Senandung Lirih Pulau Angso Duo

08. 15 WIB

“Nanti sore jangan lupa jemput kami ya, Da!”

Elsa mengingatkan si nelayan yang membawanya beserta kedua temannya ke Pulau Angso Duo. Nelayan tersebut hanya mengangguk. Entah kenapa sejak tadi sikapnya tidak begitu ramah seperti yang biasa ia dengar tentang orang Pariaman. Apa karena sikap teman-temannya? Atau uang pembayaran yang dirasa kurang? Tapi kalau memang kurang, seharusnya ia katakan tadi, jangan hanya merengut dan membuatnya berpikiran aneh.

Elsa memandangi gerak laju perahu yang semakin menjauhi tempat ia berdiri. Tatapannya tak beralih dari gelembung-gelembung air laut yang diputar oleh baling-baling di ekor boat. Busa yang tercipta mau tak mau memburaikan pikirannya. Perubahan warna laut yang biru menjadi keputih-putihan akibat busa kemudian menjadi biru lagi, ibarat kilasan pada roll film yang berjalan. Mengingatkannya akan alasan kenapa sekarang ia berada di sini.

Meski berdarah minang totok, Elsa sejak kecil terbiasa dengan suasana ibukota yang riuh. Sebermula ia lahir, ia telah menghirup udara polusi Kota Jakarta. Akan tetapi, entah mengapa ia tak terlalu menyukai gedung-gedung tinggi di lingkungannya. Ia merasa seperti terkungkung di sebuah benteng menjulang. Belum lagi hiruk pikuk kendaraan yang memekakkan telinga. Tidak heran, ia lebih suka keluyuran ke daerah Bogor ataupun Bandung yang masih banyak ditumbuhi pepohonan.

Sebenarnya ini kali pertamanya menginjakkan kaki di ranah minang. Ayah-ibunya tidak pernah mau diajak pulang kampung tiap lebaran tiba. Dari bisik-bisik yang ia dengar, neneknya tidak setuju ibu menikah dengan ayah yang hanya seorang pelukis. Tidak ada yang tahu ia pergi ke Pariaman, kecuali adik dari ibunya, Tek Ros. Orang tuanya mengira ia sedang liburan di Bandung. Hanya dengan Tek Ros lah ikatannya agak kuat. Di rumah Tek Ros pula ia dan teman-temannya menginap tadi malam.

Tidak ada dalam perencanaan Elsa dan kedua temannya akan ke Pulau Angso Duo, satu dari enam pulau yang terletak di pesisir barat Kota Pariaman ini. Akan tetapi dikarenakan pandainya Bujang, anak Tek Ros bercerita, ia pun tergoda mengunjungi Pulau Angso Duo. Meskipun sudah diperingatkan Tek Ros kalau ini bukan musim liburan sehingga pulau pasti sepi, ia tetap ngotot. Justru seru, pikirnya. Tambahan lagi, ia sudah biasa menjelajahi sudut-sudut Pulau Seribu di Jakarta sana.

“Sa! Come here!”

Teriakan Arnold membuyarkan lamunan Elsa. Ia segera menyusul Arnold dan Fero yang sudah asyik menapakkan kaki di pulau tersebut.

0 9. 43 WIB

Elsa memakai kacamata renangnya dengan hati-hati. Rambutnya yang  hitam panjang agak menyusahkan. Ia bersiap-siap snorkeling di bagian timur Pulau Angso Duo. Sementara Arnold dan Fero entah kemana. Sehabis sarapan dengan bekal yang dibawa bersama-sama, mereka segera berlari ke bagian dalam pulau yang rindang. Arnold dan Fero memang bukan asli Indonesia. Mereka mahasiswa pertukaran pelajar di Jurusan Hubungan Internasional tempat Elsa kuliah, namun bisa Bahasa Indonesia sedikit-sedikit. Tak heran dua sejoli tersebut girang ketika diajak jalan-jalan ke Pariaman. Maklum, selama kuliah di Jakarta belum pernah mereka pergi ke daerah Sumatera.

Setelah kacamata terpasang erat, Elsa berjalan ke arah laut. Kulit putihnya berkilauan ditimpa cahaya bersaing dengan kemilau laut yang memantulkan sinar. Semakin lama air semakin dalam, setelah dirasa cukup Elsa pun menghambur ke birunya laut.

“BYURR!!!”

Di dalam laut, Elsa begitu meresapi panorama bawah laut yang tersaji di hadapannya. Terumbu-terumbu karang berjejer rapi membentuk rumah yang aman bagi penghuni laut. Acropora, porites, dan terumbu karang warna-warni lainnya menyediakan kekayaan alam yang tak ternilai harganya. Ikan-ikan berseliweran di depannya. Tak heran angan-angan Elsa pun melayang jauh. Ia seumpama mermaid yang tinggal di lautan dan bersahabat dengan penghuni laut lainnya. Dongeng yang begitu mempesonanya sewaktu kecil dan juga alasannya begitu menyukai laut.

12. 12 WIB

Lelah menjelajah di kedalaman laut, Elsa berbaring di lembutnya pasir putih. Sembari menutup mata dengan pergelangan tangan, ia mencoba mengatur napas yang tak beraturan sehabis snorkeling tadi. Di atasnya, matahari semakin terik. Sinarnya membias di kebiruan laut. Desiran bayu pun ikut memanjakan Elsa, menggelitik kulitnya. Nyiur tak kalah riang, mengangguk-angguk gemulai ditingkahi sepoi-sepoi angin. Cuaca begitu bersahabat. Ombak sendiri tak begitu besar, hanya beriak kecil seolah lelah dipermainkan angin selatan.

Elsa yang hampir tertidur tiba-tiba bangun. Kepiting-kepiting kecil kaget berhamburan masuk ke sarang mereka akibat ulahnya. Ia teringat pesan Tek Ros sebelum berangkat tadi.

“Sa, nanti di Pulau Angso Duo, jago kelakuanmu dan temanmu dih? Pulau itu bukan pulau sembarangan. Di tangah pulau tu ado makam urang siak, orang alim. Nama makam tu kuburan panjang. Jan sampai kamu dan kedua temanmu itu berlaku yang indak baiak. Beko kanai bala!”

Ia takut Arnold dan Fero berbuat yang tidak baik. Bagaimanapun, Budaya Timur dan Budaya Barat punya jurang pemisah. Di Barat sana, kumpul kebo dianggap lumrah. Meskipun tinggal di kota besar, Elsa sendiri tidak lupa dengan adat dan norma-norma ketimurannya. Karena sewaktu kecil, tiap menjelang tidur, ayahnya senantiasa menceritakan kisah-kisah tambo minangkabau. Agar ia tidak lupa dengan ranah halaman.

Ia bergegas bangkit, setengah berlari ia masuk ke bagian dalam pulau. Beberapa langkah terlampaui, suasana segera berubah. Jika di pantai tadi begitu riuh dengan suara ombak dan pekikan camar, maka di dalam sini berbeda jauh. Pohon-pohon tinggi membuat keadaan menjadi hening, damai, dan sepi. Semak-semak belukar meramaikan medan yang ia lalui. Di atas Pohon Aru, suara burung sesekali mengagetkannya.

Luas pulau yang hanya 3, 5 hektar membuat Elsa tak butuh waktu lama sampai di jantung pulau. Di bagian tengah pulau ini, sebagaimana yang dikatakan eteknya terdapat beberapa bangunan usang dan areal pemakaman. Di salah satu nisan makam tertulis kalimat, Wali Allah dari Mesir, M. Natsir. Elsa bergidik, ia bersegera meninggalkan tempat tersebut dan menuju Barat Pulau. Entah kenapa bulu kuduknya merinding.

Ketika melewati semak yang agak rimbun, ia berhenti. Ada suara aneh yang ia dengar. Seperti suara lenguhan, tapi bagaimana mungkin? Di pulau ini mana mungkin ada sapi? Elsa pun menyibak semak tersebut. Apa yang ia lihat membuat darahnya mendidih.

“What The… WHAT ARE YOU DOING!! APA-APAAN KALIAN!?”

Arnold dan Fero tergopoh-gopoh memakai pakaian mereka yang lolos. Elsa sendiri hanya bisa tercengang. Di telinganya kembali terngiang nasihat Tek Ros. Ia takut, takut kena bala karena ulah kedua bule sialan ini.

I, I’m so sorry Sa. Kami tidak sengaja. Kami terbawa suasana.”

This isn’t Hawai! Bagaimana mungkin kalian bisa berbuat tidak senonoh di tempat ini? Apa kalian tidak menyimak apa yang dikatakan bibiku tadi?” Elsa gusar. Bagaimanapun mereka berdua menjadi tanggung jawabnya selama berada di Pariaman.

Calm down, dear. It will not happen again.”

Fero yang kelar berpakaian menyulut rokoknya. Elsa melengos.

Gampang sekali dia bilang begitu. Mentang-mentang ateis, jadi dia tak percaya hal-hal gaib? Elsa merutuk dalam hati

“Sudahlah, ayo kita ke pantai. Kita makan siang. Sehabis itu kita bersiap-siap kembali ke Pariaman. Jam 4 nanti kapal tadi kembali menjemput kita.”

Arnold dan Fero mengikuti langkah Elsa menuju pantai tempat mereka meletakkan barang-barang. Karena sudah mengira akan berada di pulau hingga sore hari, mereka sengaja membawa cukup banyak makanan dan baju ganti dari rumah. Mereka tidak ingin liburan mereka direpotkan dengan masalah kelaparan gara-gara asyik bermain.

15. 05 WIB

Sehabis santap siang, Arnold dan Fero langsung berjemur di hamparan pasir. Pada waktu yang sama, Elsa lebih memilih berjalan-jalan di tepi pantai sembari mengumpulkan kerang. Entah apa yang terjadi, mendadak alam berubah drastis. Langit hitam bergulung menutupi mentari yang tadi meraja. Angin ribut pun menggantikan angin sepoi-sepoi. Ombak menggila, riaknya tak lagi bersahabat. Elsa tercenung.

Badai? Bisiknya.

Belum sempat ia berpikir panjang, tetes-tetes air berjatuhan dari langit. Awalnya hanya rinai kecil, tapi kemudian membesar dan membuat perih kulit. Arnold dan Fero segera bangkit dari tidurnya. Elsa menghampiri mereka.

“Bagaimana ini? What will we do now?” Fero berteriak pada Elsa sambil berusaha mengalahkan ributnya angin.

“Kita ke dalam saja! Semoga kapal kita menjemput kita nanti. Jangan lupa bawa barang-barang!”

Mereka bertiga berhamburan ke bagian dalam pulau. Karena tidak menemukan tempat yang teduh, Elsa pun terpaksa menyetujui usulan Arnold untuk berlindung di bangunan runtuh dekat komplek pemakaman. Mereka mendapati sebuah sudut yang terlindung dari hujan dan angin kencang. Diantara gigilnya, Elsa mengulang-ulang di dalam hati.

Ini bukan bala. Ini bukan bala. Ini bukan bala.

17. 22 WIB

Badai belum juga reda, malahan makin menggila. Kapal yang ditunggu-tunggu tidak juga datang. Lagipula orang waras mana yang mau berlayar di tengah cuaca buruk seperti ini? Dibayar berapa pun, belum tentu seseorang mau mengorbankan nyawa menjemput mereka bertiga. Tinggallah Elsa, Arnold, dan Fero merutuk dalam hati sembari memeluk lutut masing-masing. Kedinginan.

19. 03 WIB

Langit sekelam arang, nyaris tanpa cahaya sedikit pun dari atas. Badai akhirnya lelah juga, meninggalkan suasana sepi yang sesekali dipecahkan suara jangkrik. Berbekal korek api dan cahaya dari hp yang tanpa sinyal, ketiga anak manusia tersebut mengumpulkan kayu-kayu serta ranting dari sekitar mereka. Setelah berusaha keras, akhirnya kayu-kayu tadi pun terbakar. Meski agak basah, setidaknya cukuplah untuk menghangatkan mereka.

Elsa sedari tadi diam tanpa suara. Sesekali tangannya menggoreskan tulisan-tulisan tak berarti di atas tanah. Fero sendiri acuh dengan tingkah Elsa, ia lebih memilih menghisap rokoknya dalam-dalam dan kemudian menghembuskannya perlahan. Sedangkan Arnold sedari tadi sibuk mengukir kayu dengan pisau lipat yang senantiasa ia bawa kemana-mana.

Guys, do you think seseorang bakal mencari kita ke sini?” Fero memecah keheningan tersebut.

It should be. Bibiku pasti cemas dengan keadaan kita. Perhaps, sekarang ia sedang sibuk mencari bantuan.”

Oh, come on girls. Enjoy this time! Belum tentu kita bisa seperti ini lagi di Jakarta nanti.”

Yeah, we can enjoy it, if we are not in hungry! Sa, do you have something to eat in our bag?

Let see…

Elsa mengacak-acak isi tas mereka. Hanya ada beberapa cokelat serta makanan ringan. Ia melemparkan beberapa ke arah Fero dan Arnold. Fero segera melahap cokelat di tangannya. Sedari tadi perutnya sudah berteriak kelaparan. Arnold terkikik melihat tingkahnya. Fero yang merasa ditertawakan mendelik.

What!?

Elsa tersenyum melihat adegan tersebut. Sebenarnya Arnod dan Fero merupakan teman yang baik. Ia banyak berhutang budi pada mereka. Arnold kerap kali membantunya mengerjakan tugas-tugas kuliah. Dan Fero, tak bisa ia pungkiri karena bergaul dengan Fero lah wawasannya bertambah. Fero banyak mengetahui hal-hal yang terkadang dianggap remeh oleh beberapa orang. Andai saja mereka bisa lebih mengontrol sikap mereka, tapi mau bagaimana lagi mereka terbiasa hidup bebas. Pokoknya ia sekarang berpikir bagaimana melalui malam ini sehingga besok mereka bisa kembali ke Pariaman.

Can you feel that?” Arnold mengusik lamunan Elsa.

What?

I don’t know. I just feel that something whispered in my ears.

What do you mean, Hon? Maksudmu ada seseorang yang berbisik padamu? Aneh, dari tadi kita diam saja. Ya kan, Sa?”

Elsa mengangguk. Mereka kembali diam. Akan tetapi keheningan tersebut tak berlangsung lama. Sekonyong-konyong suasana sunyi dipecahkan oleh teriakan Arnold.

“ARRRGGHHHH!!!!”

Elsa dan Fero kaget, mereka segera menghampiri Arnold yang kejang sambil menutupi telinganya.

“What happened, Hon!?

DON’T TOUCH ME! Stay away from me!” Arnold menepis tangan Fero dengan salah satu tangannya yang masih memegang pisau.

“OUCH! YOU HURT ME, HON!

Fero memegangi lengannya yang berdarah akibat pisau Arnold. Elsa tak berani mendekat. Ia tahu, ada sesuatu yang salah. Ia kembali mendengungkan kalimat tadi di hatinya.

Ini bukan bala. Ini bukan bala. Ini bukan bala.

Hon, ada apa denganmu? Apa ada yang sakit?”

“FER, JAUHI ARNOLD!”

“Eh? Why?

Terlambat, Arnold tahu-tahu bangkit dan menyerang Fero. Fero yang tidak siap hanya terpana saat perutnya berdarah. Pisau Arnold telah menembus kulitnya.

Uhuk! Why, Hon?

Fero memegangi perutnya yang masih mengucurkan darah segar. Perlahan-lahan, tubuhnya limbung dan memeluk tanah. Arnold sendiri tampak tidak peduli. Ia mencabut pisau yang menancap di perut Fero. Saat menatap Elsa, tampak matanya memutih. Arnold kerasukan!

“TIDAAAAKKKK!!!!!”

Elsa segera berlari menjauh. Ia tidak ingin mati. Di belakangnya, Arnold mengejar dengan beringas. Pisaunya dalam keadaan siap merobek perut Elsa. Elsa terus berlari sambil sesekali melihat ke belakang. Kakinya menjejak tanah kuat-kuat. Sesekali tangannya menyibak semak-semak yang menghalangi jalan. Wajahnya tampak pucat. Sepucat purnama yang perlahan-lahan timbul dari balik kegelapan malam.

Tidak beberapa lama, Elsa sampai di pantai timur Pulau Angso Duo. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri. Berusaha mencari tempat persembunyian. Napasnya memburu. Serta-merta ia melihat semak yang cukup rimbun. Ia segera masuk ke dalam semak tersebut.

Selang beberapa saat, Arnold pun tiba di pantai tersebut. Sesekali ia terkekeh geli, entah apa yang ia tertawakan. Elsa menahan napas saat melihat Arnold mendekati tempat persembunyiannya. Ia mengintip dari celah-celah semak yang melindunginya. Tak menemukan mangsa yang dicari, Arnold masuk kembali ke dalam hutan. Meninggalkan Elsa yang sibuk bersyukur sambil menahan tangis di balik semak.

22. 02 WIB

 Entah sudah berapa lama berlalu. Elsa yang masih sembunyi merasa pegal. Ia merasa keadaan sudah cukup aman untuk keluar. Mengendap-endap, Elsa menuju pantai. Ia berusaha mencari bantuan, namun entah dengan cara apa. Tak tampak satu pun kapal nelayan yang lewat. Laut kelam berbeda dengan di siang hari yang begitu memukau.

Elsa menghela napas. Masih terbayang di benaknya kejadian tadi. Seorang kekasih tak mungkin membunuh pacarnya kecuali karena hilang akal sehat. Karenanya ia yakin kalau Arnold kesurupan. Apa ini karena ulah mereka yang berbuat mesum di pulau yang terdapat makam ini? Entahlah, yang pasti sekarang Elsa hanya berharap Arnold segera sadar. Tapi ia masih memikirkan keadaan Fero. Apakah Fero masih hidup? Apa tidak sebaiknya ia melihat keadaan Fero? Siapa tahu tusukan tadi tidak dalam?

Elsa memutuskan untuk kembali ke tempat Fero tadi. Ia melangkah pelan-pelan sambil tetap waspada. Berjaga-jaga kalau-kalau Arnold menyerangnya. Sesampainya di tempat Fero terkapar, ia tidak melihat adanya Arnold. Dari jauh, tampak olehnya kalau Fero masih bernapas. Syukurlah. Ia segera mendekati Fero.

“Fer, Fero. Are you alright?”

Elsa berusaha membalikkan tubuh Fero. Akan tetapi ia sungguh kaget ketika tiba-tiba Fero mencekiknya. Ia sesak napas, berusaha melepaskan cengkraman Fero di lehernya.

“Fer. Uhuk. Don’t do this, please.”

Tapi permohonan Elsa tak digubris Fero. Dari sinar rembulan yang menembus sela-sela dedaunan, tampaklah mata Fero sama putihnya dengan Arnold tadi. Elsa yang sudah tidak tahan berusaha meraih apa saja yang di dekatnya. Saat tangannya yang meraba-raba menemukan sebuah batu yang cukup besar, ia tidak membuang waktu. Segera batu tersebut ia pukulkan kuat-kuat ke kepala Fero.

“DUAKK!!!”

Fero jatuh tersungkur. Tapi tangannya masih menggapai-gapai Elsa. Elsa yang ketakutan kembali memukulkan batu tersebut ke kepala Fero. Berkali-kali, hingga Fero tidak bergerak lagi.

“Uhuk!”

Elsa tersedak akibat cekikan Fero tadi. Ia memeriksa keadaan Fero yang ternyata sudah tak bernapas. Air matanya merebak.

Maaf, Fer. Maaf kan aku. Aku terpaksa melakukan ini.

Namun Elsa tak bisa berlama-lama meratapi kematian temannya di tangannya sendiri. Ia mendengar suara bergemirisik di depannya. Ia bangkit dan kembali lari ke arah pantai.

Sampai di pantai, Elsa langsung menghambur ke laut. Ia ingin kabur dari pulau ini. Tapi bagaimana? Tenaganya tak akan cukup untuk mencapai pantai Pariaman. Ia mengurungkan niatnya dan kembali ke daratan. Lesu, ia pun berbaring di pasir. Ia melihat ke arah purnama sambil tersenyum sedih.

Ah,mungkinkah aku bisa lihat purnama lagi keesokan harinya?

Elsa masih terlentang di atas pasir ketika ia melihat bayangan tubuh Arnold dari atas kepalanya. Sontak ia berdiri. Arnold masih menggenggam pisaunya kuat dan terkekeh-kekeh ke arahnya. Elsa mundur perlahan-lahan. Tak sengaja kakinya menyipak sebatang kayu yang cukup besar. Ia segera meraihnya.

“JANGAN MENDEKAT!” teriak Elsa.

Namun Arnold tak peduli. Ia malah menghambur ke arah Elsa. Elsa berteriak sambil mengayunkan kayu di genggamannya kuat-kuat ke kepala Arnold. Berhasil. Arnold jatuh tersungkur di depannya. Tak ingin mengulang kesalahan yang sama, ia segera kembali menggebuk batang kayu di tangannya kuat-kuat ke tubuh Arnold.

Saat Elsa sudah kehabisan tenaga, ia pun terduduk di dekat Arnold. Mendadak, ia mendengar Arnold berbisik.

“Sa… Why you kill me?

Suara tersebut makin melemah dan akhirnya hilang sama sekali. Elsa hanya bisa menangis tergugu. Sudah dua orang yang ia bunuh di tangannya. Padahal ia sama sekali tak bermaksud membunuh mereka. Ia hanya membela diri. Tapi apa mau dikata, membunuh tetaplah menghilangkan nyawa seseorang. Ia pasti akan dihukum karena perbuatannya tersebut. Kenangan bersama Arnold dan Fero berkelebat di memorinya. Mereka masih tertawa riang ketika menginjakkan kaki pertama kali di bandara. Ia pun ingat ekspresi Arnold yang kepedasan saat memakan masakan Tek Ros, sementara Fero sibuk mengambilkan air untuk Arnold. Bayangan-bayangan tersebut membuat Elsa tertawa sambil menghapus air matanya. Kemudian ia terdiam.

Tak kuasa memikirkan hukuman dan malu yang akan ditanggung keluarganya, ia mengambil pisau di genggaman Arnold. Perlahan, ia mengiris pergelangan tangannya. Sakit yang terasa ia tahan saat melihat mayat Arnold di sampingnya. Sambil menahan perih dan darah yang mengucur dari nadi, ia menulis sesuatu di atas pasir. Kemudian ia berbaring di sebelah Arnold. Matanya memandang purnama di langit yang tampak ikut sedih.

Bulan yang indah, bisiknya.

Gelap.

04. 15 WIB. Keesokan harinya.

Seorang nelayan baru saja menapakkan kakinya di pasir Pulau Angso Duo, ketika ia melihat dua mayat terbaring bersisian. Satu orang pria bule dan satu lagi sepertinya asli Indonesia. Nelayan tersebut bergegas melambai ke arah temannya yang masih di atas kapal. Sambil menunggu temannya yang mendekat, ia membaca tulisan di atas pasir. Tulisan tersebut sepertinya sengaja ditulis si perempuan, tampak dari ujung jarinya yang masih kotor oleh pasir.

senandungnya lirih, menelusup ke liang-liang jiwa

menggelitik pendengaran, menutup pandangan

menukar jiwamu dengan sesuatu yang kekal

jika kau bertanya tentang kisah

anak manusia yang bergelimpangan

tanyakan pada rembulan yang membisu

jangan biarkan ia mencuri jiwamu!

 Tulisan ini diikutsertakan dalam Kontes Giveaway Adventure yang diadakan oleh Ayu.

 e-mail saya: smardi_nata89@yahoo.com

===============================================

Jujur, lebih susah membuat puisi dibanding ngarang cerpen. Makanya puisinya terkesan asal jadi. Hehe. Oh, ya. Ini pertama kalinya saya nulis cerpen petualangan, jadi mohon maaf kalau hasilnya agak mengecewakan. Belum lagi grammar yang buruk, maklum sudah lama ga practice. Hehe

73 pemikiran pada “Senandung Lirih Pulau Angso Duo

      1. penyakit malesnya masih belum sembuh bang.. cerpennya baca sambil lalu, loncat-loncat tanpa menghayati kayak biasanya.. jadi ga bisa kasih penilaian😀
        ide ceritanya bagus, tapi yang lain2nya no komen ya -.-a

      1. hah… sudah saya kira serepot itu… pernah juga buat cerpen panjang tapi mungkin tidak sepanjang ini, kerjanya dua hari sampai badan bengkok nyeri otot, terus pengen tidur terus…
        Ini buat kontes ya? Buat kontes ataupun bukan, ini keren, lho!🙂

  1. Lah, Elsa mau meninggal malah meninggalkan puisi Lung? hehehe😛

    Ceritanya keren! Tapi genre-nya, menurutku sih, lebih ke thriller yah daripada adventure? Hmmmm…

  2. budiastawa

    Fiuh,…. kisahnya tragis banget. Pulau Angso Duo memang angker kah? Ngeri juga mau main kesana (emangnya deket antara Bali ke Padang, he he)

  3. Good Job:) mampir di blog kamu karena nyasar cari “pulau angsa duo” plus saya yg suka nulis, bertualang n kebetulan pernah kesitu, jadi klop dah..nyambung bngt sama suasa pulaunya

Biasakan Berkomentar Setelah Membaca, Ya.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s