Sister

sister

Yuki turun dari angkot dengan perasaan sedikit kesal. Hari ini ia lagi-lagi terlambat pulang. Semua gara-gara Bu Dian yang memberikan hukuman kepadanya, padahal ia hanya ngobrol sebentar dengan Ami.

“Ah, Bu Dian sepertinya memang ga suka sama Yuki. Dari dulu ngasih hukuman mulu. Udah tahu Yuki ga suka pelajaran fisika. Wajar dong kalau Yuki ngajak Ami ngobrol daripada tidur di kelas kaya Fajar.”

Yuki bersungut-sungut sambil membetulkan letak tasnya yang agak merosot. Di usianya yang masih belia, Yuki dapat dikategorikan cantik. Rambutnya kecokelatan, memanjang hingga tengah punggung. Belum lagi lesung pipi yang menyembul malu-malu jika dia tersenyum, membuat banyak teman prianya mengantri menyatakan cinta. Tapi Yuki memilih tidak pacaran. Larangan dari ibu untuk pacaran harus dipatuhi. Apa yang dikatakan ibu berarti hukum di rumah. Ayah saja tidak berkutik.

Yuki baru saja akan melewati taman kompleks yang kelam ketika dirinya mendengar sayup-sayup tangisan anak kecil. Ia memutar pandangan ke sekeliling. Di pojokan dekat selokan, tampak sesosok tubuh mungil jongkok sambil menutup mukanya. Dia kah yang menangis, batin Yuki.

“Ade kenapa? Kok nangis? Malam-malam gini ga dicari orang tuanya?”

Yuki mendekati anak kecil tersebut. Dari keremangan lampu taman, tampak sosok tersebut. Bertopi merah kusam dan bercelana pendek. Kaosnya agak kumuh, sementara dari tasnya tampak sebuah benda menyembul berkilat.

“Huhuhuhu. Huhuhuhu. “ Anak tersebut tidak juga berhenti menangis, membuat Yuki menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

“Kakakku meninggal, Kak. Tidak ada yang mau bermain denganku lagi sejak kakakku meninggal. Hanya kakakku lah temanku satu-satunya.”

Dari sela-sela isak tangis anak tersebut, Yuki bisa mendengar keluhannya. Iba melanda Yuki. Haruskah ia ajak anak tersebut bermain sebentar? Yuki melirik jam tangannya. 18. 45 WIB. Sepertinya ibu tak akan marah jika dirinya pulang terlambat lagi. Toh ibu pun sering tidak mempedulikan kehadirannya di rumah. Hanya Kak Ayi-lah yang jadi pusat perhatiannya.

“Adek mau maen dengan kakak? Yuk, kita main di taman itu? Tapi adek jangan nangis lagi, ya?”

Anak tersebut menghentikan tangisnya dan menurunkan tangan yang menutup muka. Wajahnya terlihat pucat. Mungkin kehilangan kakaknya benar-benar memukulnya,  pikir Yuki.

“Benar kakak mau main denganku?”

“Iya. Namamu siapa?” tanya Yuki.

“Ego, Kak. Namaku Ego,” jawabnya sambil mengangsurkan tangan. Yuki menyambut uluran tangan Ego. Dingin. Jadilah malam itu Yuki menemani Ego bermain di taman hingga hapenya berdering, menandakan Ayah sudah rusuh menyuruhnya pulang.

*            *            *

Terlambat pulang lagi. Senja sudah menggayuti langit ketika Yuki tiba di taman kompleks. Sepertinya Bu Dian benar-benar tidak suka dengannya. Ia baru saja akan berbelok ketika melihat Ego di atas ayunan. Sendirian berayun sambil memandangi langit. Sepertinya Ego sama seperti dirinya, diacuhkan oleh keluarga. Yuki mendekati Ego yang masih bengong.

“Ego?”

“Eh, Kakak. Baru pulang?”

“Iya. Kamu ngapain sendirian di sini? Orang tuamu  ga marah?”

“Ga, Kak. Mereka tidak pernah peduli dengan Ego. Makanya Ego suka kangen dengan kakak Ego.” Ternyata benar dugannya. “Kakak sendiri kok mukanya kusut?”

Ah, bahkan bocah sekecil Ego pun bisa membaca gurat masam di wajahnya.

“Kakak kesal dengan guru kakak. Namanya Bu Dian. Dia selalu menghukum kakak tiap pelajarannya selesai. Makanya kakak sering pulang malam.” Yuki ikut mengayunkan badannya. Menikmati alunan ayunan seiring badannya yang condong ke depan dan ke belakang.

“Kalau Bu Dian ga ada, pasti kakak senang ya?” Ego menoleh ke arah Yuki. Senyum tipis di wajah putihnya. Terlihat pendar yang agak aneh dari matanya.

“Iya, sih. Kan jadinya kakak ga usah dapat hukuman lagi.” Yuki baru saja akan melanjutkan perkataannya ketika ponselnya menjerit. Ibu? Tumben ibu menyuruhnya lekas pulang?

“Ego, kakak pulang dulu ya? Kamu tak apa-apa sendirian di sini?”

“Ga apa-apa kok, Kak. Rumah Ego tidak jauh dari sini. Nanti Ego bisa pulang sendiri, kok. Makasih ya kak sudah mau temanin Ego bermain.”

Yuki mengangguk agak tergesa. Ibu yang marah lebih mengkhawatirkan dirinya dibanding sikap Ego yang agak aneh tadi.

*            *            *

Sepuluh menit. Sudah sepuluh menit berlalu sejak jam pelajaran Bu Dian dimulai. Namun batang hidung Bu Dian belum juga tampak. Yuki melirik ke arah pintu kelas.

“Tumben nenek sihir itu belum datang. Padahal biasanya dia lebih dulu masuk dibanding siswanya sendiri.”

“DOR! Hayo, nenek sihir siapa? Kamu ngomongin Bu Dian, ya?” Ami sahabat dekatnya mengacaukan lamunannya. Ia memang begitu, suka usil. Ami mengambil tempat duduk di dekat Yuki.

“Kamu tahu ga kenapa Bu Dian ga masuk hari ini?” Muka Ami tiba-tiba serius.

“Kenapa emangnya? Kucingnya sakit lagi? Heran, sama kucing suka iba. Tapi sama muridnya sendiri tegaan.”

“Bukaaan. Kamu ga baca koran tadi pagi, apa? Bu Dian ditemukan tewas tadi pagi sehabis lari pagi!”

Mata Yuki melotot tidak percaya. “Ah, yang bener?”

“Beneran. Bu Dian ditemukan tewas dengan kepala yang digorok di dekat bak sampah depan rumahnya. Kepalanya hilang dan sampai sekarang pembunuhnya belum ditemukan.”

“Ih. Gila serem banget?”

Yuki baru saja akan melanjutkan obrolannya ketika Ardi masuk kelas. Sesaat dirinya terdiam. Ah, andai saja ibunya tidak melarangnya pacaran. Mungkin ia akan menerima permintaan Ardi untuk jadi pacarnya. Sejujurnya Yuki pun suka pada Ardi. Sosok tinggi tegap dengan kulit agak kecokelatan itu sering membuat dirinya terpesona jika sudah beraksi di lapangan basket. Sayang, ia terpaksa menolak permintaan Ardi.

“Hei, kamu denger omonganku ga?” Ami melambaikan tangannya di depan wajah Yuki. Sosok Ardi segera tertutupi badan Ami.

“Iya, denger! Eh, kita ke kantin aja yuk? Mumpung jam pelajaran kosong?” Yuki pun menggaet lengan Ami ke luar kelas. Tak tampak olehnya wajah Ami yang bersemu saat didadahi Ardi.

*            *            *

 Yuki melangkah ringan menuju perpustakaan. Di pelukannya, buku-buku tebal yang ia pinjam kemarin harus dikembalikan hari ini. Saat melewati taman belakang, ia mendengar suara tawa renyah. Tawa yang sering mempesona hatinya. Tapi anehnya, suara tawa tersebut ditingkahi tawa yang lain. Tawa yang tidak asing baginya. Ia melongok ke balik rerimbunan pohon. Di bawah pohon akasia, tampak Ami dan Ardi asyik membaca sebuah komik sambil sesekali terbahak akan cerita di dalam komik. Sesekali, tangan Ardi menepikan rambut Ami yang menutupi komik. Ardi memang membaca komik dari balik badan Ami. Keasyikan mereka membuat mereka tidak sadar akan kehadiran Yuki.

Yuki merasa seolah disiram air panas. Matanya pedih, ada setetes air bergulir dari mata beningnya. Yuki pun bergegas pergi. Ia berlari kecil sambil menghapus rinai yang jatuh dari sudut mata. Ia tidak menyangka sahabatnya sendiri tega berbuat jahat kepadanya. Padahal Ami pasti tahu kalau Yuki juga suka sama Ardi. Tak dipedulikannya lagi buku-buku yang jatuh entah dimana.

“HAH!?” Ketika berbelok, Yuki dikejutkan dengan sosok Ego keluar dari kelas kosong yang sudah lama tidak dipakai.

“Ego, ngapain kamu disini? Ini kan sekolah buat anak SMA? Bagaimana kamu bisa masuk?”

Yuki segera menghapus air matanya. Ia tidak mau tampak cengeng di hadapan Ego. Ia berjongkok, menyentuh bahu Ego lembut. Seperti biasa, Ego menyandang tas yang entah apa isinya. Bau anyir menguar dari tubuh Ego.

“Kakak kok nangis?” Ego tidak menjawab pertanyaan Yuki, malahan menyentuh pipi Yuki yang basah. “Kakak marah sama teman kakak, ya?”

“I, iya. Kok kamu tahu?” Ia heran. Bagaimana anak ini bisa tahu? Apakah Ego memergokinya yang sedang mengamati Ami dan Ardi?

“Kalau temen kakak tidak ada, kakak mau berhenti nangis?”

Lagi-lagi Ego tersenyum tipis. Senyum yang entah mengapa tampak agak menyeramkan bagi Yuki. Ketika Yuki akan menjawab, bel berbunyi keras. Menyadarkannya bahwa sudah waktunya ia masuk kelas.

“Aduh, Ego. Maafin kakak, ya. Kakak harus masuk kelas. Kamu gimana?”

“Ego masih mau main. Kakak masuk saja. Ego bisa sendiri, kok.”

Yuki tersenyum dan segera bangkit. Ia mesti secepatnya kembali ke kelas. Berikutnya mata pelajaran Kimia. Pak Maswar si raksasa tak ada bedanya dengan Bu Dian, tanpa ampun bagi siswa yang terlambat.

*            *            *

Yuki baru saja menghenyakkan pantatnya di kursi ketika wali kelasnya masuk.

“Anak-anak, hari ini kita akan menjenguk Ardi di rumah sakit. Kemudian kita sama-sama pergi ke rumah Ami untuk melayat. Jadi segera kemaskan peralatan kalian. Hari ini pelajaran ditiadakan.”

Hah? Ardi masuk rumah sakit? Lantas, siapa yang meninggal di rumah Ami?

Nita, kawan sebangku Yuki membaca wajah herannya. Tanpa diminta, ia menjelaskan apa yang ia ketahui.

“Kamu belum tahu, Ki? Kemarin sore, Ami digorok seseorang di dekat pohon Akasia. Yang lebih sadis, si pembunuh menggorok leher Ami persis di hadapan Ardi. Ardi yang melihat kejadian tersebut syok dan masuk rumah sakit. Dan sampai sekarang, kepala Ami belum juga ditemukan”

 Yuki melongo. Bagaimana mungkin? Bukankah kemarin ia baru saja memergoki Ami dan Ardi berduaan di sana? Apa ini semua ada hubungannya dengan Ego? Tapi masa anak sekecil itu bisa membunuh orang yang dua kali lebih besar dari badannya? Semua dugaan tersebut membuat Yuki pusing. Ia memilih mengikuti teman-temannya yang lain.

*            *            *

“YUKI, DARI MANA SAJA KAMU? JAM SEGINI BARU PULANG!?” Ibu berkacak pinggang di depan pintu saat Yuki pulang. Yuki yang terkejut tidak tahu harus menjawab apa.

“JAWAB! KAMU KELUYURAN KEMANA SAJA? CAPEK-CAPEK AYAH DAN IBU MENYEKOLAHKAN, TAPI KAMU CUMA BISANYA MAIIN SAJA! COBA TIRU KAKAK KAMU. DIA SELALU MENJADI JUARA KELAS!”

Yuki bergeming. Baginya, menjawab ataupun tidak sama saja. Ibu tetap akan marah-marah hingga ia beranjak ke kamar sambil membandingkan dirinya dengan Ayi. Setelah ibu puas memarahinya, Yuki masuk ke dalam kamar. Marah, sedih, muak, campur aduk di dalam benak Yuki. Dia paling tidak suka dibanding-bandingkan. Yuki mengambil bantal dan melemparnya ke arah jendela.

“ARGGHHH!!!!”

Yuki berteriak keras, berharap bisa sedikit meringankan amarahnya. Namun tidak berhasil. Saat menoleh ke arah luar, ia melihat Ego duduk di pagar.

“Kakak tidak suka dengan ibu kakak, ya? Kalau ibu kakak tidak ada, apakah kakak senang?”

Ego tersenyum sambil menatap Yuki yang tercenung di atas kasur. Saat angin mengibarkan gorden, tiba-tiba saja Ego sudah menghilang. Yuki segera berlari ke arah Ego duduk tadi.

Bagaimana mungkin? Ini kan balkon di lantai dua? Bagaimana cara Ego naik dan turun secepat itu?

Darah Yuki mendesir kencang. Semakin kuat dugaannya ada yang tidak beres dengan diri Ego.

*            *            *

Capai memikirkan masalah Ego membuat Yuki tertidur. Ia mungkin masih nyenyak tidur jika Ayi tidak membangunkannya. Ayi mengguncang-guncang badan Yuki hingga dirinya terbangun.

“Ki, Yuki. Bangun!”

Yuki mengucek-ucek matanya. Berusaha duduk sambil mengumpulkan kesadarannya yang belum kembali sepenuhnya. Ayi tidak menunggu lama.

“Ki, Ibu tadi bilang ke kamu ga dia pergi kemana?”

“Ga, memangnya kenapa?”

“Ibu belum juga pulang. Padahal dia tadi cuma mau beli korek api sebentar. Sekarang sudah jam 11, ayah jadi cemas. Yuk, kita sama-sama cari di luar.”

Yuki heran. Apa lagi-lagi ada hubungannya dengan Ego?

*            *            *

Semalaman mencari ibu, namun tidak juga ketemu. Akhirnya ayah memutuskan lapor ke polisi. Hari ini Yuki pulang agak larut lagi. Saat akan melewati taman, ia ragu. Ia memutuskan berbelok.

“Kakak kenapa belok? Kakak tidak mau main sama Ego lagi?”

Yuki pucat, ternyata Ego memergokinya akan memutar arah dari balik tiang listrik.

“Kakak tidak suka ya dengan Ego? Baiklah, Ego tidak akan memaksa kakak. Tapi maukah kakak ke rumah Ego? Hari ini ulang tahun Ego. Ego janji tidak akan mengajak kakak bermain lagi setelah ini.”

Yuki tidak tahu harus berkata apa. Ia hanya mengangguk pelan dan mengikuti arah Ego.

“Janji, ya?” tanya Yuki.

Ego berhenti dan menjawab tanpa menoleh, “Janji.”

Yuki mengikuti Ego yang berjalan di depannya. Lama kelamaan, arahnya semakin menuju rumah kosong di ujung kompleks. Aneh, masa Ego tinggal di sana? Tapi ia tetap mengikuti langkah Ego.

Sesampainya di dalam rumah, Ego mengajaknya masuk. Di meja makan yang gelap, tampak tiga sosok bayangan duduk manis. Yuki memilih duduk di seberang mereka.

“Tunggu sebentar ya, kak. Ego mau ambil lilin dulu.”

Yuki mengangguk sementara Ego pergi ke ruangan sebelah. Yuki mengamati rumah tersebut. Setahunya, tidak ada keluarga yang tinggal di rumah ini. Lalu sejak kapan Ego dan keluarganya tinggal di sini? Lagipula, kenapa anggota keluarga Ego begitu sombong? Dari tadi mereka hanya duduk diam tanpa suara. Yuki masih mengamati bayangan-bayangan di depannya ketika Ego kembali sambil membawa lilin.

“Maaf ya, kak. Kelamaan. Perkenalkan, ini keluarga Ego.”

Cahaya dari lilin Ego menerangi ruang makan dan sosok-sosok di depan Yuki. Saat melihat apa yang ada di hadapannya, kontan Yuki terpekik.

“KYAAAAAA!!!!”

Sosok-sosok dihadapannya ternyata kepala manusia bertubuh boneka. Yuki mengenali kepala-kepala tersebut. Yang bertubuh kelinci, kepalanya milik Bu Dian. Boneka dengan tubuh zebra, kepalanya milik Ami. Sedangkan boneka dengan badan kucing, kepalanya milik ibunya sendiri.Yuki berdiri dan berlari ke luar. Di belakangnya tampak Ego mengejarnya.

“Ternyata memang Ego yang membunuh mereka semua!”

Yuki kalut. Ia merasa ketakutan dengan Ego yang dikenalnya secara tak sengaja di taman kompleks. Tak jauh di belakang, Ego masih mengejar sambil berteriak.

“Kakak kenapa? Kakak takut dengan Ego? Kakak lari dari Ego? Kakak tidak mau bermain lagi dengan Ego?”

Yuki semakin kencang berlari. Namun karena ia berlari sambil melihat ke belakang, ia tidak melihat gundukan di depannya. Yuki terjatuh tepat di sebuah gang buntu. Kakinya terkilir dan berdarah. Tanpa ia sadari, Ego sudah berada di depannya.

“Kalau kakak tidak mau lagi bermain dengan Ego, kakak akan bernasib sama dengan orang-orang yang kakak benci.” Ego mengeluarkan sebuah benda berkilat dari dalam tasnya. Sebilah pisau berkarat dengan darah mengering di pinggirnya.

“Kakak masih mau bermain dengan Ego, kan?”

“TIDAAAKK!!!” Yuki berteriak kencang. Gelap.

*            *            *

Nita asyik berjalan sambil membaca koran di tangannya. Berita yang tertulis di koran tersebut, membuatnya merinding.

“Seorang siswi kembali ditemukan tewas dengan kepala terpenggal. Saat ini polisi masih mengejar pelaku pembunuhan tersebut. Sementara kepala korban, sampai sekarang ini belum juga ditemukan.”

Nita nyaris terjungkal saat mendengar suara tangisan anak kecil. Ia segera menurunkan korannya. Seorang anak kecil tampak menangis di pojokan taman. Ia mendekati anak tersebut.

“Ade kenapa? Kok nangis? Malam-malam gini ga dicari orang tuanya?” tanya Nita.

“Huhuhuhu. Huhuhuhu. Kakakku meninggal, Kak. Tidak ada yang mau bermain denganku lagi sejak kakakku meninggal. Hanya kakakku lah temanku satu-satunya.”

*            *            *

Catatan:

Iseng nulis cerpen misteri, jadinya malah amburadul kaya di atas. Hag hag hag. Maaf kalau sahabat tidak suka.

Oh, ya. Berhubung Zilko nanya Ego itu sebenarnya anak kecil yang sadis atau hantu, sebenarnya Ego bukan kedua-duanya. Ego sebenarnya merupakan manisfestasi dari ego manusia. Jadi kesannya absurd gitu deh cerpennya (Jiah, sok berfilsafat saya-nya).

45 pemikiran pada “Sister

  1. Baca cerita ini jam 3 pagi, lampu kamar masih mati. Pas deh, hahaha. Eh somehow jadi teringat komik-komik Jepang deh cerita spt ini. Andai dibikin komik, pasti serem abis deh😛

  2. Sama kayak Bu Guru Ndutyke, baca posting ini niatnya sebagai bacaan sebelum tidur (nyaris tengah malam disini sekarang) eh koq cerita horor, gyaaaaaa…..

    Amburadul? Ah, ceritanya bagus koq Lung menurutku🙂 Cuma memang kurang jelas Ego tuh sebenarnya anak kecil sadis atau hantu sih? hehehe🙂

          1. lha, itu udah dijelasin di bagian akhir mbak.
            bahwasanya Ego itu bukan setan atau anak kecil psikopat.
            dia sebenarnya manifestasi ego manusia itu sendiri.
            jadi kaya absurd gitu .
            hohoho
            (sok berfilsafat sayanya)

  3. wah.. keren keren..😀

    tapi sebenernya masih bisa lebih bagus loh, kalo diperdetail..

    terutama pas adegan kematian orang-orang di sekitar yuki. saya kok ngerasa feelnya masih kurang dapet. tanggapan orang-orangnya terlalu dingin, padahal ada guru yang meninggal…

    hehehe, sori ya sok tau saya😛

  4. Ely Meyer

    untung aku bacanya pagi hari di sini kalo malam .. serem, soalnya pasti langsung membayangkan apalagi yg saat membayangkan jadi Ami yg digorok terus kepalanya blom ditemukan, aduh … sereeeeeeeemmmm
    nggak berani nerusin membaca krn terusannya pasti lebih seremmmmmmmm

  5. kalo yang saya tanggap, justru si Ego itu adalah alter ego dari Yuki sendiri..sosok yang dia ciptakan..seorang bipolar dengan sisi psikopat yang tersembunyi,.Yuki adalah sosok yang lemah, sedangkan Ego adalah yang kuat,,,pada akhirnya, ternyata, pembunuhnya adalah dirinya sen…*oops, kok jadi ngelantur*

  6. Oalah ternyata sudah ada keterangan tambahannya toh diakhir postingan, hehehehe. Baiklah…..

    *tetep gak ngerti but thats fine. Seremnya msh kerasa di kali ketiga aku membaca cerita ini*

  7. Eits…keren lho Lung, walopun bisa tertebak pelakunya Ego, tapi nilai filosofisnya bagus *jempol*.

    Btw, gambarnya aseli sereeem, takut aku, mana suamiku blm pulang pula, tidaaaaak *lebay dot com*

  8. aduh buseeeet aku bacanya malem2 gini, merinding juga :O
    wah berarti bener tebakanku😀 ego yang dimaksud ini ego sifat manusia😀 jangan2 sebenarnya si Yuki inilah pembunuh semua orang, jadi dia berkepribadian ganda gitu, ego ini cuma khayalannya semata😛

  9. based on ur story😀 …. lung.. mau tanya menyembul itu bukannya keluar yaa..? ada ya lesung pipit nongolnya keluar ? bukannya lesung pipit itu masuk kedalam -_-” (wkkwkwk pertanyaan tak penting) cuma penasaran aja siy.. apa saya nya yg salah arti kata menyembul atau gmna gitu ? mohon penjelasan pak guru😛

    anyway. cerpen mu bagus🙂
    misteri… hmm sampai sekarang diriku belum berani bikin cerita yg berbau mistis, entah knpa setiap kali nyoba, blm apa2 udh merinding duluan ~.~

  10. Ping-balik: Kaya yuki | Bioya

  11. Ping-balik: Catatannya Sulung « L.A.M.B.E.R.T.O.E.S

Biasakan Berkomentar Setelah Membaca, Ya.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s