Cerita Hujan

Rain

Langit benar-benar penuh kejutan. Sesaat ia bisa saja menangis sedih, namun kemudian ia bisa tersenyum riang. Di daerah saya hujan turun sudah seperti minum obat saja layaknya. Tiga kali sehari. Jalanan jadi basah, licin, dan di beberapa tempat rusak akibat senantiasa tergerus air. Bagi sahabat yang mengendarai kendaraan saat hujan turun, sebaiknya hati-hati. Sebab tidak jarang kecelakaan bisa terjadi begitu saja. Dari apa yang saya baca sih, air menyebabkan bantalan di atas aspal sehingga roda pun gampang tergelincir. Saya jadi ingat pengalaman saya sewaktu naik kendaraan di bawah hujan lebat.

Waktu itu saya bersama beberapa orang teman dari organisasi saya. Kami pergi ke Kayu Tanam untuk melihat lokasi tempat kami akan melakukan penelitian. Saat pulang, kami diantar oleh seorang senior dengan mobilnya. Saya lupa apa merek mobilnya, tapi yang pasti mobilnya pakai 4 WD.

Ketika sampai di pinggiran Kota Padang, hujan pun mengguyur. Hujan menemani bahkan hingga kami memasuki Kota Padang. Namun, meski hujan kami semua di dalam mobil tetap riang gembira. Endang, temanku yang duduk di bangku sebelah sopir ikut bercanda. Ia menantang senior kami yang membawa mobil untuk menambah kecepatan, padahal waktu itu jalanan licin! Dan yang anehnya, senior kami menyetujuinya dan tidak ada seorang pun dari kami (waktu itu berjumlah 5 orang) yang mencegah hal tersebut.

Senior tersebut pun menambah kecepatan di atas jalanan yang licin dan lengang. Kami semua di dalam hanya tertawa-tawa melihat hal tersebut. Tiba-tiba, ban mobil selip. Mobil berputar-putar seperti gasing hingga di tujuh kali. Mobil baru berhenti berputar setelah menabrak trotoar dengan keras.

“BRAKK!!!”

Kami semua terdiam. Hening. Serasa tidak percaya kalau nyawa kami hampir saja melayang. Jika mobil yang kami naiki bukan mobil jenis 4 WD  yang kuat dan berat, mungkin mobil kami sudah terbalik seperti yang biasa sahabat tonton di film The Fast and The Furious. Orang-orang di pinggir jalan pun terkejut melihat kejadian tersebut. Kami bersyukur saat itu jalanan lengang, kalau tidak pasti kami sudah menabrak mobil yang ada. Perjalanan pun dilanjutkan, namun suasana sudah berubah. Kami semua hanya diam dan (mungkin) bersyukur di hati masing-masing masih selamat dari kegilaan kami semua.

Sesampainya di dekat kampus saya, ternyata cobaan belum berhenti. Saat kami akan memutar ke jalur di sebelahnya, tiba-tiba mesin mobil mati. Segala cara dilakukan oleh senior saya untuk menghidupkan mobil tersebut namun tetap tidak berhasil. Padahal hujan lebat dan kami tepat berada di pertengahan jalan. Jadilah jalanan macet dan mobil-mobil mengklakson kami. Merasa tidak enak dengan pengendara lain kami semua yang cowok terpaksa keluar dan mendorong mobil di bawah hujan lebat. Langit semakin gelap dan kami belum salat magrib. Akhirnya senior kami memutuskan meninggalkan mobilnya setelah sebelumnya memarkirnya di pinggir jalan. Ia menelepon dealer mobil agar menjemput mobil yang ia tinggalkan tersebut. Kemudian kami naik ojek ke rumah masing-masing dalam keadaan menggigil.

Begitulah, kematian memang bisa menghampiri kita kapan saja. Maka kita harus senantiasa mempersiapkan diri akan kematian yang menjemput kita tersebut. Satu pesan saya, jangan pernah mencoba ngebut saat jalanan licin dan sedang hujan. Cukup kami yang mengalami kebodohan tersebut.

Iklan

40 pemikiran pada “Cerita Hujan

  1. Ah, seniornya itu kok masih “termakan” sih sama “tantangan” seperti itu. Suatu pembelajaran bagus tuh Lung. Kalau menyetir, ego itu nomor sekian jauh di bawah, sementara yang utama adalah keselamatan, betul? Apa iya gitu keselamatan dipertaruhkan hanya demi ego? 🙂 *sok bijak saya :P*

  2. Aku setuju banget ama pendapatnya Zilko. Kalopun kita gak peduli ama keselamatan kita, patut diingat bahwa jalanan itu milik bersama. Keteledoran yg kita lakukan, bisa membahayakan pengguna jalan lain 🙂

  3. Teringat dulu sewaktu mau berangkat sekolah. Hujan tak begitu lebat, hanya gerimis. Tetapi cukuplah untuk membuat jalanan menjadi licin. Karena aku naik sepeda motor, pas dibelokan aku lupa menggunakan rem depan, alhasil aku terpeleset. Dan akhirnya pulang lagi dengan luka-luka di kaki karena tergores jalannan dan tak berangkat ke sekolah.

  4. haduuh.. hujan hujan gitu kok malah ngebut toh dek? 😦
    alhamdulillahnya nggak luka-luka..

    # lain kali pelan-pelan ajah. oke?
    btw, rumahmu baru ya?
    lukisan yang di header tuh bagus deh.. >.<

  5. Lega akhirnya semua selamat. Memang sepatutnya kita tak main-main dengan maut, membayakan nyawa sendiri juga orang lain. Yang di dalam mobil saya yakin besok2nya akan mengingat kejadian ini dan tak mengulang kejadian serupa

Biasakan Berkomentar Setelah Membaca, Ya.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s