[Me VS Skripsi] Masa-masa Bimbingan

Tiba-tiba saya merasa kangen…

 Kangen sama siapa? Hehe, bukan sama siapa-siapa. Jujur, ternyata setelah selesai sidang saya merasa kangen dengan rutinitas semasa bimbingan skripsi tersebut. Banyak pengalaman dan hikmah yang saya dapat selama masa penyusunan skripsi. Baiklah, ijinkan saya mengenangnya ya sahabat?

Dulu saya merasa sedih karena tidak bisa wisuda tepat waktu. Akan tetapi, sekarang saya sadar Tuhan menyimpan hikmah dibalik keterlambatan saya. Saya jadi mengenal teman-teman dari kelas lain. Hm, bukan berarti saya orangnya sombong sih. Hanya saja sewaktu kuliah saya lebih sering ngumpul dengan teman-teman sekelas. Seperti yang saya bilang di sini, kelas saya merupakan kelas yang kompak. Makanya saya merasa nyaman bersama teman-teman sekelas kemana-mana.

Akan tetapi, ketika banyak teman sekelas yang wisuda tahun lalu, mau tidak mau saya ditinggal sendiri. Nah, ketika saya bimbingan skripsi, saya mulai dikenal dan mengenal teman-teman dari kelas lain. Seringkali justru mereka yang tahu nama saya, sedangkan saya malah tidak tahu nama mereka. Pernah kejadian saat saya sedang duduk menunggu dosen, seorang teman menyapa saya.

“Udah di acc, Lung? Gimana bimbingannya?”

“Eh, eng,, masih perbaikan. Hehe (nyengir).” Sementara di dalam hati saya, “Aduh, dia siapa namanya ya?”

Kemudian saya pun ngobrol dengannya dan dengan lihainya saya melirik skripsi yang dia pegang. Ok, namanya Budi.

“Lu gimana, Bud? Udah di acc?” tanya saya.

“Belum nih, Lung. Masih perbaikan. Ibu #$*^@ ga mau acc juga. Padahal udah sering bimbingan.”

Ya Tuhan, betapa menyedihkannya manusia yang bernama Sulung Lahitani Mardinata ini. Banyak yang kenal dengannya tapi dia begitu susah untuk menghapal nama orang.

Back to the topic, saya merasa bersyukur dengan keterlambatan saya. Saya mendapat banyak kenalan baru yang mungkin tidak saya kenal sampai sekarang seandainya saya wisuda tepat waktu. Selain itu, hal yang membuat saya kangen dengan masa bimbingan adalah sifat dosen yang beragam.

Wajarlah, dosen juga manusia. Jadi sifat mereka pun berbeda. Contohnya nih, Ibu dosen pembimbing satu saya terkenal lebih sayang kepada mahasiswa cowok. Jadi beruntung juga saya jadi mahasiswa bimbingannya. Hehe.

Saya masih ingat. Pernah ketika waktu bimbingan, seorang cewek habis-habisan dimarahi Ibu tersebut (entah apa masalahnya). Ketika giliran saya tiba, sebenarnya saya takut masuk ke ruangannya setelah melihat ia marah-marah. Namun ternyata ia justru menyambut saya dengan ramah bahkan banyak bercerita soal karya sastra yang berhubungan dengan skripsi saya.

Ada pula dosen yang hanya bisa bimbingan tiap satu kali seminggu. Dosen tersebut tidak suka ditelepon atau di sms. Karenanya pada saat menyerahkan skripsi, mahasiswa bimbingannya harus menyertakan nomor yang bisa dihubungi. Ada juga dosen yang mengata-ngatai mahasiswanya dengan kata-kata kasar. Mahasiswa bimbingannya dibilang goblok, bodoh, tidak ligat, de el el. Makanya seorang mahasiswa yang mesti bimbingan dengan dosen tersebut mesti punya jiwa yang tegar. Hehe.

Saya juga jadi lebih sabaran selama masa bimbingan. Tidak jarang saya mesti menunggu dari pagi hingga siang hanya untuk dapat bimbingan skripsi dengan dosen saya. Saat menunggu tersebut, saya jadi memahami kesibukan seorang dosen. Seorang dosen mesti membagi waktu antara keluarga, membimbing skripsi mahasiswa (yang bukan hanya satu orang), mengajar di tempat lain, meneliti, dan hal-hal lainnya. Tidak mudah menjadi dosen bukan? Daripada merutuk, lebih baik saya mencoba memahami posisi mereka.

Ya, banyak lagi kenangan-kenangan selama masa bimbingan yang justru kita rindukan ketika kita telah melaluinya. Bagaimana dengan sahabat? Pernahkah sahabat merindukan masa-masa sulit sahabat?

Oh ya, hampir saja lupa. Seorang sahabat blogger, yakni Bidan Mila memberikan saya award (yang telah saya pajang pula di awards room). Ini nih award-nya.

Sekali lagi, terima kasih ya Bu Bidan Mila. Kemudian karena ketentuannya award ini mesti diteruskan kepada 7 (tujuh)  orang sahabat blogger lainnya. Maka saya meneruskan award tersebut kepada nama-nama berikut:

1. Miss Titisari

2. Yura, the explorer

3. Iam, si ganteng

4. Evan, sang dokter tanaman

 5. Niccaniez

6. Ilham Menulis

7. Tiara, ownernya Beliave or Not

Selamat Menikmati (lho?)

#Update: Waktu berkunjung ke blognya Zilko, ternyata saya dapat award yang sama. Hehe. MAkasih ya, Zil.🙂

45 pemikiran pada “[Me VS Skripsi] Masa-masa Bimbingan

  1. Ya ampun saya dapet award *terperangah* terus saya apain Lung awardnya? belum pernah dapet beginian nih soalnya *jujur*
    suka sedih kalau ada yang cerita soal skripsi dan bimbingan, bikin saya ingat sama adik saya yg masih berjuang untuk bimbingannya. tapi di bimbingan skripsi itu juga terselip bonus mata kuliah Lung, mata kuliah KESABARAN🙂
    anggap aja kesusahan yang dihadapi semasa konsultasi dan penyusunan skripsi itu sebagai ospeknya sebelum kamu terjun ke ‘dunia’ yang sebenarnya😀
    Sukses Lung!

  2. Bimbingan? Ah, sekarang aku sedang menjalaninya kok dalam rangka rangkaian proyek magang + tesis, hehehe😛 Dan berhubung aku suka materinya, jadi ya asyik-asyik aja gitu bimbingan dan menjalankan proyeknya, hehehe🙂

    Dan benar banget, dosen pembimbing itu salah satu faktor penting juga ya. Kalau dosennya enak dan klop, lancar dan senang deh menjalankan bimbingannya. Kalau dosennya rese, wah wah, harus menguatkan hati dan mental😛 Btw, ligat itu apa Lung??

    Btw, sama-sama🙂

  3. dan saya, saya pernah nangis gara2 ulah dosen pembimbing saya lung.. bayangin aja, laporan yang udah jadi yang kasarnya bilang tu dosen tinggal tanda tangan acc kelar, eee mendadak minta di tambah programnya dan otomatis itu kan berpengaruh ke laporan.. huuuuhh, rasanya itu keseeeeeeeeeeeeeeeLLLLL banget.. #mendadakEmosi👿

  4. wah…,asyik…dapat award…,saya pajang awardnya di dinding ya…,hehehehe..
    Hmm…saya belum pernah mengalami menyusun skripsi,soalnya saya baru ngelanjutin kuliah.oya hal yang sama terjadi pada saya,bahwa saya juga banyak dikenal orang,tp saya mengalami kesulitan menghafal nama-nama mereka. jadi jangan tanya saya nama teman-teman saya waktu SMP N ada sebagian teman SMA.hohohoho…,mungkin karena faktor U alias faktor Umur kale…,hehehehehe

  5. setuju banget kalo masa-masa ngerjakan skripsi itu masa-masa yang indah *untuk dikenang, bukan untuk dikerjakan. hahahaha*
    akan jadi cerita tersendiri, apalagi kalau hasil yang didapat bener-bener maksimal. duuuhh, seneeeeng banget deh pokoknya. baca tulisan ini jadi ingat masa-masa itu lagii. satu setengah tahun, rasanya bukan waktu yang sebentar untuk berinteraksi secara intensif dengan para dosen🙂

  6. Waduh, saya jadi kangen dengan masa-masa bimbingan skripsi dulu nih, hahaha….

    Iya, bila ingin bimbingan skripsi kita lancar, maka kita memang harus mengerti karakter dosen pembimbing kita…. Ini berdasarkan pengalaman saya sih, hehe….

  7. Skripsi bukan sesuatu yang menyenangkan bagi saya, karena saya harus menulis sesuatu yang bertentangan dengan hati nurani.. tapi untungnya sang dosen pembimbing dan saya seperti ibu dan anak.. seperti sahabat.. cukup untuk menghibur kegundahan hati dalam menyelesaikan skripsi🙂

  8. Nahh, apa gue bilang tempo hari. Pasti lu bakalan kangen banget sama masa masa kuliah kan, Lung? Huahahahaha. Udah, mending pikir pikir lagi deh kalo mau wisuda… #AJAKANSESAT #MINTADIGAMPAR #AMPUUUNNN

    Hahahaha…
    Eh”, Semoga sukses ya wisudanya. c3Umun9UdH e44. xixixixi…

  9. ha ha ha.. dulu saya yah, dosen yang paling killer itu di jadikan pembimbing
    alesannya biar mantep skripsi sayah gara2 beliau galak
    dan biar beliau yang galak itu gak jadi penguji😛

  10. wah,, wah.. klo selama bimbingan saya mah alhamdulillah Lung lancar-lancar saja.. mengingati Prof pembimbing selalu terbuka ketika ada konsul… cuman kenangan yang paling berkesan adalah ketikan penelitian berlangsung… Bayangin aja… 250 bibit tomat mati… matahi termometer tanah.. mecahin 3 erlenmeyer juga, hehee… bener2 human error.. Eh, PR nya sama kayak dari mas nanang, tapi blm dikerjain,hee… tar ya Lung,, ^^

  11. Halo Lung, aku sih gak kangen ya sama masa-masa gelap skripsiku itu, mwahahaha… Tapi jujur aja, aku gak nyesel dan gak malu kok lulus telat. Emang udah jalannya gitu, rejekinya begitu. Eh s.d sekarang, klo inget-inget perjuangan nyelesaikan skripsi S1 itu, masih suka deg2an gitu lho. Merinding deh. Makanya blm mau ambil S2. Nunggu traumanya sembuh dulu, barulah mungkin in the future ambil S2, hehehe…. #LEBAY

Biasakan Berkomentar Setelah Membaca, Ya.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s