Madu Pernikahan

she has the key

Dalam perjalanan ke Padang tadi, saya menyaksikan kejadian yang manis. Saat itu, saya tengah asyik memperhatikan jalan yang saya lalui. Kemudian mobil yang saya tumpangi berhenti, menaikkan penumpang. Penumpang tersebut terdiri dari satu orang pria, satu orang wanita, dan satu orang balita. Sepertinya mereka pasangan suami-istri yang baru dikaruniai buah hati.

Mobil pun kembali berjalan. Jendela yang saya buka (saya duduk tepat di dekat jendela) membuat angin sepoi-sepoi masuk ke dalam mobil. Angin tersebut membuat ngantuk si balita yang dipangku oleh ayahnya. Kebetulan mereka duduk di sebelah saya. Setelah si balita tertidur pulas, pasangan suami-istri tersebut membincangkan sesuatu. Kemudian saya menyaksikan sendiri gambaran kasih sayang orang tua kepada anaknya. Si bapak mencium puncak kepala anaknya yang tertidur pulas di pangkuannya, sementara istrinya mengelap iler yang keluar dari sudut bibir anaknya. Sesekali, si ibu juga turut mencium tangan anaknya yang tergenggam. Yang membuat saya senyum-senyum sendiri adalah tangan si suami yang menggenggam erat tangan si istri. Kemudian si istri menyenderkan kepalanya ke pundak si suami. Saya jengah dibuatnya.

Ingatan saya melayang pada minggu lalu, saat saya beserta beberapa teman sekelas menghadiri pernikahan teman sekelas. Jujur, itu adalah kali pertama saya menghadiri pernikahan seorang teman. Teman saya (perempuan) tampak begitu bahagia, meski ia sesekali mengeluh suntiang  di kepalanya keberatan. Ia juga memamerkan tangannya yang berhias inai pada kami sambil bertanya kapan kami akan mengikuti jejaknya. Kami hanya tersenyum. Saat saya bertanya, kenapa ia begitu cepat menikah dan mencuri start kami sekelas, ia hanya tertawa. Kemudian ia menjawab, daripada menjalin hubungan begitu lama tetapi menjadi gunjingan orang, bukankah lebih cepat lebih baik? Dan lagi, menikah itu sunah nabi. Kadung sayang kepada si suami dan mereka siap berkomitmen, maka mereka pun melanjutkan ke jenjang pernikahan.

pernikahan di minang

pernikahan di minang

Ada lagi tetangga kos saya. Mereka satu keluarga yang menyewa kamar di sebelah kamar saya. Biaya hidup yang mahal membuat mereka tak mampu tinggal di sebuah rumah, meski hanya untuk sekedar mengontrak. Padahal mereka mempunyai dua orang anak. Tentu saja, kamar yang tidak terlalu besar tidaklah baik untuk tumbuh kembang seorang anak yang butuh tempat luas untuk bermain. Uniknya, si istri terbiasa ngomong nyablak. Jadilah saya sering dia memanggil anaknya dengan panggilan (yang menurut saya) kasar. Contohnya, “Heh, anjing. Keluyuran saja. Magrib tu waktunya shalat, bukan keluyuran.” Begitulah ia memanggil anak perempuannya yang baru berumur tujuh tahun. Maksudnya tentu baik, tapi tetap saja kurang enak di dengar. Namun, meski hidup sederhana dan si istri nyablak, toh mereka tetap bahagia. Saya sering mendengar mereka tertawa bersama. Manis.

Saya juga jadi ingat dengan mama saya di rumah. Meski perbedaan umur mama dengan papa cukup jauh (sekitar sepuluh tahun), mereka tetap romantis. Mama yang lebih tua tetap menghormati papa sebagai kepala keluarga. Papa pun menyayangi mama serta anak-anaknya layaknya anak kandungnya sendiri. Tak jarang, terlontar panggilan “Cinta/Yang” di antara mereka yang membuat saya tersenyum simpul.

Saya juga belajar tentang arti pernikahan dari salah satu sahabat blog saya di Surabaya sana. Mbak Tyka dan suaminya (yang dipanggil ‘Abi’) adalah salah satu pasangan muda berbahagia yang sedang berusaha mendapatkan momongan. Wajar rasanya, sebab kebahagiaan dua orang insan yang terikat dalam ikatan suci tak kan lengkap tanpa seorang anak. Kasih sayang Mbak Tyka pada suaminya tampak dari beberapa tulisannya. Misalnya, ketika ia menuliskan betapa ia merindukan suaminya yang pergi ke Jakarta untuk bertugas, padalah si suami pergi tidak terlalu lama.

Begitulah, ada banyak cara pasangan menjalani kehidupan mereka dalam ikatan pernikahan. Saya hanya menceritakan segelintir dari yang saya amati. Seperti apapun tipe pernikahannya, selama ikatan tersebut di dasari cinta yang tulus, komitmen, serta saling mendukung, niscaya ikatan itu akan bertahan lama.

Lalu kapan kamu juga akan berkomitmen dalam sebuah ikatan sakral, Lung?

Duh, saya belum berpikir sampai ke sana. Sepertinya saya belum siap. Biar waktu yang menjawab #uhuk.

Iklan

23 pemikiran pada “Madu Pernikahan

  1. selesai tidak selesai, siap tidak siap, kumpulkan ! *eh ini sih udah bunyi bel sekolah*

    lebih cepat lebih baik ! *nggak semua orang juga percaya slogan ini*

    your time will come. just, be prepared ! *serius*

    eh, salam kenal ya 🙂

  2. hahaha, beberapa temanku juga ada yang sudah menikah. Tapi sayang, pas pesta pernikahannya pasti pas aku tidak bisa hadir, haha 😦

    Kalau aku? Hmm, belum berpikir sejauh sana sih. Nanti-nanti saja mikirnya, toh juga nggak buru-buru kan, huahahaha 😆

  3. Terkadang Ingin sekali sebagai pria/suami mengucapkan kata sayang atau cinta pada pasangannya melalui bahasa lisan atau bergandeng tangan waktu berjalan, namun jujur karena bukan type yang romantis, aku malah jengah untuk melakukannya….bagiku sikap dan perbuatan juga sudah menunjukkan suatu kasih sayang….bener gak Bro’….

    Salam kenal, kipbloging yoo….

  4. Ping-balik: Merawat yang sudah ada « ndutyke's

    1. G salah tulis kq, Mbak. Jdi mama saya kan ditinggal papa wkt saya msh SD. Nah wktu sy sem akhir, dia nikah lagi. Kbtulan papa yg skrg lbih muda. Untuk lbih jelasnya coba deh mbak baca tulisan saya yg judulnya ‘pernikahan itu’ 🙂

Biasakan Berkomentar Setelah Membaca, Ya.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s