[Book Review] Benteng Digital by Dan Brown

Judul: Benteng Digital (Digital Fortress)

Pengarang: Dan Brown

Penerbit: PT Serambi Ilmu Semesta

Tebal: 600 halaman

Terbit: 25 Mei 2005

Hampir semua penikmat novel pasti mengenal nama Dan Brown, akan tetapi tidak banyak yang mengetahui novelnya yang berjudul Benteng Digital (Digital Fortress). Memang, novel ini tidak seterkenal novelnya yang lain seperti The Da Vinci Code, Angel and Demon, maupun The Last Symbol. Padahal novel Benteng Digital tersebut sama memukaunya seperti novel-novel Dan Brown yang lainnya.

Sampul Benteng Digital didominasi oleh warna merah. Ada sepasang bola mata yang mengintip dan di bawah judul Benteng Digital (Digital Fortress) terdapat kalimat “Kode Pamungkas. Kuat, berbahaya, dan tidak terpecahkan.” Tidak lain novel ini menceritakan tentang kode-kode yang biasa berkutat di dunia yang sudah menjadi bagian kita, dunia maya.

NSA (National Security Agency) merupakan sebuah lembaga paling rahasia di Amerika yang tugasnya menyaring informasi-informasi yang beredar di internet untuk mencegah kejahatan-kejahatan yang akan terjadi di Amerika. Untuk keperluan tersebut, NSA mesti melakukan penyadapan-penyadapan komunikasi di internet. Tentu saja hal tersebut melanggar HAM dan mengundang reaksi keras dari berbagai pihak.

Di sanalah Susan Fletcher bekerja. Sebagai kepala bagian kriptografi, Susan adalah seorang wanita yang tangguh, cerdas, dan mempesona. Meski sudah mempunyai tunangan, yakni David Brecker, masih saja banyak pria yang menyukainya dan menggodanya termasuk rekan-rekan kerjanya. Akan tetapi cinta Susan hanya terpaut pada David, seorang profesor bahasa di sebuah universitas.

Suatu hari NSA dikejutkan oleh berita tentang adanya Benteng Digital yang dibuat oleh Ensei Tankado. Sebuah program yang tidak bisa dipecahkan meski menggunakan komputer tercanggih di NSA sekalipun, yakni TRANSLTR. Tankado telah membuat salinan program ini di situs internetnya yang dapat di download secara cuma-cuma, namun tak ada yang bisa memuka program ini. Hanya ada dua kunci sandi di dunia ini yang bisa membuka Benteng Digital yaitu kunci sandi yang dimiliki Ensei Tankado serta yang dimiliki rekannya yang tidak dikenal,  North Dakota.

Sebenarnya Tankado dulunya bekerja di NSA, akan tetapi ia tidak setuju dengan penggunaan TRANSLTR yang melanggar ranah privasi individu manusia. Karenanya ia menciptakan Benteng Digital dan menantang NSA untuk mengumumkan penggunaan TRANSLTR tersebut atau ia akan memberikan kunci sandi Benteng Digital secara cuma-cuma kepada semua orang.

Maka Susan Fletcher pun bahu-membahu bersama Trevor Strathmore, sang komandang NSA, berusaha untuk menemukan siapa North Dakota sebenarnya, mencari cara menembus Benteng Digital, serta mempertahankan NSA. Di tempat lain, David Brecker ditugaskan Strathmore untuk pergi ke Sevilla, Spanyol. Ia ditugaskan untuk mendapatkan kunci sandi Benteng Digital milik Tankado yang terukir di cincinnya. Tankado baru saja tewas, karenanya David mesti segera mendapatkan cincin tersebut sebelum jatuh ke pihak yang salah.

Namun ternyata Benteng Digital, alogaritma yang diklaim tak terpecahkan itu hanyalah kamuflase dari virus yang tidak hanya membahayakan TRANSLTR, namun juga bank data utama NSA. Strathmore yang termakan umpan Tankado telah memotong jalan penyaring Gauntlet, suatu program disinfektan yang memeriksa dokumen-dokumen yang akan masuk ke TRANSLTR agar bebas dari virus.

Karena kesalahan Strathmore inilah, bank data utama yang berhubungan dengan TRANSLTR juga terinfeksi virus. Namun yang diincar virus itu bukanlah bank datanya, melainkan perisai-perisai yang melindungi bank data dari para hacker, pemerintah asing, dan pihak-pihak lain yang mengitari bank data ini selama 24 jam sehari dan berusaha mendobrak masuk.

Bank data yang memuat cetak biru dari senjata-senjata canggih, nama samaran dari petugas lapangan, analisis-analisis dan proposal mendetail untuk operasi terselubung, dan rahasia-rahasia penting lain yang paling dirahasiakan di Amerika Serikat semakin terancam. Tanpa perisai itu, seluruh data dalam bank data bisa diakses siapa saja. Satu-satunya yang dapat menghentikan aksi virus itu hanyalah kode yang terdapat di cincin Tankado.

Seperti biasanya, Dan Brown menyajikan kejutan-kejutan bagi pembacanya di setiap novel-novelnya. Begitu pula dengan novel Benteng Digital. Dan Brown berhasil menulis sebuah thriller dengan tempo cepat dan membuat pembaca menebak-nebak hingga akhir. Sebagaimana layaknya novel-novelnya yang lainnya, ada satu karakter yang senantiasa terdapat pada semua novel-novel Dan Brown. Karakter tersebut adalah seseorang yang mencintai negaranya, seorang patriot. Akan tetapi terkadang patriot tersebut salah langkah sehingga malah menimbulkan kekacauan.

Novel Benteng Digital mengaburkan pembaca akan batas antara kebaikan dan kejahatan, sehingga patriot dan paranoid tampak sama saja. Dan Brown layak kiranya digelari Master of Thriller dengan kelihaiannya meramu cerita dalam setiap novel-novelnya. Bagi pecinta cerita misteri dan detektif, tidak boleh ketinggalan membaca novel Dan Brown yang satu ini.

* * *

Artikel ini diikutsertakan dalam Annual Contest: 2011 End of Year Book Contest yang diadakan oleh Okeyzz.

34 pemikiran pada “[Book Review] Benteng Digital by Dan Brown

  1. Wah, Benteng Digital juga mau dibikin filmnya? Cool, can’t wait!
    Iya, sama. Di antara novel2 Dan Brown ini novel paling ga favorit. Bukannya jelek, tapi Dan Brow lebih asik kalau mengangkat tema2 arkeologi, sekte dan benda2 kuno🙂

    Terima kasih ya sudah ikut berpartisipasi dalam kontes tahunan🙂
    Jangan lupa pasang banner di barside blognya ya ^_^
    Goodluck!

  2. aku kurang setuju. Menurutku Benteng Digital ini novel terlemahnya Dan Brown Lung🙂 Deception Point juga kurang ok, tapi mendingan deh daripada Digital Fortress ini, hehehe🙂

    btw, dari mana sih komentator di atas membaca novel ini mau difilmkan? Apa aku miss bacanya ya? hehehe🙂 Menurutku ini aneh; karena kalau bener mau memfilmkan novelnya Dan Brown, bukannya lebih logis memfilmkan The Lost Symbol untuk saat ini? Kan biar nyambung sama The DVC dan Angels and Demons? Bukannya malah ubah haluan mengangkat novelnya Dan Brown yang kurang terkenal, hehehe🙂

  3. saya menyukai novel, namun novel yang saya baca masih terbatas pada pengarang seperti Kang Abik, Tere Liye. Namun untuk novel luar negeri seperti besutan Dan Brown ini saya belum pernah baca. Wah jadi target baru nih,,,,

  4. Kalau nggak salah ini novel ini justru dibuat lebih dulu daripada Da Vinci Code, Angel & Demond, dan The Last Symbol, ya…. Saya sudah baca ketiga novel itu, tapi yg Digital Fortress ini belum, hehe…

  5. Irfan Handi

    Datang hanya ingin mengucapkan.
    Selamat Tahun Baru 2012.
    Semoga Tahun 2012 lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Amin.
    Salam persahabatan selalu.

  6. Kayaknya seru cerita novelnya. Butuh pemikiran, karena susah ditebak mana yg baik dan mana yg jahat. Semoga aja novel ini ada di Palu…
    Sukses selalu sobat…

  7. Whaoww.. Digital Fortress!!! Novel Dan Brown yg paling ku suka, diantara 4 novel yg lain. Menurutku, novel ini temponya yang paling cepat, dan alurnya tidak tertebak. Bener-bener bikin penasaran tingkat dewa pas bacanya. hahaha
    sukses buat kontesnya yaaa😀

  8. Saya uda bca nih buku 2thun llu. Keren B)
    Tp klo difilmkan selalu ga sekeren bukunya krna klo bca buku kn pke imaji sndri, bda sm film yg pke imaji produsernya hehe . .

  9. Kayaknya ada buku ini pernah kupinjam dr sepupuku, well benernya ampe skrg msh ada dilemari bukuku dan blm kukembalikan dan BELOM juga kubaca. Eh km kenal blogger yg namanya Asop gak? Anak ITB yg biasa ninggalin komen di blogku? Dia juga suka baca buku bergenre spt ini lho.

Biasakan Berkomentar Setelah Membaca, Ya.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s