Ketika Jim Carrey Bangun Pagi-pagi

The world is a playground. You know that when you are a kid, but somewhere along the way everyone forgets it.” (Allison)

Masih ingat dengan masa yang terekam saat kita masih kecil? Saat-saat betapa dunia hanya untuk bermain dan bercanda. Momen yang berbilang pun hanya kita gunakan untuk mempelajari dunia ini. Ketika itu, dunia benar-benar seperti taman bermain. Gelak tawa senantiasa dari mulut kita, adakalanya tangis menjadi jeda. Tapi tangis tersebut kan segera tergantikan oleh tawa kembali. Namun ketika kita dewasa, tiba-tiba kita lupa akan hal tersebut. Kita disibukkan oleh rutinitas yang membuat jenuh. Kita mesti belajar menghadapi berbagai tipe manusia. Kemudian kita lupa, kita lupa bahwa hidup adalah seni. Seni menikmati hidup itu sendiri.

Begitu pula yang pernah dirasakan oleh Amel, sahabat saya dari Dunia Pagi. Sebuah dunia saat segala sesuatunya bermula. Di tulisan Amel yang ini, dia secara tersirat menceritakan kejenuhan yang ia rasakan. Keharusan menerima dengan lapang keputusan tempat ia ditempatkan membuat Amel mesti mengumpulkan remah-remah kenangan di hiruk-pikuk ibukota dan membawanya menuju sebuah tempat bernama Bau-bau. Sebuah tempat yang meski tak seramai ibukota, namun menawarkan keindahan yang memanjakan mata.

Ketika Amel ditempatkan di Bau-bau, mau tidak mau ia mesti meninggalkan teman-temannya dan segala hal yang ia sukai dari Jakarta. Saat itulah ia kembali mencoba beradaptasi. Ia tidak bisa seekspresif dan sespontan dulu. Bagaimanapun, setiap daerah mempunyai aturan tersendiri bukan? Hal itulah yang berusaha Amel pelajari. Meski dengan begitu, ia tidak bisa lagi teriak-teriak di malam hari. Atau sekedar mengalunkan nada cempreng pengobat hati. Amel pun beranjak jenuh. Jenuh dengan segala aktifitas yang ada dan mulai merasakan rindu yang memerih akan masa-masa saat ia kuliah dulu.

Berkaca dari Amel, kita pasti pernah mengalami hal yang sama. Saat kita berada di atmosfer yang membuat kita nyaman, kita seolah tidak menghargai guliran waktu. Kita menganggap waktu yang berlalu biasa saja, terlalu cepat malah. Namun ketika kita berada di suasana yang baru dan kita belum mampu beradaptasi dengannya. Mulailah kita merindukan masa-masa yang berlalu tersebut.

Mungkin Amel dan juga kita sendiri tentunya, bisa belajar dari kisah Carl Allen (Jim Carey) dalam film Yes Man. Carl merupakan seorang bankir yang jenuh dengan hidupnya. Tiap hari mengurus masalah permintaan kredit yang membosankan, pacar yang memutuskannya, serta atasan yang memuakkan, membuat Carl merasa seperti seekor siput yang berjalan di atas tebaran duri. Lambat, menjenuhkan,  dan membuat perih ketika mendapati nasib yang tidak berpihak padanya.

Hingga suatu hari ia mengikuti seminar pengembangan diri. Setiap peserta seminar diharuskan untuk mengatakan “Yes/Ya” akan permintaan setiap orang. Jika tidak, kesialan akan mengekor mereka. Maka Carl mencoba menerapkan kata tersebut. Awalnya, kesialanlah yang justru ia dapat. Seluruh uangnya diminta oleh tunawisma, baterai handphone-nya habis dipakai tunawisma sehingga ia tidak bisa menelepon bantuan ketika bensin mobilnya habis. Ia pun terpaksa berjalan kaki sambil merutuk untuk mencari bensin. Namun, justru karena bensinnya habis ia berkenalan dengan Allison di pom bensin.

Allison adalah gadis energik yang menjalani hidupnya dengan spontan. Allison mengubah pandangan Carl akan kehidupan. Carl pun berusaha keluar dari kotaknya selama ini. Mencoba segala hal yang tak pernah ia lakukan seperti les gitar, belajar mengemudikan pesawat, hingga belajar bahasa Korea. Ia pun berusaha mengiakan semua permintaan orang pada dirinya. Meskipun pernah juga Carl tersandung masalah gara-gara mengiakan segala sesuatunya, tetapi pada akhirnya bahagia kembali berpihak padanya.

Kembali ke kejenuhan akan kehidupan, mungkin kita bisa belajar dari kisah Carl di atas. Jika memang kita merasa hidup kita membosankan, maka itu berarti sudah saatnya kita keluar dari zona nyaman kita dan mencoba hal-hal yang tak pernah kita lakukan sebelumnya. Kita harus keluar dari kotak (out of the box) dan menarik napas sejenak akan rutinitas yang selama ini kita lakukan.

Kita mungkin harus menelepon kawan-kawan lama kembali dan menanyakan kabar mereka. Kita harus mencoba memikirkan kembali target-target dan pencapaian apakah yang pernah kita lewatkan karena kesibukan selama ini. Kita juga semestinya berusaha peduli akan kepentingan seseorang terhadap kita yang selama ini kita acuhkan. Tulislah kembali daftar hal-hal yang ingin sudah lama ingin kita lakukan namun kesempatan belum tersedia untuk mencobanya. Betapa banyak waktu yang terbuang karena kita terlena dengan pekerjaan kita sehingga kita tidak bisa menikmati hidup ini.

Begitulah, mungkin tidak ada salahnya kita mencoba resep dari film tersebut. Berkata “Ya!” akan tiap permintaan yang menghampiri kita, akan kesempatan yang diajukan kepada kita, akan tantangan yang menghadang di depan kita. Mari kembali menikmati hidup ini dan menjadikannya taman bermain kembali.

*          *          *

Tulisan ini diikutsertakan dalam Giveaway Suka-suka Dunia Pagi Kategori Kedua yang diadakan oleh Amel Tomel-tomel.

49 pemikiran pada “Ketika Jim Carrey Bangun Pagi-pagi

  1. Kocak tuh filmnya.. :lol: Selalu ketawa liat Jim Carrey even di film The Truman Show..
    Yes Man sempet buat gue berfikir kita bisa melakukan apa aja yang di tawarkan dunia, dan apapun yang kita lakukan gak pernah jadi sia-sia.. Kayak waktu si Carl belajar bahasa Korea, malah bantu dia komunikasi sama Mbak-mbak Korea di toko Wedding.. Dan karena dia belajar main gitar, dia bisa nyelametin seseorang yang mau bunuh diri.. meski absurdnya gak ketulungan.. :lol:

  2. Jadi ingat, aku sering baca review kalau film ini keren, tapi belum pernah nonton saya :oops: *gimanasih*, hahaha :D Nanti malam nonton ah nyari streaming-nya di internet! hahaha :)

    Btw, aku setuju. Kita harus berani keluar dari kotak, keluar dari zona nyaman; supaya hidup ini lebih berwarna dan menantang. Kita kan harus melihat dunia! hehehe :) Apalagi kalau masih muda, bener nggak? Kalau sudah lebih tua dan ada tanggungan, biasanya ini lebih ‘sulit’ dilakukan :) *sok tau saya*

  3. waow kayaknya film yg menarik dan wajib ditonton. unik ya, thru this movie we learn how to say YES to every request given by everybody.

    soalnya selama ini, yg aku tengah berusaha terapkan justru: begaimana cara berkata TIDAK dgn tegas namun halus (no need to do any white lie), terhadap request2 dari orang lain yang tidak sesuai dengan kemampuan (dan kemauan) diri ini
    :)

  4. Jadi inget salah satu bab dari buku 8 to be great, “keluar dari zona nyaman”..
    Selain menghilangkan kejenuhan, bisa juga untuk mengembangkan diri kita terhadap hal yang belum pernah kita temui sebelumnya :)

  5. Waaa ngontes ya… semoga menang…
    Aku udah pernah nonton Yes Man, tapi udah lali ceritanya. Yang kuinget cuma selalu bilang Yes. Baca reviewnya Mas Sulung baru ngeh, ternyata banyak yang bisa kita ambil dari film itu…

  6. Ada kata-kata yang menarik bagiku, jika kita ingin maju kita harus keluar dari zona nyaman. Benar banget itu, rasanya hidup ini jadi kurang greget kalau kita tidak berusaha keluar dari zona nyaman kita.

  7. wah iya aku juga suka film Yes Man. dari film itu kita juga belajar untuk bertanggungjawab pada diri sendiri untuk setiap keputusan yang kita lakukan. karena terkadang hal yang menyenangkan pun bisa berubah menjadi beban ketika kegiatan itu berbalik menguras antusiasme dan menuntut lebih dari yang kita harapkan. so, do different things…FOR YOU! so you’d know what is best for yourself. have a good life and happy blogging y’all! :D

  8. Biasakan Berkomentar Setelah Membaca, Ya.
    -
    Ya, ini saya komen ya…heheh…
    errr, sayangnya saya masih sering bilang tidak.. kayaknya mesti belajar banyak lagi seperti Carl ;D

Biasakan Berkomentar Setelah Membaca, Ya.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s