Mereka Bertanya Soal Sex

Wallpaperwide.com
Wallpaperwide.com

Apa sih perbedaan anak zaman sekarang dengan anak zaman dahulu? Kalau menurut saya pribadi sih, anak-anak zaman sekarang cenderung lebih kritis dan banyak tanya. Anak zaman sekarang tidak mempan lagi dinasihati, mereka lebih cenderung akan meniru dibanding mendengarkan apa yang dikatakan orang yang lebih tua. Tidak heran, banyak orang tua bilang kalau anak zaman sekarang bandel-bandel. Sebenarnya, bukan salah anak-anak tersebut juga. Seandainya para orang tua lebih memfokuskan diri kepada memberikan contoh dibanding hanya berbicara/menyuruh anaknya, tentu anaknya meniru orang tuanya tersebut.

Hal itulah yang saya temukan di tempat saya mengajar. Siswa-siswa saya luar biasa kritisnya. Terkadang pun mereka lebih tahu tentang suatu hal dibanding saya sebagai gurunya. Karenanya, sekarang sudah bukan masanya lagi ‘guru selalu benar’. Tidak ada salahnya seorang guru melakukan kesalahan, sebab guru pun seorang manusia yang penuh kekhilafan. Dan untungnya, siswa-siswa saya bisa dibilang anak-anak yang mempunyai good character, jadi meskipun guru mereka salah, mereka tidak mengejeknya. Palingan hanya menunjukkan yang benar dan tugas guru lah berlapang dada menerima kritikan mereka.

Siswa-siswa saya juga suka sekali menanyakan banyak hal. Dari hal remeh-temeh, hingga hal-hal yang mungkin bagi beberapa pihak masih dianggap tabu, contohnya sex. Yup, tidak dapat dipungkiri kalau arus informasi zaman sekarang tidak terbendung. Dengan adanya internet, anak-anak bisa mencari apapun hanya dengan mengetikkan sekian kata di mesin pencari. Akan tetapi, untuk urusan sex, anak-anak tidak boleh dibiarkan mencari informasi sendiri. Agar mereka tidak mendapatkan informasi dari sumber yang salah.

Saya suka duduk-duduk bersama para siswa dan mendengarkan pembicaraan mereka. Sambil mengamati tingkah mereka, saya sesekali menjawab pertanyaan yang mereka ajukan. Tentunya, saya lebih sering berkumpul dengan para murid cowok. Nah, murid-murid cowok ini kalau sudah berkumpul cerita mereka bisa kemana-mana. Dari soal musik, band, film, iklan, kejadian sehari-hari, cewek yang mereka sukai, sampai ke masalah sex.

Tidak dapat dipungkiri, usia mereka memaksa perubahan terjadi di dalam diri mereka. Pubertas membuat mereka mulai mengalami hal-hal yang selama ini tidak pernah mereka alami. Misalnya, suara yang berubah, tumbuh rambut di beberapa tempat, dada dan bahu yang melebar, sampai soal alat kelamin.

Sebagai seorang guru, saya tidak ingin membiarkan mereka mendapatkan informasi soal masa pubertas mereka dari pihak yang salah, karenanya saya senantiasa berusaha menjawab hal-hal yang mereka tanyakan. Para murid cowok ini suka sekali bertanya sambil bercanda dengan saya soal sex, misalnya kenapa penis mereka suka tegang pada pagi hari, kenapa pada saat orgasme mereka mengalami perasaan bahagia (ini biasanya yang pernah onani), apakah benar kalau sering onani lutut bisa kopong, mengapa di bagian alat-alat kelamin mereka tumbuh bulu-bulu halus, apakah bulu-bulu tersebut mesti dibiarkan memanjang atau mesti dicukur, sampai ke pertanyaan-pertanyaan aneh semisal apakah cowok bisa mengalamai kanker payudara?

Mendapat pertanyaan-pertanyaan tersebut, saya selalu berusaha menjawab pertanyaan mereka dengan kapasitas ilmu yang saya miliki. Untungnya saya tipe orang yang suka membaca, jadi saya cukup bisa menjawab pertanyaan mereka. Namun, saya menyadari tugas saya sebagai seorang guru adalah membimbing mereka ke arah yang baik. Karenanya, di akhir-akhir jawaban selalu saya sisipkan pesan moral sambil bercanda.

Misalnya, saya bilang kalau sering onani nanti anaknya jelek. Soalnya bibit-bibit yang bagus sudah mereka buang sewaktu muda. Ditambah lagi, energi yang dikeluarkan saat onani sama dengan energi yang dikeluarkan saat mereka main tenis dua lap. Dengan kata lain, semakin sering mereka onani, maka energi yang dikeluarkan makin besar. Belum lagi penis yang sering dionani akan mengalami lecet. Selain itu, sperma membutuhkan waktu empat hari untuk mengalami kematangan. Kalau sering onani, maka ketika mereka orgasme bukan lagi sperma (mani) lagi yang mereka keluarkan. Melainkan hanya berupa cairan semen. Makanya sebisa mungkin onani tersebut dihindari. Salurkan energi kalian pada hal-hal yang positif, seperti olah raga, main band, dan lain-lain.

Lalu kenapa saya memilih menjawab pertanyaan mereka dibanding menasihati mereka kalau hal-hal yang mereka tanyakan itu tabu? Sebab saya menyadari kalau saya pernah diusia mereka. Saat mengalami pubertas, maka pada saat itu pula mereka sedang mengalami pencarian jati diri. Jangan sampai mereka mendapat informasi dengan cara yang salah dan dari sumber yang salah. Orang tua/guru yang cenderung menutup-nutupi hal-hal seperti sex tersebut, justru sama saja dengan membiarkan anaknya mencari informasi dari sumber-sumber lain tanpa filter.

Jadi apakah menurut saya perlu adanya dibuat sebuah kurikulum yang menjelaskan soal sex education kepada anak-anak? Menurut saya belum tentu. Sex education seharusnya diberikan pada siswa yang memang mempunyai capability untuk memahami soal sex education tersebut dengan cara yang positif. Dan tentunya, seorang pemateri soal sex education tersebut harus memahami karakter anak-anak dan tumbuh kembang mereka terlebih dahulu.

Yah, itulah gambaran anak-anak zaman sekarang. Jika sahabat mempunyai seorang anak yang masih kecil, sudah saatnya sahabat memikirkan bagaimana cara menjelaskan soal sex education kepada mereka dengan cara yang halus dan baik. Jangan sampai mereka mencari informasi dari sumber yang salah. Misalnya saja ketika anak sahabat mengalami menstruasi atau mimpi basah pertama mereka.

Oke, buat penutup berikut beberapa foto kegiatan siswa-siswa saya yang saya sayangi di sekolah. Selamat menikmati.

 

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

57 pemikiran pada “Mereka Bertanya Soal Sex

  1. Keren euy jawabannya. Gak jamannya lagi anak ga boleh bertanya soal seks. Dan sex education sepertinya perlu masuk kurikulum biar anak mendapatkan informasi dari sumbr yang benar. Salut Mas.🙂

  2. Wuih, keren sekali Lung. Benar sekali ya, sekarang pendekatan akan sex education ini harus berbeda dibanding dulu-dulu. Rasa-rasanya sekadar menyatakan seks adalah tabu bukannya akan menyelesaikan masalah, tetapi malah bisa membuat ini berkomplikasi menjadi lebih parah dan mungkin hanya akan sekedar ‘menunda’ masalah itu saja🙂 . Dan memang ini bukan hanya tanggung-jawab guru di sekolah saja sih ya, karena terutama orangtua juga harus terlibat…

  3. Kalau dulu mah, aku mana berani tanya gituan ama guru hihihi…
    Dulu sempat ada seminar-seminar sex education di sekolah beberapa kali, jadi tahu deh hehehe…kayaknya perlu juga tuh Lung, di sekolah tempat kamu ngajar adain seminar sex education juga ^_^

  4. ketika anak saya menginjak pubertas saya ajak berbincang berduaan. tentang kewajiban yang harus dilakukan. yang berkaitan tentang penjagaan farji” . titik tekan saya agar mereka tak malu dengan mandi besar ketika harus mandi besar ( krn mimpi basah).

  5. “Anak zaman sekarang tidak mempan lagi dinasihati, mereka lebih cenderung akan meniru dibanding mendengarkan apa yang dikatakan orang yang lebih tua.”…. sayangnya lagi yang di tiru malah lebih ke hal yang seharusnya jangan di tiru…

  6. Saya cuma dengarkan y pak guru. Mungkin pikirkan saya belum sampai kesitu. Makasih infonya. Murid-murid kak Sulung sama dengan teman-teman saya waktu SMA. Nanti saya beritau sama teman-teman saya.

  7. sudah terlalu banyak literatur gratis yang menjawab segudang pertanyaan mereka : internet.. maka tidak perlu lagi mereka bertanya apakah definisi, cara, bahkan resiko yang akan terjadi..
    tapi pada literatur itu tidak terdapat : hati, pikiran, serta bimbingan secata batin..

  8. anak sekarang memang kritis
    kalo jawaban dianggap kurang memuaskan mereka akan mencari dengan caranya sendiri
    sementara orang tua belum terbiasa terbuka ngomongin soal itu

  9. Perlu sekali mereka diberi penjelasan, tentunya bukan tentang hal2 yang vulgal namun lebih kepada sebuah pendidikan sehingga dapat terarah dengan baik, bukan malah memancing mereka sehingga menjadi penasaran.

  10. Mas Sulung ini guru bidang studi apa, ya? Koq bisa-bisanya menjawab masalah sex. Hehehe… Kalo saya kayaknya belom siap diskusi soal sex dengan anak-anak. Salut buat Mas Sulung lah…

        1. hm,, ada dua cara sih mas. yg pertama, bahas dg bahasa ilmiah, namun ini hanya berlaku jika memang memiliki tingkat pengetahuan yg sudah lumayan tinggi. tapi kalau mereka tidak tahu pun, kita bisa menjelaskan maksud istilah tsb bukan?
          dan cara yng kedua menurut saya adalah berandai2 menjadi mereka. bahasa seusia mereka biasanya simpel, santai, dan apa adanya. makanya, ketika kita membahas sex dengan mereka, tidak ada yg perlu ditutup2i. Kcuali hal2 yg mrka blm saatnya mengetahuinya🙂

          1. senitea

            nah justru itu mas, tidak ada yang perlu ditutupi satu sisi harus tahu apa saja hal-hal yang belum saatnya perlu diketahui…
            makasih mas..;-)

  11. Penjelasannya gamblang banget tapi perlu. Sudah waktunya pendidikan sex itu diatur dan diberikan biar pada gak tersesat.
    Ah untunglang murid-murid tersebut bisa bertanya pada dirimu ya🙂

  12. selfbeside

    beda-beda sekolah bro, klo diliat dari gambaran sekolah dan siswa di sekolah tempat lo ngajar sepertinya bisa diterima dengan baik, tapi kalau sekolah dengan tingkat kesadaran pendidikan yang rendah dan pola pikir yang belum terbuka sepertinya pendidikan seks bakal sangat dianggat taboo

  13. wah anak2 SMP jaman skrg, badannya gede2 udah kek anak SMA, hehe….
    iya tuh aku setuju dgn perlunya sex-ed buat anak-anak. bahkan benernya dari TK udah perlu diajarin hal yg sederhana lho. seperti misal : “Ini (maksudnya: alat kelamin) punya adek. orang gak boleh liat atau pegang, kecuali ibu dan si mbak kalo mau nyebokin. Kalo ada yg maksa megang, adek harus lapor ibu ya….”

    krn buanyak emg korban pelecehan sex itu merupakan anak-anak balita kan?

  14. wah beruntung banget murid2 qm bisa dapat guru yg bisa memahami mereka dan tidak bersikap menggurui. andai saja semua guru bisa seperti qm, tentu kualitas siswa di negri ini bisa lebih tinggi.
    keep up the good work, Mister🙂

Biasakan Berkomentar Setelah Membaca, Ya.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s