalo ketemu teman akrab dan tiba-tiba ngomong: “Bagaimanakah kabar Anda?” hahaha 😆 Hanya saja, memang bahasa baku tidak boleh dilupakan karena bahasa inilah yang harus digunakan ketika menulis sesuatu yang sifatnya formal 🙂 Masalahnya, orang-orang biasanya malas untuk membaca/menulis, akibatnya ketika waktunya harus menulis (dengan bahasa baku, karya ilmiah misalnya) jadi kelabakan deh 🙂

    Btw, tentang lomba debat. Kalau yang internasional, ada faktor lain yang dimasukkan: faktor intimidasi, hehe 🙂 Pernah dengar, orang Belanda rata-rata memanfaatkan fisiknya yang tinggi-tinggi (dibanding orang-orang Barat lainnya, orang Belanda rata-rata memang jauh lebih tinggi tuh perawakannya) untuk mengintimidasi lawan. Jadi kalau di debat internasional gitu, kontestan yang dipilih bisa jadi yang besar tinggi untuk ukuran Belanda (apalagi bagi lawan, bisa-bisa kayak berhadapan sama raksasa, hahaha 😆 ). Begitu katanya. Nggak tahu bener atau engga, cuma kenalanku yang orang Belanda ngomong gitu, hehe 🙂

  6. Selamat sudah menjadi pemenang. Dalam kompetisi apapun ada yang menang dan ada yang kalah,hal itu sudah biasa, tergantung bagaimana cara kita menyikapinya. Dilihat dari tulisan Anda, ada perasaan jenuh akan rutinitas sehari-hari. Kadang, memang kita perlu untuk bervariasi dalam hidup ini, agar hidup ini tidak membosankan. Sukse selalu untuk Anda.

  7. Ping-balik: Debat Pendidikan Karakter Tingkat Mahasiswa Se-Sumatera « Catatannya Sulung

  8. Ping-balik: 12 PR | Catatannya Sulung

Biasakan Berkomentar Setelah Membaca, Ya.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s