Semester yang Berat

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Semester ini menjadi semester yang berat bagi saya. Bagaimana tidak, jika semester lalu saya hanya mengajar di dua kelas dengan dua kali masuk tiap minggunya, maka semester ini lebih banyak. Semester ini kelas yang harus saya pegang ada empat kelas, yakni grade 7a, grade 7b, grade 8, serta grade 9. Jadi untuk tiap kelas saya mesti masuk tiga kali satu minggu (masing-masing kelas 5 kali pertemuan). Jika ditotalkan, kira-kira saya harus mengajar Bahasa Indonesia untuk semua kelas adalah 20 jam!

Sebenarnya, meskipun saya guru, saya kurang mengerti dengan penghitungan jam pelajaran. Yah, maklum saja. Lha wong saya wisuda saja baru kemarin ini (maret 2012), dengan kata lain, saya masih butuh banyak belajar (meskipun dulu sudah pernah praktek mengajar). Untuk lebih jelasnya, maka ilustrasinya seperti ini. Hari Senen, saya mesti mengajar di grade 7a, 7b, serta grade 8. Hari Selasa cuma satu. Hari Rabu dan Kamis, tiga kelas. Sedangkan Hari Jumat dua kelas.

Awalnya saya sempat protes, kenapa hanya jam mata pelajaran Bahasa Indonesia dan Matematika saja yang begitu banyak. Kalau memang untuk persiapan UN, kenapa english cuma dua kali masuk per minggu untuk tiap kelasnya? Namun kata teman saya yang bagian kurikulum, memang seperti itulah pembagian dari Diknas, maka saya cuma bisa diam. Soalnya, kalau memang sudah seperti itu ketentuannya, ya mau bagaimana lagi?

Sebenarnya, kalau cuma mengajar segitu mungkin saya masih kuat. Hanya saja, ada kebijakan di sekolah tempat saya mengajar bahwa siswa-siswa yang mengikuti program full day, mesti belajar juga sore harinya. Belum lagi jadwal piket yang mesti saya jalani. Jujur saja, saya merasa capek sekali.

Padahal belum genap seminggu saya mengajar setelah libur puasa, tapi saya sudah merasa letih. Dan keletihan tersebut bukan cuma saya yang rasakan, tetapi juga dikeluhkan oleh teacher yang mengajar mata pelajaran lain yang cukup banyak juga. Ditambah lagi, siswa-siswa saya yang aktifnya luar biasa. Seringkali, saat mengajar kegiatan saya lebih banyak menyuruh mereka memperhatikan. Soalnya, rata-rata mereka sudah mengerti dengan materi yang saya berikan. Maka mereka lebih banyak bertanya atau berdiskusi dengan teman-temannya. Terkadang saya merasa dicuekin juga, tapi diam-diam saya cukup senang juga dengan kemampuan mereka.

Dengan semua kegiatan tersebut, tidak heran jika separuh hidup saya tiap harinya dihabiskan di sekolah. Berangkat sebelum pukul tujuh, berada di sekolah hingga pukul lima, sampai di kosan sudah merasa capek, sampai-sampai untuk sekadar menyapu kamar saja tidak bertenaga lagi rasanya.

Untuk mengantisipasi tubuh yang drop, saya berjaga-jaga dengan membeli vitamin C serta B kompleks, lebih rajin minum susu, mengupayakan sarapan tiap pagi dengan empat tangkup roti bermentega, dan memperbanyak makan sayur/buah. Akan tetapi, tidak dapat dipungkiri yang dibutuhkan oleh tubuh saya adalah istirahat. Tidak heran, begitu ada kesempatan maka saya habiskan waktu tersebut untuk tidur, walaupun cuma 10 menit. Terkadang saya duduk di kantor sambil menyender lalu tiba-tiba tertidur, bahkan saat di kos pun saya bisa saja tiba-tiba tertidur ketika sedang asyik mengetik di laptop.

Sebenarnya saya memang merasakan capek setiap pulang dari sekolah. Akan tetapi, rasa capek tersebut seperti terobati ketika melihat siswa-siswa yang mengerti dengan materi yang saya berikan, bisa mengerjakan dengan baik latihan yang saya berikan, ataupun melihat bias bahagia wajah mereka saat saya memberi nilai yang bagus.

Rasa capek juga seolah-olah hilang ketika jam belajar selesai lalu mereka berebutan berteriak “THANK YOU, MISTERRR!!!” Hal seperti ini tidak saya temukan di sekolah-sekolah lain yakni siswa-siswa yang berterima kasih atas guru yang telah mengajar mereka. Lalu terkadang mereka bercanda dengan berebutan berdiri berjajar di dekat pintu sambil mempersilakan saya keluar seperti yang biasa saya lihat di film-film saat tamu kehormatan datang (ini biasanya siswa cowok). Atau beberapa siswa yang tiba-tiba melompat ke arah saya sambil bergelayut manja (masih siswa cowok).

Rasa letih pun seolah-olah sirna ketika ada beberapa siswa yang berkata kata-kata yang menyejukkan hati seperti berikut ini:

“Mister, I paling senang belajar with you. Soalnya, you never angry and always smile when you teach me.”

“Mister, tau ga you. You itu guru paling baik di Junior High School.”

“Mister, kok rasanya pelajarannya ga susah ya kalau belajar dengan mister.”

Yah, bukannya saya merasa bangga atau merasa lebih baik dari guru lain. Hanya saja, tidak ada pengobat keletihan paling manjur bagi seorang guru selain senyum dari siswa-siswanya. Saya merasa jerih payah saya lakukan tidak sia-sia. Meski saya tahu saya tidak sempurna dalam mentransfer ilmu pada mereka, namun untunglah mereka bisa menerima dengan baik. Walau tentunya tetap ada beberapa siswa yang malas-malas, syukurlah mereka tidak perlu dimarahi, cukup ditegur atau disindir maka mereka akan mengerjakan tugas mereka. Yah, dengan kata lain,

I Love My Students.

48 pemikiran pada “Semester yang Berat

  1. Bedanya grade 7a dengan 7b apa sih Lung? hehehe🙂

    Btw, itu memang berat banget sih ya dari jam 7 pagi hingga jam 5 sore gitu, hmmm. Walaupun hati merasa tenang dan senang melihat murid-muridnya berhasil, tapi tetap penting tuh untuk menjaga stamina dan kesehatan tubuh tuh Lung, hehe🙂

  2. semangat lung¡¡

    ya mungkin belum terbiasa dengan jadwal kerja seperti itu. tahun lalu pas aku masuk kerja pagi sampe sore aku juga praktis gak bisa ngapa2in kok malamnya.. bawaannya capek terus.. klo sekarang setelah terbiasa.. tidur jam 1 juga hayok.. hehehe

  3. hihihi seru juga baca pengalaman guru2. Dulu aku pernah mau cita2 jadi guru juga. Cuma karna jam kerjanya yang enak, bisa pulang siang gitu maksudnya.
    Eeh ternyata sekarang schedule guru juga padat yak, dan jam pulangnya pun sama kek karyawan kantoran juga..heuheuheu..

    sabar ya Lung..tetep semangat !!😀

  4. membaca ceritamu ini, aku jadi teringat pada satu kelas yg pernah aku ajar di tahun 2009-2010. setiap selesai mengajar, anak2 cowoknya pasti berdiri di deket pintu dan lalu satu persatu salim tangan. masyaalloh…… pada lucu2 dan baek2 amat sih ini anak-anak oraaaaaang?

  5. Saat itu saya sedang menunggu waktu pulang karena jam mengajar saya sudah habis. Setelah bel kelas terakhir berbunyi, keluarlah seorang siswa kelas 7 SMP dari salah satu kelas. Dia sangat menarik perhatian saya. Kakinya.. Mengapa ia begitu sulit berjalan? Mengapa kedua kakinya sangat miring kesana kemari tak karuan? Anak itu dituntun oleh staf sampai akhirnya ia duduk di kursi.

Biasakan Berkomentar Setelah Membaca, Ya.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s