Book VS E-Book

Zaman semakin canggih. Jika dulu kita hanya bisa menikmati bacaan hanya dari selembar kertas, maka saat ini sudah ada yang namanya e-book. E-book merupakan sebuah buku yang dibuat dalam format elektronik. Format file untuk e-book yang umum adalah PDF (Portable Document File) yang dapat dibaca dengan software seperti Adobe Acrobat Reader dan masih ada format-format lain untuk e-book. Banyak keuntungan e-book dibandingkan buku biasa, seperti:

  1. Kita dapat menggunakan fasilitas pencarian untuk mencari kata-kata di dalam e-book
  2. Tidak memerlukan tempat penyimpanan seperti rak/lemari
  3. Tulisan dapat diperbesar bagi yang susah membaca tulisan-tulisan kecil
  4. Dengan software tertentu, kita dapat mendengar isi e-book tanpa perlu membacanya
  5. Lebih murah dan mendukung mencegah Global Warming

Saat ini sudah banyak alat yang dapat kita gunakan untuk membaca e-book tersebut, selain melalui komputer, pc tablet, ipad, bahkan handphone, e-book juga dapat dibaca menggunakan e-book reader. Ada berbagai merek e-book reader yang telah diciptakan, contohnya saja Amazon Kindle, Sony’s Reader, Barnes, dan Nooble’s Nook

Saya sendiri entah mengapa tidak terlalu menyambut positif dengan diciptakannya e-book reader ataupun alat untuk membaca e-book lainnya. Memang, jika memiliki e-book reader saya bisa memuaskan hasrat membaca saya yang begitu besar karena e-book reader memungkinkan saya untuk menyimpan bacaan sebanyak yang saya suka. Tapi entah mengapa, saya merasa ada sensasi tersendiri saat membaca sebuah buku dari kertas.

Saya begitu menyukai bunyi halus gesekan kertas saat membalik helai demi helai halaman buku. Saya suka menghirup aroma yang menguar dari sebuah buku. Saya pun lebih suka memegang erat sebuah buku layaknya menggenggam tangan seorang kekasih hati. Saya memuja huruf-huruf yang tercetak jelas di atas tiap lembaran kertas. Memandangi guliran kalimat di atas sebuah buku ibarat memainkan mata dengan seseorang yang saya puja. Semakin tua sebuah buku, semakin antik pula lah buku tersebut, dan semakin besar misteri yang disimpannya.

Begitulah, saya bukannya seseorang yang antiteknologi. Hanya saja saya lebih menyukai sebuah buku yang terdiri dari lembaran kertas dibanding sebuah buku yang terpampang di sebuah layar datar. Saya tidak memungkiri jika ada yang mengatakan semakin banyak sebuah buku dicetak, semakin banyak pula pohon yang ditebang sebagai bahan bakunya. Dan hal ini berarti bumi semakin gundul. Namun, bukankah saat ini sudah semakin banyak kertas yang dibuat dari bahan dasar daur ulang? Semaju apapun teknologi ke depannya, tak akan menggantikan kecintaan saya akan sebuah buku yang terdiri dari lembaran-lembaran kertas.

Bagaimana dengan sahabat? Lebih menyukai buku digital atau buku yang tercetak di atas kertas?

Catatan:

Dengan ini saya, Sulung Lahitani Mardinata resmi mengubah nama Blog dari Dunia Jungkir Balik menjadi Catatannya Sulung. Tidak ada maksud apa-apa, agar mudah ditemukan di mesin pencari saja.

Bagi sahabat yang terlanjur membuat link saya dengan nama Dunia Jungkir Balik, mohon bantuannya untuk mengubahnya menjadi Catatannya Sulung. Maaf merepotkan, terima kasih. 

45 pemikiran pada “Book VS E-Book

  1. Bingung……=Dº°˚нåнåнå˚°º=))нå˚°º=D =Dº°˚нåнåнå˚°º=))нå˚°º=D =Dº°˚нåнåнå˚°º=))нå˚°º=D
    (*)º°˚•=D=))•˚°º(*)=D=))(*)º°˚•=D=))•˚°º(*)
    ǻđцћ.. ãмρέ.. àτіτ.. ρέчύτŋỳã
    =))‎​‎​=D ◦нă(*)☺(*)нăă(*)☺(*)нăă ◦ =D=))
    (*)º°˚•=D=))•˚°º(*)=D=))(*)º°˚•=D=))•˚°º(*)
    السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

  2. tapi masih suka buku dalam bentuk asli..
    baca ebook bikin puyeng, ga bisa guling2.. terus kalah portable..
    lagian bolak-balik halamannya lebih nikmat daripada sekedar klik/scroll

  3. Aku udah gak pernah lagi membaca novel atau tulisan fiksi. Sehari-hari yg dibaca ya blognya teman-teman aja🙂 punya sih banyak koleksi ebook, berupa novel dan naskah drama klasik yang dulu pernah dikenal saat masih kuliah di Sastra Inggris. Tapi cuma sekedar download aja. Mau dibaca kok males…….

  4. Kalau saya sih jujur gak begitu enak baca ebook.
    soalnya mata ini cepat lelah memandangi layar laptop.
    beda dengan buku biasa yang terbuat dari kertas.sudah menjadi makanan kita sehari-hari jadi gak bosan😀

  5. Aku juga kurang suka membaca dengan format e-book. Nggak enjoyable gitu deh rasanya, hehehe🙂 Mungkin karena aku bacanya pake laptop/PC ya, nggak tahu deh kalau pakai media lain (hp/iPad/dll) gimana, hmmm.

    Cuma kadang terpaksa juga sih baca e-book. Soalnya untuk buku-buku cetak yang dipakai di perkuliahan disini, harganya mahal banget loh!! Karena pelit, ya udah baca bukunya pakai format pdf-nya aja, hahaha😆 Toh, bener tuh, keunggulannya adalah kadang kita bisa memakai fitur “find” untuk mencari bagian yang kita inginkan

  6. Saya juga leboh suka buku dari kertas.

    Punya banyak ebook tapi malah males baca. Hehehe.. Mending Beli buku ajah. Semoga ada solusi lain untuk mengatasi penebangan akibat pembuatan kertas.😀

  7. Anonim

    nice posting bang…
    salam kenal… ne sri… anak PPIPM.

    saya juga setuju dengan bang sulung…

    hematnya e-book sih bisa mengurangi dampak global warming… tapi kitanya malah suka kalau membaca langsung dari buku.

  8. febriani

    nice posting bang…
    salam kenal… ne sri… anak PPIPM.

    saya juga setuju dengan bang sulung…

    hematnya e-book sih bisa mengurangi dampak global warming… tapi kitanya malah suka kalau membaca langsung dari buku.

  9. hmmm kalo masalah sukanya sih saya lebih suka buku biasa dari kertas
    tapi berhubung lebih gampang didapat dan lebih murah *alasan anak kosan* sekarang jadi lbih sering baca ebook

  10. Setuju. Buku memang tidak tergantikan. Untuk buku kuliah, e-book boleh. Tapi untuk buku bacaan yang dinikmati, saya tidak bisa menerima e-book. Membiarkan mata lama di depan monitor itu melelahkan. Dan ya… saya suka aroma buku.

  11. Saya setuju dengan mas Lambertus Hermawan… e-book itu ndak enak di baca lama2 di depan laptop.. nah makanya saya dan tmn2 kuliah klo e-book nya itu bagus dan menunjang materi kuliah biasanya kita cetak.. setebal apapun itu,, hee..

    1. Kalau tidak ada yang membaca buku, perpustakaan jadi sepi dong. Aku sih lebih suka membaca buku. Alasannya kalau di depan komputer terlalu lama aku jadi ngantuk.

  12. wah, namun menurut saya perkembangan buku terlalu pesat. coba bayangkan, jika menebang 1 hektar hutan untuk membuat beribu eksemplar misalkan, apakah berbanding dengan waktu untuk menanam pohon serta membuat hutan yang gundul 1hektar tersebut?
    kan, tidak semua jasa penerbitan memakai kertas daur ulang?😀
    jadi, menurut saya ebook reader sangat berguna…kalau alasan memakai buku lebih nikmat karena bunyi kertas saat kita membalik halaman, itu sepertinya tidak lantas membuat ebook jadi sesuatu yang tidak patut dicoba😀

Biasakan Berkomentar Setelah Membaca, Ya.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s