Debat Pendidikan Karakter Tingkat Mahasiswa Se-Sumatera

Menatap kalender usang, tak terasa guliran waktu telah tercabik.

Inilah akhir yang mengawali

November
Image by ne!l chen via Flickr

Apa kabar, sahabat? Semoga senantiasa bersemangat dalam menjalani aktifitasnya sehari-hari. Wah, ga kerasa udah tanggal tiga puluh aja ya? Sudah diakhir November dan esok Desember pun menjelang. Kemudian tanpa disangka-sangka kita sudah harus bertemu dengan tahun yang baru. Betapa waktu cepat bergulir.

Oh, ya. Hari ini saya lumayan bersemangat juga, soalnya dua hari kemarin saya gunakan buat istirahat setelah minggu sebelumnya bersibuk-sibuk ria. Oleh karena kesibukan itulah saya baru sempat membuka catatan kembali dan membalas tegur sapa sahabat sekalian.😦 Hm, minggu kemarin bisa dibilang minggu yang melelahkan dan sekaligus menantang bagi saya. Kenapa? Sip, saya akan menceritakan pengalaman saya kepada sahabat sekalian.

Di tulisan yang ini, saya sudah pernah bercerita kalau saya ikut Lomba Debat Antarmahasiswa Se-Kota Padang dan alhamdulillah meraih juara pertama. Nah, kemudian pada tanggal 21 lalu saya ditelepon oleh salah seorang dosen untuk mengikuti tes. Terang saya terkejut. Tes apa, pikir saya waktu itu. Kemudian dijelaskan kalau saya akan berkumpul bersama teman-teman dari jurusan lain dan dites untuk ikut Lomba Debat Pendidikan Karakter Tingkat Mahasiswa Sesumatera.

Singkat cerita, saya pun memenuhi panggilan tersebut. Sewaktu bertemu dengan teman-teman dari fakultas lain, ada sedikit cerita lucu. Nah dari sebelas orang yang ikut seleksi, ternyata sayalah yang paling tua (angkatan 2007) namun saya juga yang dikira paling kecil. Walah, mungkin karena postur tubuh saya yang imut lagi menggemaskan ini kali ya? #DilemparGayung

Kemudian setelah dites, akhirnya terpilih enam orang yang dibagi menjadi dua grup. Saya masuk grup UNP B bersama teman dari Fakultas Ilmu Pendidikan dan Fakultas Ilmu Sosial. Sedangkan UNP A terdiri dari dua orang dari FMIPA serta satu orang cewek dari Fakultas Ilmu Pendidikan. Awalnya, kami hanyalah tim cadangan dan UNP A-lah yang diprioritaskan untuk menang. Peserta lainnya berasal dari universitas-universitas se-sumatera, seperti; Univ. Riau, Univ Bengkulu, Univ Malikul Saleh, dan lain-lain.

Ketika lomba dimulai, di babak penyisihan UNP A gugur melawan UNAND. Sedangkan kelompok saya, alhamdulillah lanjut ke babak perempat final. Saat di babak perempat final, kami harus dua kali tanding melawan UNAND serta UNRI. Syukurlah Tuhan masih mengizinkan langkah kami berlanjut. Kami pun melawan teman-teman dari Padang Sidempuan di Babak Semi Final. Perjuangan ternyata belum berakhir, kami berhasil lolos ke Babak Final dan berhadapan dengan teman-teman dari Univ. Bengkulu. Alhamdulillah, setelah berjuang habis-habisan akhirnya diumumkan bahwa kami menjadi juara pertama di ajang tersebut.

Ada beberapa hal yang berkesan setelah lomba tersebut. Saya sangat bersyukur bisa berpatisipasi dalam lomba tersebut. Karena dengan bertemu dengan teman-teman dari daerah lain serta bertukar pikiran, makin terasalah oleh saya kalau ilmu saya belum ada apa-apanya. Saya sendiri tidak menyangka bisa sampai ke babak final, tapi kalau kata pembimbing saya sih, itu karena kekompakan tim dari kelompok kami.

Memang dalam kerja kelompok, kekompakanlah yang utama. Nah setelah menilai kemampuan kami sekelompok, akhirnya kami berhasil merumuskan strategi yang tepat untuk menghadapi lawan.

Untuk opening statement, maka Rian dari FIP-lah yang maju. Teman saya ini kuat di penguasaan konsep dan landasan berpikir, ditambah lagi dia orangnya cool. Jadi pas-lah rasanya untuk membuka argumen. Sedangkan saya ditaruh di bagian adu argumen, mungkin karena saya orangnya cerewet. Kemudian di bagian closing statement, Ayu dari FIS-lah yang berjuang. Sebab dia kuat dalam hal menyimpulkan pembicaraan. Nah,  mungkin karena kerja sama tim serta penguasaan materi tersebut-lah kami bisa jadi juara. Padahal lawan kami di babak final cukup tangguh juga. Tiga orang akhwat dari Bengkulu tersebut benar-benar pandai berdebat. Maklum, cewek. Hehe

Oh ya, hari Minggunya akhirnya kami semua peserta jalan-jalan ke Bukittinggi. Nah di Bukittinggi, boro-boro have fun  sama peserta yang lain. Saya malah tepar di atas bus. Bisa dibilang balas dendam gara-gara dua hari sebelumnya begadang mulu. Hohoho.

Aduh, mau nulis apa lagi ya? Tiba-tiba bleng aja. Hm, tadi malam saya baru saja menamatkan membaca novelnya si Ilham, Sense. Ceritanya keren, bisa dibilang si Ilham ini Dan Brown-nya Indonesia lah. Maju terus ya, Ham. Saya siap jadi editormu kalau novelnya mau dibukukan. Hehe

25 pemikiran pada “Debat Pendidikan Karakter Tingkat Mahasiswa Se-Sumatera

  1. kagum dah sama orang yg jago debat (dalam lingkup LOMBA spt diatas ya, bukan debat kusir, hehe). di sastra inggris, debate ini masuk di mata kuliah semester 6 kalo gak salah.

  2. congratulation for your succes sulung…
    wah pendidikan karakter lagi tema nya, suka banget sama topik ini, soalnya kebtulan skripsi sil dulu jga berhubungan dengan pendidikan karakter…

    sekali lagi selamat ya…
    walaupun dari angkatan 2007 masih bisa menorehkan prestasi di akhir2 status mahasiswa mu..

  3. Ping-balik: 12 PR | Catatannya Sulung

Biasakan Berkomentar Setelah Membaca, Ya.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s