Adaptation

Menurut sahabat, hal apakah yang paling dibutuhkan saat kita memasuki lingkungan baru? Uangkah? Atau, prestasikah? Bagi saya sendiri, hal yang paling dibutuhkan saat memasuki lingkungan baru adalah kemampuan beradaptasi.

Adaptasi sudah menjadi bagian dari kehidupan manusia. Sudah menjadi hukum alam, manusialah yang harus beradaptasi dengan lingkungan barunya. Bukan lingkungan yang beradaptasi dengan manusia. Bagi mereka yang survive dengan proses adaptasi tersebut, maka ia dapat dikatakan berhasil menundukkan lingkungan barunya. Tidak heran, Darwin sampai-sampai mengumbar teori tentang adaptasi. Tentu sahabat masih ingat dengan teori Seleksi Alamnya Engkong Darwin bukan? Itu tuh, teori yang dikaitkan dengan dua jenis zarafah. Zarafah berleher panjang dan zarafah berleher pendek.

Hampir satu bulan saya berada di dunia yang baru, yakni dunia kerja. Pada awalnya, saya merasa gugup. Gugup karena takut tidak mampu beradaptasi. Saya rasa hal tersebut manusiawi. Bukankah manusia takut terhadap hal-hal yang belum pasti? Awalnya saya takut siswa-siswa tidak bisa menerima saya, saya takut siswa-siswa bosan belajar dengan saya (terlebih mata pelajaran Bahasa Indonesia yang saya pegang sudah kadung dicap membosankan), saya takut rekan-rekan kerja (guru-guru) yang lain tidak bisa menerima saya, dan segala ketakutan lainnya. Untungnya, ketakutan tersebut tidak terbukti.

Diantara guru-guru yang lainnya, bisa dibilang saya yang paling muda. Tambahan lagi, saya pun belum memiliki jam terbang yang tinggi sebagaimana guru yang lain karena saya sendiri baru diwisuda pada Maret lalu. Namun, saya mencoba bersikap apa adanya. Saya berusaha ramah dengan semua guru, dengan ibu yang membersihkan ruangan, dengan karyawan di administrasi, dan dengan orang-orang lain yang saya temui. Alhamdulillah, lama kelamaan saya semakin akrab dengan yang lainnya. Saya diterima dengan baik oleh guru-guru lainnya. Sering kali, kami sengaja pulang bersama kemudian pergi makan-makan sekadar untuk mengakrabkan diri.

Bagaimana dengan siswa-siswa? Syukurlah, saya pun diterima dengan baik oleh mereka. Saya selalu berusaha memikirkan psikologi mereka yang baru berumur belasan tahun, memahami sifat mereka, dan menjadi sahabat mereka. Sekarang mereka sudah cukup akrab dengan mereka. Tak jarang mereka bergelayut manja di badan saya yang kecil sampai saya terhunyung-huyung. Atau kadang kala mereka menggelitiki saya. Saya juga sering bermain lempar-lemparan bola dengan mereka. Atau sekadar duduk-duduk mendengarkan cerita mereka.

Mungkin di sekolah-sekolah lain, hal-hal demikian dianggap tidak sopan. Namun itulah bedanya sekolah tempat saya mengajar. Guru-guru di sana diharuskan tidak bersikap seperti bos yang senantiasa benar. Guru tidak harus menjaga image mereka di depan siswa, sebab siswa bisa melihat dengan mata hati mereka mana guru yang tulus dan mana yang tidak. Guru tidak perlu malu apabila mereka salah ucap atau tidak mengetahui satu hal di depan murid, sebab ketika guru mengakui kelemahannya maka saat itulah muridnya belajar berjiwa besar seperti gurunya.

Tambahan lagi, sejak saya kuliah saya sudah berjanji ingin mengubah citra mata pelajaran Bahasa Indonesia yang dianggap membosankan. Maka segala cara saya upayakan agar materi yang saya ajarkan menarik bagi mereka dan mudah dimengerti. Syukurlah, mereka menyukai cara saya mengajar. Bahkan yang membuat saya terkejut adalah ketika saya terpilih menjadi Favorite Teacher pada pemilihan guru favorit saat Hari Kartini lalu. Saya terharu. Sikap saya yang apa adanya justru membuat mereka nyaman. Padahal saya belum sampai sebulan mengajar mereka.

Bukan berarti tidak ada kendala selama proses-proses awal saya beradaptasi. Ada orang yang bilang, “Saat kita berbuat baik saja masih ada yang tidak suka, apalagi saat kita berbuat hal yang buruk.” Di dunia kerja, sepertinya iri dan dengki adalah hal yang lumrah. Namun saya tidak berusaha menanggapi mereka yang suka membisiki saya di belakang. Lebih baik saya fokus dengan pekerjaan saya. Sia-sia membuang energi untuk mengurusi hal tidak penting seperti itu bukan? Bagaimana dengan sahabat? Apakah mempunyai pengalaman tersendiri saat memasuki dunia baru? Baik itu dunia perkuliahan, dunia pekerjaan, atau malah dunia pernikahan?

source image: http://litmusicadaptation.wikispaces.com/Adaptation

35 thoughts on “Adaptation

  1. arif berkata:

    sukses buat membuat paradigma belajar bahasa indonesia kian disukai siswa. betul itu, klo memasuki lingkungan baru itu adaptasi penting banget, bukan soal uang alias dana tapi keseluruhan. berinteraksi dengan manusia2 baru, cuaca, barang2, dan seterusnya. lingkungan baru kos2an, lokasi kuliah baru, dll :D

  2. zilko berkata:

    Suasana pendidikan di sekolahnya mirip sama di Eropa tuh Lung, dimana tidak (terlalu) ada perbedaan hierarki antara guru/professor dengan murid/mahasiswa. Jadi kayak setara gitu. Professor melihat mahasiswa sebagai rekannya, atau semacam “siswa magang”-nya (apprentice); dan ini kerasa banget apalagi kalau kita udah thesis/skripsi (setidaknya dari pengalamanku sih, soalnya ada juga professor yang sibuk banget jadi susah gitu buat ditemui untuk bimbingan, hahaha :P ). Suasana yang begini memang asyik ya, hehehe :)

    Dan aku setuju sekali. Hal paling penting ketika baru memasuki lingkungan baru adalah adaptasi. Mereka yang tidak bisa beradaptasi, sesuai teorinya Darwin, akan tersingkir. Kita tidak bisa memaksakan nilai-nilai atau pandangan kita ke lingkungan yang baru, kitalah yang harus bisa menerima nilai-nilai yang berlaku di lingkungan baru tersebut :D

    • sulunglahitani berkata:

      iya, zil. kebetulan kurikulum yg dianut kurikulum Eropa (mski ttap koordinasi ama Diknas)
      dan lagi, suasana spt ini lah impian gua bwt ngajar
      soalnya, gua orgnya nyantai. ga suka kekakuan :D

  3. Sobat Bercahaya berkata:

    Salam hormat pa’guru.
    Sukseskan Bahasa Indonesia menjadi bahasa pengantar resmi ASEAN. Aamiin ya Rabb

    • sulunglahitani berkata:

      hmm, adaptasi bkn brarti mngubah diri kta mnjdi sesuai yg dsukai lingkungan tsb.
      buktinya, saya mah tampil apa adanya aja. hehe
      hnya saja, adaptasi brarti mngikuti alur & aturan yg berlaku, tanpa kehilangan jati diri :)
      (in my opinion)

  4. niee berkata:

    bagus deh yak lung.. soalnya kalau aku susah buat beradaptasi.. utgnya lingkungan kerja aku sekarang ya administrasi.. gak terlalu perlu beradaptasi langsung.. tapi bisa dilakukan perlahan lahan.. hehehehe

  5. uyayan berkata:

    selamat mengabdi pak guru dan selamat juga atas terpilihnya menjadi guru favorit…

    hehe sama saja masuk dunia baru pasti akan merasa gugup dan yang pasti perlu beradaftasi..

  6. sakura suri berkata:

    dunia terbaru saya adalah dunia perkuliahan kemarin, hihihi
    kaget! tugasnya subhanallah banyak bangeeeetttttttt
    tapi sy tetep percaya, i can if i think i can.
    hehe
    selamat beradaptasi ya, pak guru :)

  7. Ely Meyer berkata:

    selamat ya telah terpilih jadi guru favorit, hebat deh !

    kalau aku alhamdulialh bisa beradaptasi dengan lingkungan sini, yg mana beda ada istiadat, beda cuaca, beda cara pandang dan budaya

  8. Mayya berkata:

    Wah, jadi penasaran deh ama sekolah tempat mengajar kamu deh Lung…
    Alhamdulillah kamu udah nyaman mengajar disana yaaa….

    Insya Allah, pertengahan bulan ini aku sekeluarga ke Padang, klo ada kesempatan bertemu, aku juga ingin tahu dimana sekolah kamu itu ^^V

    Oh ya, mulai sekarang aku panggil Pak Guru aja deh hehehe…

  9. ysalma berkata:

    selamat menjadi guru favorit, awal yang baik untuk mewujudkan tekadnya.
    saya dengan lingkungan baru, setuju dengan pepatah tetua di daerah asal, ‘dimaa tanah dipijak, disitu langik dijunjuang’, harus bisa menyesuaikan diri tanpa kehilangan jati diri.

  10. 'Ne berkata:

    wah selamat ya terpilih jadi guru favorite, itu berarti adaptasinya sudah cukup berhasil, bisa diterima oleh murid2 dan guru.. semoga sukses selalu :)

  11. ekisays berkata:

    wah, nice topic nih pak guru.
    kemampuan beradaptasi memang hal yang unik dan mungkin tidak semua orang bisa. sedikit cerita, saya alhamdulillah besar di medan, kuliah di bandung, dan bekerja di pontianak. seluruhnya benar-benar budaya yang berbeda, dan sekarang merasa diri saya menjadi lebih kaya, dan lebih baik dalam menilai hidup. :)
    anyway, dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung :D pepatah bahasa indonesia ya :)

  12. danirachmat berkata:

    Beruntung banget tuh murid-muridnya sampean Mas Sulung..

    Bagi saya, percaya ato nggak, Bahasa Indonesia adalah salah satu pelajaran paling susah. :D

    Selamat memasuki dunia kerja :)

Biasakan Berkomentar Setelah Membaca, Ya.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s