Menjemput Marina

Aku membersihkan pistol Magnum 357 ku dengan hati-hati. Dari sekian banyak pistol yang ku miliki, mungkin Magnum 357 inilah kesukaanku. Setelah Colt Compaq 45 Auto, tentunya. Bentuknya yang klasik, membuatku serasa melintasi batas waktu dan bermain di film hitam putih yang sering ku tonton sewaktu kecil. Selain itu, gagangnya yang kokoh membuatku mantap merasa sebagai lelaki. Dan tentunya, pistol ini sangat cocok dengan pekerjaanku selama ini.

Magnum 357 tidak menimbulkan bekas kerang. Titik ujung peluru, juga tidak meninggalkan jejak kerang. Namun untuk jaga-jaga, aku selalu memasang silencer pada mulutnya. Sebab bagi seorang pembunuh bayaran sepertiku, meninggalkan jejak berarti kematian.

*          *          *

Klien kali ini berbeda dari klien-klienku sebelumnya. Biasanya, yang meminta jasaku adalah seorang pria. Namun tidak kali ini, di depanku duduk seorang wanita paruh baya mengangsurkan sebuah foto beserta amplop tebal. Garis wajahnya begitu tegas, sapuan make up yang ia kenakan pun tampak padu. Kalung mutiara yang ia kenakan berkilau, serasi dengan anting berliannya. Kutebak, sewaktu muda tentu ia lebih cantik. Seorang artis mungkin? Tapi kalau benar, untuk apa seorang artis meminta jasaku?

*          *          *

Kupandangi lagi foto digenggamanku. Berusaha mencocokkan paras difoto dengan target yang sedang berkebun di rumahnya. Aku selalu mengamati kehidupan si target sebelum menggondol nyawanya dengan pistol kesayanganku. Bertindak hati-hati, sebab pekerjaanku tidak menerima kesalahan sedikitpun.

Namanya Marina Wijaya. Mempunyai tiga orang anak, namun hanya tinggal berdua dengan suaminya. Targetku ini dulunya seorang artis. Jadi, apakah tebakanku kalau klienku dulunya seorang artis tepat? Ah, panggung hiburan memang membingungkan. Bahkan, hingga saat umurmu telah lanjut pun masih ada orang yang membencimu. Benar-benar dunia yang aneh.

*          *          *

Aku tidak habis pikir, apa yang salah dengan targetku kali ini. Genap seminggu aku mengikuti irama kehidupannya. Keluar rumah pukul 06.00 untuk memberi makan ayam-ayam, selanjutnya ia akan membiarkan sinar mentari pagi menemaninya menyiram bunga. Sesekali, ia menyapa orang-orang yang lewat di depan rumah.

Saat matahari telah sepenggalah naik, maka ia akan masuk kembali ke dalam rumah. Aku tak tahu apa yang ia lakukan di dalam. Namun dari bayangannya yang sesekali melintas di jendela, sepertinya ia sedang mengurus keperluan suaminya. Siang hari, ia akan keluar rumah. Berjalan perlahan dengan senyum yang selalu terkembang menuju warung kecil dua blok dari rumahnya. Dan sore hari, ia akan melangkah menuju panti asuhan di dekat jalan besar. Tapi ia tidak sendiri. Suaminya menemaninya menuju panti asuhan tersebut. Dari kejauhan, dapat kulihat tangan mereka bertaut. Saling menjaga, saling mempercayakan sisa hidup mereka di tangan pasangan. Lalu dimanakah cela yang membuat klienku ingin aku mengakhiri nyawanya?

*          *          *

 “Seminggu sudah waktu yang kau janjikan padaku. Sudah kau jemput nyawanya?” Suara klienku terdengar begitu dingin.

“Belum. Ada satu hal yang ingin kutanyakan sebelum membunuhnya. Kenapa anda begitu ingin saya mengakhiri hidupnya?”

Terdengar hening sejenak. Dari kejauhan, dapat kudengar sayup suara kucing.

“Bukan urusanmu. Tugasmu hanyalah melakukan pekerjaanmu. Ingat, aku membayarmu untuk jasamu.”

“Saya bukannya ikut campur. Namun saya tidak melihat ada yang salah pada dirinya selama saya mengikutinya.” Ah, kenapa aku jadi simpati seperti ini pada targetku?

“Bangsat. Tugasmu hanyalah mengikuti aturanku. Jika obituarinya belum juga tercetak di koran besok, maka kau akan segera diganti dengan pembunuh yang lain. Yang lebih profesional.”

Klienku membanting gagang teleponnya. Benar-benar wanita besi.

*          *          *

Aku berdiri di depan nisan putih berukir. Pemakaman telah berakhir sejam lalu. Hidup memang penuh misteri. Baru tadi pagi aku berencana untuk membunuhnya, namun keramaian orang melayatlah yang menyambutku setibanya di sana. Dari bibir orang-orang yang lalu lalang kudengar, meninggalnya biasa saja. Tidur untuk kemudian tidak bangun kembali.

Aku meletakkan seikat tulip hitam di atas makam Marina Wijaya. Meninggalkan pemakaman dengan tanya yang masih menggantung. Apa yang akan ku katakan pada klienku nanti?

source image: http://img.technospot.net/Free-Download-75+-Weapon-Wallpapers-in-one-Pack-Antique-Gun-300×225.jpg

Iklan

14 pemikiran pada “Menjemput Marina

  1. Ending-nya keren banget Lung, hehehe 🙂

    Eh Lung, tapi menurutku tokoh utamanya (si pembunuh bayarannya) rasanya kurang “kuat” gitu karakternya. Maksudku gini. Dia kan pembunuh bayaran gitu ya; jadi seharusnya ia bisa lebih “profesional” dalam artian ia nggak mudah bersimpati dengan si target dong. Nah, menurutku sih bakal lebih seru ceritanya kalau ada yang lebih “unik” si Marina Wijaya ini yang membuat dia “lebih berbeda” daripada korban-korban sebelumnya (sehingga si pembunuh bayaran bisa “bersimpati” dengannya, ya karena “perbedaan” ini), lebih daripada sekedar Marina Wijaya yang nampak sebagai wanita yang baik hati dan mencintai keluarganya, hehehe. Kalau ada twist ini kayaknya bakalan lebih seru lagi deh ceritanya 😛

    Hanya pendapat aja sih Lung ini, hehehe 🙂

  2. Aku meletakkan seikat tulip hitam di atas makam Marina Wijaya. Meninggalkan pemakaman dengan tanya yang masih menggantung. Apa yang akan ku katakan pada klienku nanti?

    Aku menuliskan komentar miring di flashfiction Sulung L.M. Meninggalkan blog ini dengan tanya yang masih menggantung. Kenapa mesti bingung mengatakan apa pada klienku, sedangkan TO sudah tercapai? Rasa ingin tau tentu akan mengarahkanku menyelidiki klienku sendiri … he he he tunggu saja twist-nya segera.

    #Menarik ***** 😀

Biasakan Berkomentar Setelah Membaca, Ya.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s