(Ingin) Pindah Kos

Sebenarnya, apa sih dasar seseorang menamakan sebuah tempat menjadi ‘tempat tinggal?’ Tentunya atas dasar kenyamanan serta rasa aman yang ditawarkan tempat tersebut bukan? Lalu apa jadinya jika sebuah tempat yang biasa kita namakan mulai kehilangan dua jiwa tersebut? Tentu kita sebagai penghuninya akan mencari tempat baru untuk ditinggali dan menamakan tempat tersebut ‘tempat tinggal’ yang berikutnya.

Seperti itulah yang saya rasakan saat ini. Dulu saya merasa nyaman dengan kos yang saya tempati. Selain karena uang sewanya murah (tentunya), kos saya juga membuat saya betah dengan lingkungan yang sunyi. Yah, bukan apa-apa. Saya sering kali pergi pagi-pagi sekali dan baru pulang pada malam harinya. Tidak heran kalau kos bisa dibilang sebagai tempat pelepas lelah. Karenanya, kos tersebut harus memenuhi standar kenyamanan dan keamanan yang saya inginkan. Selain itu, saya pun mendapat bonus dengan ibu kos yang baik hati seperti yang pernah saya tulis di sini.

Akan tetapi, belakangan ini saya mulai berpikir untuk pindah kos. Selain karena tempat kerja saya yang cukup jauh, juga karena penghuni-penghuni baru yang menurunkan standar kenyaman yang kos saya miliki.

Kos saya sebenarnya lumayan dekat dengan kampus. Akan tetapi, ketika saya mendapat pekerjaan di daerah Khatib Sulaiman (sementara kos saya di daerah Air Tawar Barat), maka kos saya pun mulai terasa jauh. Jarak yang harus saya tempuh setiap hari bisa sahabat lihat dari ilustrasi di bawah ini.

Segitiga berwarna merah itu ibaratnya kos saya. Maka setiap hari saya mesti berjalan  terlebih dahulu (ditunjukkan oleh garis warna merah) sampai persimpangan. Jarak dari kos sampai simpang tersebut cukup jauh lho, sahabat. Teman-teman saya yang pernah ke kos saya saja geleng-geleng kepala begitu tahu kalau saya memilih jalan dari kos sampai ke persimpangan (untuk penghematan tepatnya).

Kemudian dari persimpangan tersebut, saya mesti naik angkot hingga jalan besar (ditunjukkan oleh garis warna hijau). Lewat jam 7, biasanya angkot-angkot tersebut penuh dan saya terpaksa naik ojek jika tidak ingin terlambat. Karenanya, saya tiap hari mesti sudah berangkat dari kos sebelum jam 6. 30 jika tidak ingin kesulitan mendapat angkot.

Kemudian di jalan besar saya kembali naik angkutan umum (kali ini bus) hingga ke akhir garis warna hitam. Nah kemudian saya (kembali) jalan kaki hingga mencapai tempat saya bekerja.

Seandainya saja saya bukan tipe orang yang biasa jalan kaki, mungkin sudah lama saya menyerah dengan jarak yang saya tempuh. Untungnya, saya sejak SMP sudah biasa jalan kaki hingga saya menginjak bangku perguruan tinggi. Dan ditambah lagi, saya mempunyai kecepatan berjalan yang di atas rata-rata orang biasa.

Dulu saya tidak mempermasalahkan jauhnya jarak yang saya tempuh. Namun belakangan ini, lama-lama saya merasa lelah juga. Saya berangkat pagi dan pulang sore hari. Sampai di kos, saya biasanya sudah kecapekan. Sehingga tidak heran, kalau saya merasa hidup saya agak kacau akhir-akhir ini. Sudah lama saya tidak mempunyai waktu memanjakan diri.

Apalagi, penghuni-penghuni baru di dekat kos saya mulai menunjukkan gelagat yang membuat saya kurang nyaman. Bisa dilihat pada ilustrasi di bawah ini. Warna biru menunjukkan kamar saya. Sedangkan merah, kuning, dan hijau penghuninya adalah keluarga.

Bisa dibayangkan jika keluarga yang ngekos, pasti ribut sekali. Sudahlah anak-anak mereka sering teriak-teriak. Belum lagi sebentar-sebentar menangis (bahkan terkadang jam 4 pagi sudah menangis!). Yang membuat saya tambah merasa tidak nyaman adalah keluarga yang tinggal di bagian berwarna merah.

Bukan bermaksud buruk, tetapi ibu yang tinggal di sana mulutnya kasar sekali. Anaknya aja dia panggil dengan panggilan yang tidak baik, seperti: Hei, Anj@#$. Mandi lai. Lah, sore!! Atau kalimat-kalimat kasar lainnya. Belum lagi ibu tersebut (bisa dibilang) orang yang pemarah. Sering kali ketika saya pulang maka saya mendengar ia melontarkan sumpah serapah atau marah-marah sampai menyumpahi orang-orang yang lewat di dekatnya.

Saya jenuh dengan keadaan tersebut. Kenyamanan yang biasa saya dapatkan, hilang entah kemana. Ditambah lagi, dengan jarak yang cukup jauh dari tempat kerja. Gaji saya banyak habis untuk ongkos saja.

Sekarang saya masih berpikir untuk mencari tempat tinggal baru di dekat tempat kerja saya. Meskipun saya merasa sayang meninggalkan kos saya yang sekarang (karena sudah betah), tapi demi penghematan maka saya harus pindah kos. Adakah sahabat yang mempunyai tips-tips dalam memilih tempat tinggal baru?

Source image: http://t1.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcQLmE5THunyOm5SZ-WLxv7g-wBdwAkQEE1ODxzqDH3UKyje6b9xeg

23 pemikiran pada “(Ingin) Pindah Kos

  1. di daerah Khatib banyak tempat kos itu Lung,
    kalau udah kerja kayak gini, cari yang paviliun aja, kalau bisa yang punya rumah anaknya lagi merantau, jadi serasa punya orangtua lagi😀

  2. membaca situasi nya.. saya dukung rencana kepindahan sobat!!! hehehe.. nyaman+aman adalah syarat mutlak sebuah tempat tinggal, kalau murah atau tidak sih saya rasa itu point sekunder.🙂

  3. coba datangi area kosan baru pada waktu pagi hari, ntr kan bs keliatan: ini kalo pagi, situasi kosan-nya serame apa sih? trs baguslah kalo sekolahnya within walking distance, kalo harus naik angkot? tanya2 jg, pas pagi hari angkotnya susah (dlm pengertian: penuh mulu) atau relatif mudah?

    coba cari juga kosan yg bukan untuk keluarga. at least kan ga ada suara anak kecil nangis atau teriak2. ya kan emang ga semua orang (terutama yg masih gadis/bujang) bisa betah dan menoleransi suara2 anak kecil (gw dl jg pusing kali, denger anak kecil nangis atau tantrum….)

  4. Tanya-tanya sekitar sekolah tempat kamu ngajar deh Lung, atau malah nanya sesama guru yang masih ngekos ;P

    Mdh2an segera dapat kos baru yang nyaman ya Lung!

  5. Itu satu keluarga boleh tinggal di satu kamar kos kah?? Hmmm…

    Btw, iya tuh Lung, kalau kondisinya sudah tidak kondusif dan nyaman seperti itu memang sebaiknya pindah saja kan🙂 . Toh bukan berarti kita harus tinggal di suatu tempat (apalagi kita di tempat itu hanya ‘menyewa’) selama-lamanya kan? Life changes, kita juga harus membuat perubahan untuk menyesuaikan dengan perubahan itu, hehe😀 Kalau enggak, lama-lama malah rugi sendiri deh.

  6. Iya, lebih baik pindah Lung, gpp kalo kosnya lebih mahal drpd yg skrg, tapi ga perlu ngongkos lagi, uang yg dikeluarkan sama, tapi jadi ga cape toh?😉 Semoga cepet ketemu tempat kos barunya ya

  7. kalo saya waktu itu pindah karena kos yang lama ada renovasi dan jadi ribut, nggak nyaman
    pertimbangan pilih kos barunya: budget, jarak, kemudahan akses transport (baca: ada angkot😀 ), dekat tempat cari makan, dan bonusnya sekosan sama teman main dan belajar bareng hehe

Biasakan Berkomentar Setelah Membaca, Ya.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s